Rangkuman Berita Utama Timur Tengah,  Rabu 3 Desember 2025

Jakarta, ICMES. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa daya  pertahanan negara ini sekarang “lebih baik daripada sebelumnya,” dan bahwa responnya terhadap setiap agresi “akan lebih tegas dan tepat.”

Israel mengungkap upaya Iran merekrut warga Israel untuk keperluan spionase, yang mendorong Shin Bet (Badan Keamanan Israel) untuk menghubungi penduduk Bat Yam, di selatan Tel Aviv, secara langsung melalui Wali Kota Tzvika Brot.

Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan Israel mencegah masuk ke Gaza sekitar 6.000 truk pembawa makanan, obat-obatan, dan pasokan bantuan, yang cukup untuk menopang wilayah yang terkepung itu selama tiga bulan.

Berita selengkapnya:

Ketua Parlemen Iran Pastikan Daya Pertahanan Negara ini Sekarang Lebih Baik

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa daya  pertahanan negara ini sekarang “lebih baik daripada sebelumnya,” dan bahwa responnya terhadap setiap agresi “akan lebih tegas dan tepat.”

Dalam konferensi pers peringatan Hari Parlemen di Iran, Selasa (2/1) Ghalibaf menekankan bahwa Iran “telah menegaskan dirinya di panggung dunia, dan siapa pun yang ingin bernegosiasi dengannya harus menerima negosiasi dengan syarat-syarat yang realistis dan setara.”

Menurutnya, masalah utama dalam negosiasi dengan AS adalah “ambisi pihak lawan dan upayanya untuk memaksakan perintah-perintah tertentu.”

“AS mengkhianati meja perundingan dalam agresi baru-baru ini dan membuktikan bahwa mereka bukan mitra negosiasi,” katanya, sembari menekankan bahwa AS “tidak tulus, dan memiliki rencana serta konspirasi terhadap Iran.”

Ghalibaf juga menegaskan bahwa Iran menginginkan negosiasi, dan menekankan bahwa negosiasi harus berlangsung “dalam kondisi yang setara, tetapi pihak lain berusaha untuk menundukkannya.”

Dia menambahkan,”Pihak lain menyaksikan kekuatan kami dalam menghadapi agresinya belakanganini dan ingin memaksa kami untuk mengurangi jangkauan rudal kami.”

Menanggapi pengaktifan “mekanisme snapback” terhadap Iran, Qalibaf menegaskan bahwa hal itu dilakukan “atas perintah langsung AS”  dan bahwa “keputusan Eropa yang keliru dan tidak dipertimbangkan dengan matang sehingga menyebabkan hilangnya peran Eropa di panggung internasional.”

Dia juga mengatakan,  “Eropa tidak lagi memiliki peran dalam isu Iran, atau bahkan dalam isu Ukraina.”

Ghalibaf menyebut Perang 12 Hari sebagai agresi teroris yang canggih dan keji yang direncanakan oleh Rezim Zionis terhadap Iran bekerja sama dengan AS. Meskipun mengakui adanya penundaan singkat dalam respon awal Iran, namun ia menekankan kecepatan negara ini dalam bereaksi.

“Dalam waktu sekitar lima hari, kami mencapai dominasi yang memadai atas udara dan darat musuh, Zionis,” kata Ghalibaf, sembari menegaskan bahwa pihak musuh sangat menginginkan gencatan senjata pada hari keenam dan ketujuh.

Dia mengaitkan kemenangan ini dengan kebijaksanaan dan keberanian Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, pengorbanan rakyat Iran, dan operasi-operasi presisi Angkatan Bersenjata yang “menundukkan musuh.”

“Kami sekarang sungguh-sungguh yakin bahwa kekuatan kami bukan hanya terletak pada kemampuan militer dan rudal kami. Kekuatan utama kami, setelah karunia Allah, terletak di hati rakyat kami,” tegas Ghalibaf.

“Di medan perang sungguhan, meski musuh memiliki sistem pertahanan berlapis dan superioritas udara, penembakan lebih dari 100 rudal (oleh Iran) dalam jangka waktu terbatas dan mencapai akurasi lebih dari 70% merupakan pencapaian militer yang luar biasa,” sambungnya.

Dia memperingatkan bahwa setiap agresi di masa mendatang dari AS atau rezim Zionis akan ditanggapi dengan respons yang jauh lebih kuat.

“Saat ini, kemampuan defensif dan ofensif Iran, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sudah sedemikian rupa sehingga setiap agresi oleh AS atau rezim Zionis akan ditanggapi dengan respon  yang jauh lebih kuat, lebih tepat, dan lebih efektif,” tegasnya. (presstv/almayadeen)

Shin Bet kepada Warga Zionis; Ini Bukan Lelucon, Orang Iran Sudah Masuk ke Israel

Israel mengungkap upaya Iran merekrut warga Israel untuk keperluan spionase, yang mendorong Shin Bet (Badan Keamanan Israel) untuk menghubungi penduduk Bat Yam, di selatan Tel Aviv, secara langsung melalui Wali Kota Tzvika Brot.

Dikutip Channel 12 Israel, Brot mengatakan, “Ada penduduk Bat Yam yang mempertahankan hubungan ini. Mereka tidak hanya membahayakan keamanan Israel melainkan juga masa depan pribadi mereka sendiri.”

Brot menambahkan bahwa dinas keamanan memiliki informasi tentang penduduk yang berhubungan dengan entitas musuh. Dia menjelaskan bahwa sejak awal perang, berbagai upaya untuk merekrut warga Israel melalui media sosial dan pesan teks telah terungkap. “Orang-orang Iran telah mencapai Bat Yam, dan ini bukan lelucon. Jadi, dengarkan baik-baik,” ujarnya.

Brot mengungkapkan bahwa mereka belakangan ini menghubungi Shin Bet terkait kemungkinan penduduk dijebak oleh jaringan intelijen Iran dan bekerja sama dengan mereka karena semua pesan yang mereka kirim ke ponsel mereka.

Brot menambahkan, “Kami mendengar tentang individu-individu yang berkomitmen, bahkan anggota cadangan, mahasiswa berprestasi, dan pensiunan, yang mengira mereka akan mendapatkan uang dengan mudah dan mungkin terlibat dalam kegiatan yang mereka yakini tidak akan membahayakan.” (raialyoum)

UNRWA: Israel Cegah 6.000 Truk Bantuan Masuki Gaza Meskipun Ada Gencatan senjata

Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan Israel mencegah masuk ke Gaza sekitar 6.000 truk pembawa makanan, obat-obatan, dan pasokan bantuan, yang cukup untuk menopang wilayah yang terkepung itu selama tiga bulan.

Penasihat media UNRWA Adnan Abu Hasna pada hari Selasa (2/1) mengatakan bahwa meskipun jumlah bantuan yang masuk ke wilayah yang terblokade  itu telah “meningkat secara nominal” sejak gencatan senjata berlaku pada bulan Oktober, alirannya masih jauh di bawah tingkat yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan yang sangat besar dari populasi yang hancur akibat dua tahun genosida dan blokade.

Pada bulan Oktober, Israel memberi tahu PBB bahwa mereka hanya akan mengizinkan 300 truk bantuan memasuki Jalur Gaza setiap hari, mengurangi jumlah yang disepakati hingga setengahnya.

Abu Hasna mengatakan sejak saat itu, rezim Tel Aviv telah mencegah masuknya barang-barang penting, termasuk pasokan medis, air, peralatan sanitasi, dan bahan pangan pokok. Pengiriman yang ditahan Israel juga berisi ratusan ribu tenda dan selimut yang ditujukan untuk 1,3 juta warga Palestina yang mengungsi di seluruh wilayah tersebut.

“Yang diizinkan masuk hanyalah sejumlah kecil truk pengangkut barang komersial,” kata Abu Hasna, sembari menambahkan bahwa 95 persen penduduk Gaza sepenuhnya bergantung pada bantuan kemanusiaan dan tidak mampu membeli barang-barang komersial meskipun sudah sampai di pasar.

Sebagian besar keluarga, katanya, telah kehilangan daya beli, sehingga bantuan menjadi satu-satunya cara mereka bertahan hidup.

UNRWA mengatakan pihaknya terus menegosiasikan akses untuk pengiriman barang yang disita tetapi memperingatkan bahwa situasinya menjadi “tidak terkendali.”

Sementara itu, organisasi-organisasi hak asasi manusia memperingatkan bahwa kekurangan makanan, air bersih, obat-obatan, dan tempat tinggal telah mendorong Gaza ke ambang kelaparan.

Berbagai lembaga termasuk Amnesty International, Human Rights Watch, dan Euro-Med Monitor telah berulang kali memperingatkan Israel agar tidak menggunakan kelaparan sebagai metode peperangan dengan menghalangi bantuan dan menghancurkan infrastruktur penting.

PBB mengatakan badan-badan kemanusiaan membutuhkan akses ke setidaknya 500 truk per hari untuk menstabilkan kondisi di Gaza, namun tingkat kedatangan saat ini masih sangat kecil. (presstv)