Jakarta, ICMES. Sekretaris Dewan Tinggi Pertahanan Iran Laksamana Ali Shamkhani mengatakan kepada Aljazeera bahwa sistem rudal itu masuk dalam kategori garis merah dan tak dapat dinegosiasikan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa perubahan rezim di Iran adalah “hal terbaik yang bisa terjadi,” setelah dia memerintahkan kapal induk kedua bergerak menuju Timur Tengah.
Pemimpin gerakan Ansarullah di Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, menegaskan bahwa Republik Islam Iran merupakan pendukung utama bagi Dunia Islam, dan teguh berdiri menghadapi ancaman kontemporer terhadap stabilitas negara-negara Muslim.
Berita selengkapnya:
Shamkhani: Risiko AS akan Fatal Jika Nekat terhadap Iran
Sekretaris Dewan Tinggi Pertahanan Iran Laksamana Ali Shamkhani pada hari Jumat (13/2) mengatakan kepada Aljazeera bahwa sistem rudal itu masuk dalam kategori garis merah dan tak dapat dinegosiasikan.
Dia menambahkan bahwa kesiapan militer Iran sangat tinggi, dan Iran akan membalas telak dan tepat terhadap segala bentuk petualangan musuh terhadapnya. Dia memperingatkan bahwa risiko kesalahan perhitungan sedikitpun akan tinggi. Dia menyebut Israel tidak akan bisa melakukan gerakan apapun tanpa dukungan langsung dari AS.
Mengenai pembicaraan Iran dengan AS, dia mengatakan bahwa jika realistis tanpa ada tuntutan berlebihan maka bisa jadi akan berjalan positif dan mewujudkan kepentingan semua pihak, karena kepentingan kolektif bergantung pada upaya menghindari tindakan yang akan mempengaruhi stabilitas dan keamanan kawasan sekitar.
Shamkhani menekankan bahwa gerakan diplomatik di kawasan ini bertujuan menguatkan opsi politik dan mencegah ketegangan.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian di hari yang sama menuduh Amerika Serikat (AS) dan Israel mengeksploitasi situasi negaranya dan memicu masalah.
Pezeshkian menyatakan bahwa musuh-musuh negaranya berusaha menghalangi penyelesaian kesepakatan, dan bahwa musuh dan Zionis telah mengeksploitasi aneka peristiwa dan berkontribusi pada eskalasi konflik.
Dia menambahkan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah campur tangan dalam insiden beberapa waktu lalu, menciptakan hambatan dan berupaya mencegah Iran untuk kembali bangkit.
Presiden Iran menjelaskan bahwa negara ini telah menderita luka mendalam yang membutuhkan penyembuhan melalui persatuan dan solidaritas semua komponen bangsa Iran. Dia menekankan perlunya melihat ke masa depan, memperkuat kohesi internal, dan memperingatkan perihal upaya musuh untuk memicu ketidakpuasan di kalangan warga negara. (alalam/aljazeera)
Trump Sebut Perubahan Rezim Iran sebagai Hal Terbaik
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa perubahan rezim di Iran adalah “hal terbaik yang bisa terjadi,” setelah dia memerintahkan kapal induk kedua bergerak menuju Timur Tengah.
Ketika ditanya apakah ia menginginkan “perubahan rezim” di Iran, Trump kepada wartawan di pangkalan militer Fort Bragg di Carolina Utara, Jumat (13/20, mengatakan “Kedengarannya seperti hal terbaik yang bisa terjadi.”
Dia menambahkan, “Selama 47 tahun mereka terus berbicara, berbicara dan berbicara. Sementara itu, kita telah kehilangan banyak nyawa.”
Dalam pernyataan sebelumnya pada hari Jumat, Trump mengumumkan niat Washington untuk mengerahkan “pasukan besar” ke Timur Tengah jika kesepakatan dengan Iran tentang program nuklirnya tidak tercapai.
Menanggapi pertanyaan tentang keputusannya untuk mengirim kapal induk kedua ke wilayah tersebut, Trump mengatakan kepada wartawan, “Ya, jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya.”
Menurutnya, kapal induk kedua akan “segera berangkat” ke Timur Tengah. “Kita sudah memiliki kekuatan yang sangat besar di sana yang baru saja tiba,” ujarnya.
Trump mengatakan demikian menyusul laporan media lokal bahwa AS akan mengirim kapal induk USS Gerald R. Ford ke Timur Tengah untuk memperkuat kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln yang sudah berada di wilayah tersebut.
Kapal induk AS USS Abraham Lincoln hadir dan beroperasi di lepas pantai Oman dengan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) yang dinonaktifkan, dengan membawa pesawat AV-18A1, F-35C, F/A-18E/F, EA-18G, dan E-2D.
Sebelumnya hari ini, media AS melaporkan bahwa AS bermaksud untuk mengerahkan kapal induk kedua, yang digambarkan sebagai “kapal induk terbesar di dunia,” ke Timur Tengah.
The New York Times mengutippernyataan empat pejabat AS bahwa USS Gerald R. Ford, yang saat ini ditempatkan di Karibia, akan menuju Timur Tengah bersama kapal-kapal pendampingnya.
Selain itu, delapan kapal perusak kelas Arleigh Burke ditempatkan di Laut Arab, Mediterania timur, dan Laut Merah.
Pada hari Kamis, Trump mengatakan AS ingin mencapai kesepakatan dengan Iran, tetapi memperingatkan Teheran tentang konsekuensi jika gagal.
Teheran percaya bahwa Washington dan Israel sedang mencari-cari dalih untuk intervensi dan perubahan rezim, namun Teheran juga bersumpah untuk membalas setiap serangan militer, bahkan yang terbatas sekalipun. Mereka bersikeras agar sanksi ekonomi Barat dicabut sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya.
Sebaliknya, AS menuntut agar Iran sepenuhnya menghentikan kegiatan pengayaan uraniumnya dan memindahkan uranium yang sudah diperkaya keluar dari Iran.
Pemerintahan AS juga berupaya membawa program rudal Iran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan itu ke meja perundingan, tetapi Teheran telah berulang kali menegaskan tidak akan bernegosiasi mengenai isu apa pun selain program nuklirnya. (raialyoum)
Pemimpin Ansarullah: Iran Kendala Utama bagi Hukum Rimba Kekuatan Global
Pemimpin gerakan Ansarullah di Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, menegaskan bahwa Republik Islam Iran merupakan pendukung utama bagi Dunia Islam, dan teguh berdiri menghadapi ancaman kontemporer terhadap stabilitas negara-negara Muslim.
Al-Houthi memperingatkan bahaya hukum rimba yang dihadapi Dunia Islam, dan menyatakan bahwa Israel, dengan dukungan Amerika dan Inggris, berupaya melenyapkan tonggak-tonggak sejarah Islam di Palestina.
Dia menegaskan bahwa peristiwa-peristiwa terkini merupakan bagian dari upaya memaksakan hukum rimba, yang menjadiancaman serius bagi seluruh bangsa Muslim.
Al-Houthi menyinggung kontinyuitas serangan Israel, khususnya terhadap Masjid Al-Aqsa, dan menekankan bahwa sebagian pihak menyalahkan para pejuang perlawanan di Gaza dan Lebanon sementara musuh terus melakukan pelanggaran.
Dia juga menyinggung peningkatan pengiriman senjata ke Israel, bersamaan dengan tekanan untuk melucuti senjata Hizbullah, pada saat para pemukim dipersenjatai.
Dalam konteks ini, Sayyid Al-Houthi merujuk pada dokumen-dokumen yang dibocorkan oleh manusia bejat Epstein, yang mengungkap inkubator Zionis. Dokumen-dokumen ini mengungkap ritual-ritual setan di mana kejahatan paling keji dilakukan, menyasar anak-anak di bawah umur dan remaja, menimbulkan pertanyaan serius tentang dimensi moral dan politik dari situasi ini. (alalam)






