Jakarta, ICMES. Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menegaskan pihaknya berhak membalas serangan Israel yang telah menggugurkan komandan senior Hizbullah, Haytham Ali Tabatabai.

Kontak senjata dan serangan udara Israel di kota Beit Jinn di pinggiran barat daya Damaskus menewaskan sedikitnya 15 orang, termasuk empat perempuan dan anak-anak. Selain itu, 20 terluka dengan kondisi sebagian di antaranya kritis, sementara beberapa lainnya masih hilang tertimbun reruntuhan dan atau ditahan oleh pasukan Israel, yang mengaku enam anggotanya terluka.
Biro Politik Gerakan Ansarullah di Yaman mengutuk serangan pasukan Zionis Isael terhadap warga sipil di kota Beit Jinn di pinggiran Damaskus, ibu kota Suriah.
Berita selengkapnya:
Hizbullah Tegaskan Pihaknya Berhak Membalas Serangan Israel
Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem menegaskan pihaknya berhak membalas serangan Israel yang telah menggugurkan komandan senior Hizbullah, Haytham Ali Tabatabai.
Dalam kata sambutannya pada majelis takziyah kesyahidan Tabatabai, Jumat (28/11), Syeikh Qassem memastikan serangan terbaru Israel tidak akan dibiarkan begitu saja, melainkan Hizbullah akan memutuskan kapan dan di mana akan melakukan operasi balasan.
Haytham Tabatabai, komandan senior dan salah satu pendiri Hizbullah gugur dalam serangan udara Israel pada hari Minggu lalu di pinggiran selatan Beirut.
Syekh Qassem mengatakan bahwa Israel terus melanggar kedaulatan Lebanon, dan pasukan Zionis beroperasi dengan nyaman di wilayah Lebanon karena dinas intelijen regional dan AS menyediakan informasi operasional.
“Tujuan pembunuhan itu belum dan tidak akan pernha tercapai. Kami tetap akan melanjutkan jalan kami. Tujuan pembunuhan tokoh paling terkemuka dalam pertempuran dan pemulihan kemampuan adalah untuk melemahkan moral dan membangkitkan kegelisahan,” kata Syeikh Qassem.
Dia menyebut gencatan senjata, yang mulai berlaku pada 27 November 2024, sebagai kemenangan bagi Hizbullah, dan kegagalan Israel menumpas Hizbullah sehingga terpaksa menerima perjanjian gencatan senjata setelah menderita kerugian besar di medan perang.
Syeikh Qassem mengingatkan pemerintah Beirut akan tanggung jawabnya memastikan penarikan penuh pasukan Israel dan menempatkan pasukan militer Lebanon di selatan.
“Agresi Israel yang sedang berlangsung ditujukan ke seluruh Lebanon, dan tidak semata-mata kepada Hizbullah. Rezim pendudukan berusaha mendominasi kebijakan Lebanon dan mengendalikan perekonomiannya. Mereka melakukan pembantaian di seluruh Lebanon. Pemerintah harus memikul tanggung jawabnya dan melindungi perbatasan Lebanon serta warganya,” tegasnya.
Syeikh Qassem mengatakan bahwa senjata Hizbullah telah membebaskan Lebanon setelah puluhan tahun pendudukan, dan tetap menjadi satu-satunya pencegah rencana ekspansif Israel.
Dia juga menyebutkan bahwa AS dan Israel sedang berusaha melucuti daya pertahanan Lebanon, dan bahwa ancaman sebenarnya terletak pada ekspansionisme Israel, bukan persenjataan Hizbullah. Dia memperingatkan bahwa siapa pun yang menyerukan demikian atau mendesak Hizbullah meninggalkan medan perang maka sejatinya dia melayani kepentingan Israel.
“Menyerah tidak mungkin. Kami akan gigih dan bertahan, dan darah para syuhada kami tidak akan sia-sia. Musuh, Israel, tidak akan menyakiti kami tanpa mereka sendiri merasakan sakit,” pungkasnya. (alalam)
Serang Pinggiran Damaskus, Israel Bunuh 15 Warga Suriah, Termasuk Wanita dan Anak-Anak
Kontak senjata dan serangan udara Israel di kota Beit Jinn di pinggiran barat daya Damaskus menewaskan sedikitnya 15 orang, termasuk empat perempuan dan anak-anak, menurut sumber resmi dan lokal, Jumat (28/11). Selain itu, 20 terluka dengan kondisi sebagian di antaranya kritis, sementara beberapa lainnya masih hilang tertimbun reruntuhan dan atau ditahan oleh pasukan Israel, yang mengaku enam anggota terluka.
Sumber-sumber tersebut menyatakan bahwa bentrokan meletus pada Jumat dini hari antara penduduk setempat dan pasukan Israel yang berusaha menyerbu kota dan melakukan penangkapan. Bentrokan tersebut diiringi oleh tembakan artileri dan serangan udara yang menyebabkan sebuah bangunan tempat tinggal runtuh.
Saluran berita al-Ekhbariya Suriah sebelumnya melaporkan bahwa serangan udara dan artileri Israel terjadi “setelah warga mengepung dan bentrok dengan pasukan patroli Israel.”
Kota Beit Jinn terletak di lereng Gunung Hermon, hanya 10 kilometer dari perbatasan antara wilayah pendudukan Dataran Tinggi Golan dan wilayah Palestina pendudukan. Kota ini telah berulang kali menjadi sasaran berbagai operasi militer Israel, termasuk pemboman udara dan artileri serta serangan darat singkat.
Meskipun rezim Suriah tidak menimbulkan ancaman bagi Tel Aviv, tentara Israel telah berulang kali memasuki Suriah, melancarkan serangan udara yang menewaskan warga sipil dan menghancurkan fasilitas militer, kendaraan, senjata, dan amunisi milik Suriah.
Al-Ekhbariya melaporkan, “Puluhan keluarga telah mengungsi dari kota Beit Jinn ke daerah terdekat yang lebih aman.” Saluran ini juga menyebutkan bahwa pengeboman terjadi setelah penduduk mengepung patroli militer Israel saat memasuki kota , bentrokan lantas terjadi hingga patroli tersebut mundur, sementara pesawat-pesawat Israel terbang intensif di atas kota tersebut.
Di lain pihak, militer Israel pada hari Jumat mengumumkan pihaknya telah melancarkan operasi keamanan terhadap buronan anggota Jamaah Islam di Beit Jinn, dan enam tentara Israel terluka dalam operasi ini.
Juru bicara militer Israel, Avichai Adraee, mengatakan kepada media Arab bahwa “pada malam (Jumat), berdasarkan intelijen yang dikumpulkan dalam beberapa pekan terakhir, pasukan dari Brigade Cadangan ke-55, yang beroperasi di bawah komando Divisi ke-210, melancarkan operasi untuk menangkap anggota buronan Jamaah Islam.”
Dia menambahkan: “Para tersangka beroperasi di desa Beit Jinn di Suriah selatan dan terlibat dalam pengembangan rencana teroris terhadap warga Israel… Selama operasi militer Israel, teroris melepaskan tembakan ke arah pasukan, yang kemudian membalas tembakan. Bersamaan dengan itu, dukungan udara diberikan kepada pasukan di daerah tersebut.”
Serangan Israel tersebut membangkita kecaman dari berbagai pihak termasuk Hamas, Qatar, Yordania, dan Ansarullah Yaman. (alalam/raialyoum)
Ansarullah Peringatkan Israel Soal Kelancangan terhadap Suriah
Biro Politik Gerakan Ansarullah di Yaman mengutuk serangan pasukan Zionis Isael terhadap warga sipil di kota Beit Jinn di pinggiran Damaskus, ibu kota Suriah.
Biro Politik Ansarullah pada hari Jumat (28/11) menegaskan bahwa agresi Israel yang menewaskan sedikitnya 15 warga itu merupakan “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan Suriah dan perluasan pendudukan wilayahnya.”
Ansarullah memuji “perlawanan penduduk dan konfrontasi heroik mereka terhadap pasukan pendudukan Zionis, yang menyebabkan banyak tentaranya terluka dan melarikan diri.” Ansarullah menegaskan, “Perlawanan adalah satu-satunya cara untuk mencegah agresi,” dan bahwa “peredaan tidak akan mencegah kelanjutan rencana musuh dan agenda ekspansionisnya, baik di Suriah, Lebanon, maupun Palestina.”
Ansarullah juga menegaskan, “Suriah berhak menanggapi agresi dengan segala cara yang tersedia. Konsekuensi mengerikan menanti mereka yang mengabaikan pelajaran sejarah dan mengabaikan kewajiban sah untuk membela diri, yang dijamin oleh hukum ilahi, hukum internasional, dan norma-norma kemanusiaan.”
Ansarullah menutup pernyataan itu dengan menyerukan kepada rezim-rezim Arab dan Islam untuk “menghadapi agresi kriminal Zionis, yang menyerang seluruh bangsa, geografi, identitas, dan sejarahnya. Ansarullah mengingatkan, “Kondisi lemah ini telah membuat Zionis semakin berani untuk terus melancarkan agresinya dan mempertahankan status quo melalui kekuatan senjata dan kebrutalan.” (alalam)









