Jakarta, ICMES. Hasil indeks global yang mengukur reputasi negara-negara untuk tahun 2025 mengungkapkan bahwa citra Israel telah merosot ke titik terendah secara global, menempati peringkat terakhir di antara 50 negara untuk tahun kedua berturut-turut, menurut media Israel.

Tiga orang gugur dalam dua serangan udara Israel di Lebanon timur dan selatan, menandai pelanggaran baru terhadap perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak tahun lalu, kata pihak berwenang Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa kubu musuh negaranya menggeser taktik tekanannya terhadap Iran ke arah perang ekonomi setelah gagal mencapai tujuannya melalui cara militer.
Berita selengkapnya:
Reputasi Israel Tercatat Terburuk di Dunia
Hasil indeks global yang mengukur reputasi negara-negara untuk tahun 2025 mengungkapkan bahwa citra Israel telah merosot ke titik terendah secara global, menempati peringkat terakhir di antara 50 negara untuk tahun kedua berturut-turut, menurut media Israel.
Hal ini terungkap dalam laporan terbaru Indeks Reputasi Global – yang juga dikenal sebagai “Indeks Reputasi Nasional”- yang mengukur persepsi internasional terhadap negara-negara berdasarkan opini publik global, seperti dilaporkan oleh Jerusalem Post (JP) pada hari Kamis (26/12).
Dengan dukungan AS, Israel melancarkan perang genosida di Gaza pada 8 Oktober 2023, yang berlangsung selama dua tahun dan menjatuhkan korban gugur sekitar 71.000 warga Palestina dan korban lebih dari 171.000 orang, yang sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan.
Gencatan senjata antara Hamas dan Israel mulai berlaku pada 10 Oktober, tetapi Israel melanggarnya setiap hari, hingga mengakibatkan kematian 406 warga Palestina hingga Selasa (23/12).
Selama dua tahun terakhir, gelombang demonstrasi anti-Israel melanda berbagai negara dunia, yang beberapa di antaranya juga telah mengambil tindakan terhadap Tel Aviv, termasuk menghentikan ekspor senjata, yang menyebabkan apa yang disebut oleh politisi Israel sebagai “isolasi internasional.”
Menurut JP, laporan Indeks Global menunjukkan bahwa skor Israel telah turun sebesar 6,1 persen, penurunan terbesar sejak indeks tersebut pertama kali dibuat hampir 20 tahun yang lalu. Laporan tersebut tidak memberikan detail lebih lanjut tentang skor saat ini.
JP menyebutkan survei tersebut dilakukan antara Agustus dan September 2025, dengan sekitar 40.000 peserta dari 20 negara, yang mewakili sekitar 70 persen populasi dunia.
Disebutkan bahwa indeks yang disusun oleh perusahaan multinasional Ipsos (berkantor pusat di Paris) ini, “mengandalkan pengukuran persepsi daripada kinerja aktual, dan mencakup bidang pariwisata, budaya, pemerintahan, ekonomi, imigrasi, dan citra penduduk.”
Laporan indeks global mencatat bahwa “Israel berada di peringkat terbawah dalam sebagian besar kategori ini.”
Penurunan citra Israel yang paling signifikan tercatat di kalangan anak muda di negara-negara Barat, di mana Israel kini digambarkan oleh sebagian besar dari mereka sebagai “kolonial atau tidak sah, dengan perbedaan yang semakin kabur dalam kesadaran global antara kebijakan pemerintah Israel dan masyarakat Israel secara umum.”
JP menambahkan menurut laporan indeks tersebut, “penurunan citra internasional ini bertepatan dengan meningkatnya boikot dan protes di luar negeri, termasuk slogan-slogan yang diteriakkan selama demonstrasi pro-Palestina seperti ‘Bebaskan Palestina, Boikot Israel.”
JP memperingatkan, “kerusakan reputasi yang berkelanjutan dapat berdampak negatif pada ekonomi, pariwisata, dan investasi dalam jangka panjang.”
Ekonomi Israel terdampak oleh kampanye boikot populer global yang terkait dengan perang di Gaza. Boikot ini telah meluas dari jalanan ke pasar makanan dan barang konsumsi, mendorong banyak konsumen dan importir untuk menghindari berurusan dengan perusahaan Israel.
Menurut situs berita ekonomi Israel Wasla (publikasi swasta), 60.000 perusahaan Israel menutup operasinya pada tahun 2024. (ry)
Tiga Orang Gugur Diserang Israel di Lebanon , Satu Anggota IRGC Diklaim sebagai Salah Satu Target
Tiga orang gugur dalam dua serangan udara Israel di Lebanon timur dan selatan, menandai pelanggaran baru terhadap perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak tahun lalu, kata pihak berwenang Lebanon.
Kementerian Kesehatan menyatakan dua orang gugur ketika sebuah drone Israel menghantam sebuah minibus di Lebanon timur, Kamis (25/12).
Menurut kantor berita Lebanon, NNA, drone tersebut menghantam kendaraan di jalan Hosh al-Sayyed Ali di distrik Hermel.
Kementerian Kesehatan menyatakan orang ketiga gugur dalam serangan Israel di kota Majdal Selm di distrik Marjayoun di Lebanon selatan.
Juru bicara militer Israel Avichay Adraee di palform X mengklaim bahwa serangan di al-Nasiriyah di Lebanon timur menyasar Hussein Mahmoud Mershed Al-Jawhari, yang dia sebut sebagai “seorang operator terkemuka” di Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.
Tentara Israel juga mengklaim telah menyerang seorang anggota Hizbullah di daerah Al-Jumayjimah di Lebanon selatan.
NNA melaporkan bahwa sebuah drone Israel menyerang sebuah kendaraan di kota Safad El-Battikh di distrik Bint Jbeil, melukai satu orang.
Menurut NNA, Beberapa pesawat tempur Israel terbang di angkasa kota Baalbek di Lebanon timur dan kota-kota sekitarnya sebelum mundur ke arah tenggara. Drone juga dilaporkan terbang di atas pinggiran selatan Beirut dan daerah sekitarnya.
Serangan hari Kamis terjadi beberapa jam setelah seorang pejalan kaki terluka dalam serangan drone Israel terhadap sebuah mobil di kota Jannata di distrik Tyre di Lebanon selatan pada Rabu malam.
Israel dan Lebanon mencapai gencatan senjata pada November 2024 setelah lebih dari setahun serangan lintas perbatasan di tengah perang di Gaza. Lebih dari 4.000 orang tewas, dan 17.000 lainnya terluka.
Di bawah gencatan senjata, pasukan Israel seharusnya menarik diri dari Lebanon selatan pada bulan Januari, tetapi hanya sebagian yang ditarik, dan masih mempertahankan kehadiran militer di lima pos perbatasan. (nna)
Menlu Iran: Musuh Beralih ke Perang Ekonomi setelah Gagal dalam Perang Militer
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa kubu musuh negaranya menggeser taktik tekanannya terhadap Iran ke arah perang ekonomi setelah gagal mencapai tujuannya melalui cara militer.
Pada sebuah acara di kota Isfahan, Iran tengah, Kamis (25/12), Araghchi mengatakan, “Menurut saya, begitu musuh menyadari bahwa rakyat Iran tetap teguh, mereka sekarang menargetkan mata pencaharian rakyat. Melalui perang ekonomi dan sanksi, musuh ingin memperoleh apa yang gagal mereka peroleh melalui perang militer.”
Menyinggung hari-hari awal perang Israel dan AS terhadap Iran pada bulan Juni, Araghchi menyebutkan bahwa ketika bangsa Iran tetap teguh, sejak awal telah dikirim pesan-pesan yang meminta negosiasi untuk mengakhiri perang.
“Pada hari-hari awal perang 12 hari, mereka mengirim pesan yang mengatakan, ‘Mari kita bernegosiasi agar kita dapat mengakhiri perang,’” tuturnya.
Namun, sambungnya, jalannya perang menyebabkan perubahan nada AS, termasuk di media sosial.
“Selama perang 12 hari, unggahan presiden AS di X bergeser dari desakan penyerahan tanpa syarat menjadi seruan gencatan senjata,” ujarnya.
Dia lantas menekankan bahwa dengan petunjuk Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Iran memilih jalan perlawanan sepanjang agresi tersebut.
“Dengan kebijaksanaan Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, kami memilih perlawanan. Situasi mencapai titik di mana, pada hari ke-12, Amerika mengirim pesan yang mengatakan bahwa rezim Zionis akan menghentikan operasi mulai pukul empat pagi, dan meminta agar kami juga berhenti,” terangnya.
Araghchi menyebut perlawanan sebagai kunci keberhasilan Iran dalam menghadapi tekanan dan krisis.
“Rahasia kemenangan revolusi dan kemenangan bangsa Iran adalah perlawanan. Dalam kondisi dan krisis terberat sekalipun, bangsa yang menang adalah bangsa yang melawan dan tidak meninggalkan prinsip dan martabatnya,” pungkasnya. (pt/ry)









