Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 9 Maret 2020

serangan ansarullah yamanJakarta, ICMES. Presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi dan pemerintahannya di Yaman dalam mengalami kondisi sulit, sementara kubu Ansarullah kian berada di atas angin.

Kerajaan Saudi dilaporkan mulai membebaskan para pangeran dan pejabat senior yang ditangkap selama dua hari sebelumnya.

Otoritas Saudi mengumumkan peliburan sementara kegiatan pendidikan dan keagamaan di semua masjid.

Libanon mencatat 4 kasus infeksi baru virus corona sehingga total jumlah pengidap infeksi di negara bertambah menjadi 32 orang.

Berita selengkapnya:

Ansarullah Menghebat, Pasukan Koalisi Terancam Musnah di Yaman

Presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi dan pemerintahannya dalam beberapa hari ini mengalami kondisi sulit. Pasalnya, barisan mereka pecah belah, Hadi semakin dikecam oleh para mantan pejabat maupun pejabat aktif di barisannya, dan pasukannya di provinsi Jawf kalah perang melawan tentara Yaman yang bersekutu dengan para pejuang Ansarullah (Houthi).

Hal tersebut diungkap oleh Pemred Rai al-Youm, Abdel Bari Atwan, pada kolom editorial media online yang berbasis di London ini, Ahad (8/3/2020).

Dia menyebutkan bahwa dewasa ini terjadi tiga perkembangan utama yang mengubah total panorama konflik Yaman dan menjungkir balik perimbangan kekuatan militer di lapangan;

Pertama, gempuran beberapa rudal cruise dan drone Ansarullah ke fasilitas minyak Aramco di Pelabuhan Yanbu di pesisir utara Laut Merah, Saudi. Peristiwa ini terjadi beberapa bulan setelah serangan serupa menerjang fasilitas minyak Aramco di Abqaiq dan Khurais yang merupakan urat nadi industri minyak Saudi.

Kedua, keberhasilan Ansarullah dan sekutunya menguasai Provinsi Jawf dan beberapa wilayah di provinsi sebelahnya, Ma’rib, yang kaya minyak di Yaman.

Ketiga, terjadinya perpecahan di kubu Mansour Hadi dan menghebatnya kecaman terhadapnya dari para tokoh kubu ini, termasuk Ahmad Obeid bin Daghr, mantan perdana menteri. Di Twitter Ahmad Obeid menyebutkan bahwa pasukan kubu ini telah jatuh setelah kalah perang di provinsi Jawf dan bahwa kini perimbangan kekuatan militer sudah berbalik ke posisi yang menguntungkan Ansarullah di Yaman dan Iran di kawasan.

Juru bicara pasukan koalisi Saudi-Uni Emirat Arab (UEA) Turki al-Maliki menyatakan pihaknya telah melancarkan serangan udara masif yang menyasar gudang-gudang rudal balistik, bom-bom perahu, dan ranjau-ranjau laut Ansarullah yang disebutnya mengancam pelayaran di Laut Merah. Namun, para pejabat Ansarullah menyatakan bahwa serangan balas dendam itu sia-sia belaka.

Abdel Bari Atwan menilai kunjungan mendadak utusan khusus PBB Martin Griffiths ke Ma’rib dan pertemuannya dengan gubernur setempat yang pro-Hadi, Sultan al-Arawah, serta permintaan Griffiths supaya kota ini tetap berada di luar konfrontasi, mencerminkan keresahan AS dan Inggris.

Sebab, semua perusahaan minyak kedua negara ini memiliki proyek minyak dan gas di kota Ma’rib. Jika kota ini juga jatuh ke tangan Ansarullah maka pemerintahan Mansour Hadi akan kehilangan sumber penting keuangannya, dan celakanya lagi pendapatan minyak dari wilayah Ma’rib berbalik jatuh ke tangan Ansarullah.

Kekalahan pasukan Hadi yang didukung koalisi Saudi-UEA di Nihm dan kemudian Jawf, lanjut Atwan, merupakan pukulan “mematikan” bagi mental pasukan koalisi di depan mental gerakan Ansarullah yang kian bertengger di atas angin, dan jika Ma’rib juga jatuh ke tangan Ansarullah maka dimulailah hitungan mundur bagi riwayat pasukan koalisi dan Perang Yaman yang dalam beberapa hari ini memasuki tahun keenam. (raialyoum)

Kerajaan Saudi Mulai Bebebaskan Para Pangeran Senior Yang Ditangkap

Surat kabar Wall Street Journal (WSJ) mengutip keterangan beberapa sumber melaporkan bahwa Kerajaan Saudi pada Ahad kemarin (8/3/2020) mulai membebaskan para pangeran dan pejabat senior yang ditangkap selama dua hari sebelumnya.

Sumber-sumber itu mengatakan bahwa perkembangan itu terjadi ketika Kerajaan berusaha mengakhiri desas-desus mengenai kondisi kesehatan Raja Salman bin Abdul Aziz, 84 tahun. Para petinggi yang dibebaskan itu mencakup Menteri Dalam negeri Abdulaziz bin Saud bin Nayef dan ayahnya yang menjabat sebagai amir kawasan timur, Saud bin Nayef bin Abdulaziz, setelah keduanya dipanggil dan diinterogasi di Pengadilan Kerajaan.

Menurut sumber-sumber anonim itu, kedua pangeran itu dipanggil untuk diinterogasi di tengah kampanye keamanan yang ditandai dengan penangkapan terhadap puluhan pangeran dan pejabat sejak Jumat lalu sebagai upaya Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman untuk mengonsolidasikan keluarga besar Kerajaan.

Dalam kampanye itu dua anggota senior keluarga Kerajaan, yaitu Pangeran Ahmed bin Abdulaziz dan Pangeran Mohamed bin Nayef, telah ditangkap dan hingga kini belum dibebaskan. Namun, pembebasan keduanya diduga akan segera menyusul, karena penangkapan itu dilakukan sebagai peringatan mengenai keharusan mendukung kekuasaan Mohamed bin Salman.

Sebelumnya, sumber-sumber itu menyebutkan bahwa Pengadilan Kerajaan Saudi menduga Ahmed bin Abdulaziz dan Mohamed bin Nayef berupaya melakukan kudeta terhadap Mohamed bin Salman, terutama karena status putra mahkota sebelumnya tersandang pada Mohamed bin Nayef.

WSJ melaporkan bahwa gelombang aksi penangkapan itu menggulung puluhan pejabat di Kementerian Dalam Negeri dan Angkatan Bersenjata, perwira, dan tokoh dengan tuduhan menyokong upaya kudeta. (rt)

Antisipasi Penyebaran Corona, Saudi Liburkan Kegiatan Keagamaan Umum di Semua Masjid

Otoritas Saudi pada Ahad malam (8/3/2020) mengumumkan peliburan sementara kegiatan pendidikan dan keagamaan umum di semua masjid negara ini sejak hari ini, Senin, demi mengantisipasi penyebaran virus corona (Covid-19).

Sebagaimana dilansir kantor berita resmi Saudi, SPA, Kementerian Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan Abdul Latif bin Abdulaziz al-Sheikh, “telah mengeluarkan keputusan penangguhan pendidikan, program doa, khutbah, dauroh kewanitaan, dan kajian dalam halaqoh-halaqoh hafalan al-Quran di semua universitas dan masjid Kerajaan per Senin sampai pemberitahuan selanjutnya.”

SPA menambahkan bahwa keputusan itu dirilis sebagai upaya menjaga kesehatan para pelajar dan jemaah dan demi menyokong upaya-upaya antisipasi yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait untuk melawan penyebaran wabah virus corona.

Hingga Ahad malam Saudi mencatat 11 kasus baru corona, namun belum terpantau adanya pasien meninggal.

Dalam rangka ini pula, Otoritas Hiburan Umum Saudi (GEA) mengumumkan penutupan kawasan Boulevard dan kawasan Winter Windland.

Sementara itu, otoritas wilayah Najran di selatan negara ini mengumumkan bahwa Dirjen Urusan Kesehatan dan wakilnya di wilayah ini dikarantina sambil menunggu rilis hasil tes laboratorium terkait dengan dugaan infeksi virus corona.

Kedua pejabat itu dikarantina karena pada pekan lalu telah terlibat dalam misi resmi penjalinan kontrak dengan para dokter dan teknisi di satu di antara empat negara, yaitu Italia, Korea Selatan, Mesir, dan Libanon. Empat negara ini mendapat pantauan khusus dari Kementerian Kesehatan Saudi menyusul merebaknya virus corona. (rt)

Jumlah Pengidap Virus Corona di Libanon Bertambah Menjadi 32 Orang

Libanon mencatat 4 kasus infeksi baru virus corona (Covid-19), Ahad (8/3/2020), dan dengan demikian total jumlah pengidap infeksi di negara bertambah menjadi 32 orang.

Pihak RS Universitas Rafik Hariri dalam laporan hariannya mengumumkan bahwa jumlah orang yang terinfeksi virus ini di Lebanon mencapai 32, dengan kondisi 29 di antaranya stabil, dan tiga sisanya kritis.

Laporan itu merinci bahwa RS Rafik Hariri menerima 100 kasus dalam  24 jam terakhir di mana 19 di antaranya harus masuk ruang karantina di RS, sementara sisanya dikarantina rumah. Uji laboratorium telah dilakukan pada 116 kasus, 112 di antaranya dinyatakan negatif, dan 4 lainnya positif.

Pihak berwenang Libanon memutuskan peliburan lembaga pendidikan resmi dan swasta di semua tingkatannya hingga 14 Maret. Negara ini juga menutup pusat hiburan, klub olahraga, klub malam, bioskop, pameran, teater, konferensi dan lain-lain demi membendung penyebaran virus corona yang kini melanda berbagai negara dunia. (alalam)