Jakarta, ICMES. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan putaran baru pembicaraan nuklir tidak langsung dengan AS di Muscat, ibu kota Oman, merupakan “awal yang baik” dan dapat dilanjutkan.

Seorang penyerang melepaskan tembakan di gerbang sebuah masjid Muslim Syiah di Islamabad sebelum meledakkan bom bunuh diri dan menggugurkan sedikitnya 31 orang.
Berita selengkapnya:
Iran Sebut Perundingannya dengan AS di Oman “Awal yang Baik”
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan putaran baru pembicaraan nuklir tidak langsung dengan AS di Muscat, ibu kota Oman, merupakan “awal yang baik” dan dapat dilanjutkan.
“Keputusan tentang bagaimana melanjutkan negosiasi akan dibuat setelah konsultasi dengan kedua ibu kota,” katanya kepada IRIB setelah berakhirnya pembicaraan yang dimediasi Oman, Jumat (6/2).
Dia menambahkan bahwa mengenai kelanjutan negosiasi, “tampaknya konsensus telah tercapai.”
Araghchi menekankan bahwa kelanjutan pembicaraan bergantung pada konsultasi di kedua ibu kota dan keputusan tentang bagaimana melanjutkannya.
Negosiator utama Iran itu mengatakan negosiasi tidak langsung dimulai setelah berjam-jam konsultasi intensif dalam “suasana positif.”
Menurutnya, selama sekitar enam jam pembicaraan, beberapa pertemuan tidak langsung dan putaran konsultasi diadakan, dan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Al Busaidi memainkan peran “aktif” dalam penyelenggaraan dan penyampaian pesan dan pandangan kedua belah pihak.
“Selama pembicaraan ini, (yang berlangsung) setelah periode gangguan yang panjang, posisi dan kekhawatiran Iran sepenuhnya tersampaikan dan kepentingan kami, hak-hak bangsa Iran, dan semua hal yang perlu dinyatakan tersampaikan dalam suasana yang sangat positif, dan pandangan pihak lain juga didengar,” jelasnya.
Dia menyebutkan bahwa bahwa waktu dan cara putaran pembicaraan selanjutnya akan ditentukan dalam konsultasi selanjutnya melalui menteri luar negeri Oman.
Kedua pihak sepakat untuk memulai lagi proses pembicaraan delapan bulan setelah perang Israel terhadap Iran menyebabkan ketidakpercayaan yang sangat besar dan tantangan signifikan bagi negosiasi.
“Kita harus terlebih dahulu mengatasi suasana ketidakpercayaan yang berlaku ini, dan baru kemudian kita dapat merancang kerangka kerja untuk dialog baru, yang dapat… mengamankan kepentingan rakyat Iran,” kata Araghchi.
Dia menilai diskusi yang baik telah diadakan antara kedua pihak, dan disepakati bahwa proses tersebut akan dilanjutkan.
Hanya Soal Nuklir
“Pembicaraan kami hanya berfokus pada isu nuklir, dan kami tidak membahas isu lain dengan Amerika,” ujar Araghchi.
Dia menambahkan bahwa tim Iran menekankan bahwa negosiasi nuklir “harus berlangsung dalam lingkungan yang tenang, bebas dari ketegangan dan ancaman.”
“Kami juga menyampaikan poin ini dengan jelas hari ini, dan kami berharap hal itu dipatuhi agar kelanjutan pembicaraan dapat dilakukan,” tambahnya.
Araghchi memimpin tim negosiasi Iran. Ia dibantu oleh para wakilnya, Majid Takht-Ravanchi, Kazem Gharibabadi, dan Hamid Qanbari, selain Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei.
Utusan Khusus AS Steve Witkoff memimpin delegasi Amerika, didampingi oleh menantu dan penasihat Presiden Donald Trump, Jared Kushner, dan, yang penting, Laksamana Brad Cooper, komandan Komando Pusat AS (CENTCOM). Kehadiran Cooper telah menarik perhatian, karena partisipasinya tidak diumumkan sebelumnya dan telah memicu spekulasi media, terutama mengingat delegasi Iran tidak termasuk pejabat militer.
Menteri Luar Negeri Oman bolak-balik antara kedua pihak, dengan pembicaraan yang diadakan secara tidak langsung seperti sebelumnya.
Dalam sebuah unggahan di X, Menteri Luar Negeri Oman menyebut pembicaraan tersebut sebagai “sangat serius.”
“Sangat bermanfaat untuk mengklarifikasi pemikiran Iran dan Amerika serta mengidentifikasi area untuk kemungkinan kemajuan. Kami bertujuan untuk bertemu kembali pada waktunya, dengan hasil yang akan dipertimbangkan dengan cermat di Teheran dan Washington,” tambahnya.
Para pejabat Iran menyatakan tuntutan utama Iran dalam pembicaraan Muscat adalah pencabutan sanksi ekonomi dan keuangan yang efektif dan dapat diverifikasi.
Teheran berulang kali menekankan bahwa setiap perjanjian yang tidak memiliki manfaat ekonomi nyata tidak akan memiliki nilai praktis, sehingga waktu dan hasil negosiasi sangat penting bagi Iran.
Di bidang nuklir, Iran bersikeras pada hak hukumnya untuk memperkaya uranium di wilayahnya sendiri, dan menyebut masalah ini sebagai garis merah dalam pembicaraan. Dari perspektif Teheran, setiap potensi langkah teknis hanya dapat dipertimbangkan dalam kerangka kerja yang mengakui hak ini, dan setiap prasyarat di luar itu akan dianggap sebagai tanda itikad buruk oleh pihak lain.
Iran telah mengadakan lima putaran pembicaraan tentang pengganti kesepakatan nuklir 2015 sebelum serangan udara AS-Israel terhadap negara itu dan fasilitas nuklirnya pada pertengahan Juni. (presstv/irib)
Masjid Muslim Syiah di Islamabad Diserang Teroris, 30-an Orang Terbunuh, ISIS Mengaku Bertanggungjawab
Seorang penyerang melepaskan tembakan di gerbang sebuah masjid Muslim Syiah di Islamabad sebelum meledakkan bom bunuh diri dan menggugurkan sedikitnya 31 orang pada hari Jumat (6/2) dalam serangan paling mematikan di ibu kota Pakistan dalam lebih dari satu dekade.
Negara Islam (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu dalam sebuah pernyataan di saluran Telegram mereka. Kelompok militan itu juga merilis sebuah gambar yang menurut mereka menunjukkan penyerang memegang pistol, wajahnya tertutup dan matanya dikaburkan.
Lebih dari 170 orang lainnya terluka dalam ledakan itu, yang terjadi setelah para penjaga menantang penyerang saat ia memasuki komplek Imambargah Khadijah al-Kubra di pinggiran kota, kata para pejabat.
Gambar dari lokasi kejadian menunjukkan mayat-mayat berlumuran darah tergeletak di lantai masjid yang berkarpet, dikelilingi oleh pecahan kaca, puing-puing, dan para jamaah yang panik. Puluhan orang lainnya yang terluka tergeletak di taman komplek tersebut sementara orang-orang meminta bantuan.
Para penyintas mengatakan mereka mendengar suara tembakan dan beberapa detik kemudian ledakan, tak lama setelah salat dimulai.
Pria itu meledakkan dirinya sendiri di barisan terakhir jamaah, tulis Menteri Pertahanan Khawaja Asif di X.
Menurutnya, pelaku bom bunuh diri itu memiliki riwayat bepergian ke Afghanistan dan menyalahkan negara tetangga India karena mensponsori serangan tersebut, tanpa memberikan bukti.
Kementerian Luar Negeri India mengutuk serangan itu dan menolak pernyataan Pakistan sebagai “tidak berdasar”.
“Sangat disayangkan bahwa, alih-alih serius mengatasi masalah yang mengganggu tatanan sosialnya, Pakistan malah memilih untuk menipu diri sendiri dengan menyalahkan orang lain atas masalah yang berasal dari dalam negeri,” bunyi pernyataan tersebut. (/reuters)







