Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Rabu 4 Februari 2026

Jakarta, ICMES. Perusahaan keamanan maritim Inggris, Vanguard Tech, melaporkan bahwa kapal perang Iran mendekati sebuah kapal tanker minyak AS dan memerintahkannya untuk berhenti saat melintasi Selat Hormuz di wilayah Teluk, tetapi kapal tersebut terus berlayar dengan dikawal oleh kapal perang AS.

Juru bicara militer AS mengklaim bahwa sebuah jet tempur AS menembak jatuh sebuah drone siluman Iran yang mendekati kapal induk AS dengan cara “bermusuhan” saat berlayar di Laut Arab pada hari Selasa.

Wakil Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Brigjen Kioumars Heidari, memperingatkan bahwa segala bentuk serangan terhadap wilayah Iran akan dibalas dengan respon  yang sengit dan telak, dan bahwa tidak akan ada keamanan regional tanpa keamanan Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan dia telah menginstruksikan menteri luar negerinya untuk melanjutkan negosiasi dengan AS, namun dengan syarat negosiasi tersebut berlangsung dalam lingkungan yang saling menghormati dan steril dari intimidasi.

Berita selengkapnya:

Pasukan Iran Cegat Kapal AS di Selat Hormuz, AS Mengklaim Tembak Jatuh Drone Siluman Iran

Perusahaan keamanan maritim Inggris, Vanguard Tech, melaporkan bahwa kapal perang Iran mendekati sebuah kapal tanker minyak AS dan memerintahkannya untuk berhenti saat melintasi Selat Hormuz di wilayah Teluk, tetapi kapal tersebut terus berlayar dengan dikawal oleh kapal perang AS.

Perusahaan pada hari Selasa (3/2) tersebut menjelaskan bahwa enam kapal perang Iran mendekati kapal tanker minyak berbendera AS, Stena Imperative, di Selat Hormuz, sekitar 16 mil laut di utara Oman.

Disebutkan bahwa kapal tanker tersebut tidak memasuki perairan teritorial Iran, dan perusahaan itu menyebutkan bahwa kapal-kapal Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran “mengeluarkan panggilan ke kapal tanker itu melalui saluran komunikasi maritim dan memerintahkan kapten untuk mematikan mesin dan bersiap untuk inspeksi.”

Namun, kapal tanker tersebut “meningkatkan kecepatannya dan melanjutkan perjalanannya dan sedang dikawal oleh kapal perang AS.”

Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan terjadi insiden di Selat Hormuz, tanpa memberikan detail apa pun tentang kapal itu dan kapal-kapal yang mendekatinya.

Namun, Kantor Berita Fars membantah adanya “insiden keamanan.” Tanpa menyebutkan kepemilikan kapal tersebut, kantor berita Iran itu menyatakan bahwa kapal tersebut telah “secara ilegal” memasuki Selat Hormuz “di perairan internasional Iran.” Ditambahkan bahwa kapal tersebut “menerima peringatan dan segera meninggalkan perairan Iran.”

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengancam serangan militer yang telah diancam akan dibalas oleh Teheran.

Surat kabar konservatif Iran, Javan, pekan lalu melaporkan bahwa Republik Islam Iran “siap untuk respon skala besar” yang dapat mencakup Selat Hormuz.

Penembakan Drone

Sementara itu, juru bicara militer AS mengklaim bahwa sebuah jet tempur AS menembak jatuh sebuah drone siluman Iran yang mendekati kapal induk AS dengan cara “bermusuhan” saat berlayar di Laut Arab pada hari Selasa.

“Sebuah jet tempur F-35C dari USS Abraham Lincoln menembak jatuh drone Iran tersebut untuk membela diri dan melindungi kapal induk dan personelnya,” kata juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, dalam sebuah pernyataan.

Di pihak lain, Angkatan Bersenjata Iran menyatakan sebuah pesawat nirawak patroli dan pengawasan miliknya berhasil menyelesaikan misinya di perairan internasional.

Kantor Berita Fars pada hari Selasa melaporkan bahwa misi utama pesawat nirawak itu ialah memantau semua pergerakan militer di wilayah yang berbatasan dengan Iran, dan bahwa data dari pesawat ini dikirimkan dan diterima oleh pangkalan darat secara real-time.

Sebuah sumber yang mengetahui informasi tersebut kepada Kantor Berita Tasnim  mengatakan bahwa pesawat tersebut adalah nirawak Shahed-129. Dia mengomentari laporan dari media berbahasa Inggris tentang pesawat AS yang menargetkan pesawat nirawak Iran di atas kapal induk USS Abraham Lincoln.

Pesawat nirawak Shahed-129 sedang melakukan misi rutin dan legalnya berupa pengintaian, pemantauan, dan pengambilan gambar di perairan internasional. Ini dianggap sebagai prosedur standar dan sah,” catat sumber tersebut.

Dia  menambahkan bahwa pesawat nirawak tersebut berhasil mengirimkan rekaman pengawasan dan pengintaiannya ke pusat komando.

Namun, komunikasi kemudian terputus, tambahnya, seraya mengatakan bahwa penyebab terputusnya komunikasi tersebut saat ini sedang diselidiki, dan rincian lebih lanjut akan dirilis setelah selesai. (ry/pt)

IRGC: Jangan Harap Timteng Aman Tanpa Keamanan Iran

Wakil Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Brigjen Kioumars Heidari, memperingatkan bahwa segala bentuk serangan terhadap wilayah Iran akan dibalas dengan respon  yang sengit dan telak, dan bahwa tidak akan ada keamanan regional tanpa keamanan Iran.

Heidari pada hari Selasa (3/2) menjelaskan bahwa membahayakan keamanan Iran berarti tidak akan ada tempat aman bagi AS, Israel, dan sekutu mereka di kawasan tersebut. Dia juga menyebut pengerahan peralatan dan armada militer AS di Teluk Persia sebagai kesalahan perhitungan, dan memperingatkan bahwa melanjutkan jalan ini akan menyebabkan kekalahan AS dan penarikan paksa mereka dari kawasan.

Sementara itu, Komandan Pasukan Keamanan Dalam Negeri Iran, Brigjen Ahmad Reza Radan, menegaskan bahwa pasukan penjaga perbatasan Iran saat ini berada pada puncak kekuatan dan kesiapan mereka, dan memperingatkan AS dan Israel agar tidak melakukan kesalahan perhitungan.

Dalam sebuah upacara penghormatan kepada komandan Garda Perbatasan, Radan mencatat bahwa pemerintahan Iran bergantung pada individu-individu yang mengorbankan nyawa mereka untuk melindunginya, yang telah berkontribusi dalam penggagalan upaya musuh selama kerusuhan baru-baru ini.

Komandan keamanan internal menekankan pengejaran berkelanjutan terhadap unsur-unsur musuh di dalam negeri, dan bahwa pasukan penegak hukum, Garda Revolusi, dan Brigade Pengawal Imam Hussein “tidak akan membiarkan bahaya apa pun menimpa keamanan bangsa.” (presstv)

Presiden Pezeshkian: Bebas Intimidasi, Syarat Negosiasi Iran dengan AS

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan dia telah menginstruksikan menteri luar negerinya untuk melanjutkan negosiasi dengan AS, namun dengan syarat negosiasi tersebut berlangsung dalam lingkungan yang saling menghormati dan steril dari intimidasi.

Dalam serangkaian unggahan di akun X-nya pada hari Selasa (3/2), Presiden Pezeshkian mengatakan dia telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi untuk menanggapi proposal AS untuk pembicaraan menyusul permintaan dari “pemerintah-pemerintah sahabat di kawasan ini.”

“Saya telah menginstruksikan Menteri Luar Negeri saya, dengan syarat adanya lingkungan yang sesuai, yaitu bebas dari ancaman dan harapan yang tidak masuk akal, untuk melanjutkan negosiasi yang adil dan merata, yang dipandu oleh prinsip-prinsip martabat, kehati-hatian, dan kepraktisan. Negosiasi ini akan dilakukan dalam kerangka kepentingan nasional kita,” tulisnya.

Komentar-komentar tersebut mengemuka setelah ada laporan bahwa utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, dan Araghchi diperkirakan akan bertemu di Istanbul pada hari Jumat.

Potensi pembukaan upaua diplomatik ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menyusul pengerahan pasukan angkatan laut AS ke kawasan tersebut belakangan ini.

Iran telah memperingatkan bahwa mereka akan menanggapi dengan tegas bahkan tindakan militer sekecil apa pun oleh AS.

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei memperingatkan pada hari Minggu bahwa perang regional akan meletus jika AS berani menyerang Iran.

Otoritas Iran telah menolak tuntutan AS sebelumnya sebagai syarat untuk kesepakatan nuklir, termasuk penghentian total program pengayaan nuklir dan pembatasan kemampuan rudal Iran.

Kepala kebijakan luar negeri di Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran (SNSC), Ali Bagheri, pada hari Senin memastikan negara ini tidak akan bernegosiasi mengenai persediaan uranium yang diperkaya.

“Para pejabat Iran tidak berniat untuk mentransfer bahan nuklir yang diperkaya ke negara mana pun, dan negosiasi sama sekali tidak berputar di sekitar masalah tersebut,” kata Bagheri. (presstv)