Rangkuman Berita Utama Timteng Rabu 2 Desember 2020

mohsen fakhrizadeh 3Jakarta, ICMES. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyatakan bahwa pembunuhan ilmuwan nuklir terkemuka Iran Mohsen Fakhrizadeh sebagai aksi teror pengecut yang terjadi dalam kerangka “konspirasi segi tiga” Amerika Serikat (AS), Zionis, dan Arab Saudi.

Penasehat Urusan Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir mengaku heran terhadap Iran karena telah menyalahkan Saudi terkait dengan pembunuhan ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menyatakan bahwa negara ini akan membalas darah ilmuwan nuklirnya, Mohsen Fakhrizadeh, dengan “balasan yang sangat menyakitkan”.

Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, mengumumkan bahwa pemimpinnya, Yahya Sinwar, di Jalur Gaza terkonfirmasi positif Covid-19.

Palestina dinilai oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sedang menghadapi “realitas suram” karena terjadi kemungkinan penurunan pada prospek penyelesaian yang dinegosiasikan untuk mengakhiri konfliknya dengan Israel.

Berita Selengkapnya:

Soal Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran, Zarif Nyatakan Ada Konspirasi Segitiga AS, Israel dan Saudi

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyatakan bahwa pembunuhan ilmuwan nuklir terkemuka Iran Mohsen Fakhrizadeh sebagai aksi teror pengecut yang terjadi dalam kerangka “konspirasi segi tiga” Amerika Serikat (AS), Zionis, dan Arab Saudi.

“Sebagaimana Anda lihat dalam pemberitaan, para pendiri dan pendukung kebijakan tekanan sia-sia terhadap bangsa Iran berusaha memanfaatkan hari-hari terakhir pemerintahan Turmp untuk membangkit ketegangan dan mengacaukan suasana yang tersedia untuk pencabutan emborgo zalim,” ungkap Zarif di Instagram pada Senin malam (30/11/2020).

Dia lantas menyinggung adanya pertemuan segi tiga terselubung antara Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman di kota Neom, Arab Saudi, belum lama ini.

“Kunjungan mendadak Pompeo ke kawasan dan pertemuan segi tiga serta pernyataan-pernyataan Netanyahu mengungkap konspirasi yang, sayang sekali, termanifestasi pada hari Jumat dalam aksi teror pengecut yang menggugurkan salah satu tokoh manajerial terkemuka Iran,”ujarnya.

Dia menambahkan, “Bersamaan dengan aksi teror ini dimulai operasi intelijen kontra dan perang mental dari poros syaitan ini sendiri demi menyempurnakan rencana kejam Pompeo, Netanyahi, dan Bin Salman untuk membangkitkan ketegangan”.

Perdana Menteri Rezim Zionis Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan oleh berbagai media Israel telah berkunjung ke Arab Saudi, pada 22 November 2020, dan mengadakan pertemuan dengan Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman.

Sejumlah media Israel, termasuk situs berita Walla, mengungkap rincian kunjungan yang dibantah oleh Saudi tersebut.   Menurut Walla, Direktur MOSSAD Yossi Cohen telah menyertai kunjungan Netanyahu itu dan tiba di Neom, Saudi, dengan menggunakan pesawat milik pengusaha Israel Udi Angel. (alalam)

Saudi Tanggapi Tudingan Bersekongkol dengan AS dan Israel dalam Pembunuhan Fisikawan Iran

Penasehat Urusan Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir mengaku heran terhadap Iran karena telah menyalahkan Saudi terkait dengan pembunuhan ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh.

“Pembunuhan adalah berlawanan dengan kebijakan Saudi,” ungkap Al-Jubeir, Selasa (1/12/2020).

Melalui akun resminya di Twitter, dia menambahkan, “Tampak bahwa frustasi telah mendorong Menteri Luar Negeri Iran Tuan Jawad Zarif untuk menyalahkan Kerajaan (Saudi) dan menuduhnya sebagai penyebab apa yang terjadi Iran.”

Al-Jubeir kemudian mengejek, “Jangan-jangan, semoga Allah tidak menakdirkan demikian, kalau terjadi gempa ataupun banjir di Iran maka ia juga akan menuduh Kerajaan sebagai penyebabnya.”

Dia lantas menyatakan, “Kami tidak mengakui aksi pembunuhan dalam segala bentuknya, dan itu bukan kebijakan Kerajaan, tak seperti Iran yang melakukan aksi-aksi pembunuhan di dunia sejak revolusi yang dibajak oleh Khomaini pada tahun 1979.”

Dl-Jubeir menambahkan, “Anda dapat bertanya kepada kami, dan bertanya kepada berbagai negara dan Anda akan mengetahui bahwa kami telah kehilangan banyak warga negara kami akibat perilaku jahat dan ilegal Iran.”

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyatakan bahwa pembunuhan ilmuwan nuklir terkemuka Iran Mohsen Fakhrizadeh sebagai aksi teror pengecut yang terjadi dalam kerangka “konspirasi segi tiga” Amerika Serikat (AS), Zionis, dan Arab Saudi. (alalam/rta)

Diminta Menahan Diri oleh Barat terkait Pembunuhan Fakhrizadh, Ini Tanggapan Iran

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menyatakan bahwa negara ini akan membalas darah ilmuwan nuklirnya, Mohsen Fakhrizadeh, dengan “balasan yang sangat menyakitkan”.

Khatibzadeh menyatakan demikian dalam konferensi pers, Selasa (1/12/2020), sebagai tanggapan atas imbauan sejumlah negara Barat agar Teheran menahan diri terkait dengan terbunuhnya fisikawan Iran tersebut pada Jumat pekan lalu.

“Nama ilmuwan nuklir dan pertahanan ini akan abadi dan menjadi teladan bagi anak-anak hari ini dan esok di Iran yang Islami,” ungkapnya.

Dia kemudian menyindir Kerajaan Arab Saudi dengan menyatakan bahwa setelah tragedi Jumat berdarah itu berbagai negara dunia serta semua negara Teluk Persia mengutuk pembunuhan itu dan menyatakan belasungkawa kepada Iran, “kecuali satu negara”.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif di halaman Twitter-nya menyindir lembaga-lembaga yang selama ini mengaku peduli HAM karena tidak menyatakan “kecaman yang lebih keras” terhadap serangan teror yang menggugurkan Fakhrizadeh. (alalam)

Hamas Umumkan Pemimpinnya Positif Covid-19

Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, mengumumkan bahwa pemimpinnya, Yahya Sinwar, di Jalur Gaza terkonfirmasi positif Covid-19.

Kantor Yahya Sinwar, Selasa (1/12/2020), merilis pernyataan bahwa Sinwar menjalani tes setelah mengalami gejala terjangkit virus tersebut dan kemudian hasilnya kemudian diketahui positif.

Namun demikian, menurut pernyataan itu, kondisi kesehatan Sinwar baik sehingga masih dapat menjalankan kegiatannya meskipun terpaksa menjalani perawatan dan isolasi.

Dalam laporan terbaru disebut bahwa di Jalur Gaza tercatat 111 kasus kematian di antara 12,000 kasus positif Covid-19 sejak penyakit ini menyebar di sana pada akhir Agustus lalu.

Sebelumnya, Hamas juga mengumumkan bahwa sejumlah pejabatnya di dalam dan luar negeri Palestina terpapar Covid-19, termasuk ketua dan wakil ketua biro politiknya, Saleh Al-Arouri dan  Maher Salah. (masrawy)

Sekjen PBB: Perluasaan Proyek Permukiman Israel di Tepi Barat Tertinggi dalam 4 Tahun  Terakhir

Palestina dinilai oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sedang menghadapi “realitas suram” karena terjadi kemungkinan penurunan pada prospek penyelesaian yang dinegosiasikan untuk mengakhiri konfliknya dengan Israel.

“Saya berbicara kepada Anda hari ini dengan rasa khawatir yang mendalam tentang kenyataan suram di Wilayah Pendudukan Palestina dan berkurangnya prospek untuk penyelesaian konflik, yang telah terjadi dengan PBB sejak didirikan,” kata Guterres dalam pertemuan virtual memperingati Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina, Selasa (1/12/2020).

Pandemi Covid-19 memperburuk situasi yang sudah mengerikan, lanjut Guterres, sementara Israel menangguhkan rencana pencaplokan Tepi Barat namun masih terus melanjutkan perluasan pemukiman khusus orang Israel di wilayah pendudukan tersebut.

“Di lapangan, perluasan perencanaan dan konstruksi permukiman terus berlanjut, sementara pembongkaran dan penyitaan bangunan milik Palestina oleh otoritas Israel di seluruh Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem (Quds) Timur, mencapai tingkat tertinggi yang tercatat dalam empat tahun,” katanya.

“Tindakan seperti itu bertentangan dengan hukum internasional dan merusak prospek pembentukan negara Palestina yang berdampingan dan layak. Tindakan kekerasan, ancaman eskalasi terus-menerus di Gaza, pembatasan pergerakan dan akses, hasutan, dan pelanggaran hak asasi manusia terus berlanjut, membuat situasi menjadi sangat tidak stabil, ”tambahnya.

Wilayah Palestina, termasuk Tepi Barat dan Quds Timur, berada di bawah pendudukan Israel sejak 1967. Pendudukan tersebut dianggap ilegal menurut hukum internasional. (aa)