Rangkuman Berita Utama Timur Tengah,  Kamis 4 Desember 2025

Jakarta, ICMES. Hampir setahun setelah apa yang disebut gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, tampak bahwa Israel yang didukung AS hendak menghidupkan kembali front utara, dengan dalih bahwa tentara dan pemerintah Lebanon tidak mampu melucuti senjata Hizbullah. Menurut klaim Israel, Hizbullah terus mempersenjatai diri dan menyelundupkan peralatan, termasuk rudal, melalui perbatasan Suriah, dengan dukungan Iran.

Israel kembali melanggar gencatan senjata dan melancarkan serangan dengan menggunakan drone terhadap tenda-tenda pengungsi di sebelah barat Khan Younis di Jalur Gaza selatan hingga menggugurkan lima warga Palestina, termasuk dua anak-anak, dan melukai beberapa lainnya.

Israel melancarkan tiga serangan ke Provinsi Quneitra di barat daya Suriah, mengabaikan seruan de-eskalasi dari Presiden AS Donald Trump.

Berita selengkapnya:

Pemerintah Lebanon Tak Bisa Lucuti Senjata Hizbullah, Israel Nyatakan akan Bertindak Sendiri

Hampir setahun setelah apa yang disebut gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah, tampak bahwa Israel yang didukung AS hendak menghidupkan kembali front utara, dengan dalih bahwa tentara dan pemerintah Lebanon tidak mampu melucuti senjata Hizbullah. Menurut klaim Israel, Hizbullah terus mempersenjatai diri dan menyelundupkan peralatan, termasuk rudal, melalui perbatasan Suriah, dengan dukungan Iran.

Sumber-sumber keamanan dan politik Israel pada hari Rabu (3/12) mengungkapkan bahwa kepala intelijen militer Israel, Mayjen Shlomi Bender, memberikan informasi kepada Morgan Ortagus, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, dan Steve Wittkopf, Wakil Utusan Khusus Presiden AS, mengenai peningkatan kekuatan militer Hizbullah dan ketidakmampuan tentara Lebanon mengatasinya.

Dikutip surat kabar Israel Yediot Aharonot, sumber-sumber itu menambahkan bahwa di tengah ketegangan di perbatasan utara dengan Lebanon dan berakhirnya kunjungan Paus Leo XIV ke negara itu, Israel menilai bahwa tentara Lebanon tidak mampu dan tidak pula berminat melucuti senjata Hizbullah, mengingat bahwa, menurut klaim Israel, banyak anggota tentara Lebanon bermazhab Syiah.

Lebih lanjut, mereka menekankan bahwa informasi intelijen ini disampaikan dalam pertemuan antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menteri Pertahanan Israel Katz, dan utusan AS Ortagus di Kantor Perdana Menteri di kota Al-Quds (Yerusalem). Israel menjelaskan kepada Ortagus bahwa Hizbullah sedang menyelundupkan sejumlah rudal jarak pendek melintasi perbatasan dengan Suriah dan sedang membangun infrastruktur di utara Sungai Litani.

Sumber-sumber Israel menambahkan bahwa lebih dari setahun setelah gencatan senjata berlaku, Hizbullah mengerahkan para anggotanya ke desa-desa.

Yediot Aharonot menyebutkan bahwa, mengingat informasi yang sampai ke AS, seorang pejabat tinggi Israel mengatakan, “Hizbullah tidak melihat perlucutan senjata dalam perjanjian. Karena itu tidak ada gunanya melanjutkannya. Kami akan meningkatkan eskalasi, dan kami akan memutuskan kapan akan melakukannya sesuai dengan kepentingan kami.”

Yediot Aharonot juga mencatat bahwa pertemuan pada hari Rabu di kantor Perdana Menteri Israel tersebut diadakan di tengah-tengah pertemuan yang direncanakan pada hari  di Naqoura, Lebanon selatan, mengenai mekanisme pemantauan gencatan senjata, yang melibatkan Prancis dan AS.

Sumber-sumber Israel mengklaim bahwa Washington sedang berupaya mencegah kegagalan total gencatan senjata. Gedung Putih menyatakan keprihatinan yang mendalam atas kegagalan perjanjian tersebut dan kelemahan pemerintah Beirut, yang tidak mampu memerintahkan tentara Lebanon untuk memaksa Hizbullah melucuti senjata, meskipun pemerintah telah memutuskan pada Agustus lalu untuk memusatkan persenjataan di tangan negara.

Di sisi lain, surat kabar itu menyatakan bahwa Hizbullah  terus mempersenjatai diri dan pada saat yang sama menerima dana dari Iran, termasuk melalui Turki, dan Israel telah menyampaikan peringatan kepada Beirut melalui Ortagus yang akan berkunjung ke Lebanon bahwa jika pemerintah Lebanon tidak bertindak terhadap Hizbullah maka Israel akan terpaksa untuk bertindak sendiri. (mm/raialyoum)

Israel Serang Tenda Pengungsi di Gaza Selatan,  5 Orang Gugur, Termasuk 2 Anak Kecil

Israel kembali melanggar gencatan senjata dan melancarkan serangan dengan menggunakan drone terhadap tenda-tenda pengungsi di sebelah barat Khan Younis di Jalur Gaza selatan hingga menggugurkan lima warga Palestina, termasuk dua anak-anak, dan melukai beberapa lainnya pada Rabu malam (3/12),

Eskalasi ini terjadi tak lama setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan ancaman, menyusul pengumuman militer bahwa lima tentaranya terluka dalam bentrokan dengan para pejuang Palestina yang “muncul dari sebuah terowongan di kota Rafah” di Gaza selatan.

Sumber medis di Rumah Sakit Kuwait mengatakan, “Lima warga, termasuk dua anak-anak, gugur, dan beberapa lainnya terluka, setelah pasukan pendudukan Israel melancarkan serangan udara terhadap tenda-tenda pengungsi di kamp Al-Najat di wilayah Khan Younis.”

Koresponden Anadolu melaporkan bahwa serangan pesawat nirawak Israel juga menyebabkan kebakaran di beberapa tenda milik pengungsi, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Wilayah yang menjadi target tentara Israel antara lain wilayah yang mereka tinggalkan berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober.

Kantor Penyiaran Israel (IBCC) menyatakan bahwa Angkatan Udara Israel mulai melancarkan serangan terhadap Khan Younis di Jalur Gaza selatan setelah insiden Rafah yang mengakibatkan lima tentara Israel terluka.

Hamas menyatakan bahwa agresi biadab Israel terhadap tenda-tenda pengungsi di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, yang mengakibatkan tewasnya lima warga Palestina, termasuk anak-anak, merupakan kejahatan perang dan pengabaian secara terbuka  terhadap perjanjian gencatan senjata.

Hamas menyerukan kepada para mediator dan negara penjamin untuk menghentikan pendudukan fasis agar tidak melanjutkan kejahatannya, dan mencegah penjahat perang Netanyahu menghindari kewajiban perjanjian. (mm/raialyoum)

Israel Terus Melanggar Kedaulatan Suriah dengan Mendatangi Daerah Quneitra

Israel melancarkan tiga serangan ke Provinsi Quneitra di barat daya Suriah pada hari Rabu malam (3/12), mengabaikan seruan de-eskalasi dari Presiden AS Donald Trump.

Kantor berita pemerintah Suriah, SANA, melaporkan, “Pasukan pendudukan Israel kembali melancarkan serangan mereka malam ini ke pedesaan utara Quneitra.”

SANA menambahkan, “Pasukan pendudukan yang terdiri dari dua kendaraan memasuki wilayah tersebut pada malam hari dari titik Hamidiya dan bergerak maju ke arah timur Desa Samdaniya al-Gharbiya, mencapai sekitar reruntuhan bangunan di antara Desa Samdaniya al-Gharbiya dan Mash’ala.”

Menurut SANA, sebelumnya di hari yang sama pasukan pendudukan Israel bergerak maju dari titik Adnaniyah menuju desa-desa di pedesaan selatan Quneitra.

Dijelaskan bahwa pasukan Zionis itu bercokol di desa Umm Adham di persimpangan jalan menuju desa Mushairifah dan Sa’aydah, serta desa Ruwayhinah, mendirikan pos pemeriksaan sementara di lokasi tersebut, dan ini terjadi bersamaan  dengan pergerakan tiga kendaraan militer Israel ke desa Ruwayhinah di selatan kota Quneitra.

Jumat lalu, sebuah patroli Israel memasuki kota Beit Jinn di pedesaan Damaskus, Suriah selatan, hingga menyebabkan kontak senjata dengan penduduk yang mengakibatkan enam tentara Israel, termasuk tiga perwira, terluka.

Setelah itu, Israel melakukan pembantaian sebagai balasan terhadap penduduk kota  itu, yang mencoba mempertahankan tanah mereka, melalui serangan udara yang menewaskan 13 orang, termasuk wanita dan anak-anak, serta melukai sekitar 25 orang lainnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, pertemuan Israel-Suriah telah diadakan dalam upaya mencapai kesepakatan keamanan yang akan memastikan penarikan Tel Aviv dari zona penyangga Suriah yang didudukinya pada Desember 2014.

Meskipun pemerintah Suriah tidak menimbulkan ancaman bagi Tel Aviv, Israel terus melakukan serangan darat dan udara yang telah menewaskan warga sipil dan menghancurkan posisi, kendaraan, senjata, dan amunisi tentara Suriah. (mm/raialyoum)