[Jurnal] Fenomena Hizbullah Menurut Teori Asosiasi Diferensial

DISCLAIMER:

Tulisan ini telah merupakan intisari dari jurnal yang dimuat dalam Journal of Human Behavior in the Social Environment, 23:4, 475-484, DOI: 10.1080/10911359.2013.772425. Dipublikasikan secara online pada 20 April 2013 di tautan ini: http://dx.doi.org/10.1080/10911359.2013.772425. Perspektif, analisis, dan kesimpulan yang dilakukan penulis jurnal tidak mencerminkan sikap ICMES. Pemuatan artikel ini bertujuan untuk mempelajari model-model analisis yang dilakukan para ilmuwan dari berbagai latar belakang, dengan tujuan akademis. Selanjutnya, ICMES akan membuat tulisan [Commentary] yang berisi tanggapan ilmiah atas artikel jurnal ini.

hezbollah-flag-1508x706_cFenomena Hizbullah Menurut Teori Asosiasi Diferensial

Taylor Armstrong & Jonathan Matusitz [1]

Pendahuluan

Hizbullah merupakan kelompok teroris Syiah di Lebanon yang didirikan pada tahun 1982 oleh Sayyid Hassan Nasrallah. Edwin Sutherland (1949), seorang sosiolog Amerika menerangkan teori asosiasi diferensial bersandar pada premis bahwa kekerasan perilaku dipelajari dalam suatu kelompok. Manusia tidak cukup hanya sekedar bertindak semata, melainkan harus belajar memahami trik, kegagalan, ataupun keberhasilan dari suatu kelompok tertentu. Teori ini relevan uuntuk menjelaskan keberhasilan Hizbullah dalam merekrut anggota baru yang bersedia melakukan serangan atau kegiatan terorisme.

Modal utama suatu kelompok teroris adalah komunikasi. Anggota Hizbullah melakukan komunikasi intensif antar sesama anggota untuk mengembangkan keterampilan tempur ataupun melakukan kekerasan dan kejahatan. Hizbullah juga memiliki ikatan religius seperti perayaan Asyura ataupun Hari Al-Quds Internasional yang merupakat simbol perekat. Sutherland tertarik mengembangkan teori baru dalam kriminologi. Melalui makalah ini, penulis akan memberikan gambaran tentang Hizbullah, keyakinan pokoknya, dan serangkaian peristiwa yang menyebabkan kelompok teroris ini terbentuk. Inti dari analisis ini adalah penerapan teori asosiasi diferensial untuk Hizbullah.

Dikembangkan oleh Edwin Sutherland (1949), teori asosiasi diferensial merumuskan bahwa belajar, terutama mempelajari cara-cara melakukan kekerasan terjadi pada kelompok yang memiliki pemikiran yang sama. Sutherland merasa berkewajiban memperbaiki pendekatan teoritis untuk kriminologi. Paradigma utama saat itu telah berlaku selama berabad-abad, yang menyatakan bahwa sebagian besar tindak kekerasan terjadi karena seseorang menderita kelainan jiwa. Meskipun paradigma ini masih diyakini, namun tidak ada bukti ilmiah atau studi yang mengkonfirmasi bahwa paradigma itu akurat.Hasil dari paradigma tersebut adalah munculnya rumah sakit jiwa yang populer di Amerika Serikat maupun negara lainnya yang digunakan untuk menangani hampir semua individu pelaku kejahatan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.

Sutherland mengambil pendekatan buta untuk mengindentifikasi penyebab penting terjadinya kejahatan. Matsueda (2008) menjelaskan teori asli kejahatan yang dikemukakan oleh Sutherland memiliki beberapa penyebab seperti kondisi kejiwaaan, keluarga yang tidak harmonis, status miniritas di masyrakat, umur, kelas, sosialisasi yang tidak memadai dan orang tua yang merupakan pecandu alkohol. (P. 125). Persepsi seperti ini diterima oleh banyak orang saat itu. Jika Sutherland mengkoreksi konsep ini, ia akan mendapatkan tekanan. Namun ia tetap bersikukuh menolak pandangan masyarakat dunia tentang kriminal. Ia tidak menyukai kenyataan bahwa tidak ada premis ilmiah di balik teori pelaku kekerasan (De Fleur & Quinney, 1966). Bahkan, pada saat ia melakukan penelitiannya, Michael dan Adler (1933) telah menerbitkan kritik dari definisi saat kriminologi, dan menyatakan bahwa kriminologi menggunakan metode ilmiah.

Sutherland bertekad untuk menemukan kelemahan itu dan ia memulai dengan melihat perbedaan antara teori kriminologi yang telah diyakini masyarakat dengan penelitian yang ia lakukan saat itu. Ada beberapa korelasi seperti jenis kelamin dan warna dari orang-orang melakukan kejahatan, tapi ia mulai melihat bahwa sebagian besar kejahatan tidak terjadi begitu saja. Matsueda (2008) menyatakan Sutherland menemukan sembilan proposisi untuk menjelaskan penelitian terbarunya. Proposisi ini memiliki tiga konsep yang terlibat salah satunya adalah asosiasi diferensial. Teori ini bertumpu pada premis bahwa pembelajaran perilaku kekerasan paling efisien ketika ditumbuh-kembangkan dalam kelompok yang memiliki pemikiran/ ideologi yang sama (Sutherland, 1949). Untuk melakukan kejahatan, satu-satunya yang dibutuhkan adalah kesempatan. Cara-cara melakukan kekerasan dipelajari dengan melakukan komunikasi antar anggota (Sutherland & Cressey, 1978). Jika keuntungan yang didapat dirasakan lebih besar daripada resiko, maka kesempatan untuk melakukan kejahatan akan meningkat. Ini merupakan fakta sederhana. Bagi Sutherland (1942), untuk melakukan sebuah kejahatan, rasio yang menguntungkan harus lebih besar daripada yang tidak menguntungkan.

Tinjauan Pustaka

Hizbullah adalah kelompok teroris Syiah Lebanon yang telah dikecam oleh banyak negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia. Pada tahun 1982, Israel menyerbu Lebanon, bertepatan dengan penciptaan Hizbullah (Schleifer, 2006). Saat pasukan Israel memasuki Lebanon, tidak ada pertempuran yang terjadi. Norton (2009) yang mengutip pernyataan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak yang dimuat pada majalah Newsweek, “Ketika kami memasuki Lebanon, tidak ada Hizbullah; kehadiran kami ada yang menciptakan Hizbullah (hal. 33). Menurut Norton (2009), “Dengan menjadikan Amerika Serikat sebagai musuh ummat Islam, Hizbullah mendakwa bahwa Israel merupakan ujung tombak yang secara langsung maupun tidak langsung menimbulkan penderitaan bagi ummat Islam di Lebanon,”(P. 37).

Meskipun menurut negara-negara Barat anggota Hizbullah adalah teroris, di mata pemimpin dan anggota kelompok itu sendiri, mereka mengkalim telah melakukan hal yang benar menurut kelompoknya. Menurut Alagha (2011), “Hizbullah menggunakan legitimasi dari Al-Qur’an sebagai ideologi politiknya dan menjadikan ayat-ayat di dalamnya untuk membenarkan tindakan mereka,”(hal. 15). Yang harus dipahami adalah kita memiliki keyakinan, tradisi dan budaya hidup yang jauh berbeda. Issa, Rizk, dan Mounayer (2001) menyebutkan bahwa Ayatullah Khomeini merupakan figur yang sangat dihormati Hizbullah, dan ia berkata, “Berjuang di jalan syuhada, karena syuhada adalah esensi sejarah.”

Pertumbuhan kaum Muslim di Timur Tengah tidaklah sama dengan pertumbuhan Muslim di wilayah maju seperti California. Mereka menjalani kehidupan yang berbeda sejak lahirnya, karena anak-anak di Timur Tengah banyak tidak memiliki ayah karena ayah mereka gugur sebagai martir. Anak-anak itu pun tumbuh dan ingin mengikuti jejak sang ayah, ingin menjadi martir seperti sang ayah. Mereka tumbuh dalam doktrin bahwa “Merupakan tugas seluruh kaum Muslimin untuk membebaskan Yerusalem.” Gugurnya seseorang sebagai martir merupakan sebuah pesan yang akan menyebabkan orang lain akan melakukan hal yang serupa. (Sandler, 2003). Menurut Issa et al. (2001), Hizbullah sebenarnya mengakui bahwa filosofi kemartiran melebihi komprehensi mereka.

Pemimpin Hizbullah, Sayyed Hassan Nasrallah memiliki pengaruh kuat bagi pada pengikutnya dan memahami apa yang diperlukan untuk menyukseskan cita-cita mereka. Dia memimpin para pengikutnya dengan janji-janji kehidupan yang lebih baik setelah bergabung dengan Hizbullah. Ia berpidato dengan mengunakan kalimat-kalimat inspiratif, menjelaskan penyebab (masalah) dan apa yang harus mereka lakukan untuk memperbaiki hal itu. Hamzeh (2004) menyebutkan, “Hizbullah menggelar parade militer terbesar yang pernah ada pada Desember 2001 yang menampilkan sekitar 200.000 anggota, yang telah bertekad kuat dan siap mati untuk cita-cita organisasi (hal. 145).

Sejak awal, Hizbullah merupakan organisasi dengan pemimpin yang masih muda dan cenderung tenang/ pasif hingga datangnya invansi Israel. Tidak hanya mengusir Israel, Hizbullah juga tidak bergeming dari daerah Lebanon bagian selatan setelah mendudukinya. Keberadaan Israel membuat Hizbullah tumbuh subur, menjadi kelompok yang kejam. Israel masih bercokol di Lebanon dan kebencian terhadap Angkatan Pertahanan Israel semakin meningkat. Teknologi Israel jauh lebih unggul daripada yang dimiliki oleh pemberontak tersebut. (Salameya & Pearson, 2007).

Menurut Blanford, Ian, dan Stephen (2006), “Tujuan Israel adalah menghancurkan militer Hizbullah”(hal. 34). Jelas Israel mengetahui bahwa teknologinya jauh lebih canggih, dan memang diplot untuk menghancurkan Hizbullah. Bahkan, pasukan Israel menembaki penduduk sipil untuk membuat mengkambing-hitamkan pasukan perlawanan, seolah-olah Hizbullah yang melakukan pembunuhan tersebut. Akibatnya, pemimpin Hizbullah merekrut anggota di seluruh negeri untuk menghadapi serangan ini. Mereka sigap membantu korban yang terluka dan memperbaiki bangunan yang hancur. Saat itu, Hizbullah belum memiliki kekuatan untuk mengeyahkan Israel (Kalb, 2007).

Hizbullah menggunakan cara-cara yang umum saat melakukan penyerangan. Pertama-tama, mereka akan mencari lokasi yang aman untuk berlindung. Dengan ‘berkolaborasi’ dengan alam sekitar, Hizbullah menyerang musuh, menyapu bersih dan meraih kemenangan. Menurut Matthews dan Combat Studies Institute (2008), “Hizbullah melakukan operasi dengan keyakinan bahwa Israel tidak bisa ditoleransi lagi dalam peperangan.” Dengan doktrin ini, Hizbullah bergerak maju.

Anggota Hizbullah mengirimkan pesan kepada seluruh dunia. Melalui saluran internet dan media lainnya, mereka berkomunikasi, mengirimkan pesan dan berhasil menarik anggota baru. Saat ini ada ratusan ribu ribu anggota yang direkrut dan meyakini bahwa mereka harus mengorbankan hidup mereka untuk kemajuan kelompok. Bagi Hizbullah, komunikasi adalah suatu kebutuhan.

Tujuan dari kesyahidan di mata Hizbullah adalah untuk mengambil sebanyak mungkin nyawa (musuh), dan kematian anggota Hizbullah akan dibalas dengan akses langung ke surga yang dihuni para perawan. Issa et al (2001) menyatakan bahwa senjata paling canggih bagi Hizbullah adalah perang psikologis. Kemampuan kelompok teroris menarik anggota yang berasal dari jauh menunjukkan keefekifan taktik ini.

Hizbullah sangat bergantung pada komunikasi internet. Satu website Hizbullah bisa dinikmati dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Inggris. Website: Hizbullah, Partai Allah (http://almashriq.hiof.no/lebanon/300/320/324/324.2/hizballah/). Hizbullah, Gerakan Perlawanan Islam di Lebanon (http://www.english.moqawama.org/). Tidak akan ada seorangpun yang berpikir tentang kekejaman kelompok ini jika melihat bagaimana penampilan situs yang terlihat profesional walaupun sederhana. Namun pernyataan dan keyakinan mereka dapat ditemukan di situs tersebut, begitu pula dengan artikel pengeboman dan tindakan lain yang sejenis, namun mereka mengklaim tidak melakukan tindakan-tindakan kriminal.

Mereka memiliki blog yang ditujukan untuk memposting nama seseorang, negara, atau pesan yang bisa dilihat oleh siapapun. Alih-alih lebih concern pada topik kesyahidan, mereka justru lebih fokus pada artikel yang menunjukkan permusuhan atau diskriminasi terhadap kaum Muslim – misalnya yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat yang membunuhi kaum muslim tak berdosa (Al-Rizzo, 2008).
Menampilkan berita hanya dari satu sisi merupakan ciri khas Hizbullah, termasuk bagaimana menafsirkan kitab suci yang mereka yakini. Banyak yang telah mengetahui bagaimana kelompok teroris seperti Hizbullah mengancam musuh, termasuk dengan pengeboman atau melakukan bom bunuh diri (mati syahid). Namun seandainya mereka benar-benar membaca dan memahami Al-Qur’an, maka mereka akan tahu bahwa bunuh diri adalah hal yang dilarang.

Di Lebanon, ada “Asosiasi Martir” yang menawarkan perlindungan bagi keluarga para martir ataupun yang tertawan. Hizbullah mendorong anggotanya untuk menjadi martir, namun tidak menghendaki anak-anak mereka benar-benar menjadi yatim. Karena itu, kelompok teroris ini memastikan bahwa anak-anak para martir mendapatkan perhatian (Deeb, 2006). Di sekolah, para murid dan guru yang memiliki martir dalam keluarga mereka biasa membicarakan hal tersebut secara terbuka. Dalam keyakinan mereka, hal itu bukan sesuatu yang memalukan, melainkan sesuatu yang dihormati. Hal lain yang dilakukan Asosiasi Martir adalah memberikan makanan gratis, berbagai keperluan hidup dan status sosial yang lebih tinggi bagi keluarga yang memiliki martir. Pemimpin Hizbullah menyatakan bahwa keyakinan tentang bunuh diri terbuka untuk berbagai penafsiran. Dan interpretasi yang longgar inilah yang membuat banyak para pemimpin dunia yang menilai tindakan Hizbullah merupakan bentuk terorisme, bukan untuk membela diri. (Ali & Post, 2008).

Pembahasan

Bagaimana memahami Hizbullah? Itu bisa dilakukan melalui pendekatan teori yang bertujuan mempelajari pola dan memprediksi prilaku kelompok kekerasan untuk memahami ‘sisi dalam’ mereka. Dan teori asosiasi diferensial Sutherland (1949), bisa digunakan untuk kasus ini. Sutherland menyatakan bahwa perilaku kekerasan dipelajari dalam interaksi dengan orang lain dalam kelompok yang memiliki ideologi yang sama. Untuk itulah, Hizbullah menggunakan strategi berbasis kelompok untuk meyakinkan orang lain untuk menjadi pejuang Allah.

Hizbullah tumbuh dari kebencian terhadap Israel dan negara-negara Barat terkemuka lainnya. Teori ini digunakan untuk menjelaskan bagaimana Hizbullah beroperasi, dan berkomunikasi antar anggota, termasuk dengan anggota baru. Hizbullah merekam hampir semua serangan dan menambah kata-kata inspirasi maupun musik untuk membenarkan tujuan mereka (Deeb, 2006).

Bila hanya satu sisi sedang ditampilkan yaitu dari perspektif Hizbullah, niscaya orang-orang akan bergabung karena ingin menjadi martir. Anggota baru menjadi saling terkait di dalam jaringan Hizbullah dan mereka belajar dari pesan-pesan yang disampaikan melalui saluran internet ataupun lainnya. Sayyed Hassan Nasrallah secara kontinyu mengucapkan keyakinannya tentang Barat melalui slogannya yang terkenal”Al-Mawt al America” (Matilah Amerika”). Pernyataan Nasrallah adalah tanda yang jelas bahwa dia ingin menghancurkan Amerika. Menurut Hizbullah, tidak ada toleransi atau peluang terhadap musuh (misalnya dari lawan menjadi kawan-pen).

Teori asosiasi diferensial bersifat terus-menerus; dan untuk menerima hal ini, kita mengetahui bahwa kunci dari semua ini adalah komunikasi. (Schleifer, 2006). Tanpa komunikasi yang penting antara anggota lama dan baru, tidak akan ada strategi yang efektif untuk proses pembelajaran dalam kelompok. Melalui komunikasi, pola dan perilaku kelompok kriminal bisa dipelajari dan dipahami. Teori asosiasi diferensial tidak berarti bahwa informasi yang diberikan kepada anggota baru harus bersifat ‘cuci otak’, melainkan sebaliknya. Mereka diberikan informasi yang cenderung overload, sehingga terjadi perbedaan perspektif dalam memandang kriminalitas antara anggota kelompok dengan non-anggota.

Penting untuk memahami bagaimana cara Hizbullah menjadi kelompok teroris yang paling berbahaya hari ini. Mempelajari dari bagaimana proses pembentukan grup ini sesuai dengan dokumen 1985 dan analisis ini dapat membantu mengendalikan situasi akibat ancaman-ancaman mereka. Hizbullah bukanlah kelompok yang melakukan serangan secara spontan melainkan bertindak dengan rencana yang sudah dipersiapkan dengan sangat hati-hati. Mereka adalah ancaman besar bagi masa depan dunia.

Slogan seperti “Matilah Amerika” memungkinkan para pemimpin Hizbullah untuk menjaring anggota baru, menumbuhkan imajinasi mereka yang berkutat pada kekerasan, kebencian, dan kemarahan. Budidaya kebencian yang tumbuh subur dalam kelompok ini dapat membantu menciptakan fenomena ‘realitas hidup’ bagi pasukan mereka yang termotivasi sebagai pejuang Illahi.

Mitos tersebut dapat menghasilkan group delirium, yaitu kelompok yang berbagi cita-cita guna mencapai tujuan tertentu dimana kejahatan dapat direkayasa secara sosial, Malinowski (1954). Dikembangkan oleh Janis (1972), groupthink mengacu pada cara berpikir dimana pilihan alternatif tidak mendapat tempat untuk menghindari adanya perselisihan di dalam kelompok. Groupthink melarang anggotanya menyimpang dari norma-norma kelompok.

Pertimbangan lain adalah kebutuhan Hizbullah dalam sebuah pertemuan suci yang disebut matams. Matams adalah tempat-tempat suci agama yang sekarang ini berfungsi sebagai pertemuan politik dan sosial. Untuk Hizbullah, matams berfungsi sebagai pusat komunikasi kelompok (Pinault, 1992). Matams memiliki peranan penting, karena di sinilah Hizbullah berbagi tentang jihad dan prospek perang suci mereka. Ketaatan Islam disusun dalam matams, dan semua penganut Syiah yang taat menghadiri pertemuan ini.

Dalam matams, Hizbullah menjanjikan martir dengan masa depan yang kekal di surga. Luar biasa, penghargaan abadi ini mendorong berhasilnya perekrutan anggota. Iming-iming ini adalah sesuatu yang sangat efektif. Akhir-akhir ini, Hizbullah sukses mendapatkan kursi di Parlemen Lebanon dan menerima $ 400.000.000 dari Iran pada tahun 2010 (Iran secara masif mempersenjatai kembali Hizbullah dan melakukan pelanggaran Resolusi Dewan Keamanan PBB 2010.

Sejalan dengan ini, melalui acara Asyura yang merupakan simbolisme Syiah dijadikan ajang untuk memperdalam kebencian mereka terhadap orang-orang Yahudi dan Barat. Jadi, Asyura adalah metode untuk mengintensifkan aktivitas Hizbullah. Mereka merayakan tragedi kematian Imam Hussein. Hussein adalah putra Ali yang dianggap sebagai penerus Muhammad oleh Syiah dan ia gugur dalam pertempuran. (Fibiger, 2010). Setiap tahun, Muslim Syiah memperingati tragedi tersebut dengan ritual berkabung dimana mereka menghidupkan kembali semangat pertempuran. Beberapa partisipan melakukan kekerasan fisik terhadap dirinya sendiri sampai mereka berdarah. Tujuannya adalah untuk mengalami rasa sakit yang diderita Hussein selama pertempuran.

Untuk Hizbullah, pertempuran melambangkan inti dari perseteruan antara Sunni dan Syiah (Jones, 2010). Pada bulan Januari 2009, Hizbullah mengeksploitasi Asyura untuk mengembleng pendukungnya melawan Israel. Ribuan pendukung Hizbullah turun ke jalan Beirut selatan untuk memuliakan kesyahidan Imam Hussein (Antelava, 2009).

Azani (2007) melakukan analisis mendalam tentang pentingnya simbolisme dalam lingkungan teroris Hizbullah. Ia mencatat bahwa organisasi teroris menggunakan simbol untuk tingkat tertinggi dan merupakan metode penting untuk mobilisasi sosial. Dengan cara ini, simbolisme memungkinkan mereka mendapatkan dukungan, anggota baru, dan merangsang tindakan proaktif untuk mencapai tujuan mereka.

Berikut ini adalah simbol-simbol lain yang digunakan oleh Hizbullah:

Calendar of events: kalender Hizbullah yang menunjukkan tanggal-tanggal terjadinya peristiwa simbolik dan peringatan keagamaan. Hal ini bertujuan untuk memikat calon anggota.

World Jerusalem Day: peringatan yang dicetuskan oleh Khomeini yang bertujuan menyerang Israel dan merebut Yerusalem.

Month of Ramadan: Hizbullah memiliki kontrol yang luas di kalangan Syiah; tujuannya adalah untuk membawa kaum Muslim mendekat kepada Allah, dan memperluas dukungan untuk pertempuran melawan ketidakadilan dan diskriminasi.

Definition of enemies: Amerika adalah Setan Besar dan Israel Setan Kecil. Perang Salib
melawan Setan Besar diprakarsai oleh Khomeini dan sekarang juga dipakai oleh Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad (yang juga merupakan pemimpin Hizbullah yang taat).

Individual self-sacrifice: keinginan untuk mengorbankan kehidupan dalam perang suci melawan musuh. Dengan mengikuti prinsip ini, Khomeini meletakkan dasar bagi tindakan seperti bom bunuh diri.

Kesimpulan dan lain-lain

Kebencian terhadap Israel merupakan dasar prinsip Hizbullah. “Deklarasi politik, wacana pemimpin dan kader Hizbullah “(Alagha 2011, hal 15) memberikan gagasan tentang contoh kemartiran yang dimuliakan. Seorang saksi yang melihat serangan Hizbullah, Jaber (1997) menulis buku yang dimulai dengan mendeksripsikan rutinitas sehari-hari anak usia 4 tahun, yang menonton pengeboman terhadap konvoi pasukan Israel, dan ayahnya sendiri mengendarai truk yang berisi bahan peledak – lantas melakukan bom bunuh diri yang menewaskan 12 tentara.

Surat terbuka pada tahun 1985 menjelaskan pandangan Hizbullah tentang Amerika Serikat. Menganggap Amerika Serikat merupakan ancaman bagi kehidupan kaum Muslim, dan menyatakan bahwa mereka hanya sedang mempertahankan tanah airnya dari serangan musuh, dan karena itu mereka berhak melakukan penyerangan. Ketika pemimpin Hizbullah telah memberi perintah, maka tidak akan ada Amerika, Perancis, atau pihak asing lainnya yang memiliki kekuatan di Lebanon. Dengan niat, pikiran, dan keyakinan tersebut, maka Hizbullah merupakan ancaman yang nayat bagi dunia.

Blanford (2007) menyatakan, “Hizbullah telah berkembang dari kelompok fanatik tanpa kompromi menjadi lokomotif politik dan militer. Mereka adalah pemain politik yang paling berpengaruh di Lebanon, dan satu-satunya tentara Arab, kelompok Perlawanan Islam yang menjadi organisasi termahir di dunia, yang berhasil memaksa Israel menyerah tanpa syarat dan meninggalkan wilayah yang diduduki melalui kekuatan senjata. (p.1)

Dengan hal ini jelas bahwa Hizbullah telah menjadi kelompok berbahaya, dan mereka juga beraktivitas di luar Lebanon selatan. Mereka melihat cita-cita Barat sebagai tirani dan gagasan evolusi manusia sebagai interpretasi sesat. Menurut Issa et al. (2001), ideologi Hizbullah membagi dunia menjadi dua, yaitu kaum penindas dan kaum tertindas. Issa et al. juga menyebutkan bahwa menurut Hizbullah, kesetaraan hanya dapat dicapai melalui proses revolusioner. Orang-orang dari kelompok Hizbullah telah dipengaruhi oleh pemimpin mereka, Sayyid Hasan Nasrallah, yang merupakan mahasiswa Abbas Masawi, seorang ulama radikal Lebanon (Wege, 1994).

Teori asosiasi diferensial berpendapat bahwa unsur utama dari pembelajaran perilaku kekerasan terjadi dalam kelompok yang memiliki pemikiran yang sama. Teori Sutherland ditetapkan mencerminkan bagaimana informasi diteruskan kepada para pemimpin baru untuk membimbing kelompok secara keseluruhan, baik itu bagaimana melakukan kekerasan. Tak diragukan lagi, Hizbullah adalah teroris berbahaya dan berpengaruh, dan organisasi ini membutuhkan pemenuhan rasa keadilan dan perhatian.

Teori Sutherland menyatakan bahwa cara yang efektif digunakan untuk melibatkan pihak lain dalam kekerasan adalah melakukan interaksi. Oleh karena itu, dengan berkomunikasi antar sesama anggota, dan membawa pesan universal kepada khalayak, Hizbullah mampu merekrut pengikut baru yang akan melanjutkan tradisi atau cita-cita mereka. Karena Hizbullah merupakan sebuah organisasi yang besar, perlu bagi mereka untuk menyampaikan pesan agar anggota baru bersedia meneruskan perjuangan yang mereka yakini. Contohnya, ketika seorang ayah gugur, mereka memberikan keyakinan bahwa martir adalah kemuliaan yang akan mendapatkan balasan yang jauh lebih baik. Apalagi, tidak hanya ada satu orang martir, melainkan banyak anak-anak yang tumbuh dalam peristiwa serupa.

Sebagaimana yang telah kita lihat, untuk memperkuat interpretasi Islam Syiah dan meningkatkan struktur organisasi, pemimpin Hizbullah telah melakukan berbagai bentuk praktik simbolik pada anggota lama dan anggota baru. Praktek simbolik ini terbangun dalam kebersamaan, misalnya seperti dalam matams dan prosesi Asyura yang menjadi ajang untuk memperkuat kebencian kepada orang-orang Yahudi dan Barat. Sebagian besar anggota baru memiliki disposisi yang tinggi untuk mematuhi Hizbullah.

Untuk penelitian masa depan, mungkin menarik untuk menganalisis proses transformasi awal kelompok Hizbullah. Sementara tulisan ini lebih menekankan pada penggunaam simbolisme untuk terorisme Syiah, dan mungkin menarik untuk menyelidiki bagaimana anggota baru bisa dikonversi dari tahap awal ke puncak, yaitu saat mereka siap mengorbankan diri dalam jihad atau perang suci melawan musuh.

Berdasarkan prinsip teori asosiasi diferensial, hal itu mungkin akan berguna untuk menentukan apakah konversi anggota baru secara drastis mengalami perubahan pandangan hidup dalam waktu semalam, atau apakah proses transformasi tersebut berlangsung bertahap. Teori Sutherland juga dapat digunakan untuk melihat bagaimana pemimpin baru akan dipilih. Berada di bawah pengawasan dan menjadi target utama dari pemerintah berbagai negara, mungkin Nasrallah akan bertemu ajalnya segera.

—-

Daftar Pustaka

[1] T. ARMSTRONG AND J. MATUSITZ, Nicholson School of Communication, University of Central Florida ,
Sanford , Florida , USA
Iran massively rearming Hezbollah in violation of UN Security Council resolution (2010, March 28). American Chronicle,
25, 3.
Issa, N., Rizk, N., & Mounayer, M. (2001). The living martyr: Hizbollah unveiled [VHS]. Princeton, NJ: Films for the
Humanities & Sciences.
Jaber, H. (1997). Hezbollah: Born with a vengeance. New York, NJ: Columbia University Press.
Janis, I. L. (1972). Victims of groupthink. Boston, NJ: Houghton Mifflin Company.
Jones, T. C. (2010). Desert kingdom: How oil and water forged modern Saudi Arabia. Cambridge, MA: Harvard University
Press.
Kalb, M. (2007). The Israeli–Hezbollah war of 2006: The media as a weapon in asymmetrical conflict. The International
Journal of Press/Politics, 12(3), 43–66.
Lawson, F. H. (2003). Repertoires of contention in contemporary Bahrain. In Q. Wiktorowicz (Ed.), Islamic activism: A
social movement theory approach (pp. 89–111). Bloomington, IN: Indiana University Press.
Malinowski, B. (1954). Magic, science and religion and other essays. Garden City, NY: Doubleday.
Matsueda, R. (2008). Differential association. In V. N. Parrillo (Ed.), Encyclopedia of social problems (pp. 234–245).
Thousand Oaks, CA: Sage.
Matthews, M., & Combat Studies Institute (U.S.). (2008). We were caught unprepared: The 2006 Hezbollah–Israeli War.
Fort Leavenworth, KS: U.S. Army Combined Arms Center, Combat Studies Institute Press.
Michael, J., & Adler, M. J. (1933). Crime, law, and social science. Montclair, NJ: Patterson-Smith.
Norton, R. (2009). Hezbollah: A short history. Princeton, NJ: Princeton University Press.
Pinault, D. (1992). The Shiites: Ritual and popular piety in a Muslim community. New York, NJ: Palgrave Macmillan.
Ranstorp, M. (1996). Terrorism in the name of religion. Journal of International Affairs, 50(1), 41–63.
Salameya, I., & Pearson, F. (2007). Hezbollah: A proletarian party with an Islamic manifesto—A sociopolitical analysis
of Islamist populism in Lebanon and the Middle East. Small Wars & Insurgencies, 18(3), 416–438.
Sandler, T. (2003). Collective action and transnational terrorism. The World Economy, 26(6), 779–802.
Schleifer, R. (2006). Psychological operations: A new variation on an age old art: Hezbollah versus Israel. Studies in
Conflict & Terrorism, 29(1), 1–19.
Sutherland, E. H. (1942). Development of the theory. In K. Schuessler (Ed.), Edwin H. Sutherland on analyzing crime
(pp. 13–29). Chicago, IL: University of Chicago Press.
Sutherland, E. H. (1949). White collar crime. New York, NY: Holt Rinehart and Winston.
Sutherland, E. H., & Cressey, D. R. (1978). Criminology. Philadelphia, PA: J. B. Lippincott Company.
Wege, C. A. (1994). Hizbollah organization. Studies in Conflict & Terrorism, 17(2), 151–164.