Jakarta, ICMES. Mantan diplomat Iran Amir Musawi menyatakan negaranya memiliki kesiapan yang tinggi, dan bahkan tidak tertutup kemungkinan akan melancarkan serangan pre-emptive.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam kunjungannya ke Lebanon menegaskan bahwa Iran tidak mencari perang tetapi siap jika perang dipaksakan terhadapnya.
22 negara Arab dan Islam merilis pernyataan bersama mengutuk kunjungan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar ke wilayah Somaliland – yang memisahkan diri dari Somalia- dan menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan Republik Somalia dan pelemahan Piagam PBB.
Saluran televisi Israel Channel 13 melaporkan bahwa Angkatan Laut (AL) Israel menembaki sebuah kapal Mesir yang memasuki perairan teritorial Gaza.
Berita selengkapnya:
Amir Musawi: Iran Berkemungkinan Melancarkan Serangan Pre-emptive
Mantan diplomat Iran Amir Musawi menyatakan negaranya memiliki kesiapan yang tinggi, dan bahkan tidak tertutup kemungkinan akan melancarkan serangan pre-emptive.
“Kali ini, karena ada kesiapan yang tinggi, saya menduga bahwa Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan memberi pelajaran dengan menyerang pihak agresor sebelum pihak ini melakukan aksi-aksi keji mereka terhadap bangsa Iran,” ujarnya dalam sebuah rekaman video yang beredar belakangan ini.
Dia menjelaskan, “Kali ini, selain menyerang markas-markas utama mereka, bisa jadi Iran juga menjangkau para antek mereka, pangkalan-pangkalan mereka, dan pihak yang membantu mereka di kawasan sekitar, karena segala sesuatunya terpantau.”
Amir Musawi kemudian mengimbau negara-negara sekitar Iran dengan mengatakan, “Kami berharap negara-negara tetangga memahami masalah ini, berhati-hati dalam berinteraksi dengan musuh, dan tidak membiarkan diri menjadi jalur lalu lintas dan tempat akumulasi peralatan musuh untuk menyerang Iran.”
Dia menambahkan, “Di masa lalu, bisa jadi Iran masih berusaha menutup mata, dan menolerir siapa yang menyerangnya dari beberapa negara jiran. Tapi kali ini, saya kira, perkaranya berbeda, dan dalam serangan pre-emptive pun bisa jadi pangkalan-pangkalan di negara-negara ini akan dihantam.” (medsos)
Berkunjung ke Lebanon, Menlu Iran: Kami Tidak Takut Perang
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam kunjungannya ke Lebanon menegaskan bahwa Iran tidak mencari perang tetapi siap jika perang dipaksakan terhadapnya.
Dalam pernyataan kepada wartawan di Beirut, Kamis (8/), Araghchi mengumumkan bahwa kunjungannya bertujuan untuk mengadakan konsultasi intensif dengan para pejabat Lebanon mengenai perkembangan regional, khususnya ancaman yang ditimbulkan oleh entitas Zionis Israel, serta untuk membahas cara-cara memperkuat hubungan bilateral selama periode sensitif ini.
Dia mengaku akan mengadakan pertemuan dengan para pejabat Lebanon, dan menjelaskan bahwa tujuan utama kunjungan ini adalah untuk berkonsultasi dengan pemerintah Lebanon mengenai perkembangan regional.
Dia menyebutkan bahwa kawasan Timur Tengah sedang menghadapi tantangan dan ancaman serius, terutama dari Israel, dan bahwa selama dua tahun terakhir, tujuh negara regional, termasuk Iran dan Lebanon, telah menjadi sasaran serangan Israel.
Menurutnya, sebagian wilayah Lebanon masih berada di bawah pendudukan Israel dan bahwa perjanjian gencatan senjata yang diumumkan tahun lalu telah berulang kali dilanggar Israel. Dia menekankan bahwa kunjungannya bertujuan terutama mengadakan konsultasi ekstensif dengan para pejabat senior Lebanon mengenai tantangan dan ancaman ini.
Araghchi memastikan negaranya akan terus mendukung persatuan nasional, kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas wilayah Lebanon. Dia menegaskan bahwa sikap pemerintah Lebanon terhadap Iran selalu didasarkan pada prinsip yang sama, dan Teheran berupaya mengembangkan hubungan berdasarkan rasa saling menghormati dan pencapaian kepentingan bersama.
Menanggapi pertanyaan mengenai ancaman Israel terhadap Lebanon, Araghchi mengatakan bahwa negaranya akan mengadakan konsultasi erat dengan para pejabat Lebanon mengenai masalah krusial ini.
Menteri Luar Negeri Iran juga menjawab pertanyaan lain mengenai ancaman AS dan Israel terhadap Iran. Dia menegaskan bahwa AS dan Israel sebelumnya telah mencoba menyerang Iran dan gagal, dan jika keduanya mengulangi pengalaman ini hasilnya akan tetap sama.
Dia lantas menegaskan bahwa Iran siap menjalani skenario apa pun dan tidak mencari perang, tetapi siap menjalaninya. Dia juga menyatakan negaranya terbuka untuk negosiasi, asalkan didasarkan pada rasa saling menghormati, dan negosiasi tidak dapat dimulai selama didasarkan pada dikte. (alalam)
22 Negara Islam Kecam Kunjungan Menlu Israel ke Somaliland
22 negara Arab dan Islam merilis pernyataan bersama mengutuk kunjungan Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar ke wilayah Somaliland – yang memisahkan diri dari Somalia- dan menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan Republik Somalia dan pelemahan Piagam PBB.
Pernyataan tersebut ditandatangani oleh Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan para menteri luar negeri Indonesia, Iran, Aljazair, Bangladesh, Komoro, Djibouti, Mesir, Gambia, Yordania, Kuwait, Libya, Maladewa, Nigeria, Oman, Pakistan, Palestina, Qatar, Arab Saudi, Somalia, Sudan, Turki, dan Yaman.
Para penandatangan menyatakan “kecaman keras mereka terhadap kunjungan ilegal baru-baru ini oleh seorang pejabat Israel ke wilayah Somaliland di Republik Federal Somalia pada tanggal 6 Januari.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan, persatuan, dan integritas teritorial Republik Federal Somalia, dan merusak norma-norma internasional yang telah ditetapkan serta Piagam PBB.”
Ke-22 negara tersebut menegaskan kembali dukungan mereka kepada kedaulatan dan integritas teritorial Republik Somalia, dan menekankan bahwa “promosi agenda separatis tidak dapat diterima dan mengancam akan memperburuk ketegangan di wilayah yang sudah rapuh ini.”
Menteri Luar Negeri Israel tiba di Hargeisa, Somaliland, Selasa lalu, menandai kunjungan pertama sejak Israel mengakui wilayah yang memisahkan diri tersebut pada akhir Desember 2025. (aljazeera)
AL Israel Tembak Kapal Perang Mesir di Perairan Gaza
Saluran televisi Israel Channel 13 pada Kamis malam (8/1) melaporkan bahwa Angkatan Laut (AL) Israel menembaki sebuah kapal Mesir yang memasuki perairan teritorial Gaza.
Saluran tersebut merinci bahwa sebuah kapal perang Mesir memasuki perairan teritorial Gaza, sebuah wilayah terlarang, sehingga kapal-kapal AL Israel untuk melepaskan tembakan.
Ditambahkan bahwa kapal Mesir tersebut kembali ke perairan teritorial Mesir.
Menurut sumber yang sama, kapal Mesir tersebut telah meninggalkan Semenanjung Sinai dan memasuki zona maritim di bawah blokade AL Israel.
Ketika kapal tersebut terlihat, kapal perang dari pangkalan AL Ashdod dikerahkan dan memerintahkan kapal Mesir tersebut untuk kembali ke Mesir. Saat kapal itu terus melaju menuju Gaza, kapal perang melepaskan tembakan peringatan, yang kemudian membuat kapal Mesir tersebut berbalik arah dan kembali.
Seorang juru bicara militer Israel menyatakan bahwa sebuah kapal Mesir sempat memasuki perairan teritorial Israel. Pasukan Israel bertindak sesuai prosedur standar, memerintahkan kapal tersebut untuk berhenti. Ketika kapal tersebut gagal mematuhi perintah, tindakan diambil untuk mencegatnya, dan kapal tersebut mengubah haluan menuju perairan Mesir.
Sumber militer Israel mengatakan kepada Channel 13 bahwa pihak Mesir bertanggung jawab atas insiden tersebut dan telah mengakui tanggung jawab mereka. (ry)










