Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Rabu 18 Februari 2026

Jakarta, ICMES. Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menanggapi ancaman militer AS terhadap Iran dengan mengatakan bahwa apa yang lebih berbahaya daripada kapal induk AS adalah senjata yang dapat menenggelamkannya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan bahwa putaran negosiasi terbaru negaranya dengan AS telah berakhir dengan kesepakatan mengenai serangkaian prinsip panduan yang akan membentuk diskusi selanjutnya menuju kesepakatan potensial.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam kata sambutannya pada pertemuan dengan para ulama Iran menyatakan negosiasi dengan AS sedang berlangsung dengan persetujuan Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei.

Berita selengkapnya:

Ayatullah Khamenei: Yang Lebih Berbahaya daripada Kapal Induk adalah Senjata yang Dapat Menenggelamkannya

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menanggapi ancaman militer AS terhadap Iran dengan mengatakan bahwa apa yang lebih berbahaya daripada kapal induk AS adalah senjata yang dapat menenggelamkannya.

 “Presiden AS (Donald Trump) selalu saja mengatakan; Tentara kami adalah yang terkuat di dunia.’ Namun, tentara terkuat di dunia pun bisa saja terkena hantaman sampai tak bisa bangkit lagi,” kata Ayatullah Khamenei dalam kata sambutannya saat ditemui ribuan warga Provinsi Azarbaijan Timur di Teheran, Selasa (17/2).

Dia menambahkan, “Mereka mengatakan; Kami kerahkan kapal induk ke arah Iran.Baiklah, kapal induk memang mesin yang berbahaya, tapi yang lebih berbahaya daripada kapal induk  adalah senjata yang dapat menenggelamkannya ke dasar laut,” tambahnya.

Ayatullah Khamenei menilai “bagus” pengakuan Trump bahwa AS tidak mampu memusnahkan Republik Islam Iran selama 47 tahun.

Presiden AS dalam salah satu pernyataan terbarunya  mengatakan bahwa 47 tahun AS tak sanggup memusnahkan Republik Islam (Iran). Dia berkeluh kesah demikian kepada rakyatnya. 47 tahun AS tak sanggup memusnahkan Republik Islam.  Ini pengakuan bagus, dan saya katakan: Anda (Trump) pun takkan dapat melakukannya,” tegasnya.

Ayatullah Khamenei menyatakan demikian ketika Trump mengerahkan pasukan militer AS ke wilayah Timteng, dan mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran.

Para pejabat AS mengatakan pada 12 Februari bahwa Pentagon mengirimkan kapal induk tambahan, dan menambah ribuan pasukan lagi bersama dengan pesawat tempur dan kapal perusak rudal.

“Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya,” kata Trump pada hari Jumat, merujuk pada kapal induk USS Gerald R. Ford.

Peningkatan kekuatan militer ini terjadi ketika Iran dan AS sedang mengadakan pembicaraan tidak langsung mengenai proyek nuklir Iran, beberapa bulan setelah Israel dan AS menyerang Iran.

Para pengamat mengatakan Trump menggunakan ancaman militer sebagai alat tawar-menawar dalam pembicaraan untuk mendapatkan konsesi dari Teheran. Namun, para pejabat Iran memastikan kesiapan Teheran untuk diplomasi maupun perang, dan memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran akan memicu perang regional.

Pada hari Minggu, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Abdolrahim Mousavi memperingatkan Trump tentang retorika perangnya.

“Trump harus tahu bahwa dia akan memasuki konfrontasi yang memberikan pelajaran keras, yang hasilnya akan memastikan bahwa dia tidak lagi meneriakkan ancaman di seluruh dunia,” katanya.

Di bagian lain pidatonya, Ayatollah Khamenei menyinggung pembicaraan tidak langsung yang sedang berlangsung antara Teheran dan Washington.

“Pernyataan-pernyataan yang dibuat presiden AS ini, yang terkadang mengancam dan terkadang mengatakan ini harus dilakukan atau itu tidak boleh dilakukan, menunjukkan bahwa mereka berusaha mendominasi bangsa Iran,” katanya.

Dia menambahkan, “Mereka berkata, ‘Mari kita bernegosiasi tentang energi nuklir Anda,’ dan hasil negosiasi seharusnya adalah Anda tidak lagi memiliki energi ini. Menentukan hasil sebelum pembicaraan dimulai adalah salah dan bodoh. Inilah tepatnya adalah pendekatan bodoh yang diambil oleh presiden-presiden Amerika, senator-senator tertentu, presiden saat ini, dan lainnya.”

Namun, dia juga menegaskan bahwa rakyat Iran “mengenal ajaran Islam dan Syiah mereka dengan baik,” sembari  mengutip pernyataan Imam Hussein ra; “Orang seperti saya tidak akan pernah berbaiat kepada seseorang seperti Yazid.”

Dia lantas menegaskan; “Pada kenyataannya, bangsa Iran mengatakan hal yang sama: suatu bangsa dengan budaya ini, sejarah ini, nilai-nilai luhur ini, tidak akan pernah berbaiat kepada tokoh-tokoh korup seperti mereka yang saat ini berkuasa di AS.” (irib)

Menlu Iran Sebut Ada “Kemajuan Bagus” dalam Pembicaraan dengan AS

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan bahwa putaran negosiasi terbaru negaranya dengan AS telah berakhir dengan kesepakatan mengenai serangkaian prinsip panduan yang akan membentuk diskusi selanjutnya menuju kesepakatan potensial.

Kepada reporter IRIB usai pembicaraan berakhir di Jenewa pada hari Selasa (17/2), Araghchi menyebut pembicaraan itu “serius” dan lebih konstruktif daripada putaran sebelumnya, dengan berbagai proposal yang diajukan dan diperiksa secara menyeluruh.

“Akhirnya, kami dapat mencapai kesepakatan tentang serangkaian prinsip panduan yang akan menjadi dasar kami untuk melangkah maju dan membahas teks kesepakatan potensial,” katanya.

Dia memperingatkan bahwa mencapai kesepakatan akhir tidak akan segera terjadi, dan bahwa pekerjaan teknis pada teks akan lebih rinci dan kompleks. Meskipun begitu, dia menekankan bahwa “kemajuan yang baik” telah dicapai dan sudah terlihat jalan yang lebih jelas dan positif.

Ditanya tentang putaran pembicaraan selanjutnya, Araghchi menyatakan belum ada tanggal yang ditetapkan. “Para pihak sepakat untuk mengerjakan teks kesepakatan potensial dan saling bertukar teks tersebut sebelum menyepakati tanggal putaran pembicaraan selanjutnya,” tuturnya.

ARaghchi menyimpulkan bahwa meskipun belum ada peta jalan formal, kedua belah pihak kini memiliki gambaran yang lebih jelas, meskipun masih ada perbedaan yang membutuhkan waktu untuk diatasi.

Putaran pembicaraan tidak langsung terbaru antara Iran dan AS berlangsung sekitar tiga jam di kediaman duta besar Oman.

Araghchi memimpin delegasi Iran, didampingi oleh Wakilnya untuk Urusan Politik, Majid Takht-Ravanchi, Wakil untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, Wakil untuk Diplomasi Ekonomi, Hamid Ghanbari, dan juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei.

Para ahli teknis, hukum, dan ekonomi juga andil dalam tim negosiasi Iran dalam putaran tersebut.

Pembicaraan tersebut menyusul dimulainya kembali negosiasi nuklir tidak langsung pada 6 Februari di ibu kota Oman, Muscat, yang dipimpin oleh Araghchi dan utusan AS Steve Witkoff. (presstv)

Presiden Iran: Perundingan dengan AS Disetujui Ayatullah Khamenei

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam kata sambutannya pada pertemuan dengan para ulama Iran pada hari Selasa (17/2) menyatakan negosiasi dengan AS sedang berlangsung dengan persetujuan Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei.

“Negosiasi sedang dilakukan dengan persetujuan Pemimpin Revolusi,” katanya, sembari menegaskan bahwa tujuan Iran “bukan untuk bernegosiasi demi bernegosiasi, melainkan demi menemukan solusi atas masalah-masalah yang ada.”

Dia berharap negosiasi dengan AS akan menghasilkan hasil yang nyata.

Dia juga memastikan Iran menikmati hubungan baik dengan negara-negara tetangga dan negara-negara Islam, dan bahwa kerja sama ini telah membantu menyelesaikan banyak masalah.

Sebelumnya pada hari Selasa, putaran kedua negosiasi nuklir tidak langsung antara AS dan Iran dimulai di Kediaman Dubes Oman di Jenewa, Swiss.

Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi, sementara delegasi AS antara lain mencakup Utusan Khusus Presiden AS untuk Timur Tengah Steve Wittkopf, dan penasihat Presiden AS Jared Kushner. (raialyoum)