Jakarta, ICMES. Iran telah meluncurkan tiga satelit penginderaan jauh buatannya dengan menggunakan wahana Soyuz Rusia. Para pejabat Iran mengatakan ketiga satelit tersebut diluncurkan ke orbit dari Kosmodrom Vostochny Rusia sebagai bagian dari misi multi-muatan.

Sekjen Hizbullah Syeik Naim Qassem menegaskan bahwa desakan pelucutan senjata Hizbullah adalah proyek Israel-Amerika, meskipun di Lebanon secara resmi disebut pembatasan senjata.
Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, mengecam dukungan Israel kepada pemisahan diri Somaliland dari Somalia, dan memperingatkan bahwa kehadiran Israel di Somaliland akan dianggap sebagai “target militer” Yaman.
Berita selengkapnya:
Iran Luncurkan Tiga Satelit Penginderaan Jauh Buatannya dengan Wahana Soyuz Rusia
Iran telah meluncurkan tiga satelit penginderaan jauh buatannya dengan menggunakan wahana Soyuz Rusia, Minggu (28/12).
Para pejabat Iran mengatakan ketiga satelit tersebut diluncurkan ke orbit dari Kosmodrom Vostochny Rusia sebagai bagian dari misi multi-muatan, menandai ketujuh kalinya Iran menggunakan roket Rusia untuk peluncuran satelit.
Wahana pembawa satelit Soyuz lepas landas pada hari Minggu pukul 16:48 waktu Teheran, membawa beberapa muatan, termasuk satelit Zafar 2, Paya, dan Kowsar milik Iran.
Kepala Badan Antariksa Iran, Hassan Salarieh, mengatakan peluncuran tersebut menandai masa depan yang cerah bagi sektor antariksa negara republik Islam ini.
“Peluncuran satelit-satelit ini yang sukses, yang dicapai melalui partisipasi berbagai aktor dalam industri antariksa, mencerminkan perluasan cakupan program antariksa Iran dan pertumbuhan pesat para pemain baru di bidang ini,” katanya.
Salarieh menyebutkan Iran telah lama termasuk di antara 10-11 negara dunia berteknologi luar angkasa yang lengkap, mulai dari membangun satelit dan kendaraan peluncur hingga memiliki sistem sendiri untuk meluncurkan, mengendalikan, dan menerima data.
Dalam sambutannya menjelang peluncuran, Duta Besar Iran untuk Moskow, Kazem Jalali, menyebut misiini sebagai langkah maju yang besar bagi program luar angkasa Iran.
Dalam serangkaian unggahan di platform media sosial X, Jalali menekankan bahwa satelit-satelit tersebut dirancang dan dibangun sepenuhnya dengan teknologi asli Iran, hasil kolaborasi antara lembaga pemerintah, universitas, dan perusahaan swasta berbasis sains.
Dia menjelaskan bahwa meskipun semua tahapan desain dan konstruksi satelit-satelit itu diselesaikan di Iran, peluncurannya dilakukan bekerja sama dengan Rusia.
“Dua satelit di antaranya milik pemerintah, dan satu lagi milik sektor swasta, perusahaan serta universitas berbasis sains kami aktif di bidang ini,” tuturnya.
Paya (Tolou 3), dengan berat 150 kilogram, adalah satelit terberat Iran hingga saat ini. Satelit ini menghasilkan citra dengan resolusi sekitar lima meter dalam warna hitam putih dan 10 meter dalam warna.
Zafar 2, yang dikembangkan oleh Universitas Sains dan Teknologi Iran, dirancang untuk memantau sumber daya alam, menilai kondisi lingkungan, dan menyediakan data untuk respon bencana dan pemetaan.
Kowsar 1.5, versi yang ditingkatkan dari satelit Kowsar dan Hodhod sebelumnya, mengintegrasikan kemampuan Internet of Things (IoT), memungkinkan transmisi data waktu nyata untuk sistem pemantauan pintar.
Iran pertama kali memasuki arena antariksa pada tahun 2009 dengan peluncuran satelit Omid. Di tengah sanksi Barat, Teheran terus memperluas program antariksa sipilnya. (ptv)
Syeikh Naim Qassem: Isu Perlucutan Senjata adalah Agenda Israel-AS meski Dinamai Pembatasan Senjata
Sekjen Hizbullah Syeik Naim Qassem menegaskan bahwa desakan pelucutan senjata Hizbullah adalah proyek Israel-Amerika, meskipun di Lebanon secara resmi disebut pembatasan senjata.
Dalam pidatonya pada acara haul salah satu pemimpinnya, Muhammad Yaghi, di kota Baalbek (Lebanon timur), Ahad (28/12), Syekh Qassem mengatakan bahwa semua upaya tekanan tidak akan mengubah sikap Hizbullah.
“Silakan memberi tekanan maksimal, dan bekerja sama dengan makhluk yang paling kejam, kami tidak akan mundur, tidak akan menyerah, dan kami akan membela hak-hak kami. Kubu perlawanan (Hizbullah) akan bertahan dan mencapai tujuannya, meskipun membutuhkan waktu,” tegasnya.
Syeikh Naim Qassem menyatakan bahwa kubu perlawanan maupun pemerintah Lebanon tidak diharuskan melaksanakan apa pun sebelum Israel melaksanakan apa yang telah disepakati. Ada pihak-pihak yang menginginkan tentara Lebanon bertindak dengan tangan besi, dan mereka merasa terganggu oleh kerja sama yang ada antara tentara dan gerakan perlawanan.
Dia menekankan bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah penghentian agresi melalui darat, laut, dan udara, pelaksanaan penarikan pasukan secara penuh, pembebasan tahanan, dan pembangunan kembali wilayah selatan.
“Jangan meminta apa pun lagi dari kami, dan negara tidak diharuskan menjadi polisi,” tegasnya.
Syeikh Naim Qassem menyatakan demikian pada saat yang kritis, karena Israel telah mensyaratkan keputusannya untuk tidak melancarkan serangan skala besar ke Lebanon dengan kemampuan pemerintah dan tentara Lebanon melucuti senjata Hizbullah sebelum akhir tahun 2025, tenggat waktu yang hanya tinggal beberapa hari lagi.
Sekjen Hizbullah juga mengatakan, “Kita berada di persimpangan sejarah. Kita bisa memberikan kendali penuh kepada AS dan Israel atas Lebanon, atau kita bangkit secara nasional dan merebut kembali kedaulatan kita.”
Dia menambahkan, “Pelucutan senjata adalah proyek Israel-Amerika, meskipun secara resmi disebut pembatasan senjata.” (ry)
Pemimpin Ansarullah Tegaskan Keberadaan Israel di Somaliland akan Jadi Target Militer Yaman
Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, mengecam dukungan Israel kepada pemisahan diri Somaliland dari Somalia, dan memperingatkan bahwa kehadiran Israel di Somaliland akan dianggap sebagai “target militer” Yaman.
Dia menegaskan pihaknya menganggap “kehadiran Israel di wilayah Somaliland sebagai target militer bagi angkatan bersenjata kami, karena hal itu merupakan agresi terhadap Somalia dan Yaman, dan ancaman bagi keamanan regional.”
Somaliland mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia pada tahun 1991 ketika Republik Somalia dilanda kekacauan setelah runtuhnya rezim militer Siad Barre. Namun, Somaliland gagal mendapatkan pengakuan dari negara manapun di antara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Israel pada hari Jumat menjadi negara pertama yang mengakui Somaliland.
Somaliland terletak di bagian barat laut Somalia dengan luas 175.000 kilometer persegi. Somaliland dicirikan relatif stabil dibandingkan dengan Somalia, yang dilanda pemberontakan al-Shabaab dan konflik politik kronis.
Namun, Somaliland belum diakui oleh negara mana pun, sehingga terisolasi secara politik dan ekonomi meskipun lokasinya berada di pintu masuk Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia yang menghubungkan Samudra Hindia ke Terusan Suez.
Kedekatan hubungan Israel dengan Somaliland akan memberi rezim Zionis tersebut akses yang lebih besar ke Laut Merah, dan memungkinkan Israel untuk menyerang Yaman dari sana.
Somaliland termasuk di antara beberapa negara yang beberapa bulan lalu disebut-sebut sebagai tujuan potensial bagi orang Palestina yang mungkin akan dipindahkan Israel dari Gaza.
Pengakuan Israel terhadap Somaliland telah memicu kecaman di Afrika dan negara-negara Muslim.
Uni Eropa pada hari Sabtu menekankan perlunya menghormati kedaulatan Somalia, dan melalui juru bicara urusan luar negerinya, Anwar Al-Announi, menyerukan “dialog yang bermakna antara Somaliland dan Pemerintah Federal Somalia untuk menyelesaikan perselisihan yang telah berlangsung lama.” (ry)










