Rangkuman Berita Utama Timur Tengah,  Senin 8 Desember 2025

Jakarta, ICMES. Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memastikan bahwa dalam peristiwa Perang 12 Hari, korban tewas di pihak militer dan keamanan Israel jauh lebih banyak daripada korban gugur di pihak Iran.

Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)  Mayjen Mohammad Pakpour mengatakan Iran harus melengkapi rudalnya dengan teknologi siluman untuk meningkatkan kemampuannya menembus sistem antirudal Israel.

Pengadilan di Yaman memulai persidangan terhadap 13 terdakwa kasus pengoperasian jaringan mata-mata untuk dinas rahasia AS , CIA,dan dinas rahasia Israel, Mossad Israel.

Berita selengkapnya:

IRGC: Korban di Pihak Israel Lebih Banyak Daripada Korban di Pihak Iran dalam Perang 12 Hari

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memastikan bahwa dalam peristiwa Perang 12 Hari, korban tewas di pihak militer dan keamanan Israel jauh lebih banyak daripada korban gugur di pihak Iran.

Seperti diketahui, pada 13 Juni  2025, Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran hingga menggugurkan sejumlah perwira tinggi dan ilmuwan nuklir serta banyak warga sipil. Lebih dari seminggu kemudian, AS juga ikut campur dalam perang dan mengebom tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Iran melancarkan serangan balik terhadap lokasi-lokasi strategis di wilayah pendudukan Palestina serta pangkalan udara al-Udeid di Qatar. Pada 24 Juni, Iran, melalui operasi balasannya yang sukses terhadap rezim Israel dan AS, berhasil menghentikan serangan ilegal tersebut.

Juru bicara IRGC, Brigjen Ali Mohammad Naeini, mula-mula menyebutkan bahwa  serangan balik Iran yang bersifat simultan terhadap target-target di Israel yang serupa dengan target-target di Iran menunjukkan bahwa Iran memiliki basis data intelijen yang lengkap dan akurat

Dia mencontohkan bahwa pasukan Iran telah melumpuhkan kilang Haifa dengan dua serangan rudal, dan dalam serangan mereka  terhadap markas Mossad, tak kurang dari 36 anggota dan perwira dinas rahasia Israel ini tewas.

“Mereka menyerang fasilitas penyimpanan bahan bakar di Teheran, dan hanya lima jam kemudian, kami menggempur kilang Haifa dua kali. Mereka sendiri mengakui bahwa serangan itu adalah mahakarya rudal Iran, yang membuat kilang tersebut tak dapat beroperasi,” tuturnya, seperti dikutip al-Alam, Minggu (7/12).

Naeini menyebut serangan terhadap markas Mossad sebagai balasan atas serangan Israel terhadap fasilitas intelijen Iran, dan Israel belum secara resmi mengumumkan kerugian mereka, “namun kami mengetahui detail lengkapnya.”

Naeini memastikan jumlah personel militer dan keamanan Israel yang tewas dalam perang selama 12 hari itu “jauh lebih besar daripada para martir kami,” dan menekankan bahwa tingginya presisi serangan udara dan dirgantara Iran “sangat menentukan,” yang contohnya antara lain serangan terhadap ruang bawah tanah gedung 32 lantai yang berfungsi sebagai pusat data bursa saham Israel.

Mengenai “perang media” yang dilancarkan oleh media musuh, dia menekankan bahwa narasi Israel berfokus pada “ilusi intelijen dan superioritas udara.”

“Mereka mengarang narasi untuk menggambarkan kekuatan mereka, sementara kami memiliki superioritas udara, rudal, dan siber yang jelas,” ungkapnya.

Naeini menyebutkan bahwa selama Perang 12 Hari Iran telah menangkis sekira 400-500 serangan siber di samping melaksanakan operasi siber efektif yang tidak diumumkan ke publik.

Dia mengatakan kedua belah pihak terlibat saling infiltrasi satu sama lain.  “Saya tidak menyangkal infiltrasi; spionase adalah realitas bersama. Kami memiliki 60 kasus infiltrasi aktif di wilayah pendudukan, dan telah dirilis hukuman terhadap 30 di antaranya.”

Naieni menyebutkan bahwa media Israel sendiri mengabarkan bahwa selama 12 hari perang, terjadi penangkapan “kelompok pengumpul intelijen” dalam sistem keamanan mereka, dan ini membuktikan bahwa infiltrasi memang terjadi timbal balik.

Dia bagian akhir dia menyebutkan bahwa apa yang dipromosikan pihak musuh mengenai keunggulannya dalam mengidentifikasi target,  “tidak terkait dengan spionase manusia,” melainkan mengandalkan teknologi canggih, seperti satelit mata-mata, drone, sistem peretasan, perang informasi, dan kecerdasan buatan dalam analisis data.  (alalam)

IRGC: Iran akan Kembangkan Rudal Siluman untuk Melawan Israel

Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)  Mayjen Mohammad Pakpour mengatakan Iran harus melengkapi rudalnya dengan teknologi siluman untuk meningkatkan kemampuannya menembus sistem antirudal Israel.

“Jika kita dapat melengkapi rudal kita dengan teknologi siluman, kita pasti akan dapat menambah tingkat penetrasi terhadap perisai pertahanan rezim Zionis,” kata Pakpour, Minggu (7/12).

Menyinggung agresi militer Israel-Amerika terhadap Iran pada pertengahan Juni 2025, dia menyebutkan bahwa Israel dan AS percaya bahwa runtuhnya sistem komando Iran melalui pembunuhan para komandan senior pasti akan menyebabkan kegagalan di bidang operasional. “Namun itu adalah kesalahan perhitungan yang besar,” ujarnya.

Pakpour mengatakan bahwa segera setelah dirinya diangkat sebagai  pengganti pendahulunya yang gugur, Mayjen Hossein Salami, pasukan IRGC, melancarkan operasi balasan yang intens dan tegas terhadap Israel, bekerja sama dengan Angkatan Bersenjata.

Menurutnya, Tel Aviv semula mengira bahwa Iran hanya akan menembakkan lima atau enam rudal pada hari pertama perang. Namun, pasukan Iran ternyata segera memulai operasi skala besar dengan melesatkan rentetan drone dan rudal balistik terhadap rezim Israel.

Mengenai serangan balik Iran terhadap serangan AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran, Pakpour mengatakan bahwa pada hari-hari terakhir perang, Iran memutuskan untuk merespon secara proporsional dengan jumlah bom yang digunakan AS.

“Pada malam terakhir perang, pangkalan udara al-Udeid di Qatar, pangkalan AS terpenting di kawasan itu, menjadi sasaran 14 rudal,” ujarnya.

Setelah serangan besar itu, tambahnya, AS mengirim pesan kepada Iran: “Jika kalian tidak menyerang, kami juga tidak akan menyerang. Akhirnya, pada hari ke-12, musuh, yang tidak mampu menahan serangan rudal dan kohesi nasional kami, menyerukan gencatan senjata.”

Panglima IRGC menekankan bahwa serangan rudal Angkatan Bersenjata merupakan salah satu faktor utama di balik kemenangan Iran dalam perang 12 hari dengan Israel.

Dia memperingatkan, “Musuh tentu tahu bahwa jika mereka mencoba melakukan tindakan apa pun terhadap Republik Islam (Iran), mereka akan mendapat balasan yang bahkan lebih keras dan lebih menghancurkan daripada sebelumnya.”

Dia menambahkan bahwa penilaian musuh telah mengakui kenyataan ini, sehingga mereka menahan diri untuk tidak mengambil tindakan langsung terhadap Iran.

Pakpour menekankan perlunya menjaga kesiapan dan memperkuat kemampuan teknis maupun taktis, karena musuh juga berupaya mengatasi kelemahan mereka.

Dua  menyebut Perang 12 Hari sebagai “perang teknologi dan Kecerdasan Buatan,” karena Iran menghadapi sistem canggih AS dan Eropa di medan perang. Dia lantas mendesak Angkatan Bersenjata untuk memprioritaskan pertahanan udara dan pengembangan teknologi siluman.

Secara terpisah, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayjen Sayyid Abdolrahim Mousavi, di hari yang sama menegaskan pihaknya berada pada tingkat kesiapan intelijen dan operasional tertinggi.

Dia menjelaskan bahwa integrasi ilmu pengetahuan modern dengan keimanan kepada Allah Swr merupakan tulang punggung kemampuan Angkatan Bersenjata, dan menekankan keberlanjutan pendekatan strategis ini di semua pusat pelatihan terkait. (alalam/presstv)

Yaman Sidangkan 13 Terdakwa Mata-mata CIA dan Israel

Pengadilan di Yaman memulai persidangan terhadap 13 terdakwa kasus pengoperasian jaringan mata-mata untuk dinas rahasia AS , CIA,dan dinas rahasia Israel, Mossad Israel.

Para terdakwa secara resmi menerima dakwaan dalam sidang hari Sabtu (6/12) di Pengadilan Pidana Khusus Yaman di ibu kota, Sanaa.

Menurut dakwaan, kasus ini melibatkan “jaringan mata-mata yang berafiliasi dengan Badan Intelijen Pusat AS.” Kelompok ini beroperasi dari tahun 1987 hingga 2024, berkoordinasi dengan badan intelijen AS dan Israel, menurut jaksa penuntut.

Mereka didakwa mengumpulkan informasi militer, politik, keamanan, ekonomi, dan sosial dengan kedok proyek pembangunan dan kemanusiaan.

Dakwaan juga menyatakan bahwa kelompok tersebut merekrut pejabat untuk badan-badan asing dan mengajukan proposal yang menguntungkan musuh.

Jaksa penuntut mengatakan bahwa orang-orang tersebut terlibat dalam kegiatan yang merusak kemerdekaan, persatuan, dan kemampuan pertahanan Yaman.

Dalam persidangan, para terdakwa menanggapi dakwaan dan meminta akses ke berkas perkara. Pengadilan menunda peninjauan bukti lebih lanjut hingga sidang berikutnya.

Sidang ini menyusul putusan bulan lalu di mana hakim Yaman menjatuhkan hukuman mati kepada 17 orang karena menjadi mata-mata untuk Israel dan sekutu Baratnya. Dua orang lainnya dijatuhi hukuman penjara 10 tahun, sementara satu terdakwa dibebaskan, sehingga total terdakwa yang diadili dalam kasus tersebut menjadi 20 orang.

Jaksa penuntut Yaman mengatakan bahwa para terdakwa itu didakwa terlibat “spionase untuk negara-negara asing yang memusuhi Yaman,” termasuk Amerika Serikat, Israel, dan Inggris. (presstv)