Rangkuman Berita Utama Timteng Sabtu 5 Juni 2021

Sayid Hashim Safi Al Din libanonJakarta, ICMES. Beredar kabar mengenai sakitnya Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah membuat media Israel memuat dugaan dan ramalan-ramalan mengenai siapa yang akan menjadi penerus tokoh pejuang Libanon berserban hitam tersebut.

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyatakan bahwa musuh-musuh Iran sejak dulu selalu meramal buruk untuk dinamika politik dan masa depan negara republik Islam ini, namun selalu saja melesat dan jauh dari harapan mereka.

Naftali Bennett, miliarder yang digadang-gadang sebagai calon perdana menteri Israel menggantikan Benjamin Netanyahu, mengaku tidak akan membekukan proyek pembangunan permukiman Zionis Yahudi di Tepi Barat, dan akan menginstruksikan operasi militer terhadap Gaza ataupun Libanon jika dirasa perlu.

Surat kabar Times mengomentari kebijakan pemerintah Arab Saudi membatasi penggunaan toa atau pengeras suara di masjid-masjid negara ini.

Berita Selengkapnya:

Sayid Nasrallah Sakit, Media Israel Meramal Orang ini sebagai Penerusnya

Beredar kabar mengenai sakitnya Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah membuat media Israel memuat dugaan dan ramalan-ramalan mengenai siapa yang akan menjadi penerus tokoh pejuang Libanon berserban hitam tersebut.

Situs Walla milik Israel menyebutkan bahwa Sayid Hashim Safi Al Din, saudara sepupu Sayid Nasrallah, adalah yang paling berpeluang untuk menjadi penerus Sayid Nasrallah sebagai pemimpin kelompok pejuang tangguh Hizbullah yang didukung penuh oleh Iran.

Menurut Walla, pada tahun 2008 telah dirilis berita pertama bahwa Iran merestui Sayid Safi Al Din sebagai kader pengganti Sayid Nasrallah.

Sayid Safi Al Din dilahirkan di desa Deir Qanun, Libanon selatan, pada tahun  1964, dan mengenyam pendidikan agama di Najaf dan Qum, sebagai Sayid Nasrallah, serta merupakan salah satu pendiri Hizbullah pada tahun 1982.

Pada tahun 1994, dia diminta pulang ke Libanon setelah menyelesaikan pendidikan di luar negeri untuk menggantikan Sayid Nasrallah sebagai ketua Dewan Ekskutif Hizbullah, dua tahun setelah Sayid Nasrallah menjabat sebagai Sekjen Hizbullah menyusul kesyahidan pendahulunya, Sayid Abbas Al-Musawi, akibat serangan tentara Israel.

Walla menambahkan bahwa Sayid Safi Al Din juga merupakan anggota Mejalis Syura Hizbullah yang berwenang mengangkat seseorang menjadi sekjen Hizbullah, dan dia sangat dekat dengan Iran, termasuk Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta menjalin ikatan kekeluargaan dengan jenderal legendaris Iran Qasem Soleimani karena putra Sayid Safid Al Din menikah dengan putri Soleimani pada Juni 2020.

Adapun tokoh lain yang juga berpeluang menjadi penerus Sayid Nasrallah ialah orang yang selama ini menjadi wakilnya sendiri, Syeikh Naim Qassem. Namun, Walla menilai Sayid Safi Al Din lebih berpeluang karena lebih kharismatik.

Berbagai media di Timteng belakangan ini ramai memberitakan ihwal sakitnya Sayid Hassan Nasrallah, terutama setelah dia berpidato dengan nafas yang tampak tersengal dan batuk serta juga mengaku sendiri bahwa dia sedang dalam kondisi sakit.

Mengutip keterangan sumber anonim rumah sakit di Teheran, sebuah media Kuwait melaporkan bahwa beberapa pekan lalu dia sempat diam-diam pergi ke Iran untuk berobat lalu pulang ke Libanon, namun tim medis Iran lantas menyusulnya ke Libanon untuk merawat kesehatannya. (raialyoum)

Ayatullah Khamenei: Berbekal Al-Quran, Imam Khomaini Berhasil Membangkitkan Bangsa Iran

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyatakan bahwa musuh-musuh Iran sejak dulu selalu meramal buruk untuk dinamika politik dan masa depan negara republik Islam ini, namun selalu saja melesat dan jauh dari harapan mereka.

Dalam pidato menjelang haul ke-31 pendiri Republik Islam Iran Imam Khomaini, Jumat (4/6), Ayatullah Khamenei menyatakan bahwa AS pernah meramal Iran tak akan dapat merayakan hari jadinya ke-40 tahun, tapi meleset.

“Keteguhan Imam Khomaini dan kemenangan bangsa Iran dalam perang yang dipaksakan (Irak terhadap Iran, 1980-1988 – red.) telah merontokkan semua ramalan akan kegagalan revolusi Islam,” katanya.

Dia menyebut Imam Khomaini sebagai tokoh yang kaya inspirasi dan inovasi, terutama yang berwujud negara republik islam.

“Alih-alih tumbang dan memudar pada dekade-dekade Islam, revolusi Islam justru semakin tangguh dan maju dari hari ke hari… Ketahanan revolusi Islam terletak pada ikatan erat antara republik dan keislaman, yakni antara rakyat dan Islam,” ujarnya.

Menurutnya, kedaulatan Islam terlihat jelas dalam Al-Quran al-Karim, dan Imam Khomaini menempuh manhaj Qur’ani ini dalam mendirikan republik Islam serta percaya sepenuhnya kepada kekuatan, ketahanan dan loyalitas rakyat.

Ayatullah Khamenei mengatakan, “Imam Khomaini tak berbasa-basi dengan siapapun ihwal hukum Allah, dan merupakan hak Allah atas rakyat untuk bekerjasama mendirikan pemerintahan yang benar dan adil.”

Dia menambahkan, “Imam Khomaini memandang dua kata ‘republik’ dan ‘Islam’ sebagai kunci kesuksesan dan solusi bagi problematika negara. Beliau berhasil menjadikan bangsa Iran sebagai tuan bagi diri mereka sendiri pasca diktatorisme absolut. Beliau telah mengaktivasi kekuatan besar rakyat untuk mewujudkan karya-karya besar.” (alalam)

Calon PM Israel: Pembangunan Permukiman Yahudi Berlanjut, Gaza dan Libanon akan Diserang Jika Perlu

Naftali Bennett, miliarder yang digadang-gadang sebagai calon perdana menteri Israel menggantikan Benjamin Netanyahu, mengaku tidak akan membekukan proyek pembangunan permukiman Zionis Yahudi di Tepi Barat, dan akan menginstruksikan operasi militer terhadap Gaza ataupun Libanon jika dirasa perlu.

“Kami akan mengobarkan perang jika kebutuhan menuntutnya, dan pada akhirnya biarlah ada koalisi jika memang ada, jika tidak ada maka kita akan melakukan pemilihan, segala sesuatu ada pada jalurnya,” kata Bennett kepada saluran 12 milik Israel, seperti dikutip kantor berita Palestina, Maan, Jumat (4/6).

Dia menduga pemerintahannya akan mendapat tekanan dari AS terkait dengan proyek permukiman di Tepi Barat, tapi dia memastikan tidak akan menghentikannya.

“Konflik kebangsaan antara Israel dan Palestina bukan berkenaan dengan tanah. Palestina tidak mengakui eksistensi kami di sini, dan ini tampaknya akan terus mengiringi kita untuk jangka panjang. Keyakinan saya dalam hal ini ialah bahwa konflik harus diatasi. Di manapun kita dapat membuka jalan lebih banyak, memberi kesejahteraan hidup lebih banyak, pekerjaan lebih banyak, industri lebih banyak, di situ akan kita lakukan,” paparnya.

Mengenai kemungkinan dia bermasalah dengan AS ihwal proyek nuklir Iran Bennett mengatakan, “Kompasnya pertama adalah keamanan Israel. Keamanan Israel adalah hal terpenting dari apa yang akan mereka katakan kepada kita di dunia. Meski demikian, kemitraan dengan AS, termasuk dengan Presiden Joe Biden, adalah hal yang strategis dan mendasar.” (railayoum)

Saudi Batasi Penggunaan Toa Masjid, ini Komentar Surat Kabar Inggris

Surat kabar Times mengomentari kebijakan pemerintah Arab Saudi membatasi penggunaan toa atau pengeras suara di masjid-masjid negara ini.

Dikutip Al-Alam, Kamis (3/6), harian Inggris itu menyebutkan bahwa instruksi pemerintah Saudi yang mengharuskan pengurangan volume pengeras suara masjid merupakan satu pertanda baru memudarnya pengaruh dan kekuasaan institusi keagamaan di Saudi pada era kekuasaan Putra Mahkota Mohamed bin Salman.

Pemerintah Saudi membela keputusannya yang membatasi toa masjid tidak lebih dari sepertiga volume dengan alasan bahwa ada keluhan dari warga sekitar masjid, termasuk dari para lansia, atas kebisingan yang ditimbulkan oleh toa masjid.

Keputusan yang dirilis oleh Kementerian Urusan Islam itu juga melarang penggunaan toa untuk bacaan doa dan khutbah sebagaimana lazim dilakukan di banyak negara Islam.

Menteri Urusan Islam Saudi Abdullatif bin Abdulaziz al-Sheikh dalam wawancara televisi resmi mengatakan, “Orang-orang yang memang shalat (berjamaah di masjid) tak perlu menunggu suara imam, mereka harus di masjid sejak awal.”

Beberapa warga konservatif Saudi menanggapi larangan itu dengan menuntut adanya larangan serupa untuk pemutaran musik bervolume keras di berbagai restoran dan kafe.

Para pengamat menilai fenomena baru di Saudi itu sebagai satu pertanda baru perubahan era di Negeri Haramain.

Selama tiga dekade sebelum Mohamed bin Salman menjadi penguasa de facto Saudi, pemutaran musik di kafe dan lain-lain dilarang, namun belakangan ini larangan ini tampak sudah tak berlaku lagi sehingga musik diputar di banyak kafe di Riyadh dan Jeddah, meski masih jarang di kawasan-kawasan yang konservatif. (alalam)