Jakarta, ICMES. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayjen Sayyid Abdolrahim Mousavi, menyatakan bahwa dunia akan menyaksikan Iran dengan tampilan yang berbeda dalam waktu dekat ini.

Seorang akademisi dan ilmuwan politik terkemuka Yordania, Dr. Ghazi al-Rababa’a, merilis sebuah video di media sosial yang membahas dampak langsung bagi kawasan Timur Tengah jika Iran dikalahkan oleh militer AS dalam perang.
Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth (YA) melaporkan bahwa Israel khawatir negosiasi yang diantisipasi antara Washington dan Teheran hanya akan berfokus pada program nuklir Iran, mengesampingkan masalah rudal balistik.
Berita selengkapnya:
Jenderal Mousavi: Dunia akan Melihat Wajah Iran yang Berbeda dalam Waktu Dekat
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayjen Sayyid Abdolrahim Mousavi, menyatakan bahwa dunia akan menyaksikan Iran dengan tampilan yang berbeda dalam waktu dekat ini.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (2/2), dia mengingatkan bahwa bangsa Iran selama 47 tahun terakhir telah berulang kali membuktikan bahwa mereka tidak dapat ditaklukkan, dan “pada akhirnya, sosok antagonis keras kepala (Presiden AS Donald Trump) yang menolak untuk belajar dari kesalahannya akan dikalahkan.”
Dia juga mengatakan,“Dunia akan menyaksikan wajah yang berbeda dari Iran yang kuat, dan tidak ada orang Amerika yang akan aman; api di kawasan ini akan melahap Amerika dan sekutunya. Mereka yang berbicara tentang blokade laut harus meninjau kembali pelajaran geografi dan geopolitik. Iran yang tangguh dan luas adalah negara yang tidak dapat dikepung.”
Mousavi menjelaskan ,“Setelah perang 12 hari, modifikasi dilakukan pada doktrin pertahanan, beralih ke doktrin ofensif berdasarkan strategi operasi cepat dan berkelanjutan, menggunakan strategi militer asimetris dan menghancurkan. Setiap langkah Iran akan cepat, menentukan, dan di luar perhitungan Amerika. Iran tidak akan lengah sedikitpun terhadap musuh-musuhnya.”
Dia juga menegaskan, “Kami hanya memikirkan kemenangan. Kami tidak memperhatikan kebisingan atau prestise musuh yang tampak, dan kami tidak takut akan ancamannya. Kami sepenuhnya siap untuk konfrontasi dan untuk melancarkan serangan balik.” (alalam)
Akademisi Ternama Yordania: AS Ingin Menaklukkan Iran demi Menindas Islam
Seorang akademisi dan ilmuwan politik terkemuka Yordania, Dr. Ghazi al-Rababa’a, merilis sebuah video di media sosial yang membahas dampak langsung bagi kawasan Timur Tengah jika Iran dikalahkan oleh militer AS dalam perang.
Dalam video yang dimuat di situs berita Rai al-Youm, pada hari Sabtu (31/1), dia mengatakan, “Kekalahan militer Republik Islam Iran, nauzubillah, akan menjadi peristiwa yang tidak seharusnya dirayakan oleh individu yang berakal waras dan dewasa di dunia Arab. Jika Iran kalah, konsekuensi langsungnya adalah pemaksaan agama Abrahamik kepada masyarakat Timur Tengah.”
Menurutnya, implikasinya di sini adalah bahwa perang terhadap Iran merupakan bagian dari rencana Amerika yang lebih luas untuk penaklukan dan penindasan terhadap Islam.
Dr. Rababa’a adalah tokoh terkemuka di bidang akademisi ilmu politik, tetapi ia sama sekali tidak menyukai sorotan publik dan tidak berpartisipasi dalam seminar politik. Kemunculannya di media sosial, di mana intervensi videonya tersebar luas di grup WhatsApp, merupakan berita penting bagi mereka yang terlibat dalam urusan politik.
Para netizen Yordania mengaku heran atas kurangnya pernyataan resmi pemerintah mengenai sikap pemerintah Yordania terhadap apa yang diperkirakan banyak orang sebagai perang yang akan segera terjadi antara AS dan Iran.
Hal ini disoroti oleh pegiat medsos Abdul Jabbar Gharaibeh dalam sebuah unggahan di platform X. Dia merujuk pada laporan Rusia yang diterbitkan di Moskow, yang mencantumkan negara-negara yang akan dibidik Iran dengan target pangkalan militer AS.
Yordania termasuk dalam daftar tersebut, dan pegiat lain, Suleiman Al-Jallad melalui Facebook mendesak pemerintah Yordania untuk komentar.
Para pengamat di media daring menunjukkan bahwa situasinya sulit dan kompleks. Para ahli menyatakan bahwa tidak adanya pernyataan pemerintah tidak menandakan perubahan sikap Yordania, yang didasarkan pada asumsi bahwa Yordania bukanlah pihak dalam konflik apa pun.
Pegiat Abdullah Adwan mendesak Menteri Ayman Safadi kembali di televisi untuk mengklarifikasi sikap pemerintah Yordania.
“Di mana Safadi? Perang sudah di ambang pintu, dan kita berada di tengah-tengah konfrontasi!” tulisnya.
Ammar Dala’een di Facebook menyatakan adanya situasi yang sangat kompleks, dan Ali Tarawneh juga menyarankan melalui Facebook agar rakyat Yordania mendukung pemerintah mereka dan fokus sepenuhnya pada kepentingan Yordania sendiri. (raialyoum)
Israel Cemas Terkait Isu Negosiasi Iran-AS
Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth (YA) melaporkan bahwa Israel khawatir negosiasi yang diantisipasi antara Washington dan Teheran hanya akan berfokus pada program nuklir Iran, mengesampingkan masalah rudal balistik.
Surat kabar itu pada hari Senin (2/2) juga membahas kunjungan utusan AS Steve Wittkopf ke Israel pada hari Selasa, dan pertemuannya dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
YA menyatakan, “Wittkopf ingin mendengar prioritas Israel dalam negosiasi, khususnya apa yang dianggap Israel sebagai kesepakatan yang baik dengan Iran. Israel juga memiliki garis merah terkait masalah nuklir, termasuk pemindahan uranium yang diperkaya dari wilayah Iran. Kekhawatiran terbesar adalah bahwa AS mungkin akan menerima kesepakatan yang hanya membahas masalah nuklir, mengabaikan rudal balistik dan dukungan Iran kepada proksinya.”
Menurutnya,Israel menganggap program rudal Iran sebagai ancaman eksistensial yang harus ditanggulangi, dan mengharapkan AS bersikeras mengurangi jumlah rudal, terutama jangkauannya.
“Jika Iran berkomitmen untuk tidak mengembangkan rudal jarak jauh, ancaman terhadap Israel akan berkurang, tetapi Iran menolak untuk membahas masalah ini. Mandat yang diberikan oleh Iran kepada tim negosiasinya terbatas hanya pada masalah nuklir, dan ini, dari perspektif Israel, merupakan awal yang buruk,” tulisnya.
YA menyatakan kekhawatiran Israel bahwa “Witkov mungkin akan jatuh ke dalam perangkap Iran.”
Dalam konteks ini, surat kabar Israel Hayom (IH) menyatakan, “Netanyahu akan menyampaikan kepada Witkov batasan Israel mengenai kesepakatan apa pun dengan Iran. Batasan itu mencakup pendirian yang sudah dikenal mengenai penghentian pengayaan uranium di Iran, penghentian program rudal, dan penghentian dukungan kepada organisasi teroris.”
Sementara itu, Wakil Sekretaris Urusan Kebijakan Luar Negeri di Sekretariat Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Bagheri, pada hari Senin (2/2) melontarkan pernyataan tegas perihal spekulasi mengenai transfer bahan nuklir yang diperkaya, dan memastikan Iran tidak berniat mentransfernya ke entitas asing mana pun.
“Pejabat Iran tidak berniat mentransfer bahan nuklir yang diperkaya ke negara mana pun,” tegasnya, sembari mengarakan bahwa negosiasi tidak akan berfokus pada masalah tersebut. (raialyoum/alalam)







