Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Rabu 11 Februari 2026

Jakarta, ICMES. Pawai akbar 22 Bahman, yaitu HUT kemenangan revolusi Islam Iran, yang tahun ini adalah tahun yang ke-47 akan digelar di sekira 1.400 kota di seantero negara republik Islam ini, dan sebanyak sekira 7.700 jurnalis dalam dan luar negeri dilaporkan akan meliput acara tersebut.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, dalam kunjungannya ke Oman memuji kemampuan rudal negara ini karena antara lain telah mengekang ambisi regional rezim Israel, dan menjadi kekuatan penggentar, dan karena itu dia menolak pencantuman kekuatan pertahanan Iran dalam daftar tema pembicaraan tidak langsung negara ini dengan AS.

Presiden AS Donald Trump terus mengancam Iran dengan kemungkinan serangan militer jika Teheran tidak memenuhi tuntutannya mengenai berbagai isu, mulai dari pengayaan nuklir hingga rudal balistik.

Berita selengkapnya:

Akan Gelar Pawai Akbar HUT ke-47 Kemenangan Revolusi, Iran Kerahkan 7,700 Personil Media

Pawai akbar 22 Bahman, yaitu HUT kemenangan revolusi Islam Iran, yang tahun ini adalah tahun yang ke-47 akan digelar di sekira 1.400 kota di seantero negara republik Islam ini, dan sebanyak sekira 7.700 jurnalis dalam dan luar negeri dilaporkan akan meliput acara tersebut.

Wakil Bidang Upacara dan Urusan Provinsi di Dewan Koordinasi Dakwah Islam, Kamal Khodadadeh, pada konferensi pers, Selasa (10/2)  mengumumkan bahwa personel media itu  akan meliput pawai akbar tersebut pada tanggal 11 Februari.

Dia merinci bahwa tahun ini, media asing yang berdomisili di Iran dengan sekitar 200 jurnalis dan juru kamera, dan total lebih dari 7.700 personel media domestik dan internasional, akan meliput perayaan 22 Bahman di seluruh negeri.

“Selain itu, semua saluran IRIB, termasuk lebih dari 350 tim berita, semua jaringan penyiaran internasional  serta semua jaringan provinsi  akan menyediakan berita langsung dan liputan visual dari perayaan tersebut,” ujar Khodadadeh.

Dia mencatat bahwa banyak jaringan radio dan televisi dari negara lain, termasuk ORF (Austria), NTV (Turki), CBS News (AS), ORF (Austria), Al Mayadeen, Al Manar (Lebanon), Al Shams (Irak), Al Jazeera, Al Iraqiya, RIA Novosti dan RT News (Rusia), RTR (Luksemburg), RTL, APA dan ZDF (Jerman), EFE (Spanyol), CCTV dan Xinhua (China), dan Anadolu Agency (Turki) juga siap menyiarkan laporan berita dan akan meliput demonstrasi dari jalanan dan Lapangan Azadi yang ikonik di Teheran.

Namun, ia menambahkan, “Kita tidak boleh melupakan bahwa kita sedang berduka atas darah hampir 2.400 martir dan hampir 3.000 korban jiwa di negara ini. Musuh berusaha memanfaatkan perpecahan yang muncul dan menghancurkan kohesi rakyat, karena selama Perang 12 Hari, persatuan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan solidaritas suci telah muncul di negara ini.”

Para perusuh bersenjata dan teroris yang didukung asing membajak protes damai atas keluhan ekonomi pada tanggal 8 dan 9 Januari, menyebabkan kerusakan luas pada toko-toko, lembaga pemerintah, dan fasilitas layanan publik, serta menewaskan atau melukai ribuan orang, termasuk warga sipil dan pasukan keamanan.

Otoritas Iran mengkonfirmasi bahwa badan intelijen AS dan Israel terlibat langsung, memberikan pendanaan, pelatihan, dan dukungan media kepada para pelaku. Menurut pernyataan bulan lalu oleh Yayasan Syuhada dan Urusan Veteran Iran, sebanyak 3.117 orang kehilangan nyawa akibat kerusuhan itu, termasuk 2.427 warga sipil dan personel keamanan.

“Tentu saja, musuh sekali lagi mulai membual bahwa mereka memiliki banyak pilihan, termasuk serangan militer. Tetapi rakyat Iran telah menunjukkan dalam beberapa hari terakhir bahwa mereka juga memiliki banyak pilihan, salah satunya adalah berpartisipasi dalam pawai 22 Bahman,” tegas Khodadadeh.

Dia menjelaskan bahwa pawai akbar HUT kemenangan revolusi Islam Iran tahun ini akan diadakan di 1.400 lokasi di seluruh negeri.

Pada hari Rabu, upacara akan dimulai pukul 09.30 waktu setempat dari rute yang direncanakan, dan hampir 3.000 jurnalis dan fotografer dari generasi muda Iran akan mengabadikan momen-momen terbaik. (presstv)

Petinggi Iran: Rudal Kami Membuat Israel Berkutat di Tempat

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, dalam kunjungannya ke Oman memuji kemampuan rudal negara ini karena antara lain telah mengekang ambisi regional rezim Israel, dan menjadi kekuatan penggentar, dan karena itu dia menolak pencantuman kekuatan pertahanan Iran dalam daftar tema pembicaraan tidak langsung negara ini dengan AS.

 “Rezim Zionis berusaha mendominasi kawasan ini, tetapi rudal-rudal Iran telah membuat rezim ini berkutat di tempatnya,” katanya di Muscat, ibu kota Oman, Selasa (10/2)

Dia merujuk pada beberapa putaran serangan balasan Iran yang menentukan dan berhasil terhadap entitas Zionis.

Dalam serangan terakhirnya, Iran telah menembakkan ratusan rudal, termasuk varian balistik dan hipersonik, ke arah target-target sensitif dan strategis rezim Israel sebagai serangan balik dalam perang Israel-AS terhadap Iran.

Larijani menekankan bahwa keterlibatan diplomatik saat ini dengan AS hanya berfokus pada masalah nuklir. “Belum ada pembicaraan mengenai hal-hal lain,” katanya, seraya memperingatkan bahwa “mengajukan tuntutan tambahan akan menyebabkan kegagalan negosiasi.”

Dia juga mengatakan, “jika negosiasi berjalan dalam kerangka kerja yang wajar, ada kemungkinan keberhasilan.”

Larijani berada di Muscat setelah putaran terbaru negosiasi nuklir tidak langsung antara Teheran dan Washington yang diselenggarakan di kota tersebut.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang memimpin tim negosiasi Iran, menyebut proses tersebut sebagai “awal yang baik” dan mengatakan pihak AS telah diberitahu bahwa kelanjutan pembicaraan bergantung pada tidak adanya ancaman dan tekanan. (presstv)

Trump Mengancam Iran dengan “Sesuatu yang Sangat Keras

Presiden AS Donald Trump terus mengancam Iran dengan kemungkinan serangan militer jika Teheran tidak memenuhi tuntutannya mengenai berbagai isu, mulai dari pengayaan nuklir hingga rudal balistik.

Dalam komentarnya kepada media Israel Channel 12, yang disiarkan pada hari Selasa (10/2), Trump mengisyaratkan tindakan agresif jika tidak ada kesepakatan yang tercapai dengan Iran.

“Entah kita mencapai kesepakatan, atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras,” kata Trump kepada media tersebut.

Trump mengatakan demikian ketika kepala keamanan Iran Ali Larijani bertemu dengan sultan Oman, Haitham bin Tariq Al Said, untuk membahas hasil pembicaraan antara pejabat AS dan Iran pekan lalu.

Dalam beberapa pekan terakhir, Trump telah berkoar tentang peningkatan pasukan militer AS di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya, setelah mengirimkan “armada besar”, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, ke perairan terdekat.

Channel 12 dan kantor berita Axios pada hari Selasa melaporkan bahwa Trump juga mempertimbangkan untuk mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah.

Peningkatan kekuatan militer tersebut telah memicu kekhawatiran akan serangan AS yang akan segera terjadi terhadap Iran. Para kritikus khawatir serangan demikian dapat mendestabilisasi kawasan tersebut.

Pada hari Senin, AS telah mengeluarkan pedoman kepada kapal-kapal komersial berbendera AS, memperingatkan mereka untuk tetap berada “sejauh mungkin” dari perairan teritorial Iran.

Sejak Januari, Trump telah meningkatkan tekanan AS terhadap Iran, memperingatkan bahwa militer negaranya “siap tempur dan siap beraksi”.

Trump juga membandingkan situasi Iran dengan situasi Venezuela, di mana operasi militer AS pada 3 Januari mengakibatkan penculikan dan pemindahan Presiden Nicolas Maduro.

“Seperti halnya dengan Venezuela, (militer AS) siap, bersedia, dan mampu untuk segera memenuhi misinya, dengan kecepatan dan kekerasan, jika perlu. Semoga Iran segera ‘Datang ke Meja Perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan setara,” tulis Trump di media sosial pada 28 Januari. (aljazeera)