Rangkuman Berita Utama Timur Tengah,  Jumat 28 November 2025

Jakarta, ICMES. Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, memastikan AS menderita kerugian besar selama perang 12 hari dengan Iran pada bulan Juni 2025, meskipun AS telah mengerahkan peralatan militer tercanggihnya, termasuk kapal selam, jet tempur, dan sistem pertahanan mutakhir.

Sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, merilis gambar baru di Telegram, berjudul “ Tak Ada Kata Menyerah dalam Kamus Kami,” yang menegaskan kembali komitmen mereka kepada perlawanan dan tekad untuk terus berjuang meskipun kondisi lapangan sangat komplek di Rafah.

Sumber-sumber yang mengetahui negosiasi mengenai nasib para pejuang Hamas yang terjebak di terowongan Rafah di tengah kepungan pasukan Zionis Israel menyatakan bahwa perundingan masih berlangsung untuk menemukan solusi bagi krisis tersebut.

Berita selengkapnya:

Ayatullah Khemenei: AS Menderita Kerugian Besar dalam Perang 12 Hari

Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, memastikan AS menderita kerugian besar selama perang 12 hari dengan Iran pada bulan Juni 2025, meskipun AS telah mengerahkan peralatan militer tercanggihnya, termasuk kapal selam, jet tempur, dan sistem pertahanan mutakhir.

“Tak syak lagi, dalam perang 12 hari, bangsa Iran telah mengalahkan AS dan Rezim Zionis Israel. Mereka datang dan berbuat jahat, tetapi kalah, kembali dengan tangan kosong, gagal mencapai tujuan mereka. Ini merupakan kekalahan yang nyata bagi mereka,” ujarnya dalam pidato pada Kamis malam (27/11).

Dia mengatakan bahwa menurut beberapa sumber, Israel telah merencanakan dan mempersiapkan perang selama 20 tahun. “Mereka telah merencanakan perang dengan harapan dapat memprovokasi rakyat dan memaksa mereka melawan pemerintah. Namun, situasinya terbalik, dan mereka gagal total sehingga bahkan mereka yang tidak setuju dengan pemerintahpun pun malah mendukungnya, menciptakan persatuan umum di negara ini,” terangnya.

Mengenai AS, dia mengatakan, “AS sangat terpukul dalam perang ini, karena meskipun menggunakan senjata ofensif dan defensif terbaru, mereka gagal mencapai tujuannya untuk menipu rakyat (Iran) dan mendapatkan dukungan mereka. Sebaliknya, persatuan rakyat meningkat, dan AS gagal,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Tentu saja, kami juga menderita kerugian, dan, sebagaimana lazimnya perang, nyawa-nyawa berharga melayang. Namun Republik Islam Iran menunjukkan bahwa negara ini merupakan pusat tekad dan kekuatan, mampu berdiri kokoh dan mengambil keputusan tanpa takut akan keributan di sekitarnya. Lebih dari itu, kerusakan material yang ditimbulkan pada musuh yang menyerang jauh lebih besar daripada kerugian material yang kami derita.”

Menyinggung kebejatan Israel di Jalur Gaza, Ayatullah Khamenei  menyebutnya sebagai salah satu bencana paling krusial dalam sejarah kawasan Timur Tengah.

“AS mendukung rezim perampas (Israel) dan menjadi sangat dipermalukan dan didiskreditkan, karena rakyat dunia tahu bahwa rezim Zionis tidak mampu menimbulkan kehancuran sebesar ini tanpa AS,” katanya.

Dia menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai orang yang paling dibenci di dunia saat ini dan rezim Zionis sebagai entitas dan penguasa yang paling dibenci

“Karena AS berdiri di samping mereka, kebencian terhadap Zionis juga telah menyebar ke AS,” sambungnya.

Ayatullah Khamenei  juga menyebut intervensi AS di berbagai belahan dunia sebagai faktor lain yang menambah ketersudutannya. Dia mengingatkan bahwa campur tangan AS di manapun, termasuk Ukraina, menyebabkan perang, kehancuran, dan pengungsian.

Dia juga menepis rumor bahwa pemerintah Iran telah mengirim pesan kepada AS melalui negara lain. “Ini kebohongan belaka, dan hal demikian jelas tidak pernah ada,” tegasnya. (presstv)

Brigade al-Qassam: Tak Ada Kata Menyerah dalam Kamus Kami

Sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, merilis gambar baru di Telegram, berjudul “ Tak Ada Kata Menyerah dalam Kamus Kami,” yang menegaskan kembali komitmen mereka kepada perlawanan dan tekad untuk terus berjuang meskipun kondisi lapangan sangat komplek di Rafah.

Pesan media ini dirilis pada Kamis pagi (27/11) manakala pasukan pendudukan Israel terus mengepung sekelompok pejuang Palestina di dalam beberapa terowongan di kota Rafah, Jalur Gaza selatan, di tengah pengejaran dan pembunuhan terarah yang dilakukan oleh pasukan musuh dalam beberapa hari terakhir.

Sumber-sumber lapangan menyebutkan bahwa pasukan pendudukan menggunakan kekuatan militer ekstrem, termasuk pengeboman berulang kali dan penggunaan gas beracun, dalam upaya untuk memaksa para pejuang perlawanan yang terkepung agar menyerah.

Dalam pernyataan sebelumnya, Hamas menegaskan bahwa pendudukan tersebut melakukan kejahatan brutal dengan mengejar, membunuh, dan menangkap para pejuang perlawanan yang terjebak di terowongan Rafah.

“Siasat agresif ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata dan bukti tak terbantahkan dari upaya yang sedang berlangsung untuk melemahkan dan menghancurkan perjanjian ini,” kata Hamas dalam siaran persnya.

Hamas menjelaskan pihaknya “telah mengerahkan upaya yang cukup besar selama sebulan terakhir dengan berbagai pemimpin politik dan mediator untuk menyelesaikan masalah para pejuang dan kepulangan mereka. Gerakan ini menyajikan gagasan dan mekanisme spesifik untuk mengatasi masalah ini, dengan tetap menjaga komunikasi penuh dengan para mediator dan pemerintah AS, sebagai salah satu penjamin perjanjian gencatan senjata. Namun, rezim pendudukan justru merusak semua upaya ini, dengan menggunakan bahasa pembunuhan, kejahatan, penganiayaan, dan penangkapan, sehingga menggagalkan upaya para mediator yang bekerja tanpa lelah dengan berbagai pihak internasional untuk mengakhiri penderitaan para pejuang heroik ini.”

Hamas menganggap Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas nyawa para pejuang, dan menyerukan para mediator untuk segera mengambil tindakan guna menekan Israel agar mengizinkan mereka pulang, “menganggap mereka sebagai contoh unik pengorbanan, kepahlawanan, dan kesabaran, serta simbol martabat dan kebebasan rakyat Palestina.” (alalam)

Pembicaraan Masih Berlanjut Mengenai Nasib Pejuang Hamas yang Terjebak di Terowongan Rafah

Sumber-sumber yang mengetahui negosiasi mengenai nasib para pejuang Hamas yang terjebak di terowongan Rafah di tengah kepungan pasukan Zionis Israel menyatakan bahwa perundingan masih berlangsung untuk menemukan solusi bagi krisis tersebut.

Seorang pemimpin Hamas, yang berbicara kepada AFP tanpa menyebut nama, Kamis (27/11) mengatakan, “Diskusi dan kontak dengan para mediator (Mesir, Turki, dan Qatar) serta AS terus berlanjut dalam upaya untuk mengakhiri krisis.”

Menurut media Israel, antara 100 dan 200 anggota Hamas masih terjebak di dalam jaringan terowongan di bawah kota Rafah di Jalur Gaza selatan, di wilayah yang berada di bawah kendali militer Israel.

Namun, seorang pemimpin senior Hamas memperkirakan jumlah pejuang, “sebagian besar dari Brigade Qassam, berkisar antara 60 dan 80 orang.”

Berdasarkan ketentuan perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober, tentara Israel mundur dari wilayah pesisir Jalur Gaza ke belakang apa yang disebut sebagai “garis kuning”, yang ditandai dengan blok beton kuning.

Hamas pada hari Rabu  mendesak negara-negara penengah untuk menekan Israel agar mengizinkan para pejuangnya meninggalkan tempat melalui jalur aman. Ini merupakan pertama kalinya Hamas mengajukan permintaan publik demikian.

“Kami menyerukan kepada saudara-saudara kami yang menjadi mediasi untuk segera mengambil tindakan guna menekan pendudukan agar mengizinkan putra-putra kami kembali ke rumah mereka,” ungkap Hamas.

Seorang sumber Palestina yang mengetahui negosiasi tersebut mengatakan bahwa masalah ini telah dibahas pada minggu ini.

“Masalah ini dan gagasan solusinya telah dibahas dengan saudara-saudara kami di Mesir, dan krisis ini telah dibahas dengan Kepala Menteri Intelijen Hassan Rashad minggu ini,” tuturnya.

Seorang sumber di salah satu negara mediasi juga mengonfirmasi kepada AFP bahwa AS, Qatar, Mesir, dan Turki sedang berupaya mencapai penyelesaian yang memungkinkan para pejuang Hamas untuk keluar dari terowongan-terowongan yang terletak di luar Garis Hijau.

Sumber tersebut menambahkan, “Proposal saat ini menawarkan mereka jalur aman ke wilayah-wilayah yang tidak berada di bawah kendali Israel, membantu memastikan bahwa masalah ini tidak menjadi titik perdebatan yang mengarah pada pelanggaran lebih lanjut atau runtuhnya gencatan senjata.”

Israel belum secara terbuka menyetujui penyelesaian apa pun terkait penarikan para pejuang Hamas dari terowongan. (raialyoum)