Jakarta, ICMES. Komandan Angkatan Darat Iran, BrigjenAli Jahanshahi memastikan pasukan negaranya sepanjang waktu memantau pergerakan apa yang disebutnya sebagai “musuh”.

Utusan Presiden AS, Steve Witkoff, mengatakan bahwa presiden AS Donald Trump bertanya-tanya mengapa Iran belum menyerah meskipun menghadapi tekanan yang sangat besar, dan menekankan bahwa meyakinkan Teheran untuk mundur dari posisinya adalah “sulit.”
Penasihat Urusan Strategis di Dewan Keamanan Nasional Irak, Saeed al-Jiyashi, menyatakan bahwa keberadaan tahanan kelompok teroris ISIS di Irak bukanlah permanen, melainkan akan dikembalikan ke negara-negara asal mereka.
Berita selengkapnya:
Jenderal Iran Tegaskan Pihaknya Pantau Pergerakan Pasukan AS Sepanjang Waktu
Komandan Angkatan Darat Iran, BrigjenAli Jahanshahi memastikan pasukan negaranya sepanjang waktu memantau pergerakan apa yang disebutnya sebagai “musuh”.
Hal ini disampaikan Jahanshahi dalam pidatonya saat memeriksa unit militer di kota Piranshahr di Provinsi Azerbaijan Barat, dekat perbatasan Irak, Minggu (22/2), sembari menegaskan bahwa Angkatan Darat Iran melakukan segala daya upaya untuk melindungi wilayah negaranya.
“Semua pergerakan musuh terus dipantau. Berkat kemampuan canggihnya, tentara kita tidak akan membiarkan tindakan permusuhan apa pun terhadap tanah ini,” tegasnya.
Mengenai peran pencegahan Angkatan Darat Iran, Jahanshahi mengatakan bahwa mereka telah mencapai tingkat di mana mereka dapat menetralisir potensi ancaman terhadap negara mereka pada tahap awal.
Sejak beberapa minggu lalu, dengan hasutan Israel, AS memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah dan mengancam akan melakukan tindakan militer terhadap Iran untuk memaksanya meninggalkan program nuklir dan rudalnya serta “proksi-proksinya di kawasan.”
Iran bersumpah untuk membalas setiap serangan militer, bahkan yang terbatas sekalipun, sambil bersikeras agar sanksi ekonomi Barat dicabut sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya.
Wakil Inspektur Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Brigjen Mohammad Jafar Asadi, menyebut pengerahan kapal perang dan jet tempur AS sebagai “sandiwara,” dan menyatakan bahwa Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, telah menanggapi tegas manuver AS tersebut.
“Bangsa kita sangat tahu bahwa kapal dan persenjataan lain yang sekarang dikerahkan di Teluk Persia dan perairan Laut Oman telah berlayar di berbagai bagian dunia selama bertahun-tahun,” katanya, Minggu.
Dia menambahkan bahwa pengerahan kapal AS telah memasuki fase propaganda, dan tanggapan terhadap langkah sandiwara tersebut telah diberikan dengan baik oleh Ayatullah Khamenei, yang telah menegaskan bahwa yang lebih berbahaya daripada kapal induk adalah senjata yang dapat menenggelamkannya ke dasar laut.
Komandan senior Iran tersebut mengingatkan kegagalan kubu musuh Iran selama 47 tahun terakhir.
“Kami berharap para penghasut perang jahat seperti Amerika, Inggris, Prancis, Jerman, dan rezim Zionis pada akhirnya akan selesai, sebagai tumor ganas di kawasan Asia Barat,” tandasnya.
Dia juga menegaskan kembali kesiapan tempur Angkatan Bersenjata Iran, dan menekankan bahwa mereka siap membela dan akan bertindak jauh lebih tegas dan kuat daripada di masa lalu.
“Tanggapan Angkatan Bersenjata terhadap setiap kesalahan perhitungan dan tindakan bodoh oleh musuh akan lebih dahsyat dari sebelumnya,” pungkasnya. (raialyoum/presstv)
Witkoff: Trump Bingung Mengapa Iran Belum juga Menyerah
Utusan Presiden AS, Steve Witkoff, mengatakan bahwa presiden AS Donald Trump bertanya-tanya mengapa Iran belum menyerah meskipun menghadapi tekanan yang sangat besar, dan menekankan bahwa meyakinkan Teheran untuk mundur dari posisinya adalah “sulit.”
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News, Witkoff menjelaskan bahwa Trump memiliki “banyak alternatif,” namun juga bertanya-tanya mengapa Iran belum menghubungi AS untuk mengkonfirmasi bahwa mereka tidak ingin memiliki senjata nuklir.
Witkoff mengaku bertemu dengan putra mantan Shah Iran, Reza Pahlevi, atas arahan Trump, dab menyebutnya sebagai “pria kuat yang peduli pada negaranya,” dab bahwa pertemuan itu adalah bagian dari kebijakan presiden AS dan bukan kebijakan pribadi Pahlevi.
Witkoff mengatakan Iran bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai, tetapi memperkaya uranium hingga tingkat yang jauh melebihi yang diperlukan,
“Mereka mungkin hanya tinggal seminggu lagi untuk memiliki cukup material untuk memproduksi senjata nuklir kelas industri,” ujarnya.
Sementara itu, Axios melaporkan bahwa Senator Republik Lindsey Graham mendesak Trump untuk mengabaikan nasihat para penasihatnya agar tidak menyerang Iran. Situs web tersebut juga mengutip penasihat senior presiden yang mengatakan bahwa Trump belum membuat keputusan akhir mengenai tindakan militer terhadap Teheran.
Situs berita Ynet melaporkan bahwa Israel telah bersiap menghadapi potensi serangan AS terhadap Iran selama akhir pekan, tetapi menjelang hari Kamis lalu, diketahui bahwa serangan ditunda hingga waktu yang tidak jelas,
Ynet melaporkan bahwa Kabinet Keamanan Israel akan mengadakan pertemuan pada hari Minggu untuk membahas persiapan kemungkinan serangan terhadap Iran, baik defensif maupun ofensif, dan Israel diharapkan memberikan dukungan kepada pasukan AS, dengan pembagian tugas antara kedua pihak.
Menurut Ynet, Israel telah memulai persiapan untuk serangan selama akhir pekan, tetapi penundaan tersebut telah menyebabkan penjadwalan ulang rencana ke tanggal yang tidak ditentukan, yang diperkirakan tidak akan jauh dari jangka waktu semula.
Di tengah ambiguitas seputar pendirian para pengambil keputusan di Washington dan Teheran, pernyataan yang kontradiktif terus muncul, kadang-kadang mendukung opsi diplomatik dan kadang-kadang opsi militer, membuat para analis dan pengamat bingung terkiat dengan potensi konsekuensi dari eskalasi antara kedua pihak.
Sejak dimulainya negosiasi pada awal Februari, yang pertama sejak perang Juni 2025- Trump tidak berhenti mengancam penggunaan kekuatan militer, sembari memperkuat kehadiran angkatan laut dan udara AS di Timur Tengah. Sebagai tanggapan, Iran menegaskan bahwa ancaman tersebut tidak akan menghalangi pendiriannya dan bahwa mereka siap untuk membalas setiap serangan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, beberapa kekuatan regional, termasuk Qatar dan Turki, berupaya menjembatani kesenjangan antara kedua pihak dan mengurangi konflik.
Menjelang putaran negosiasi berikutnya di Jenewa, pertanyaan semakin banyak mengemuka mengenai kesediaan pemerintahan AS untuk menerima proposal Iran sebagai imbalan atas pengabaian opsi militer.
Axios mengutip seorang pejabat AS yang mengatakan bahwa Washington mungkin akan menerima pengayaan uranium simbolis, asalkan ada jaminan bahwa Iran tidak dapat memperoleh senjata nuklir.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengumumkan bahwa Teheran sedang menyiapkan proposal tertulis untuk diajukan selama negosiasi mendatang dengan AS. (raialyoum)
Tahanan ISIS di Irak akan Dipulang ke Negara Asal
Penasihat Urusan Strategis di Dewan Keamanan Nasional Irak, Saeed al-Jiyashi, mengumumkan keberhasilan pemindahan pejuang ISIS dari Suriah tanpa kesalahan, sembari menekankan bahwa keberadaan mereka di Irak bukanlah permanen, melainkan akan dikembalikan ke negara-negara asal mereka.
Dalam pernyataan kepada Kantor Berita Irak, Minggu (22/2), al-Jiyashi mengatakan, “Pemindahan tahanan ISIS merupakan keharusan keamanan nasional. Keadaan luar biasa muncul di Suriah, di mana penjara mengalami pelanggaran keamanan, beberapa dibuka, dan tahanan melarikan diri. Karena itu, perlu untuk memindahkan mereka ke Irak dalam jumlah yang diumumkan secara resmi dan menempatkan mereka di penjara yang aman.”
Dia menjelaskan, “Irak telah mengambil semua tindakan pencegahan keamanan yang diperlukan dengan partisipasi semua badan keamanan dan di bawah pengawasan Dewan Tinggi Kehakiman. Pemindahan dilakukan di bawah pengawasan Layanan Kontra-Terorisme, dan semuanya berhasil diselesaikan tanpa kesalahan. Dewan Keamanan Nasional telah memperingatkan selama lima tahun tentang penjara-penjara di Suriah yang menimbulkan ancaman bagi keamanan Irak.”
Dia menambahkan, “Penempatan tahanan ISIS di Irak di bawah kendali pasukan keamanan Irak dan peradilan Irak lebih baik. Menangani mereka dengan cara ini lebih baik daripada menangani mereka di lingkungan terbuka dan tidak terkendali, yang dapat menyebabkan bentrokan di masa depan.”
Al-Jiyashi lantas mengatakan, “Keberadaan tahanan ISIS di Irak bukanlah permanen, dan pemerintah sedang berupaya untuk memulangkan mereka ke negara masing-masing. Semua yang tiba di Irak berasal dari lebih dari 67 negara.” (alalam)






