Kepak Sayap Hormuz, Antrean BBM di Makassar

Oleh: Ismail Amin, Ph.D

Ketika Perang Ribuan Kilometer Jauhnya Sampai ke Tangki Kendaraan Kita

Ada sebuah gagasan populer dalam teori kekacauan yang dikenal sebagai butterfly effect. Sederhananya, perubahan kecil di satu tempat dapat memicu rangkaian perubahan besar di tempat lain yang sangat jauh. Istilah ini berasal dari pemikiran meteorolog Edward Lorenz tentang sensitivitas sebuah sistem terhadap kondisi awal. Dalam bahasa populer, kepakan sayap kupu-kupu di satu sisi bumi dapat menjadi bagian dari rangkaian yang berujung pada badai di tempat lain.

Tentu perang bukan kepakan kecil. Tetapi gagasan itu membantu kita memahami satu hal bahwa dalam dunia yang saling terhubung, jarak geografis tidak lagi menjamin jarak dari akibat sebuah krisis.

Iran berjarak ribuan kilometer dari Makassar. Selat Hormuz mungkin hanya kita kenal dari peta Timur Tengah. Namun hari-hari ini, ketika kendaraan mengular di sejumlah SPBU Makassar, ketika masyarakat mulai khawatir apakah Pertalite atau Solar masih tersedia, kita memperoleh pelajaran sederhana: apa yang terjadi di Teluk Persia tidak selalu berhenti di Teluk Persia.

Perhari ini media massif  melaporkan antrean panjang di sejumlah SPBU Makassar. Beberapa SPBU bahkan sempat tidak memiliki pasokan atau menunggu pengiriman. Kepolisian Sulawesi Selatan juga melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan penyalahgunaan dan penimbunan. Di sisi lain, Pertamina menyatakan stok BBM Sulawesi Selatan secara keseluruhan masih aman dan cukup serta mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan panic buying. Artinya, kita memang tidak boleh menyederhanakan keadaan dengan mengatakan bahwa setiap antrean di Makassar secara langsung disebabkan perang Iran. Ada persoalan distribusi, perilaku konsumen, pengawasan subsidi, dan kemungkinan penyalahgunaan yang juga harus diperiksa.

Namun kita juga tidak boleh jatuh pada kesalahan sebaliknya, yaitu menganggap konflik di Iran sama sekali tidak berhubungan dengan kondisi energi Indonesia.

Hormuz dan Dapur Energi Dunia

Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Sebelum perang, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia melewati jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut.

Kementerian ESDM bahkan sejak awal konflik sudah mengakui kerentanan Indonesia. Pada 3 Maret 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan sekitar 20,1 juta barel minyak per hari melewati Hormuz. Pemerintah juga menyebut sekitar 19 persen kebutuhan minyak mentah Indonesia berasal dari negara-negara Timur Tengah melalui jalur tersebut. Pemerintah kemudian berusaha mendiversifikasi impor agar ketahanan energi nasional tidak terlalu tergantung pada kawasan tersebut.

Untuk impor BBM jadi, Indonesia memang banyak memperoleh pasokan dari luar Timur Tengah, termasuk negara-negara Asia Tenggara. Karena itu hubungan antara Hormuz dan SPBU kita bukan garis lurus, bahwa Hormuz ditutup hari ini, lalu pom bensin Makassar kosong besok pagi. Rantai sebab-akibatnya lebih kompleks.

Minyak mentah terganggu. Kapal menghadapi risiko lebih besar. Premi asuransi naik. Ongkos angkut melonjak. Kilang harus mencari pasokan alternatif. Negara-negara pembeli berebut produk yang sama. Harga produk minyak di pasar Asia meningkat. Pada akhirnya negara yang mengimpor BB – termasuk Indonesia- ikut menghadapi pasar yang lebih ketat. Itulah butterfly effect dalam ekonomi energi.

Reuters mencatat pada Agustus bahwa impor produk minyak ringan dan menengah Asia termasuk bensin, diesel dan bahan bakar pesawat turun 21 persen dibandingkan rata-rata tiga bulan sebelum konflik. Untuk Indonesia, impor kelompok produk tersebut diperkirakan hanya sekitar 432 ribu barel per hari pada Agustus, terendah dalam 13 bulan dan turun dari rata-rata sekitar 533 ribu barel per hari sebelum perang Iran dimulai.

Memasuki September, tekanannya belum selesai. Industri minyak Asia bahkan memperkirakan gangguan berkepanjangan. Reuters melaporkan arus minyak dan produk melalui Hormuz masih jauh di bawah kondisi sebelum perang, sementara impor produk minyak olahan Asia hampir 30 persen lebih rendah dibandingkan sebelum konflik. Biaya asuransi dan pengangkutan minyak dari kawasan Teluk juga melonjak tajam.

Maka ketika masyarakat Makassar melihat antrean BBM, kita sebenarnya sedang menyaksikan pertemuan dua persoalan, kerentanan lokal dalam distribusi energi dan tekanan pada rantai pasok global.

Jangan Hanya Bertanya Mengapa Hormuz Terganggu

Di sinilah pembicaraan tentang perang menjadi penting. Terlalu mudah menunjuk Iran dan berkata, mengapa Selat Hormuz dibatasi? Mengapa pelayaran terganggu?

Pertanyaan itu sah. Tindakan terhadap kapal sipil dan kebebasan pelayaran juga harus dinilai berdasarkan hukum internasional, siapa pun pelakunya. Iran sendiri dalam beberapa bulan terakhir telah memperketat pembatasan terhadap pelayaran, sementara bentrokan terbaru antara pasukan Iran dan Amerika Serikat kembali membuat jumlah kapal yang melewati Hormuz merosot tajam. Jadi dampak terhadap pelayaran bukan sesuatu yang boleh dianggap ringan.

Tetapi analisis yang adil tidak boleh memulai sejarah dari tengah. Perang saat ini bermula pada 28 Februari 2026 dengan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Sejak itu perang berkembang menjadi serangan dan serangan balasan, kemudian menjalar ke tanker, pelabuhan, jalur energi dan Selat Hormuz. Bahkan kalangan industri energi yang berkumpul dalam konferensi APPEC di Singapura pada September ini memandang penghentian eskalasi militer di Teluk sebagai kunci untuk memulihkan keamanan Hormuz.

Karena itu, ketika kita mengecam terganggunya Selat Hormuz, kita juga harus bertanya, apa yang membawa kawasan itu sampai pada keadaan ini?

Sebelum perang, kapal-kapal internasional berlalu-lalang di Hormuz. Jalur tersebut memang selalu strategis dan sensitif, tetapi aktivitas energi dunia tetap berjalan. Setelah serangan militer dan perang berkepanjangan, selat itu berubah menjadi arena tekanan dan konfrontasi.

Iran menyatakan pembatasan dan kontrol terhadap jalur tersebut sebagai bagian dari mekanisme pertahanan dan tekanan terhadap pihak yang menyerangnya. Legalitas tindakan tertentu terutama jika menyangkut kapal sipil tetap dapat diperdebatkan menurut hukum internasional. Tetapi satu hal tidak boleh hilang dari pembicaraan, reaksi tidak dapat dianalisis dengan menghapus aksi yang mendahuluinya.

Perang Tidak Pernah Benar-Benar “Jauh”

Di Indonesia kita kadang mendengar kalimat: “Itu perang mereka. Iran jauh. Palestina jauh. Timur Tengah jauh. Apa urusannya dengan kita?”

Sekarang jawabannya bisa ditemukan di depan SPBU. Ketika kapal minyak tidak berlayar, harga naik. Ketika asuransi pelayaran naik, biaya logistik naik.Ketika pasokan minyak olahan Asia berkurang, negara-negara importir berebut pasokan. Ketika harga energi naik, ongkos angkut, harga barang, biaya produksi dan pada akhirnya pengeluaran rumah tangga ikut mendapat tekanan.

Jadi perang tidak membutuhkan rudal yang jatuh di Makassar agar masyarakat Makassar menjadi korban ekonominya. Inilah alasan mengapa masyarakat Indonesia tidak selayaknya apatis terhadap perang hanya karena bom tidak jatuh di halaman rumah kita.

Menentang perang bukan berarti harus menyukai satu pemerintahan atau membenci bangsa tertentu. Kita bisa berbeda pendapat tentang politik Iran, Amerika Serikat ataupun negara mana pun. Tetapi agresi militer dan arogansi penggunaan kekuatan harus ditolak, terlebih jika tindakan tersebut mengguncang jalur energi yang menjadi urat nadi kehidupan miliaran manusia.

Amerika Serikat sebagai kekuatan militer terbesar dunia memikul tanggung jawab yang sangat besar ketika memilih jalan perang. Kritik terhadap kebijakan Washington bukanlah kebencian terhadap rakyat Amerika. Justru negara dengan kekuatan terbesar semestinya memiliki kewajiban terbesar untuk menahan diri, memilih diplomasi dan tidak menjadikan superioritas militernya sebagai izin untuk menyerang negara lain.

Begitu pula Iran dan semua pihak yang terlibat mempunyai kewajiban mencegah konflik semakin meluas dan menjaga warga sipil serta pelayaran internasional. Tetapi perdamaian tidak dapat dibangun hanya dengan meminta pihak yang diserang untuk tidak bereaksi, sementara penyebab eskalasinya dibiarkan.

Hari ini mungkin yang kita rasakan hanyalah antrean kendaraan. Besok bisa berupa ongkos transportasi yang meningkat, harga bahan pokok yang ikut terdorong, anggaran subsidi membengkak, atau tekanan baru terhadap ekonomi keluarga.

Karena itu, ketika sebuah perang pecah ribuan kilometer dari rumah kita, jangan terlalu cepat berkata, “Bukan urusan kita.” Dalam dunia yang saling terhubung, kepakan di Selat Hormuz dapat berakhir di SPBU Makassar.

Dan mungkin itulah pelajaran terpenting dari butterfly effect: kita tidak harus berada di medan perang untuk merasakan akibat perang. Kita hanya perlu hidup di dunia yang sama.

*Alumnus Program Doktoral Universitas International Al-Mustafa Iran/Peneliti di Indonesia  Center for Middle East Studies (ICMES)