Jakarta, ICMES. Wakil Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigjen Ali Fadavi, menyatakan, “Imam kami telah menetapkan jangkauan dan batas rudal kami, dan kami akan menindaklanjutinya.”

Setelah kepala Pemerintahan Sementara Suriah, Abu Muhammad al-Julani, berkunjung ke Washington dan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, garis besar fase baru dalam lanskap Suriah mulai terlihat. Al-Julani kini sedang menjalankan agenda AS yang terdefinisi dengan baik di kawasan Timur Tengah.
Pasukan Israel melancarkan gelombang baru serangan udara dan mengebom beberapa permukiman di Lebanon selatan.
Berita selengkapnya:
IRGC Menjawab Berapa Jarak Jangkau Rudal Terjauh Iran
Wakil Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigjen Ali Fadavi, menyatakan, “Imam kami telah menetapkan jangkauan dan batas rudal kami, dan kami akan menindaklanjutinya.”
Di sela-sela upacara penghormatan para martir Pasukan Dirgantara IRGC, Kamis (13/11), Fadavi menambahkan bahwa pembangunan kekuatan terus berlanjut di semua sektor, seraya menegaskan bahwa Pasukan Dirgantara IRGC juga berada dalam proses pembangunan kekuatan, yang tidak ada habisnya.
Menanggapi klaim musuh tentang kemungkinan pembatasan jangkauan rudal balistik Iran, dia mengatakan, “Beberapa orang membuat pernyataan yang sama sekali tidak profesional, mereka tidak tahu apa-apa tentang bidang ini.”
Dia menambahkan, “Imam kami telah menetapkan jangkauan dan batas rudal kami, dan kami mematuhi perintahnya. Ini tidak ada hubungannya dengan kemampuan saintifik dan industri kami; kami mematuhi apa yang telah diperintahkan oleh Imam dan Pemimpin Besar kami.”
Mengenai perang Iran melawan Israel, Wakil Panglima IRGC juga mengatakan, “Dalam Perang 12 Hari, semua kekuatan besar memasuki arena melawan Iran, tetapi mereka dikalahkan karena para loyalis Revolusi Islam telah memenuhi tugas suci mereka.”
Brigjen Ali Fadavi menyebutkan bahwa dalam perang 12 hari, Allah memenuhi janji-Nya dan menganugerahkan kemenangan kepada bangsa yang berdiri teguh bersama kebenaran.
“Syarat terpenuhinya janji-janji ilahi adalah pelaksanaan tugas suci, dan para loyalis Revolusi Islam telah melaksanakan tugas mereka sebagaimana diperintahkan Allah… IRGC dalam upayanya memenuhi tugasnya, tidak menyia-nyiakan waktu 24 jam, dan upaya ini terus berlanjut,” ujarnya.
Dia memastikan Pasukan Dirgantara IRGC terus bekerja dengan tekun dan tanpa lelah untuk meningkatkan kemampuan pertahanan
“Kami terus berupaya untuk meningkatkan kemampuan tempur kami. Anda melihat dalam kasus masalah Shahed-136 bagaimana mereka mencoba meniru pencapaian kami, dan menyebutnya sebagai drone terbaik di dunia,” tuturnya.
Dia juga menegaskan, “Musuh berupaya membatasi Iran secara politik dan militer, dan upayanya difokuskan pada pelemahan kemampuan rudal Iran, tetapi mereka gagal.” (alalam)
AS Persenjatai RezimAL- Julani di Suriah untuk Memusuhi Iran, Hizbullah dan Hamas
Setelah kepala Pemerintahan Sementara Suriah, Abu Muhammad al-Julani, berkunjung ke Washington dan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, garis besar fase baru dalam lanskap Suriah mulai terlihat. Al-Julani kini sedang menjalankan agenda AS yang terdefinisi dengan baik di kawasan Timur Tengah.
Tugas yang diberikan kepadanya adalah mengarahkan kembali arena Suriah, mengubahnya menjadi alat dalam konflik melawan ISIS, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Hamas, dan Hizbullah, dalam apa yang disebut Washington sebagai koalisi internasional melawan terorisme. Namun, koalisi ini lebih tampak sebagai proyek untuk membentuk kembali pengaruh di Timur Tengah daripada perang melawan teror yang sesungguhnya.
Utusan AS Tom Barrack mengatakan bahwa Washington memandang tahap ini sebagai titik balik yang krusial, karena Suriah sedang bertransformasi dari negara yang terisolasi menjadi mitra strategis. Hal ini secara efektif berarti menyerahkan pengambilan keputusan Suriah pada perimbangan regional yang disusun oleh pemerintah AS.
Dia menyebutkan bahwa bahwa AS mulai mengambil langkah-langkah untuk mencabut sanksi ekonomi, termasuk Undang-Undang Caesar, sebagai imbalan atas partisipasi Damaskus dalam koalisi yang dipimpin AS.
Barrack juga mengungkapkan pertemuan trilateral antara pejabat AS, Turki, dan Suriah, di mana dia menyusun apa yang disebutnya sebagai peta baru Timur Tengah. Peta ini mencakup integrasi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) ke dalam struktur militer Suriah dan redefinisi hubungan Turki-Suriah-Israel.
Ketentuan-ketentuan ini, menurut para pengamat, menunjukkan bahwa Washington sedang berupaya membangun sistem keamanan baru di mana al-Julani bertindak sebagai polisi lapangan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan-kebijakan AS di Suriah.
Apa terjadi tampak bukan sekadar kerja sama keamanan, melainkan perombakan peran Suriah di bawah pengawasan asing dimana al-Julani diubah menjadi alat AS untuk mengendalikan situasi internal dan melindungi kepentingan Washington dan sekutu-sekutunya.
Pendekatan ini, meskipun berkedok memerangi terorisme, secara efektif merupakan upaya untuk mendaur ulang pengaruh asing di Suriah dan melemahkan setiap proyek nasional independen yang akan memulihkan kekuatan pengambilan keputusan dan kedaulatan sejati rakyat Suriah. (alalam)
Israel Kembali Lancarkan Gelombang Serangan Udara di Lebanon Selatan
Pasukan Israel melancarkan gelombang baru serangan udara dan mengebom beberapa permukiman di Lebanon selatan.
Jaringan berita el-Nashra dan al-Manar Lebanon pada hari Kamis (13/11) melaporkan bahwa pesawat tempur Israel mengebom desa-desa Lebanon di Bint Jbeil dan menyerang pinggiran kota Tayr Falsayh di distrik Tyre, Lebanon selatan.
Kantor Berita Nasional Lebanon, NNA, menyebutkan bahwa jet-jet tempur Israel juga menyerang wilayah al-Khanouk di kotamadya Aitaroun di distrik Nabatieh dengan rudal udara-ke-permukaan.
Serangan tersebut dilaporkan menjatuhkan korban jiwa dan menimbulkan kerusakan parah pada infrastruktur sipil di wilayah tersebut.
Sebuah pesawat nirawak Israel juga menyerang sebuah kendaraan Renault Rapid di kota Toul di distrik Nabatiyeh, hingga melukai setidaknya satu orang. Serangan itu terjadi di daerah padat penduduk saat para siswa sedang meninggalkan sekolah.
Laporan media lokal yang mengutip sumber-sumber lokal mengatakan bahwa sebuah pesawat tempur Israel menjatuhkan bom sonik di atas pantai Naqoura di Lebanon selatan.
Saksi mata mengatakan bahwa tentara Israel juga menembakkan tembakan senapan mesin ke arah pinggiran distrik Kfar Shouba.
Artileri Israel juga menembaki kota perbatasan selatan Mays al-Jabal pada Rabu malam.
Ketegangan telah meningkat di Lebanon selatan selama berminggu-minggu, karena tentara Israel mengintensifkan serangan udara hampir setiap hari di wilayah Lebanon.
Gencatan senjata telah dicapai pada November tahun lalu, namun Israel tetap melanjutkan serangan hampir setiap hari di Lebanon selatan dan timur dan menduduki lima bukit yang dianggap strategis di selatan.
Tentara Israel telah menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai hampir 17.000 orang dalam serangannya di Lebanon, yang dimulai pada Oktober 2023 dan berubah menjadi agresi skala penuh pada September 2024.
Israel dan Hizbullah mencapai kesepakatan gencatan senjata yang berlaku efektif pada 27 November 2024. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Israel diharuskan menarik diri sepenuhnya dari wilayah Lebanon, tetapi ternyata masih menempatkan pasukan di lima lokasi sehingga jelas-jelas melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 dan ketentuan perjanjian November lalu.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, Israel telah berulang kali melanggar perjanjian tersebut melalui serangan di wilayah Lebanon. (presstv)







