Rangkuman Berita Utama Timur Tengah,  Selasa 11 November 2025

Jakarta, ICMES. Kabar keterjebakan sejumlah pejuang Palestina di dalam terowongan di kota Rafah yang porak-poranda di Jalur Gaza selatan belakangan ini mengemuka, dan menjadi isu panas di tengah upaya untuk melangkah ke fase selanjutnya dari perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober.

Hamas menyatakan bahwa para pejuangnya yang bersembunyi di Rafah tidak akan menyerah, dan mendesak para mediator untuk menemukan solusi atas krisis yang mengancam gencatan senjata.

Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Aziz Nasirzadeh menyatakan bahwa industri pertahanan Iran saat ini lebih tinggi, baik secara kuantitas maupun kualitas, dibandingkan sebelum Perang 12 Hari melawan Israel dan AS.

Berita selengkapnya:

Isu Panas Keterjebakan Pejuang Al-Qassam dalam Terowongan di Rafah

Kabar keterjebakan sejumlah pejuang Palestina di dalam terowongan di kota Rafah yang porak-poranda di Jalur Gaza selatan belakangan ini mengemuka, dan menjadi isu panas di tengah upaya untuk melangkah ke fase selanjutnya dari perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober.

Israel memanfaatkan kondisi para pejuang ini untuk menciptakan krisis sebagai bagian dari upayanya untuk menghambat implementasi perjanjian secepatnya.

Nasib para pejuang yang terjebak di Rafah menjadi titik pertikaian antara Israel dan Hamas. Laporan media ASdan Israel menunjukkan bahwa pemerintahan Trump sedang memberikan tekanan untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara yang akan memastikan kelanjutan gencatan senjata.

Jumlah Pejuang yang Terjebak

Sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, menyatakan bahwa para pejuang ini adalah anggota organisasi mereka yang masih berada di wilayah Rafah yang berada di bawah kendali Israel.

Para pejuang itu  berada di terowongan-terowongan di dalam “Garis Kuning”, wilayah yang menjadi tujuan penarikan pasukan Israel berdasarkan perjanjian gencatan senjata tahap pertama. Seluruh kota Rafah berada di dalam garis ini.

Israel memperkirakan jumlah pejuang yang terjebak di wilayah tersebut 150-200 orang, sementara Hamas maupun Brigade al-Qassam belum memberikan perkiraan tersebut.

Awal mula krisis

Pada 29 Oktober, tentara Israel mengumumkan tewasnya seorang tentara cadangan dalam sebuah serangan terhadap pasukan militer di Rafah, dengan klaim bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran gencatan senjata.

Selanjutnya, tentara pendudukan melancarkan serangan besar-besaran di Jalur Gaza, yang mengakibatkan tewasnya lebih dari 100 warga Palestina. Rafah secara khusus menjadi sasaran pengeboman berulang kali, dan sisa-sisa bangunannya hancur.

Sepuluh hari sebelumnya, Israel mengumumkan tewasnya dua tentara di Rafah, menggunakan insiden ini sebagai dalih untuk mengebom beberapa wilayah di Jalur Gaza hingga menggugurkan sekira 50 warga Palestina.

Upaya Penyelesaian

Laporan media AS dan Israel menyebutkan bahwa AS sedang menekan Israel dan Hamas untuk menyelesaikan masalah para pejuang yang terjebak di terowongan Rafah.

Saluran 12 Israel pada hari Sabtu (8/11) melaporkan bahwa seorang pejabat AS menyatakan pemerintahan Presiden Donald Trump menekan Hamas untuk mengembalikan jenazah perwira Israel Hadar Goldin untuk memfasilitasi kesepakatan guna mengakhiri krisis pejuang Hamas yang terjebak di Rafah.

Brigade Qassam beberapa hari lalu telah mengembalikan mayat Hadar Goldin, yang tewas dalam operasi perlawanan di Rafah pada tahun 2014. Israel mengonfirmasi bahwa mayat yang diterimanya memang benar-benar mayat Goldin.

Isu para pejuang yang terjebak diperkirakan akan menjadi salah satu topik yang dibahas belakangan ini oleh utusan AS Jared Kushner dan Steven Wittkopf dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menurut Israeli Broadcasting Corporation, mengutip sumber-sumber yang terpercaya.

Usulan solusi

Laporan media Amerika dan Israel menyebutkan beberapa proposal untuk penyelesaian krisis para pejuang Hamas di Rafah.

Para pejabat Israel menyatakan bahwa para pejuang Hamas di Rafah tidak punya pilihan selain menyerah atau mati di terowongan. Pihak lain menyarankan untuk menangkap dan menginterogasi mereka di Israel.

Namun, laporan media AS dan Israel juga telah membahas proposal yang mencakup pemberian akses aman bagi para pejuang ke Gaza setelah menyerahkan senjata mereka.

Gagasan untuk memindahkan para pejuang Hamas ke negara ketiga setelah mereka keluar dari terowongan di Rafah juga dikemukakan. Menurut sumber-sumber Israel, Israel menyadari bahwa tekanan AS akan mendorongnya untuk bersikap fleksibel dalam masalah ini.

Sikap Hamas

Hamas menyatakan bahwa para pejuangnya yang bersembunyi di Rafah tidak akan menyerah. Hamas mendesak para mediator untuk menemukan solusi atas krisis yang mengancam gencatan senjata.

Pemimpin Hamas, Ismail Radwan, menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa gerakan tersebut telah memberi tahu para mediator tentang kesiapannya untuk mengevakuasi para pejuang dari wilayah yang dikuasai Israel di luar Garis Hijau, dan meminta pertanggungjawaban tentara Israel atas eskalasi apa pun jika mereka menyerang posisi mereka.

Brigade Izzuddin al-Qassam pada hari Minggu (9/11) juga memperingatkan Israel tentang potensi bentrokan dengan anggotanya yang terjebak di Rafah, dan menegaskan bahwa “menyerah tidak ada dalam kamus Brigade Qassam.” (aljazeera)

Menhan Iran: Industri Pertahanan Kami Lebih Kuat Dibanding Pra Perang 12 Hari

Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Aziz Nasirzadeh menyatakan bahwa industri pertahanan Iran saat ini lebih tinggi, baik secara kuantitas maupun kualitas, dibandingkan sebelum Perang 12 Hari melawan Israel dan AS.

Hal itu dikemukakan Nasirzadeh dalam laporan komprehensifnya mengenai kinerja Kementerian Pertahanan (Kemhan) dalam pertemuan dengan Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Majelis Permusyawaratan Islam (Parlemen), Senin(10/11)

“Yakinlah bahwa produksi pertahanan kita saat ini lebih tinggi, baik secara kuantitas maupun kualitas, dibandingkan sebelum Perang 12 Hari,” kata Nasirzadeh kepada para anggota parlemen.

Dia menjelaskan bahwa pihaknya telah menetapkan kerangka kerja untuk integrasi dengan sektor swasta dan lembaga swadaya masyarakat. Badan khusus terkait beserta peraturannya telah diimplementasikan pada bulan Januari, dan Pusat Kemitraan Pertahanan telah dibentuk di Kementerian Pertahanan.

Dia juga menyinggung penyelenggaraan pameran dan pembentukan panel khusus untuk pemikiran strategis, dengan menyatakan bahwa 36 proyek di bidang operasional telah diidentifikasi. Dari jumlah tersebut, 15 proyek telah mencapai kemajuan berkisar antara 70% hingga 800%, sementara lima proyek telah mencapai penyelesaian sekitar 70%, dan 16 proyek berada dalam tahap studi kelayakan.

Mengenai beberapa proyek penting, Nassirzadeh menjelaskan bahwa mikroelektronika, konektor saluran, dan proyek pemilu elektronik merupakan beberapa capaian paling menonjol yang dilaksanakan melalui kerja sama dengan sektor swasta.

Menteri Pertahanan Iran juga membahas kerja sama dengan jaringan perusahaan swasta, dengan mengungkapkan bahwa terdapat 8.237 perusahaan yang berafiliasi dengan Kemhan, termasuk 1.454 perusahaan berbasis pengetahuan dan 6.783 perusahaan swasta lainnya. Dia menjelaskan bahwa kerja sama dengan perusahaan berbasis pengetahuan telah menciptakan 93.000 lapangan kerja.

Mengenai pencapaian kementerian di sektor antariksa, dia mengatakan bahwa kemajuan signifikan telah dicapai dalam pembuatan satelit dan wahana peluncurnya, termasuk satelit Chamran dan Keyhan serta wahana peluncur Simorgh dan Zoljanah. (alalam)