Jakarta, ICMES. Warga Suriah hanya tinggal beberapa hari lagi dari peringatan satu tahun jatuhnya rezim mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Namun, alih-alih merayakan kedatangan pemerintahan transisi yang dipimpin oleh Ahmed al-Sharaa, rakyat Suriah justru turun ke jalan untuk memprotesnya, terutama di wilayah kegubernuran Tartus dan Latakia.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), Ali Larijani, berterima kasih kepada Pakistan atas dukungannya kepada Iran dalam peristiwa Perang 12 Hari Iran melawan rezim Zionis dan AS pada bulan Juni 2025.
Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Qalibaf di Teheran menegaskan “tangan agresif” rezim Israel harus diputus dari kawasan untuk menghentikan “kejahatan tanpa batas”.
Berita selengkapnya:
Gelombang Protes Landa Suriah, Ramalan Ayatullah Khamenei akan Jadi Kenyataan?
Warga Suriah hanya tinggal beberapa hari lagi dari peringatan satu tahun jatuhnya rezim mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Namun, alih-alih merayakan kedatangan pemerintahan transisi yang dipimpin oleh Ahmed al-Sharaa, rakyat Suriah justru turun ke jalan untuk memprotesnya, terutama di wilayah kegubernuran Tartus dan Latakia.
Gelombang aksi demo itu menuntut desentralisasi dan pembebasan tahanan, yang menunjukkan bahwa sentimen separatis dan otonomi masih ada di kalangan warga Suriah, mengingat semakin berkurangnya kemampuan otoritas transisi untuk menegaskan kehadirannya, menyediakan layanan, dan yang terpenting, melindungi kaum minoritas.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) melaporkan bahwa pasukan keamanan transisi dikerahkan secara besar-besaran di bundaran al-Azhari, al-Thawra, dan al-Zira’a serta area Lapangan al-Hammam di Latakia, di mana beberapa jalan utama, seperti Jembatan Jableh dan jalan lingkar, ditutup untuk meredam demonstrasi.
Media pemerintah yang berafiliasi dengan Dewan Transisi melaporkan bahwa pasukan keamanan internalnya telah mengepung lokasi protes untuk melindungi para demonstran dan warga sipil yang hadir.
Demonstrasi tersebut merupakan tanggapan atas seruan Sheikh Ghazal Ghazal, ketua Dewan Tertinggi Islam Alawi di Suriah dan luar negeri, menyusul kekerasan sektarian di pusat kota Homs, yang menambah serangkaian kerusuhan serupa yang telah melanda Suriah dalam beberapa bulan terakhir.
Dewan Transisi tidak menginstruksikan para pendukungnya untuk tidak berdemonstrasi di kota Jableh dan Latakia, yang menyebabkan bentrokan antara kelompok pro dan anti-pemerintah, hingga menjatuhkan korban cedera di antara para demonstran yang menuntut keadilan dan martabat.
Gelombang unjuk rasa ini, yang belum secara eksplisit menyerukan penggulingan rezim, terjadi di tengah maraknya laporan dan skenario tentang proyek masa depan yang akan mendirikan negara pesisir dengan presiden, perbatasan, dan benderanya sendiri. Hal ini membuka peluang bagi jatuhnya rezim jihadis palsu di Damaskus.
Teori-teori ini semakin diperkuat oleh ketidakpastian yang terus berlanjut seputar sisa-sisa aparat keamanan dan militer rezim Suriah sebelumnya serta potensi peran mereka di masa depan dalam setiap gerakan. Kesepakatan yang dicapai dengan rezim belum menjamin mereka mendapatkan tempat di negara baru.
Bayang-bayang Iran memperkuat hipotesis tentang kemungkinan munculnya kembali rezim yang loyal terhadap poros perlawanan di Suriah, yang pernah dicetuskan oleh PemimpinBesar Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Dia pernah meramalkan bahwa “kekuatan yang berani dan terhormat akan muncul di Suriah,” dan bahwa “saat ini, pemuda Suriah tidak akan kehilangan apa pun; sekolah, universitas, rumah, dan jalan-jalan mereka tidak aman. Karena itu, mereka harus berdiri teguh melawan para perencana dan pelaku kekacauan, serta mengalahkan mereka.”
Situasi terkini di Suriah tidak jauh berbeda dari ramalan tersebut segera setelah jatuhnya rezim Bashar Assad. Suriah tidak aman. Menurut Indeks Kejahatan dan Keamanan 2025 Numbeo, Suriah menduduki puncak daftar negara Arab dalam hal kejahatan.
Di Damaskus, ibu kota Suriah, indeks kejahatan mencapai 69,1 dan indeks keamanan 30,9. Angka-angka ini menunjukkan meluasnya rasa tidak aman di tengah penduduk, terutama di malam hari. Indeks keamanan untuk berjalan sendirian di malam hari sangat rendah, yaitu 27,35, yang mencerminkan risiko yang dirasakan.
Laporan EUAA Country Focus-Suriah (Maret 2025) mendokumentasikan lebih dari 4.200 insiden keamanan antara November 2024 dan Mei 2025, termasuk pertempuran, ledakan, dan kekerasan terhadap warga sipil. Situasi ekonomi juga memburuk. Sebungkus roti yang dijual kurang dari 400 pound Suriah setahun yang lalu, sebelum “pembebasan” dan jatuhnya rezim Assad, kini berharga 6.000 pound di pengecer resmi.
Dengan demikian, pemerintah transisi secara efektif telah mengakhiri sisa-sisa subsidi publik dan mendeklarasikan masuknya ke dalam ekonomi pasar dengan instrumen yang rapuh dan harga pasar bebas yang tidak diatur, menurut para ahli. (raialyoum)
Teheran Apresiasi Dukungan Islamabad kepada Iran dalam Perang Melawan Israel dan AS
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), Ali Larijani, berterima kasih kepada Pakistan atas dukungannya kepada Iran dalam peristiwa Perang 12 Hari Iran melawan rezim Zionis dan AS pada bulan Juni 2025.
Dalam sebuah postingan di X, Selasa (25/11), Larijani yang sedang berkunjung ke Pakistan memuji negara ini karena “bertanggung jawab dalam mendukung Iran,” dan menyebut sikap ini mencerminkan “pemikiran rakyat Pakistan yang teguh dan berprinsip.”
Larijani juga menyampaikan salam dari Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei kepada rakyat Pakistan.
Sebelumnya, dia mengadakan pertemuan terpisah dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Presiden Asif Ali Zardari, dan Ketua Majelis Nasional Sardar Ayaz Sadiq.
Menurut pernyataan pemerintah Pakistan, Larijani dan Sharif menekankan hubungan historis dan persaudaraan antara Iran dan Pakistan, serta menyerukan kerja sama yang lebih erat di berbagai bidang.
Sharif memuji pendirian regional Iran yang dinilainya berprinsip. Dia juga menyatakan berterima kasih atas solidaritas Teheran dengan Pakistan.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Qalibaf di Teheran menegaskan “tangan agresif” rezim Israel harus diputus dari kawasan untuk menghentikan “kejahatan tanpa batas”. Dia mengatakan rezim Zionis telah menggunakan pendekatan tersebut di bawah “perdana menteri kriminalnya (Benjamin Netanyahu)”.
“Bagi mereka, tidak ada perbedaan antara Teheran, Beirut, Doha, Islamabad, Khartoum, dan Istanbul,” ujarnya.
Qalibaf menyatakan demikian setelah Israel membunuh komandan senior gerakan perlawanan Lebanon, Hizbullah, Haytham Ali Tabatabai, dan empat anggota kelompok lainnya dalam serangan udara di pinggiran selatan Beirut.
Qalibaf menekankan bahwa Hizbullah tetap “kuat dan tak tergoyahkan,” terus bergerak maju, meskipun Tel Aviv terus berusaha mengganggu stabilitas kawasan.
Dia menyebut Israel sebagai musuh yang “tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan” dan tidak menganggap dirinya terikat oleh aturan atau perjanjian apa pun.
Menurutnya, dalam situasi demikian, hanya “keberanian dan kekuatan” yang dapat menghalangi musuh. Dia menekankan bahwa pencegahan rezim tersebut dari melanjutkan jalur kriminalnya sangat penting untuk memulihkan stabilitas regional.
“Situasi ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut. Kesabaran ada batasnya,” ujarnya, sembari menekankan bahwa kubu perlawanan “berperhitungan dengan cermat, tapi bertindak tegas, tidak mencari perang, tapi bertempur dengan baik.”
Qalibaf juga mengecam kekuatan global dan organisasi internasional karena menjadi saksi atas “kebrutalan” rezim tersebut, namun “tidak memiliki keinginan untuk menghentikannya.” (presstv)









