Jakarta, ICMES. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Yaman Brigjen Yusuf Hassan al-Madani telah memperingatkan bahwa pasukan Yaman akan kembali ke medan perang dan melanjutkan operasi militer jika Israel memulai kembali perang di Jalur Gaza.

Sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, mengumumkan pihaknya menolak menyerahkan para pejuangnya di kota Rafah di Jalur Gaza selatan, dan menuntut pertanggungjawaban penuh Israel atas bentrokan yang terjadi di wilayah tersebut.
Surat kabar Israel Haaretz melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump sedang menyelesaikan kesepakatan komprehensif dengan Suriah terkait kesepahaman keamanan dengan Israel dan bergabungnya Damaskus ke dalam Perjanjian Abraham.
Berita selengkapnya:
Yaman Bersumpah akan Berlaga lagi dengan Lebih Kuat Jika Israel Lanjutkan Perang di Gaza
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Yaman Brigjen Yusuf Hassan al-Madani telah memperingatkan bahwa pasukan Yaman akan kembali ke medan perang dan melanjutkan operasi militer jika Israel memulai kembali perang di Jalur Gaza.
“Jika musuh melanjutkan perang di Gaza, kami akan kembali ke medan perang dengan melancarkan operasi militer,” tegas al-Madani dalam sebuah pesan kepada sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, Ahad (9/11).
“Kami akan menepati janji kami dan mendukung Anda, apapun risikonya,” imbuhnya.
Peringatan tersebut merefleksikan pernyataan sebelumnya dari pemimpin Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul Malik al-Houthi, yang menegaskan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan diri untuk kemungkinan konfrontasi berikutnya dengan Rezim Zionis Israel.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Selasa, Sayyi d al-Houthi mengatakan bahwa Yaman ” kini lebih kuat dari sebelumnya setelah keluar dari babak konfrontasi dengan Israel,” Dia menambahkan bahwa Yaman “tidak diragukan lagi berada di ambang babak baru konfrontasi dengan musuh.”
Sayyid al-Houthi menekankan keharusan terus membangun berdasarkan kesiapan untuk konfrontasi berikutnya dengan musuh dan para anteknya.
Sejak dimulainya perang genosida Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023, pasukan Yaman telah melancarkan berbagai operasi militer untuk membela penduduk Gaza yang dilanda perang. Mereka menggempur target di seluruh wilayah Palestina pendudukan sekaligus menyerang kapal-kapal Israel atau kapal-kapal yang menuju pelabuhan di wilayah pendudukan.
Pasukan Yaman juga melakukan blokade maritim strategis yang bertujuan menghalangi pengiriman sumber daya militer ke Israel, sehingga secara signifikan mengganggu rute perdagangan Israel dan memberikan pukulan telak bagi perekonomian rezim Zionis.
Dengan gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas, Sanaa telah memperingatkan bahwa jika Israel melanggar perjanjian di Gaza maka Israel akan menghadapi respon yang lebih “keras dan tegas” dari Angkatan Bersenjata Yaman. (presstv)
Brigade al-Qassam Tolak Serahkan Para Pejuangnya yang Terjebak di Rafah
Sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, mengumumkan pihaknya menolak menyerahkan para pejuangnya di kota Rafah di Jalur Gaza selatan, dan menuntut pertanggungjawaban penuh Israel atas bentrokan yang terjadi di wilayah tersebut.
Dalam pernyataan resmi, Ahad (9/11), Brigade al-Qassam menegaskan bahwa para pejuangnya di Rafah membela diri, dan bahwa menyerah atau penyerahan diri kepada musuh tidak ada dalam kamus mereka.
Brigade Qassam mendesak para mediator untuk mengemban tanggung jawab mereka dan berupaya menemukan solusi yang akan menjamin kelanjutan gencatan senjata dan mencegah Israel memanfaatkan dalih apa pun untuk melanggarnya atau menyerang warga sipil.
Mereka menambahkan bahwa operasi evakuasi yang dilakukan pada tahap sebelumnya dilakukan dalam situasi yang kompleks dan sulit, dan menekankan komitmennya terhadap apa yang diwajibkan kepadanya berdasarkan perjanjian yang ada, dan penyelesaian evakuasi mayat yang tersisa membutuhkan personel dan peralatan teknis tambahan.
Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Kepala Staf militer Israel Eyal Zamir mengaku siap mempertimbangkan evakuasi sekitar 200 militan di Rafah dengan imbalan pengembalian mayat Letnan Hadar Goldin, yang telah ditahan di Gaza sejak 2014.
Perusahaan Penyiaran Israel juga melaporkan, “Pemerintah Israel telah membahas dalam beberapa hari terakhir sebuah proposal untuk mengizinkan perjalanan yang aman bagi sekitar 200 pejuang Hamas yang berada di wilayah yang dikuasai Israel di Jalur Gaza, dengan imbalan pengembalian semua mayat para tawanan ke Israel.”
Tentara Israel pada hari Ahad mengumumkan pihaknya menerima mayat seorang tahanan Israel yang ditahan Hamas di Jalur Gaza melalui mediasi Komite Palang Merah Internasional. Hal ini menyusul pengumuman sebelumnya dari Brigade Izzuddin al-Qassam tentang niat mereka untuk menyerahkan jenazah Letnan Hadar Goldin.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza di hari yang sama mengumumkan bahwa tujuh korban gugur dan lima korban luka telah tiba di rumah sakit di Jalur Gaza dalam 24 jam terakhir, termasuk satu korban gugur baru dan enam korban gugur yang ditemukan dari bawah reruntuhan.
Kementerian itu dalam laporannya menjelaskan bahwa sejumlah korban masih tertimbun reruntuhan dan di jalan-jalan, karena ambulan dan tim pertahanan sipil belum dapat menjangkau mereka.
Kementerian itu juga menyebutkan bahwa sejak gencatan senjata pada 11 Oktober 2025, jumlah total korban gugur mencapai 241 orang, sementara jumlah korban luka mencapai 619 orang, di samping 528 mayat yang berhasil ditemukan.
Dinyatakan bahwa total korban agresi Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah meningkat menjadi 69.176 korban gugur dan 170.690 korban luka. (raialyoum/almayadeen)
Media Israel: Suriah akan Segera Bergabung dengan Perjanjian Normalisasi dengan Israel
Surat kabar Israel Haaretz melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump sedang menyelesaikan kesepakatan komprehensif dengan Suriah terkait kesepahaman keamanan dengan Israel dan bergabungnya Damaskus ke dalam Perjanjian Abraham.
Haaretz menyebutkan bahwa kesepakatan itu masih dalam tahap negosiasi akhir, dan merupakan bagian dari upaya AS untuk memperkuat stabilitas di Suriah dengan mengintegrasikannya ke dalam kerangka kerja keamanan regional yang lebih luas. Kerangka kerja ini mencakup partisipasi Suriah dalam koalisi internasional melawan ISIS dan normalisasi hubungannya dengan Israel melalui mekanisme tidak langsung yang dimediasi oleh AS.
Di pihak lain, pemerintah Suriah, yang dipimpin oleh presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa, mengupayakan pencabutan sanksi AS dan Eropa yang dijatuhkan kepada negara tersebut sebagai prasyarat normalisasi hubungan, dengan tujuan membuka pintu bagi investasi asing dan dimulainya proyek-proyek rekonstruksi besar.
Perkembangan ini bertepatan dengan tibanya al-Sharaa di AS pada hari Minggu (9/11) untuk kunjungan resmi, yang pertama kalinya dilakukan oleh seorang presiden Suriah ke Washington dalam beberapa dekade, dan kunjungan keduanya ke AS setelah partisipasinya dalam Sidang Umum PBB di New York bulan lalu—di mana ia menjadi presiden Suriah pertama yang berpidato di organisasi internasional tersebut sejak 1967.
Presiden Trump dan al-Sharaa diperkirakan akan bertatap muka di Gedung Putih, dalam pertemuan yang dipandang sebagai momen penting dalam perjalanan transformasi diplomatik Suriah, meskipun rincian pasti dari kesepakatan tersebut belum diungkapkan secara resmi dan masih menjadi subjek negosiasi dan koordinasi antara kedua belah pihak. (raialyoum)







