Jakarta, ICMES. Dalam salah satu babak paling mengerikan dalam perang Sudan, kota El Fasher berubah menjadi kuburan massal setelah Pasukan Dukungan Cepat (RSF) merebut kendali atas kota itu setelah mengepungnya selama lebih dari setahun.

Brigade Al-Quds, sayap militer gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), mengumumkan pihaknya telah menembak jatuh pesawat nirawak Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat, dan memperoleh informasi intelijen berharga yang digunakan dalam operasinya terhadap target-target Israel.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras gelombang serangan udara terbaru Israel di Jalur Gaza, dan menyebutnya sebagai pelanggaran terbuka terhadap hukum internasional dan sebagai kelanjutan operasi genosida terhadap rakyat Palestina.
Berita selengkapnya:
Miris, Kota El Fasher di Sudan Jadi Ajang Pembantaian Massal, Ribuan Tewas dalam Dua Hari
Dalam salah satu babak paling mengerikan dalam perang Sudan, kota El Fasher berubah menjadi kuburan massal setelah Pasukan Dukungan Cepat (RSF) merebut kendali atas kota itu setelah mengepungnya selama lebih dari setahun.
The Washington Post mengungkap kekejaman yang mengerikan dalam sebuah laporan yang didukung oleh kesaksian warga setempat. Surat kabar AS tersebut mengonfirmasi bahwa aksi pembunuhan massal dan eksekusi singkat bahkan menyasar para pasien di RS Universitas El Fasher, sehingga menjadi pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan HAM.
Petugas bantuan lokal melaporkan bahwa ratusan atau bahkan mungkin ribuan warga sipil menjadi sasaran serangan bermotif etnis mereka. Mereka mengatakan bahwa anggota RSF memisahkan pria dan anak laki-laki dari keluarga mereka sebelum menyiksa atau membunuh mereka.
Pemerintah Sudan menuduh Pasukan Dukungan Cepat (RSF) membunuh lebih dari 2000 warga sipil hanya dalam dua hari, dan kebanyakan korban adalah perempuan dan anak-anak.
Komisaris Bantuan Kemanusiaan menyatakan bahwa nyawa direnggut secara brutal, dan warga sipil yang melarikan diri dari pertempuran dibunuh dan disiksa. Lembaga itu juga menyebutkan bahwa tim medis dan relawan telah dieksekusi saat menjalankan tugas mereka di kota tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan kondisi mengerikan di El Fasher, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengaku pihaknya tidak dapat menjangkau warga sipil yang terkepung dan tidak ada jalur aman untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada sekitar 260.000 orang yang terjebak di dalam kota.
Ribuan orang melarikan diri dengan berjalan kaki, melewati pos pemeriksaan bersenjata, dan menjadi korban pemerasan serta penyiksaan saat mereka mencoba melarikan diri.
Pelanggaran ini memicu gelombang kecaman dari dunia Arab dan internasional. Liga Arab mengutuk apa yang disebutnya kejahatan mengerikan terhadap warga sipil, menyerukan penghentian segera permusuhan, dan menuntut pertanggungjawaban para pelaku.
Mesir menyerukan gencatan senjata kemanusiaan segera, dan menolak segala upaya memecah belah Sudan atau mengusik integritasnya.
RSF membantah tuduhan tersebut dengan menyatakan pihaknya sedang membersihkan kota dari kantong-kantong tentara yang tersisa. Sedangkan pemerintah Sudan menegaskan bahwa kebungkaman komunitas internasional telah memperkuat eskalasi pelanggaran. Pemerintah menuntut penetapan RSF sebagai organisasi teroris, dan penjatuhan sanksi terhadap negara-negara pendukung RSF.
Perang yang melanda Sudan selama lebih dari dua tahun mencapai titik krusialnya pada hari Minggu (26/10) di mana RSF merebut El Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara. Hal ini memberi RSF kendali atas wilayah Darfur di bagian barat negara itu, sementara pertempuran kini terkonsentrasi di wilayah tetangganya, Kordofan.
Perang yang meletus pada pertengahan April 2023 antara tentara yang dipimpin oleh Abdel Fattah al-Burhan dan RSF yang dipimpin oleh mantan sekutunya, Mohamed Hamdan Dagalo, yang dikenal sebagai Hemedti, secara efektif telah membagi negara itu menjadi beberapa wilayah pengaruh.
Dengan direbutnya El Fasher, RSF kini menguasai Sudan bagian barat dan sebagian wilayah selatan, sementara tentara menguasai wilayah utara, timur, dan tengah, termasuk Khartoum.
Perang tersebut telah menewaskan puluhan ribu orang, membuat jutaan orang mengungsi, dan menyebabkan sekitar 25 juta orang menderita kelaparan akut, menciptakan apa yang disebut oleh PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Jatuhnya El Fasher ke tangan RSF menimbulkan kekhawatiran di antara para ahli tentang potensi pembagian kembali Sudan dan terulangnya pembantaian yang pernah melanda Darfur pada awal abad ini. (alalam/raialyoum)
Jatuhkan Drone Israel di Tepi Barat, Brigade Al-Quds Peroleh “Informasi Intelijen Berharga”
Brigade Al-Quds, sayap militer gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), mengumumkan pihaknya telah menembak jatuh pesawat nirawak Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat, dan memperoleh informasi intelijen berharga yang digunakan dalam operasinya terhadap target-target Israel.
Hal ini disampaikan dalam sebuah pernyataan singkat yang disertai dengan sebuah video dan sebuah pernyataan yang dikaitkan dengan seorang komandan lapangan Brigade Al-Quds di Tepi Barat, yang dipublikasikan pada hari Rabu (29/10) di kanal Telegramnya.
Brigade Al-Quds menyajikan rekaman yang mereka klaim berasal dari operasi untuk “menghalangi pandangan” yang dilakukan oleh “para pejuang Brigade Al-Quds di Tepi Barat,” dan mencakup sebagian informasi yang diekstraksi dari pesawat nirawak musuh yang beroperasi di angkasa kota-kota Tepi Barat.
Video tersebut menampilkan gambar sebuah drone dan rekaman pembongkaran serta pengambilan memori elektroniknya, serta video yang tampaknya direkam oleh drone itu sendiri, yang menunjukkan posisi militer Israel, meskipun lokasinya tidak disebutkan.
Dalam video tersebut, seorang komandan lapangan Brigade Al-Quds mengatakan: “Sejak awal pertempuran BadaiAl-Aqsa (7 Oktober 2023), pimpinan Brigade Al-Quds di Tepi Barat menginstruksikan rekan-rekan pejuang kami untuk memulai Operasi ‘Membutakan Penglihatan’, yang menyasar mata dan drone musuh di seluruh kota Tepi Barat.”
Dia menambahkan, “Mujahidin kami berhasil menghadapi drone musuh angkasa wilayah kegubernuran Tepi Barat dengan daya tembak yang memadai dan memperkenalkan senjata baru ke medan perang.”
Dia menjelaskan, “Aparat intelijen Brigade Al-Quds di Tepi Barat berhasil mendapatkan informasi berharga dari pergerakan tersebut, termasuk koordinat pusat komando dan kendali musuh serta konsentrasi pasukan, serta beberapa posisi dan informasi baru yang belum dapat diungkapkan pada tahap ini.”
Dia melanjutkan, “Pengambilan informasi ini berdampak signifikan terhadap medan operasi seluruh formasi Brigade Al-Quds di Tepi Barat, hingga menjurus pada pelaksanaan beberapa operasi militer terhadap posisi musuh, pos pemeriksaan, dan pos militer, atau penanaman alat peledak di sepanjang rute kendaraan militer.” Dia tidak memberikan keterangan lebih lanjut tentang lokasi, waktu, atau hasil dari operasi tersebut. (raialyoum)
Iran Sebut Serangan Baru Israel di Gaza Pertanda Niat Melakukan Genosida lagi
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam keras gelombang serangan udara terbaru Israel di Jalur Gaza, dan menyebutnya sebagai pelanggaran terbuka terhadap hukum internasional dan sebagai kelanjutan operasi genosida terhadap rakyat Palestina.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengutuk serangan tersebut, yang menyasar beberapa wilayah di Gaza selatan, tengah, dan utara pada hari Selasa dan Rabu (28-29/10), termasuk kamp-kamp darurat yang menampung warga Palestina yang terlantar.
Serangan itu dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 110 orang dan melukai ratusan lainnya, termasuk sejumlah besar anak-anak.
Baghaei mengatakan serangan tersebut, yang dilakukan di bawah perintah langsung dari perdana menteri Israel, merupakan “indikasi jelas lain tentang niat rezim untuk melakukan pembasmian sistematis warga Palestina.”
Menurutnya, tindakan itu meningkatkan tanggung jawab komunitas internasional berdasarkan Konvensi Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida untuk campur tangan, menghentikan serangan, dan mengadili para pelakunya.
Baghaei mengutuk catatan panjang Israel terkait dengan “pelanggaran berat norma hukum dan moral.” Dia menambahkan bahwa serangan tersebut yang sedang berlangsung itu mendapat dukungan penuh dari AS.
Dia mendesak para penjamin gencatan senjata untuk memenuhi kewajiban mereka dan bertindak tegas untuk mengekang “hasutan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan” Israel. (presstv)







