Rangkuman Berita Utama Timur Tengah, Jumat 12 Desember 2025

Jakarta, ICMES. Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa bangsa Iran dengan perlawanan nasionalnya yang tangguh telah mematahkan sepak terjang musuh untuk mengubah identitas keagamaan, historis, dan kultural nasional Iran.

Tentara Israel telah menyelesaikan penyiapan rencana dalam beberapa minggu terakhir untuk melancarkan serangan skala besar terhadap posisi Hizbullah jika pemerintah dan tentara Lebanon gagal memenuhi janji mereka untuk melucuti senjata kelompok pejuang ini sebelum akhir tahun 2025.

Pasukan pendudukan Israel melancarkan serangkaian serangan di kota Al-Quds (Yerusalem) pada hari Kamis, termasuk menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa dan lingkungan Sheikh Jarrah, serta mengancam 33 komunitas Badui dengan penggusuran sebagai bagian dari rencana kolonial yang bertujuan untuk merebut tanah Palestina dan menghapus eksistensi bangsa Palestina.

Berita selengkapnya:

Ayatullah Khamenei: Musuh Gagal Mengubah Identitas Keagamaan dan Historis Umat

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa bangsa Iran dengan perlawanan nasionalnya yang tangguh telah mematahkan sepak terjang musuh untuk mengubah identitas keagamaan, historis, dan kultural nasional Iran.

“Dengan perlawanan nasionalnya, bangsa Iran telah dan akan terus menggagalkan upaya musuh yang berkelanjutan untuk mengubah identitas keagamaan, historis, dan kultural nasional (Iran). Sekarang pun, dengan segala tantangan dan kekurangan yang ada, bangsa Iran terus melanjutkan jalannya ke depan, bersama urgensi adanya kesiapan defensif dan ofensif untuk menghadapi aktivitas propaganda dan media musuh, yang membidik nalar, hati dan keyakinan,” ujarnya dalam kata sambutan pada majelis peringatan milad Sayyidah Fatimah Zahra, putri Nabi Muhammad saw, Kamis (11/12).

Ayatullah Khamenei mendefinisikan “perlawanan nasional” sebagai keteguhan hati dalam menghadapi berbagai tekanan dari kekuatan penindas, baik militer, ekonomi, media, budaya, maupun politik. Dia menyebutkan bahwa tekanan media dan propaganda Barat terkadang bertujuan untuk ekspansi regional, kontrol atas sumber daya, atau mengubah gaya hidup dan identitas nasional.

Dia menekankan bahwa upaya kekuatan arogan untuk mengubah identitas “agama, sejarah, dan budaya” bangsa Iran telah berlangsung selama lebih dari satu abad, dan Revolusi Islam telah menggagalkan upaya-upaya tersebut.  Dia memuji ketahanan rakyat Iran, yang telah menolak tekanan terus-menerus selama beberapa dekade terakhir.

Pemimpin Besar Iran juga menyinggung penyebaran konsep dan literatur perlawanan dari Iran ke negara-negara di kawasan dan sekitarnya, sembari memastikan bahwa beberapa tekanan yang dihadapi Iran sudah cukup untuk menggulingkan negara lain mana pun.

Ayatullah Khamenei menjelaskan bahwa lantunan doa keagamaan selama peringatan Imam Hussein memperkuat ingatan akan para martir dan menyebarkan konsep perlawanan, dan bahwa musuh saat ini menghadapi “perang propaganda dan media” setelah menyadari bahwa wilayah Iran tidak dapat ditaklukkan hanya dengan tekanan militer.

Dia menegaskan keharusan mengetahui tujuan dan formasi musuh, seperti halnya di medan militer, dan mengidentifikasi titik-titik sasaran mereka seperti wawasan keislaman, isu Sunni-Syiah, dan revolusi Islam Iran. Dia menekankan bahwa keteguhan dalam menghadapi perang propaganda dapat dilakukan. (alalam)

Israel Rencanakan Serangan Besar terhadap Hizbullah

Lembaga penyiaran resmi Israel pada Kamis malam (11/12) melaporkan bahwa tentara Israel telah menyelesaikan penyiapan rencana dalam beberapa minggu terakhir untuk melancarkan serangan skala besar terhadap posisi Hizbullah jika pemerintah dan tentara Lebanon gagal memenuhi janji mereka untuk melucuti senjata kelompok pejuang ini sebelum akhir tahun 2025.

Hal ini terjadi meskipun Israel hampir setiap hari melanggar perjanjian gencatan senjata dengan Hizbullah, yang berlaku sejak 27 November 2014, hingga mengakibatkan kematian dan luka-luka ratusan orang, serta kerusakan material yang besar.

Pada tanggal 5 Agustus, kabinet Lebanon menyetujui rencana untuk membatasi semua senjata, termasuk yang dimiliki oleh Hizbullah, hanya untuk negara, serta menugaskan tentara untuk mengembangkan dan menerapkan rencana untuk mencapai hal ini sebelum akhir tahun 2025.

Namun demikian, Sekjen Hizbullah, Syeikh Naim Qassem, telah menyatakan lebih dari sekali bahwa pihaknya menolak hal tersebut dan menuntut penarikan penuh tentara Israel dari seluruh wilayah Lebanon.

Lembaga penyiaran resmi Israel, Kan, mengutip pernyataan sumber keamanan Israel yang tidak disebutkan namanya bahwa “rencana tersebut disiapkan oleh komando militer, dengan partisipasi Komando Utara dan cabang Intelijen dan Operasi, sebagai bagian dari persiapan untuk mengantisipasi potensi kegagalan upaya politik Beirut untuk melucuti senjata Hizbullah.”

Sumber yang sama, menurut Kan, menyebutkan, “Angkatan Udara telah melakukan latihan ekstensif dalam beberapa hari terakhir di wilayah udara Lebanon dan di atas Laut Mediterania, dengan melibatkan jet tempur, demi meningkatkan kesiapan untuk kemungkinan operasi militer di Lebanon selatan.”

Dilaporkan bahwa seorang pejabat keamanan senior Israel mengatakan, “Israel memberi tahu AS bahwa mereka akan mengambil tindakan sendiri untuk melucuti senjata Hizbullah jika hal ini tidak dilakukan secara efektif, bahkan jika itu menyebabkan pertempuran berhari-hari atau bentrokan baru di front utara.”

Pejabat itu menambahkan, “Washington menyampaikan peringatan Israel kepada pihak Lebanon, tetapi Beirut menjelaskan bahwa operasi tersebut kompleks dan membutuhkan waktu tambahan untuk memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.”

Laporan itu mengemuka beberapa jam setelah Blok Loyalitas kepada Perlawanan, sayap politik Hizbullah di parlemen, menuduh otoritas Lebanon “melakukan kesalahan lain” dengan menunjuk seorang warga sipil untuk berpartisipasi dalam komite mekanisme yang mengawasi perjanjian penghentian permusuhan.

Dalam sebuah pernyataan, blok tersebut menegaskan bahwa langkah ini “bertentangan bahkan dengan pendirian resmi sebelumnya yang mengaitkan partisipasi sipil dengan penghentian permusuhan.” (aa/nna)

Kaum Zionis Melurug Komplek Masjid al-Aqsa

Pasukan pendudukan Israel melancarkan serangkaian serangan di kota Al-Quds (Yerusalem) pada hari Kamis, termasuk menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa dan lingkungan Sheikh Jarrah, serta mengancam 33 komunitas Badui dengan penggusuran sebagai bagian dari rencana kolonial yang bertujuan untuk merebut tanah Palestina dan menghapus eksistensi bangsa Palestina.

Pasukan pendudukan menyerbu lingkungan Sheikh Jarrah, mengenakan denda pada kendaraan Palestina, dan mendirikan pos pemeriksaan militer yang menghalangi mobilitas penduduk.

Secara bersamaan, 348 pemukim Zionis menyerbu halaman kompleks Masjid Al-Aqsa di bawah perlindungan ketat dari pasukan pendudukan, melakukan ritual Talmud dan tur provokatif.

Di kota Al-Issawiya, pasukan pendudukan Israel, didampingi oleh petugas kota, mengukur rumah-rumah sebagai persiapan untuk pembongkarannya. Pemerintah Provinsi Quds mengatakan bahwa komunitas Badui menghadapi kebijakan sistematis penggusuran paksa, termasuk penyitaan tanah, penghancuran harta benda, pemutusan pasokan air, dan serangan terhadap penduduk, selain dikepung oleh 21 pos pemukiman yang digunakan untuk menekan penduduk.

Pemerintah Provinsi menjelaskan bahwa tindakan ini memengaruhi lebih dari 7.000 warga Palestina dan bertujuan untuk memutus hubungan geografis Quds dengan wilayah sekitarnya di sebelah timur sebagai bagian dari rencana “Yerusalem Raya” dan E1. Ini adalah upaya untuk memaksakan perubahan demografis dan melemahkan perekonomian penduduk, dengan menggunakan pendekatan “penetrasi lambat” untuk penggusuran paksa tanpa mengeluarkan dekrit resmi. (wafa)