Jakarta, ICMES. Lima bulan setelah rudal Iran menghantam Menara Roket di kota Haifa, Palestina pendudukan, dalam Perang 12 Hari Israel dengan Iran, para jaksa mengaku masih tidak memiliki kantor permanen, bekerja dari kafe dan meja bersama.

Presiden Lebanon Joseph Aoun memerintahkan militer negaranya untuk “menghadapi setiap serangan Israel” ke Lebanon selatan, menyusul serangan udara baru dan agresi darat Israel yang menewaskan satu warga sipil di kota Blida.
Beberapa video viral dan menghebohkan telah memicu kontroversi luas setelah seorang pria berjulukan Abu Lulu, yang diyakini sebagai anggota Pasukan Dukungan Cepat (RSF), terlihat berpartisipasi dalam pembantaian orang-orang tak bersenjata di El Fasher, Sudan barat.
Berita selengkapnya:
Menara Roket Haifa Masih Rusak Pasca Serangan Rudal Iran, Para Jaksa Tak Punya Kantor
Lima bulan setelah rudal Iran menghantam Menara Roket di kota Haifa, Palestina pendudukan, dalam Perang 12 Hari Israel dengan Iran, para jaksa mengaku masih tidak memiliki kantor permanen, bekerja dari kafe dan meja bersama.
Serangan rudal 20 Juni, yang diluncurkan selama perang dengan Iran, menyebabkan kerusakan internal yang parah pada Menara Roket hingga semua penghuni terpaksa mengungsi hingga perbaikan selesai.
Pihak yang mengungsi antara lain Kantor Kejaksaan Distrik Haifa, salah satu kantor tersibuk di Israel untuk kasus-kasus kriminal serius.
Sejak itu, para jaksa mengaku beroperasi dalam kondisi seadanya dan tanpa akses ke berkas perkara, printer, atau bahkan mesin fotokopi.
“Saya tertawa ketika orang-orang membaca berita utama tentang ‘runtuhnya supremasi hukum’ dan mengira itu tentang pertarungan politik antara jaksa agung dan pemerintah,” kata seorang pengacara kepada media lokal.
“Siapa pun yang ingin melihat runtuhnya supremasi hukum yang sesungguhnya harus datang ke sini. Kami adalah kantor tersibuk di Israel untuk kasus pembunuhan — dan kami bahkan tidak punya mesin fotokopi,” tambahnya.
Banyak yang terpaksa bekerja dari rumah atau kafe lokal, berimprovisasi dengan ruang kerja bersama seiring berlanjutnya investigasi dan jadwal sidang.
“Kami dipindahkan ke gedung lain, tetapi tidak ada cukup meja atau komputer,” kata seorang jaksa.
Dia menambahkan, “Jadi kami bekerja secara bergiliran — siapa pun yang dijadwalkan hari itu mendapatkan meja. Sisanya bekerja dari kafe, lorong gedung pengadilan, atau dari rumah jika memungkinkan.”
Situasi ini juga sangat membebani hubungan para jaksa dengan serikat mereka, yang menyebabkan mereka mengadakan pemungutan suara untuk memisahkan diri. Langkah ini dimotivasi oleh “kelalaian total oleh komite nasional dan ketuanya.”
Pada 13 Juni, rezim Israel memulai serangkaian serangan udara terhadap Iran dengan dukungan militer dan intelijen AS yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Angkatan Bersenjata Iran awalnya merespon dengan manuver pertahanan yang komprehensif. Namun, tak lama kemudian, mereka melancarkan serangan balik terhadap target-target nuklir, militer, dan industri penting jauh di dalam wilayah Palestina pendudukan.
Pembalasan tanpa henti dengan nama sandi Operasi True Promise III itu mengerahkan ratusan rudal balistik — banyak di antaranya multi-hulu ledak dan supersonik — serta sejumlah pesawat nirawak bersenjata.
Serangan tersebut menghantam jantung Tel Aviv, benteng ekonomi rezim; Haifa, pelabuhan laut dalam utamanya; dan Be’er Sheva, pusat perkembangan dan teknologi modern entitas Zionis.
Merasakan panasnya pembalasan, Israel terpaksa mengupayakan gencatan senjata setelah 12 hari, meskipun beberapa sistem rudal tercanggih AS telah disiapkan untuk mencegat tembakan Iran. (presstv)
Hizbullah Puji Perintah Presiden Lebanon kepada Militer untuk Melawan Serangan Israel
Presiden Lebanon Joseph Aoun memerintahkan militer negaranya untuk “menghadapi setiap serangan Israel” ke Lebanon selatan, menyusul serangan udara baru dan agresi darat Israel yang menewaskan satu warga sipil di kota Blida.
Menurut pernyataan dari kepresidenan Lebanon pada hari Kamis (30/10), Aoun menginstruksikan Panglima Angkatan Bersenjata Rudolphe Haykal agar “memerintahkan militer Lebanon untuk menghadapi setiap serangan Israel ke wilayah selatan yang telah dibebaskan, demi mempertahankan tanah Lebanon dan keselamatan warga.”
Pernyataan tersebut merinci bahwa Jenderal Haykal memberi tahu Presiden Aoun tentang serangan Israel di kota Blida pada Kamis pagi, yang menggugurkan seorang pegawai pemerintah kota, Ibrahim Salameh, saat dia sedang menjalankan tugasnya.
Presiden Aoun mengutuk dan menyebut serangan itu bagian dari “praktik agresif Israel yang berkelanjutan”. Menurutnya, serangan itu terjadi tak lama setelah pertemuan komite yang memantau implementasi perjanjian penghentian permusuhan.
Sementara itu, menanggapi agresi terbaru Israel, Hizbullah dalam sebuah pernyataannya mengutuk keterlibatan AS dalam serangan tersebut.
“Penjahat Zionis melanjutkan serangkaian kejahatannya di tanah Lebanon, mengintensifkan serangannya dan melanggar kedaulatan Lebanon serta kesucian warganya, mengabaikan perjanjian, kesepahaman, dan hukum internasional,” bunyi pernyataan tersebut.
Hizbullah menambahkan bahwa pihaknya “mengutuk kejahatan baru Israel ini, yang terjadi tepat setelah kunjungan utusan AS ke Lebanon dan kepemimpinannya dalam pertemuan Komite Mekanisme. Ini menegaskan bahwa agresi Zionis terhadap negara kami dilakukan dalam kemitraan dan kolusi dengan AS, dan bahwa Washington memberikan lampu hijau untuk setiap eskalasi Israel.”
Hizbullah mengapresiasi sikap Presiden Aoun, dan menyebut seruannya agar tentara melawan agresi Israel sebagai seruan”kebangsaan dan berani.”
Hizbullah juga menyerukan “dukungan kepada tentara dengan segala kemampuan yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas pertahanannya dan memberikan perlindungan politik untuk menghadapi musuh yang buas ini.”
Namun, Hizbullah juga mendesak pemerintah Lebanon agar mengubah pendekatannya beberapa bulan sebelumnya dan segera menyetujui rencana komprehensif untuk menghentikan agresi berulang Israel. (presstv)
Ini Dia Sosok Bengis Pelaku Pembantaian Massal di Kota El Fasher Sudan
Beberapa video viral dan menghebohkan telah memicu kontroversi luas setelah seorang pria berjulukan Abu Lulu, yang diyakini sebagai anggota Pasukan Dukungan Cepat (RSF), terlihat berpartisipasi dalam pembantaian orang-orang tak bersenjata di El Fasher, Sudan barat.
Pria itu muncul dalam beberapa video yang beredar selama akhir pekan, mendokumentasikan pemandangan mengerikan di dalam dan sekitar kota El Fasher, yang dilanda bentrokan sengit antara tentara Sudan dan RSF dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut Russia Today, nama asli pria itu adalah Al-Fatih Abdullah Idris, dan ia dikenal dengan julukan Abu Lulu. Ia berpangkat Brigjen di RSF dan terkait erat dengan pembantaian di El Fasher di Darfur Utara, tempat ia melakukan eksekusi singkat dan mendokumentasikannya dengan rekaman audio dan video.
Abu Lulu mengaku membunuh lebih dari 2.000 orang di El Fasher, setelah sebelumnya mengaku telah membunuh 900 orang dalam siaran langsung di TikTok. Dia bertugas di RSF selama bertahun-tahun, berpartisipasi dalam operasi di kota Al-Jili dan Al-Fula sebelum pindah ke El Fasher, di mana dia secara pribadi memimpin pasukan yang menyerbu kota dan melakukan kejahatan perang terhadap warga sipil.
Meskipun sering muncul mengenakan seragam RSF dan bersama para komandan milisi senior, belakangan dia membantah berafiliasi dengan kelompok tersebut, dan mengaku sebagai “seorang warga negara yang merespon tentara.”
Dalam sebuah video viral, Abu Lulu terlihat berdiri di antara mayat-mayat yang berserakan, berbicara kepada seorang pria terluka di tanah dan mengancamnya sebelum menembaknya dengan senapan otomatis.
Dalam video lain, ia muncul bersama beberapa kombatan RSF yang bersenjata senapan serbu AK-47, saat mereka mengepung setidaknya sembilan tahanan tak bersenjata. Setelah berbicara kepada mereka, dengan darah dingin dia menembak mereka di tengah sorak-sorai para kombatan di sekitarnya.
Dalam adegan ketiga, dia muncul bersama pria-pria bersenjata lainnya dengan puluhan mayat di belakang mereka, beberapa mengenakan seragam RSF. Salah satu dari mereka mengenakan lencana melingkar berbingkai hitam, senada dengan lambang pasukan paramiliter tersebut.
Pada Agustus lalu RSF mengumumkan bahwa pihaknya telah membuka penyelidikan atas tuduhan terhadap Abu Lulu, dan menegaskan, “Jika terbukti pelakunya adalah salah satu anggota kami, maka dia akan segera dimintai pertanggungjawaban tanpa penundaan.”
Bersamaan dengan ini, laporan dari Universitas Yale mengungkap citra satelit terbaru yang menunjukkan “gugusan besar” yang tampak seperti tubuh manusia di jalanan El Fasher, beserta jejak yang kemungkinan besar berupa darah, dan oleh para peneliti dianggap sebagai bukti eksekusi massal.
Michael Jones, seorang analis di Royal United Services Institute (RUSI), mengonfirmasi bahwa RSF memiliki sejarah panjang pembantaian etnis dan pembalasan karena strukturnya yang terdesentralisasi, yang mencakup campuran milisi bayaran, sekutu lokal, dan oportunis ekonomi.
Dia menambahkan bahwa beberapa kekerasan terjadi di luar wewenang komando pusat, dan para pelaku berusaha membalas dendam atau merampas tanah dan properti dalam tindakan pembersihan etnis.
El Fasher adalah pusat kota besar terakhir di Darfur yang berada di bawah kendali pemerintah sebelum jatuh ke tangan RSF, yang telah menyatakan niat mereka untuk membentuk pemerintahan paralel di sana.
Kedua belah pihak telah dituduh melakukan kejahatan perang, dan di hari-hari terakhir pemerintahan Presiden Joe Biden, AS menegaskan bahwa RSF telah melakukan aksi genosida. (raialyoum)







