Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Kamis 5 Februari 2026

Jakarta, ICMES. Intelijen militer ditugaskan untuk memberikan jawaban faktual atas beberapa pertanyaan mengenai konteks operasional Iran, terutama: Mengapa Iran tidak menunjukkan rasa takut terhadap unjuk kekuatan militer AS di Laut Merah, perairan yang berdekatan dengan Laut Arab, dan Samudra Hindia?

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan tanggal dimulainya babak baru negosiasi nuklir antara Iran dan AS.

Lembaga Penyiaran Israel, Kan, melaporkan bahwa tentara Israel dalam keadaan siaga tinggi terhadap potensi serangan pasukan Ansarullah (Houthi) di Yaman.

Berita selengkapnya:

Militer AS Bingung Mengapa Iran Tidak Menunjukkan Tanda Takut Diserang

Sumber-sumber khusus mengkonfirmasi bahwa di antara alasan utama penundaan atau pengunduran serangan militer AS yang telah direncanakan terhadap Iran adalah persepsi “kelemahan dan kerapuhan dalam struktur informasi intelijen” yang diterima oleh markas Komando Pusat AS.

Intelijen militer ditugaskan untuk memberikan jawaban faktual atas beberapa pertanyaan mengenai konteks operasional Iran, terutama: Mengapa Iran tidak menunjukkan rasa takut terhadap unjuk kekuatan militer AS di Laut Merah, perairan yang berdekatan dengan Laut Arab, dan Samudra Hindia?

Mengapa tindakan-tindakan yang diambil di berbagai pangkalan militer AS di negara-negara tetangga Iran —pangkalan yang diperkuat, ditingkatkan, atau dikosongkan—tidak diperhitungkan dalam sikap politik yang dinyatakan Iran?

Pada praktiknya, AS memindahkan pasukan dari setidaknya tiga atau empat lokasi, dan meskipun mengerahkan lima kapal perang besar, beberapa kapal perusak, dan kemampuan militer yang sangat besar, retorika Iran tetap konsisten, menunjukkan kesiapan untuk solusi diplomatik maupun konfrontasi militer.

Ketahanan wacana resmi Iran dalam menghadapi demonstrasi militer ini menimbulkan teka-teki bagi analis intelijen militer di Pentagon dan divisi intelijen Komando Pusat (CENTCOM). Para analis ini mencoba mengungkap alasan tidak adanya tanda-tanda ketakutan pada orang Iran.

Wacana politik Iran mempertahankan kesiapan perang pada tingkat yang sama dengan kesiapan negosiasi, tanpa prasyarat.

Kebingungan dan ambiguitas tersebut mengemuka setelah mediator Qatar, Oman, dan Turki kembali dengan penilaian yang seragam, yang mereka sampaikan kepada pemerintahan AS. Penilaian tersebut menyatakan bahwa Iran siap bernegosiasi hanya dengan satu syarat: pencabutan penuh sanksi ekonomi sebagai imbalan atas diskusi tentang program nuklirnya.

Di luar itu, Iran menolak semua prasyarat untuk negosiasi. Kebijakan “wortel dan tongkat” yang diadopsi oleh Presiden AS Donald Trump gagal, dan Teheran secara resmi memberi tahu para mediator bahwa mereka menolak upaya apa pun untuk memasukkan program rudalnya sebagai dasar negosiasi. Sikap ini kemudian diadopsi, yang mengarah pada kesepakatan untuk bertemu dengan Steve Wittkopf di Istanbul untuk membahas secara eksklusif masalah nuklir.

Teheran memberi tahu para mediator bahwa kemampuan pertahanan dan rudal Iran tidak dapat dinegosiasikan, apapun risikonya.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayjen Abdolrahim Mousavi, menegaskan bahwa pengembangan rudal balistik telah memberikan kontribusi signifikan dalam memperkuat daya deterensi Iran.

Dalam kunjungan ke fasilitas rudal milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Rabu (4/2) Mousavi menekankan bahwa Republik Islam Iran telah mampu meningkatkan daya penggentarnya melalui pengembangan rudal balistik dalam semua aspek teknisnya.

Mousavi juga memastikan kesiapan Angkatan bersenjata Iran menghadapi segala kemungkinan langkah musuh.

“Setelah perang 12 hari, kami mengubah doktrin militer kami dari defensif menjadi ofensif, dengan mengadopsi kebijakan perang asimetris dan mengarahkan respons yang tegas dan keras kepada musuh,” tegasnya.

Tim manejemen krisis AS, yang mengelola perang, didorong oleh Menteri Pertahanan AS untuk menyelidiki alasan di balik keteguhan sikap Iran. Iran berulang kali menegaskan bahwa Israel akan menjadi target dan bahwa perang akan menjadi regional dan komprehensif, suatu poin yang kemudian terlihat sebagai dilema bagi Trump.

Satu-satunya konsesi yang ditawarkan adalah skenario yang melibatkan pertukaran sanksi secara komprehensif untuk pembicaraan tentang penghentian program nuklir, meskipun Iran berulang kali mengaku tidak memiliki senjata nuklir, dan tidak ingin memilikinya, setidaknya sejauh ini. (raialyoum/alalam)

Menlu Iran Umumkan Negosiasi dengan AS akan Diadakan di Oman

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan tanggal dimulainya babak baru negosiasi nuklir antara Iran dan AS.

Araghchi menulis pada Rabu malam (4/2) dalam sebuah unggahan di platform X-Press bahwa negosiasi nuklir dengan AS akan diadakan pada hari Jumat sekitar pukul 10:00 pagi di Muscat, ibu kota Oman.

Dia menambahkan, “Saya berterima kasih kepada saudara-saudara Oman kami atas semua pengaturan yang diperlukan.”

Sementara itu, mengutip sumber-sumber yang terpercaya, media Iran melaporkan bahwa masalah dalam negosiasi antara Iran dan AS bukan terkait dengan tempatnya, melainkan pada pendirian dan pernyataan Amerika yang plin-plan sehingga menghambat dialog.

“Jelas bahwa masalahnya bukan tentang mengubah lokasi negosiasi. Amerika terus-menerus mengubah pernyataan dan posisi mereka,” ungkap salah satu sumber.

Sumber-sumber tersebut menyebutkan bahwa diplomasi dan negosiasi membutuhkan keteguhan dan keseriusan, “bukan terus menerus mengubah sikap di bawah pengaruh arus provokasi perang yang terkait dengan entitas Israel.”

Mereka menekankan bahwa  Teheran tidak akan mengizinkan tuntutan di luar kerangka masalah nuklir untuk diajukan dalam negosiasi dengan Washington.

Mereka mengklarifikasi bahwa Iran tetap siap untuk bernegosiasi, tetapi pada saat yang sama tidak akan menyerah pada tekanan untuk mengubah format negosiasi yang telah disepakati. (alalam)

Tentara Israel Bersiaga Menghadapi Potensi Serangan dari Pasukan Yaman

Lembaga Penyiaran Israel, Kan, melaporkan bahwa tentara Israel dalam keadaan siaga tinggi terhadap potensi serangan pasukan Ansarullah (Houthi) di Yaman.

Kan pada hari Rabu (4/2) menyatakan di akunnya di platform X bahwa “para pejabat pertahanan Israel menilai bahwa jika AS melancarkan serangan terhadap Iran, Houthi akan membalas di Israel.”

Itai Blumenthal, analis politik Kan, mengkonfirmasi bahwa tentara Israel “mempertimbangkan bahwa Houthi di Yaman akan segera membalas di Israel sebagai tanggapan terhadap segala bentuk serangan militer AS terhadap Iran.”

Blumenthal menjelaskan bahwa pertahanan udara berada dalam siaga tinggi untuk kemungkinan dimulainya kembali serangan udara terhadap Israel.

Tekanan dari AS dan sekutunya, Israel, terhadap Iran baru-baru ini meningkat menyusul pecahnya gelombang protes dan kerusuhan di Iran pada akhir Desember, yang dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi dan kehidupan.

Iran percaya bahwa AS menggunakan sanksi, tekanan, dan penghasutan kerusuhan untuk menciptakan dalih bagi intervensi asing yang bertujuan untuk perubahan rezim.

Iran bersumpah akan memberikan respons “komprehensif dan belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap setiap serangan terhadapnya, bahkan serangan yang dianggap “terbatas” oleh beberapa pernyataan dan kebocoran informasi dari AS.

Israel dan AS menuduh Iran berupaya memproduksi senjata nuklir, sementara Teheran mempertahankan bahwa program nuklirnya dirancang untuk tujuan damai, termasuk untuk pembangkit listrik.

Pasukan Ansar Allah sebelumnya telah meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel untuk mendukung Gaza sebelum kesepakatan gencatan senjata tercapai antara Hamas dan Tel Aviv pada 10 Oktober, setelah genosida selama dua tahun yang didukung oleh AS sejak 8 Oktober 2023. (raialyoum)