Jakarta, ICMES. Kementerian Kesehatan Lebanon mengumumkan 13 orang gugur akibat serangan udara Israel terhadap kamp pengungsi Palestina Ain al-Hilweh di Sidon, Lebanon selatan.

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman di Gedung Putih, Washington, AS, menyatakan pihaknya ingin bergerak maju menuju normalisasi hubungan dengan Israel dan membangun “solusi dua negara”. Dia juga berjanji akan meningkatkan investasi negaranya di AS menjadi $1 triliun dalam kunjungan pertamanya ke Washington dalam tujuh tahun.
Menanggapi adopsi resolusi yang didukung AS tentang Gaza oleh Dewan Keamanan PBB, Wakil Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeed Irvani, menegaskan bahwa resolusi tersebut tidak boleh melanggar atau melemahkan hak-hak dasar rakyat Palestina.
Berita selengkapnya:
Israel Serang Kamp Pengungsi Palestina di Lebanon Selatan, 13 Orang Gugur
Kementerian Kesehatan Lebanon mengumumkan 13 orang gugur akibat serangan udara Israel terhadap kamp pengungsi Palestina Ain al-Hilweh di Sidon, Lebanon selatan.
“Serangan udara musuh, Israel, di kamp Ain al-Hilweh di Sidon menggugurkan 13 orang gugur dan melukai sejumlah lainnya,” ungkap kementerian tersebut dalam siaran persnya pada Selasa malam (18/11).
Kementerian tersebut menambahkan, “Ambulan masih mengangkut lebih banyak korban luka ke rumah sakit di sekitarnya.”
Kantor Berita Nasional Lebanon, NNA, melaporkan bahwa serangan udara tersebut “menyasar Pusat Khalid bin Walid, yang berafiliasi dengan Masjid Khalid bin Walid di kamp tersebut, dengan tiga rudal.”
NNA juga menyebutkan, “Sejumlah besar korban luka telah dirawat di rumah sakit di Sidon akibat serangan udara Israel, dan terdapat permintaan mendesak untuk donor darah dari semua jenis.”
Di pihak lain, tentara Israel dalam sebuah pernyataan mengaku telah menyerang sejumlah anggota Hamas yang “beroperasi di dalam kompleks pelatihan di wilayah Ain al-Hilweh di Lebanon selatan. Mereka menggunakan kompleks yang diserang itu untuk pelatihan dan persiapan dengan tujuan merencanakan dan melaksanakan rencana teroris terhadap IDF dan Negara Israel.”
Hamas tidak segera mengomentari pernyataan Israel tersebut.
Dalam perkembangan terkait, Makassed Islamic Charitable Society (sebuah organisasi non-pemerintah) mengumumkan dalam sebuah pernyataan penutupan sekolah-sekolahnya di Sidon pada hari Rabu “sebagai bentuk duka cita bagi para syuhada di kamp Ain al-Hilweh yang gugur akibat serangan brutal Israel, dan sebagai bentuk kutukan atas kejahatan berdarah rezim pendudukan.”
Faksi-faksi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di wilayah Sidon mengumumkan pemogokan umum dan masa berkabung, menutup semua lembaga, pusat, dan organisasi di dalam kamp “sebagai bentuk kesetiaan kepada darah para syuhada dan sebagai ungkapan kemarahan rakyat dan bangsa atas agresi yang berbahaya ini.”
Perkembangan ini terjadi beberapa jam setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa malam mengancam akan “melanjutkan perang di semua front.”
“Dalam dua tahun terakhir, kami telah melakukan banyak hal untuk memperkuat kehadiran kami di negara ini. Kami telah menyerang poros teror Iran, dan tangan kami tetap terjulur untuk lebih banyak lagi,” katanya.
Pengeboman kamp pengungsi Ain al-Hilweh didahului oleh dua serangan pesawat tak berawak Israel terhadap dua kendaraan di kota Bint Jbeil dan kota Blida di Lebanon selatan, yang menggugurkan dua orang. (raialyoum)
Berada di Gedung Putih, Bin Salman Mengaku Berupaya Menormalisasi Hubungan Saudi dengan Israel
Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman di Gedung Putih, Washington, AS, menyatakan pihaknya ingin bergerak maju menuju normalisasi hubungan dengan Israel dan membangun “solusi dua negara”. Dia juga berjanji akan meningkatkan investasi negaranya di AS menjadi $1 triliun dalam kunjungan pertamanya ke Washington dalam tujuh tahun.
“Kami ingin menjadi bagian dari Kesepakatan Abraham. Namun kami juga ingin memastikan bahwa jalan menuju solusi dua negara didefinisikan dengan jelas,” kata bin Salman di Ruang Oval setelah sambutan hangat dari Presiden AS Donald Trump, Selasa (18/11).
Dia juga mengaku telah melakukan “diskusi konstruktif” mengenai masalah ini dengan Trump. “Kami akan mengupayakan hal ini untuk memastikan bahwa kondisi yang tepat diciptakan sesegera mungkin untuk mencapai tujuan ini,” ujarnya.
Presiden AS sangat mementingkan penguatan hubungan dengan Arab Saudi yang kaya minyak, terutama dalam upayanya untuk mengubah gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza menjadi perdamaian regional yang permanen. Namun, langkah awal menuju normalisasi hubungan Saudi-Israel dengan imbalan jaminan keamanan dan energi ditangguhkan menyusul serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2013, dan perang Israel yang menghancurkan di Gaza.
Trump memulai pertemuan di Gedung Putih dengan memuji catatan HAM Bin Salman yang disebutnya “luar biasa”. Dia juga menyinggung pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada tahun 2018, dengan mengatakan, “Banyak hal telah terjadi,” dan menyebut Khashoggi sebagai sosok yang “sangat kontroversial.”
Trump juga mengecam seorang jurnalis perempuan, dan menuduhnya “mempermalukan” Bin Salman dengan pertanyaan-pertanyaannya tentang pembunuhan tersebut, yang menurut laporan intelijen AS telah disetujui oleh Bin Salman, namun Trump malah menyebutnya “tidak tahu apa-apa tentang hal itu.”
Bin Salman sendiri menanggapi dengan mengatakan bahwa pembunuhan dan mutilasi Khashoggi di dalam konsulat Saudi di Istanbul, Turki, merupakan “kesalahan besar”, dan bahwa masalah tersebut menjadi fokus penyelidikan menyeluruh. “Kami melakukan segala yang kami bisa untuk memastikan hal itu tidak akan pernah terjadi lagi,” pungkasnya. (raialyoum)
Iran Kritisi Resolusi Dewan Keamanan PBB tentang Masa Depan Gaza
Menanggapi adopsi resolusi yang didukung AS tentang Gaza oleh Dewan Keamanan PBB, Wakil Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeed Irvani, menegaskan bahwa resolusi tersebut tidak boleh melanggar atau melemahkan hak-hak dasar rakyat Palestina.
Amir Saeed Irvani menyatakan hari ini (Selasa):
“Sehubungan dengan adopsi rancangan resolusi AS kemarin, Republik Islam (Iran) mempertimbangkan kekhawatiran yang diajukan oleh anggota Dewan Keamanan tentang mekanisme yang terkandung dalam resolusi tersebut, yang berupaya menghindari tanggung jawab PBB dan Dewan Keamanan itu sendiri,” ungkap Irvani dalam pertemuan Komite Keempat Dewan Keamanan, yang meninjau resolusi usulan AS, Selasa (18/11)
Dia menambahkan, “Kendati banyak anggota menyatakan kekhawatiran ini, mereka tetap mendukung resolusi ini dengan tujuan yang mendesak dan mendasar: menghentikan pertumpahan darah dan genosida di Gaza, melindungi nyawa warga sipil Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, memastikan gencatan senjata permanen, memfasilitasi akses kemanusiaan berskala besar, dan memastikan penarikan penuh pasukan pendudukan Israel.”
Irvani memperingatkan, “Republik Islam Iran menekankan bahwa resolusi ini dan mekanismenya, atau implementasinya, tidak boleh ditafsirkan atau diterapkan dengan cara yang melanggar atau merongrong hak-hak dasar rakyat Palestina, termasuk hak mereka untuk menentukan nasib sendiri dan pembentukan negara Palestina yang merdeka.”
Wakil Tetap Iran untuk PBB menegaskan, “Gaza merupakan bagian integral dari wilayah Palestina, dan persatuan serta integritas teritorialnya harus dijaga sepenuhnya. Wilayah ini harus dikelola oleh komite transisi Palestina. Sebagaimana juga telah ditegaskan oleh banyak anggota Dewan, aneksasi, pendudukan, atau pemindahan paksa tidak boleh diizinkan atau dibenarkan berdasarkan resolusi baru ini. Bantuan kemanusiaan harus didistribusikan secara bebas dan tanpa campur tangan melalui badan-badan PBB di seluruh Gaza.”
Dia juga menegaskan, “Mencapai keadilan sejati membutuhkan akuntabilitas penuh. Para pelaku kejahatan perang, genosida, dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza harus diadili, dan impunitas entitas Israel yang telah berlangsung selama puluhan tahun harus diakhiri.” (alalam)









