Rangkuman Berita Utama Timur Tengah,  Senin 1 Desember 2025

Jakarta, ICMES. seorang narasumber keamanan Israel dalam sebuah wawancara dengan saluran berita Israel, Kan, memperingatkan bahwa Iran sedang berupaya memulihkan pengaruhnya yang memudar dan mempercepat perolehan senjatanya untuk mengantisipasi serangan Israel.

Angkatan Bersenjata Iran mengecam keras tindakan Australia yang melabeli Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai “sponsor terorisme.”

Sebuah laporan rinci di Israel mengungkap luasnya transformasi yang sedang berlangsung dalam sebuah proyek besar yang diluncurkan oleh Washington dengan nama “Gaza Baru”, sebuah rencana yang melibatkan Israel dan AS untuk “mengalahkan Hamas secara telak.”

Berita selengkapnya:

Israel: Iran Percepat Kesiapannya untuk Konfrontasi Baru dengan Israel

Sensor militer Israel sampai sekarang tidak mengizinkan media lokal maupun internasional mempublikasikan gambar atau informasi mengenai kerusakan akibat serangan balik Iran dalam Perang 12 Hari pada Juni 2025. Tampaknya ada sesuatu yang lebih dari sekadar dugaan, karena Iran tahu persis di mana rudal-rudal tersebut mendarat di wilayah Israel dan juga menyadari tingkat kerusakan akibat rentetan rudal Iran.

Tentang itu, seorang narasumber keamanan Israel dalam sebuah wawancara dengan saluran berita Israel, Kan, memperingatkan bahwa Iran sedang berupaya memulihkan pengaruhnya yang memudar dan mempercepat perolehan senjatanya untuk mengantisipasi serangan Israel.

Dikutip media online Rai al-Youm, Ahad (30/11), sumber tersebut menambahkan bahwa Iran sedang berupaya memulihkan kemampuan Ansarullah di Yaman dan menyelundupkan senjata ke Tepi Barat dengan tujuan melancarkan serangan di Israel. Ia memperingatkan bahwa Iran juga mempersenjatai kembali Hizbullah di Lebanon dan “organisasi teroris” yang beroperasi di Suriah sebagai persiapan untuk potensi serangan terhadap Israel.

Mengenai situasi di Lebanon, sumber keamanan itu menilai Iran memahami Israel akan terpaksa untuk bertindak setelah 31 Desember, yang seharusnya menjadi batas waktu pelucutan senjata Hizbullah. Sumber tersebut menyimpulkan dengan mengatakan bahwa Iran terlibat dalam perlombaan senjata yang mengkhawatirkan para pejabat keamanan Israel.

Di sisi lain, semakin banyak analis dan pakar di wilayah pendudukan Palestina yang mengingatkan bahwa perang dengan Iran belum berakhir dan babak selanjutnya akan lebih sengit. Diketahui bahwa Washington dan Tel Aviv sedang berupaya menggulingkan pemerintah Iran dan membentuk pemerintahan baru yang loyal kepada Barat, khususnya AS, yang kemudian akan menghentikan program nuklir Iran, isu yang paling meresahkan para pengambil keputusan di Washington, Tel Aviv, dan Eropa.

Tingkat kerusakan pada program nuklir Iran akibat pemboman AS dan Israel masih diselimuti misteri. Banyak indikasi menunjukkan bahwa Washington dan Tel Aviv belum berhasil menghancurkannya dan Iran terus mengembangkannya.

Boaz Levy, CEO Israel Aerospace Industries (IAI) Israel, dalam sebuah konferensi di Tel Aviv tentang konfrontasi dengan Iran di masa mendatang, meyakini bahwa konfrontasi tersebut akan menjadi luar biasa, menurut surat kabar berbahasa Ibrani, Maariv.

Levy membahas perang yang terjadi antara Tel Aviv dan Teheran.  “Kejutan terbesar selama operasi terhadap Iran bukanlah teknologinya, melainkan keberanian Iran. Kita tidak pernah menyangka ada yang berani meluncurkan rudal dalam jumlah besar ke arah kita,” ujarnya.

“Kita adalah negara pertama yang menerima rentetan rudal sebesar itu secara bersamaan. Iran telah mengembangkan lingkup pengaruh, dan jelas bahwa perang rudal berikutnya akan berupa rentetan rudal, dan responsnya harus komprehensif,” sambungnya.

Iran memiliki persenjataan rudal canggih yang belum digunakan dalam konfrontasi militernya dengan Israel. Menurut sumber-sumber militer khusus, persenjataan ini mencakup tujuh jenis utama rudal canggih dengan kemampuan destruktif tinggi dan teknologi mutakhir.

Iran juga memiliki rudal jelajah canggih yang dicirikan berkecepatan tinggi dan sulit dideteksi, berkat kemampuan manuvernya yang unggul di udara, sehingga menjadikannya tantangan signifikan bagi sistem pertahanan udara. (raialyoum)

Militer Iran: Australia Layani AS dan Israel dengan Meneroriskan IRGC

Angkatan Bersenjata Iran mengecam keras tindakan Australia yang melabeli Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai “sponsor terorisme.”

Dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu (30/11),  Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran mengatakan “keputusan tidak bijaksana”  pemerintah Australia mengenai IRGC sejalan dengan tujuan jahat dari sistem arogan yang dipimpin oleh AS yang notabene negara sponsor terorisme itu sendiri.

Tindakan Austalia itu, ungkap militer Iran, bertujuan melayani kepentingan rezim teroris Israel dalam melanjutkan penindasan dan kejahatan, tidak memiliki makna apapun selain klaim “tidak berdasar dan penuh kebencian” di bawah tekanan AS dan Israel,  dan menunjukkan kurangnya pemahaman yang tepat tentang realitas internasional dan global.

Militer Iran menegaskan bahwa sikap seperti yang ditunjukkan Australia justru memperkuat tekad bangsa Iran untuk meningkatkan kekuatan pertahanannya dan tidak akan menghasilkan apa pun selain dukungan yang lebih besar dari rakyat Iran dan negara-negara merdeka di seluruh dunia kepada  pasukan Iran, terutama IRGC.

Pemerintah Australia pada hari Kamis lalu mencap IRGC sebagai “sponsor terorisme” atas tuduhan tak berdasar bahwa pasukan elit Iran ini telah mengatur serangan terhadap komunitas Yahudi Australia.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Kamis, Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras keputusan tersebut dan menegaskan, “Langkah politik oleh pemerintah Australia merupakan preseden berbahaya dan kriminal, yang dirancang di bawah pengaruh rezim Zionis untuk mengalihkan perhatian publik dari genosida di Gaza.” (presstv)

Israel Ungkap Proyek “Gaza Baru” untuk Kalahkan Hamas

Sebuah laporan rinci di Israel mengungkap luasnya transformasi yang sedang berlangsung dalam sebuah proyek besar yang diluncurkan oleh Washington dengan nama “Gaza Baru”, sebuah rencana yang melibatkan Israel dan AS untuk “mengalahkan Hamas secara telak.”

Dalam sebuah tur yang dilakukan oleh para reporter Israel di sepanjang poros Morag antara Khan Younis dan Rafah, sejumlah besar pasokan makanan ditemukan teronggok di jalan-jalan, termasuk berton-ton tepung dan makanan kaleng. Meskipun tentara Israel membenarkan hal ini sembari mengklaim bahwa pasokan tersebut “jatuh dari truk bantuan,” para perwira lain menduga bahwa pasokan tersebut mungkin telah dijarah oleh kelompok-kelompok lokal. Pemandangan ini menyoroti kegagalan keseluruhan sistem bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza.

Markas AS di Kiryat Gat bekerja sama dengan pimpinan Israel untuk melaksanakan tahap pertama proyek di Rafah. Tahap ini meliputi pembangunan “permukiman sementara” di area terbuka di timur Rafah, pengerahan pasukan internasional yang disebut ISF untuk mengawasi keamanan dan administrasi, serta pembangunan infrastruktur komprehensif yang mencakup sekolah, pusat kesehatan, masjid, dan jaringan layanan. Puluhan ribu warga Palestina akan direlokasi dari kamp-kamp pengungsi ke permukiman ini dengan imbalan kesempatan kerja sementara.

Menurut laporan tersebut, wilayah yang dikuasai Hamas akan sepenuhnya terisolasi dari proyek bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi. Tentara Israel juga berencana membangun pos pemeriksaan lanjutan di sepanjang “garis kuning” untuk mencegah infiltrasi Hamas atau penyelundupan senjata.

Rencana tersebut bertujuan merelokasi sekitar dua juta warga Palestina ke wilayah permukiman baru di bawah kendali AS-Israel, dengan rencana pembangunan permukiman permanen yang didanai oleh negara-negara Teluk. Tentara Israel sedang berupaya memaksa para pejuang Hamas keluar dari wilayahnya melalui operasi-operasi terfokus di Rafah dan Khan Younis.

Meskipun skalanya ambisius, proyek ini menghadapi kendala signifikan. Pasukan internasional belum dibentuk, belum ada negara yang menyatakan kesediaan mereka untuk berpartisipasi, dan pendanaan dari negara-negara Teluk masih belum pasti. Keberhasilan proyek ini bergantung pada perkembangan politik dan kelanjutan gencatan senjata yang rapuh.

Rencana ini mencerminkan upaya radikal untuk membentuk kembali lanskap demografis dan politik Jalur Gaza, namun kemampuannya untuk mengubah realitas di lapangan masih dipertanyakan mengingat tantangan praktis dan politik yang ada. (raialyoum)