Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Rabu 10 Desember 2025

Jakarta, ICMES. Teheran akan melepaskan tembakannya terhadap musuh mana pun yang mencoba melanggar kedaulatan teritorialnya dan mengusik kehormatan bangsa Iran.

Seorang mantan komandan militer Israel mengungkapkan bahwa sebagian besar tawanan Israel di Gaza tewas akibat serangan pasukan Israel sendiri di Gaza utara.

Ketegangan berlanjut di bagian timur Yaman di mana Dewan Transisi Selatan (STC) mengumumkan kendali penuhnya atas Provinsi al-Mahra dan memperluas pengaruhnya atas Wadi Hadramaut.

Berita selengkapnya:

Mayjen Jabari: Israel akan Musnah Jika Kembali Mengagresi Iran

Teheran akan melepaskan tembakannya terhadap musuh mana pun yang mencoba melanggar kedaulatan teritorialnya dan mengusik kehormatan bangsa Iran.

Penasihat Panglima  Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mayjen Ebrahim Jabari, menegaskan bahwa Teheran belum sepenuhnya menunjukkan kemampuan penangkalannya, dan masih menyimpan sebagian kemampuannya untuk digunakan dalam setiap agresi baru terhadap negara tersebut.

Pernyataan ini dia sampaikan  dalam Simposium Internasional ke-11 tentang Hak Asasi Manusia Amerika dalam Perspektif Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang diselenggarakan di Teheran dengan partisipasi para tokoh dalam dan luar negeri, Selasa (9/12).

Mayjen Jabari mengatakan, “Jika musuh melakukan agresi apa pun terhadap negara kami, kali ini balasannya  akan menamatkan riwayat Netanyahu dan memusnahkan entitas pendudukan (Israel), sebagaimana umat-umat penindas manusia telah dimusnahkan di masa lalu.”

Simposium yang diselenggarakan bertepatan dengan Hari Hak Asasi Manusia Internasional ini bertujuan menguji hak asasi manusia AS dengan mengungkap kejahatan AS, baik di dalam maupun di luar wilayahnya.

Wakil Kepala Badan Peradilan untuk Urusan Internasional dan Sekretaris Komite Hak Asasi Manusia di Iran, Nasser Siraj, mengatakan: “Hak asasi manusia telah menjadi kedok untuk kejahatan yang dilakukan oleh Barat, dan apa yang telah kita saksikan di Jalur Gaza dan agresi baru-baru ini terhadap Iran merupakan bukti nyata akan hal ini.”

Simposium yang dipimpin Iran dan mengkaji hak asasi manusia Amerika ini membuka jalan bagi negara-negara lain untuk mempertimbangkan kembali retorika hak asasi manusia yang digembar-gemborkan oleh negara-negara Barat, khususnya AS.

SekjenYayasan Hak Asasi Pemuda Iran, Amin Ansari, mengatakan: “Setelah kami menguji hak asasi manusia Amerika, tokoh-tokoh dari India, Venezuela, dan negara-negara lain menyoroti kejahatan yang dilakukan oleh negara-negara Barat di negara mereka sendiri. Sebuah simposium tingkat tinggi mengenai isu ini akan diadakan di Kesultanan Oman, dan kami juga sedang mempersiapkan simposium serupa di negara-negara lain.”

Para peserta simposium menegaskan bahwa hak asasi manusia telah menjadi alat di tangan Barat untuk melaksanakan politik kolonialnya, menjatuhkan sanksi yang tidak adil, menjarah sumber daya nasional, dan memicu perang proksi.

Dalam simposium ini terlihat jelas bahwa hak asasi manusia tidak lebih dari sebatas alat untuk menekan, mendominasi, dan melanggar martabat berbagai bangsa. (alalam)

Mantan Komandan Zionis: Sebagian Besar Tawanan Tewas Akibat Serangan Israel di Gaza

Seorang mantan komandan militer Israel mengungkapkan bahwa sebagian besar tawanan Israel di Gaza tewas akibat serangan pasukan Israel sendiri di Gaza utara.

Nitzan Alon, mantan komandan di unit Israel yang bertugas melacak tawanan, pada hari Selasa (9/12), mengatakan, “Tembakan Israel menewaskan sebagian besar tawanan di Jabalia karena kekurangan intelijen.”

Menurutnya, banyak tawanan yang tiba hidup-hidup di Gaza akhirnya tewas akibat serangan yang menyasar gedung-gedung tempat mereka disekap. Dia menyebutkan contoh insiden pada Desember 2023 di mana tiga tawanan tewas karena “asumsi yang salah di lapangan”.

Dia menambahkan bahwa setidaknya satu tawanan tewas dalam serangan terhadap sebuah bangunan yang diketahui oleh pasukan Israel digunakan untuk menahan tawanan.

Alon tidak menyebutkan jumlah total tawanan yang tewas akibat serangan Israel selama kampanye genosida di Gaza.

Mengenai dampak psikologis dari serangan tersebut, dia menuturkan, “Ketakutan yang disebabkan oleh serangan udara kami berulang kali disebutkan dalam kesaksian para tawanan.”

Brigade Qassam, sayap militer gerakan perlawanan Palestina Hamas, berulang kali merilis video yang menunjukkan para tawanan Israel memohon kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan kabinetnya untuk menghentikan serangan yang membahayakan nyawa mereka. Meskipun demikian, Israel tetap melanjutkan serangannya.

Mengenai protes yang dilakukan oleh keluarga tawanan Israel, Alon mengatakan bahwa baik kabinet Netanyahu maupun AS tidak memberikan mereka pengaruh yang signifikan dalam negosiasi gencatan senjata, dan bahwa “dampaknya jauh lebih kecil daripada yang diklaim banyak orang.” (presstv)

Pertempuran Sengit Berkecamuk di Bagian Timur Yaman

Ketegangan berlanjut di bagian timur Yaman, Selasa (9/10), di mana Dewan Transisi Selatan (STC) mengumumkan kendali penuhnya atas Provinsi al-Mahra dan memperluas pengaruhnya atas Wadi Hadramaut,  sementara delegasi Saudi mengungkapkan kesepakatan awal untuk menetralisir ladang minyak, di tengah seruan internasional untuk de-eskalasi.

Eskalasi militer dimulai setelah STC mengumumkan pelaksanaan operasi militer yang disebut “Masa Depan yang Menjanjikan” pada Rabu pekan lalu, dan mereka berhasil merebut kendali atas sebagian besar wilayah Hadramaut, termasuk ladang minyak dan kota penting Sayun, yang memiliki bandara internasional.

Minggu lalu, pasukan STC menguasai sebagian besar al-Mahra, provinsi terbesar kedua di Yaman setelah Hadramaut, yang mencakup Bandara Internasional al-Ghaydah dan pelabuhan laut. Pengambilalihan ini terjadi setelah bentrokan terbatas dengan pasukan Wilayah Militer Pertama, yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, serta dengan pasukan “Aliansi Suku Hadramawt,” sebuah entitas suku lokal.

Kesepakatan Netralisasi Minyak

Dalam perkembangan terbaru, sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh otoritas lokal di Hadramaut pada hari Selasa melaporkan bahwa delegasi Saudi, yang dipimpin oleh Mayjen Dr. Mohammed bin Obaid Al-Qahtani, bertemu dengan para pemimpin suku dan tokoh penting dari Lembah dan Gurun Hadramaut.

Pernyataan tersebut mengutip Al-Qahtani yang mengatakan, “Pendirian Kerajaan (Saudi) tetap teguh mengenai Provinsi Hadramaut. Kerajaan mendukung pemberlakuan gencatan senjata dan penghentian permusuhan, penguatan keamanan dan stabilitas, dan menolak setiap upaya pemaksaan realitas baru  dengan kekerasan atau menyeret provinsi ini ke dalam konflik baru.”

Dia menekankan sikap Riyadh yang terus menyerukan “penarikan semua pasukan STC dari Provinsi Hadramaut dan Al-Mahra, dengan Pasukan Perisai Tanah Air mengambil alih kendali lokasi dan kamp.”

Dia menyebutkan bahwa kesepakatan awal telah dicapai dengan otoritas lokal dan Aliansi Suku Hadramaut untuk memastikan kelancaran produksi minyak di PetroMasila, mencegah gangguan terhadap kepentingan penduduk, dan menjaga netralitas lokasi minyak dalam konflik.

Dia juga mengatakan bahwa netralisasi ladang minyak akan dicapai melalui “penarikan pasukan yang saat ini ditempatkan di PetroMasila dan penyerahan lokasi tersebut kepada pasukan Hadrami di bawah pengawasan langsung otoritas lokal, sehingga menjamin normalisasi kehidupan.”

PetroMasila adalah perusahaan minyak nasional Yaman yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi minyak di Hadramaut. Perusahaan ini juga mengoperasikan pembangkit listrik tenaga gas dengan kapasitas sekitar 75 megawatt. Perusahaan ini memproduksi sekitar 10.000 barel minyak per hari dan merupakan pilar utama produksi minyak negara.

Al-Qahtani menambahkan bahwa kunjungan delegasi Saudi menghasilkan kesepakatan tentang “serangkaian langkah komprehensif untuk mendukung keamanan, stabilitas, dan de-eskalasi dengan semua pihak, termasuk STC.”

“Koalisi Arab, yang dipimpin oleh Arab Saudi, sedang berupaya keras untuk mengakhiri krisis, menyelesaikan konflik, dan memulihkan keadaan normal,” pungkasnya. (raialyoum)