Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Kamis 26 Februari 2026

Jakarta, ICMES. Surat kabar Inggris The Financial Times menganalisis detail dan penilaian strategis kebijakan luar negeri Presiden AS Donald Trump saat ini terhadap Iran, dengan menyorit tantangan strategis yang dihadapi AS dan konsekuensi tekanan militer dan diplomatik terhadap Teheran.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua opsi tersedia dalam negosiasi dengan Washington, “baik itu diplomasi berdasarkan martabat atau pendekatan defensif yang akan berujung pada penyesalan AS.”

Israel mencemaskan kemungkinan Presiden AS Donald Trump akan mengakhiri konfrontasi dengan Iran dengan kesepakatan yang dangkal dan cepat, mirip dengan apa yang terjadi dengan kelompok pejuang Ansarullah Yaman.

Berita selengkapnya:

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

Surat kabar Inggris The Financial Times menganalisis detail dan penilaian strategis kebijakan luar negeri Presiden AS Donald Trump saat ini terhadap Iran, dengan menyorit tantangan strategis yang dihadapi AS dan konsekuensi tekanan militer dan diplomatik terhadap Teheran.

Laporan The Financial Times menyatakan, “Presiden AS mendapati dirinya terjebak situasi sulit dalam menghadapi Teheran, yang tidak akan mudah dan tidak akan tanpa biaya.”

Surat kabar ini menjelaskan, “Pada awal tahun ini, dengan memerintahkan pengerahan pasukan militer AS terbesar di Timur Tengah dalam lebih dari dua dekade, mulai dari jet tempur dan kapal induk hingga kelompok serangan udara, Trump memiliki gagasan bahwa penumpukan pasukan dan peralatan militer secara besar-besaran dapat memaksa Teheran untuk membuat konsesi dalam pembicaraan nuklir.

Namun sekarang, setelah berminggu-minggu melakukan tindakan ini dan berlanjutnya negosiasi yang tidak menghasilkan kesimpulan di Jenewa, strategi ini belum membawa hasil nyata bagi Washington.”

Analisis tersebut mencatat bahwa Trump telah berulang kali mengancam bahwa meskipun ia lebih memilih “solusi diplomatik” untuk konflik nuklir, jika Teheran tidak mematuhi tuntutan AS, opsi militer akan tetap berlaku.

Dengan dalih ini, Washington mengerahkan armada besar, termasuk dua kapal induk, di Teluk Persia dan Laut Mediterania, yang dianggap sebagai penumpukan militer AS terbesar di kawasantersebut sejak Perang Irak 2003.

The Financial Times menyebut bahwa Trump, dalam pernyataannya baru-baru ini, merujuk pada negosiasi yang sedang berlangsung di Jenewa dan menuduh Iran memiliki “kemampuan untuk membangun senjata nuklir,” sebuah klaim yang telah dipertanyakan oleh banyak ahli.

Pernyataan pengamat AS yang dikutip The Financial Times menilai  Trump telah menempatkan dirinya pada “misi tanpa jalan keluar yang jelas”, yang berarti bahwa jika ia tidak dapat memaksa Teheran untuk membuat konsesi signifikan guna menghindari risiko perang skala penuh, Washington mungkin akan benar-benar memasuki konflik; perang yang konsekuensinya akan melampaui bidang militer dan dapat memiliki konsekuensi politik dan sosial yang lebih luas bagi AS.

Beberapa pejabat senior AS telah secara terbuka memperingatkan bahwa serangan militer, bahkan jika terbatas, dapat memprovokasi reaksi balasan dari Iran dan menyebabkan peningkatan ketegangan di seluruh wilayah.

Di bagian lain laporan tersebut dinyatakan bahwa banyak analis percaya bahwa keberhasilan AS di medan perang militer lainnya, termasuk di Venezuela, telah membuat beberapa pihak di Washington optimis tentang konsekuensi konflik yang berkepanjangan dengan Iran, yang mungkin telah meremehkan Teheran.

Di bagian akhir, The Financial Times menuliskan bahwa krisis saat ini antara Washington dan Teheran, meskipun secara lahiriah terkait dengan negosiasi dan diplomasi, juga telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari arena tekanan militer dan ancaman penggunaan kekerasan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan strategis utama bagi AS: dapatkah menggabungkan tekanan militer dengan keinginan untuk diplomasi menghasilkan kesepakatan yang permanen, atau apakah pendekatan ini telah membawa Washington pada siklus berbahaya dan rumit yang akan sulit untuk dihindari? (alqudalarabi)

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua opsi tersedia dalam negosiasi dengan Washington, “baik itu diplomasi berdasarkan martabat atau pendekatan defensif yang akan berujung pada penyesalan AS.”

Dia menegaskan bahwa jika Washington memilih melancarkan operasi militer ketika negosiasi sedang berlangsung maka mereka akan menghadapi respon yang tegas dan telak.

“Jika Anda memilih meja diplomasi, diplomasi yang menjaga martabat bangsa Iran dan menghormati kepentingan bersama, maka kami juga akan berada di meja yang sama,” tandasnya, Rabu (25/2).

“Tetapi jika Anda memutuskan, melalui tipu daya, kebohongan, salah tafsir, dan informasi yang salah, untuk mengulangi pengalaman masa lalu dan melancarkan serangan di tengah-tengah negosiasi, Anda pasti akan merasakan cengkeraman kuat rakyat Iran dan pasukan pertahanan negara,” sambungnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meninggalkan Teheran menuju Jenewa, pada hari Rabu, menjelang putaran pembicaraan baru dengan AS.

Putaran pembicaraan pada hari Kamis akan menjadi yang ketiga dalam upaya mediasi yang dipimpin Oman, setelah yang pertama di Muscat pada 6 Februari dan yang kedua di kota Swiss tersebut pada 17 Februari.

Hal ini terjadi ketika AS mengerahkan kekuatan militer besar-besaran ke wilayah Teluk dan Timur Tengah, dan terus mengancam akan melakukan tindakan militer terhadap Iran jika upaya diplomatik gagal. (tasnim/irib)

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di Israel tentang kemungkinan Presiden AS Donald Trump akan mengakhiri konfrontasi dengan Iran dengan kesepakatan yang dangkal dan cepat, mirip dengan apa yang terjadi dengan kelompok pejuang Ansarullah Yaman.

Menurut Maariv, kalangan keamanan Israel khawatir bahwa kesepakatan itu akan buruk dan tidak akan membahas program rudal balistik.

Maariv menyebutkan bahwa skenario terjauh akan menjadi kesepakatan parsial yang akan membebaskan dana bagi rezim Iran dan memperkuatnya, dan skenario terburuknya adalah serangan terbatas AS setelah kesepakatan buruk yang akan membuat Israel rentan terhadap respon rudal Iran.

Surat kabar Israel tersebut menyimpulkan bahwa skenario terbaik dari perspektif Tel Aviv adalah kampanye militer AS skala besar yang mencakup serangan terhadap situs nuklir dan rudal serta berpotensi perubahan rezim Iran.

Skenario lainnya, yang relatif dapat diterima oleh Tel Aviv, adalah mempertahankan status quo melalui tekanan internasional, sanksi, dan blokade hingga rezim tersebut runtuh dari dalam. (raialyoum)