Jakarta, ICMES. Tentara Israel meningkatkan operasi daratnya di Lebanon, pertanda membengkaknya kekhawatiran terhadap meningkatnya kekuatan dan kemampuan Hizbullah mengubah keseimbangan kekuatan di darat.

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa pembunuhan pengecut Israel terhadap komandan senior Hizbullah, Haytham Ali Tabatabai menunjukkan “kelemahan” rezim tersebut dalam menghadapi Poros Perlawanan.
Panglima Angkatan Bersenjata Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, menolak proposal gencatan senjata dari kuartet pimpinan AS, dan menyebutnya sebagai “proposal terburuk.”
Berita selengkapnya:
Takut Pertumbuhan Kekuatan Hizbullah, Israel Tingkatkan Operasi Darat di Lebanon
Tentara Israel meningkatkan operasi daratnya di Lebanon, pertanda membengkaknya kekhawatiran terhadap meningkatnya kekuatan dan kemampuan Hizbullah mengubah keseimbangan kekuatan di darat.
Lebih dari 1200 serangan dilakukan oleh Divisi Galilea Israel dalam satu tahun, beberapa di antaranya mencapai lima kilometer di dalam wilayah Lebanon, operasi yang disebut media Israel sebagai operasi belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun di balik perilaku ini, penilaian Israel mengungkapkan adanya krisis detensi yang nyata. Serangan udara harian tidak menghentikan sepak terjang Hizbullah dalam peningkatan kemampuannya. Bahkan, menurut para analis, ancaman Israel mencerminkan kesadaran bahwa kelompok tersebut masih memiliki kemampuan menyerang permukiman perbatasan dan mengancam Galilea, dan bahkan mungkin memperluas serangannya ke Haifa dan Tel Aviv, terutama mengingat adanya persediaan rudal dan drone serang Hizbullah, meskipun telah kehilangan beberapa komandannya, menurut media Ibrani.
Kemungkinan-kemungkinan inilah yang menyebabkan kekhawatiran di kalangan politik dan militer di Tel Aviv.
Menurut surat kabar Israel Yediot Aharonot, pasukan Israel melakukan operasi di sekitar 21 desa Lebanon, termasuk penyergapan, patroli, dan pengeboman lokasi-lokasi yang diklaim rezim pendudukan sebagai instalasi militer.
Meskipun menyembunyikan operasi-operasi ini selama setahun untuk mencegah eskalasi, surat kabar itu menegaskan bahwa Hizbullah sepenuhnya mengetahui setiap operasi tersebut.
Di bidang militer, pasukan pendudukan meningkatkan kehadirannya di perbatasan hingga dua setengah kali lipat dari tingkat sebelum 7 Oktober, dengan pengerahan drone secara terus-menerus di wilayah udara Lebanon.
Para perwira senior Israel mengakui bahwa melindungi permukiman membutuhkan lebih dari sekadar pagar, dan bahwa operasi di dalam wilayah Lebanon telah menjadi persyaratan permanen, yang secara efektif mengakui bahwa Hizbullah adalah kekuatan sejati di lapangan.
Tentara Israel menyebut fase saat ini sebagai fase restrukturisasi, dan menekankan bahwa mereka akan tetap aktif dan agresif kecuali jika senjata Hizbullah dilucuti. Namun, tinjauan beberapa tahun terakhir mengungkapkan bahwa setiap upaya untuk menetralisir Hizbullah telah menghasilkan realitas yang lebih kompleks di lapangan, yang pada akhirnya menguntungkan kelompok tersebut. (alalam)
IRGC: Pembunuhan Komandan Hizbullah Tandai Kelemahan Israel di Depan Poros Perlawanan
Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa pembunuhan pengecut Israel terhadap komandan senior Hizbullah, Haytham Ali Tabatabai menunjukkan “kelemahan” rezim tersebut dalam menghadapi Poros Perlawanan.
IRGC pada hari Senin merilis pernyataan berisi kutukan keras terhadap pembunuhan Tabatabai yang terjadi di pinggiran selatan ibu kota Lebanon, Beirut, sehari sebelumnya.
“Rezim Zionis kembali melakukan kejahatan teroris yang nyata dengan menyerang salah satu komandan Hizbullah yang teguh,” katanya.
“Tindakan pengecut ini, yang terjadi di tengah gencatan senjata yang sering dilanggar oleh Israel, bukanlah bukti kekuatan, melainkan menunjukkan kelemahan dan ketidakberdayaan musuh terhadap keinginan negara-negara di kawasan dan Front Perlawanan,” lanjutnya.
IRGC juga menyatakan prihatin atas kebungkaman dan ketidakberdayaan badan-badan internasional dan hak asasi manusia dalam menghadapi genosida dan agresi Israel, serta dukungan yang diterima rezim perampas ini dari para penguasa yang gemar berperang dan menebar teror di Gedung Putih.
Pernyataan tersebut lebih lanjut menegaskan bahwa Poros Perlawanan “hidup dan dinamis” dan bahwa darah para martir akan menyalakan api harapan dan tekad di hati orang-orang yang mencari kebebasan dan para pejuang perlawanan yang setia di seluruh kawasan.
“Tidak diragukan lagi, Front Perlawanan dan Hizbullah Lebanon berhak membalas darah para pejuang Islam yang pemberani. Ketika saatnya tiba, balasan yang menghancurkan akan diberikan kepada agresor teroris,” tegas IRGC.
Pada Minggu malam, Hizbullah mengumumkan gugurnya Tabatabai dan empat pejuang perlawanan lainnya dalam “serangan berbahaya Israel.”
Tabatabai adalah komandan Hizbullah paling senior yang dibunuh oleh Israel sejak pemberlakuan gencatan senjata November 2024.
Dalam pernyataannya, IRGC juga menyatakan bahwa umat Islam menganggap pembunuhan tersebut sebagai bagian dari “perang psikologis” dan “upaya putus asa” Israel untuk menyembunyikan krisis internal dan kekalahan berulang di medan perang. IRGC memperingatkan bahwa tindakan tersebut hanya akan membawa lebih banyak kekalahan dan kemarahan serta kebencian global yang lebih besar terhadap rezim pendudukan.
IRGC memastikan bahwa Poros Perlawanan, melalui upaya militer, politik, media, dan rakyat, akan terus berjuang hingga mencapai kemenangan mutlak atas rezim penjajah Palestina dan tanah suci al-Quds. (presstv)
Militer Sudan Tolak Usulan Gencatan Senjata
Panglima Angkatan Bersenjata Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, menolak proposal gencatan senjata dari kuartet pimpinan AS, dan menyebutnya sebagai “proposal terburuk.”
Dalam sebuah pernyataan video yang dirilis oleh militer pada Minggu malam (23/11), al-Burhan menegaskan proposal tersebut tidak dapat diterima, dan menilai para mediator “tidak netral” dalam upaya mereka untuk mengakhiri perang.
Sebelumnya, penasihat senior presiden AS untuk urusan Arab dan Afrika, Massad Boulos, mengatakan kepada AP bahwa proposal terbaru tersebut menyerukan gencatan senjata kemanusiaan selama tiga bulan yang diikuti oleh proses politik selama sembilan bulan.
Pasukan Dukungan Cepat (RSF) mengatakan mereka telah menyetujui gencatan senjata tersebut menyusul kemarahan internasional atas kekejaman yang dilakukan oleh kelompok paramiliter ini di El Fasher, Darfur.
Namun al-Burhan menyebut proposal itu “dokumen terburuk” karena “menghilangkan angkatan bersenjata dan menuntut pembubaran semua badan keamanan, sementara milisi tetap utuh, merujuk pada RSF. “Jika mediasi berlanjut ke arah ini, kami akan menganggapnya bias,” katanya.
Dia mengkritik Mosad Boulos dengan menyebutnya “berbicara seolah-olah hendak mendikte kami. Kami khawatir Boulos akan menjadi penghalang bagi perdamaian yang diinginkan seluruh rakyat Sudan.”
Dia juga menyebut-nyebut Uni Emirat Arab (UEA) dengan mengatakan bahwa karena Kuartet memasukkan negara Teluk ini sebagai anggota, kelompok mediasi tersebut “tidak terbebas dari tanggung jawab, terutama karena seluruh dunia menyaksikan dukungan UEA terhadap pemberontak yang menentang negara Sudan.”
Perang yang menghancurkan ini telah merenggut nyawa lebih dari 40.000 orang, menurut data PBB, tetapi organisasi-organisasi bantuan mengatakan angka ini masih kurang dari jumlah sebenarnya dan jumlah korban bisa jadi jauh lebih tinggi. Perang ini telah memicu krisis kemanusiaan terbesar di dunia, memaksa lebih dari 14 juta orang mengungsi, memperparah wabah penyakit, dan membuat berbagai wilayah negara terdera bencana kelaparan. (alalam)







