Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 8 Juli 2019

iran vs ASJakarta, ICMES: Washington pernah diam-diam melayangkan beberapa pesan kepada Teheran agar Iran tidak membalas jika AS melancarkan “serangan terbatas” sekedar untuk menjaga pamor Negeri Paman Sam.

Asistensi Pelaksana Komandan Pasukan Pertahanan Udara Iran Brigjen Abol Fazl Sepehrirad menyatakan bahwa penggunakan kemampuan dan fasilitas lokal merupakan satu titik kekuatan pertahanan udara negara republik Islam ini.

Iran mengumumkan akan segera mulai memperkaya uranium di luar batas yang ditentukan dalam perjanjian nuklir tahun 2015 yang ia teken bersama dengan sejumlah negara  terkemuka dunia.

bersumbar pada tahap mendatang akan banyak kejutan senjata-senjata baru yang,  menurutnya, akan menciptakan kondisi baru dalam perimbangan kekuatan militer Yaman melawan pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi.

Berita selengkapnya:

Lucu, AS Diam-Diam Minta Iran Tak Membalas Jika Diserang Sekedarnya

Dalam perkembangan pasca penembakan jatuhan drone pengintai Amerika Serikat (AS) oleh pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Washington pernah diam-diam melayangkan beberapa pesan kepada Teheran agar Iran tidak membalas jika AS melancarkan “serangan terbatas” sekedar untuk menjaga pamor Negeri Paman Sam.

“Setelah penembak jatuhan drone, Washington meminta kami untuk tidak membalas serangan terbatasnya demi menjaga air muka pejabat AS atas penembakan drone AS oleh rudal Iran di ‘udara internasional’,” ungkap Ketua Badan Pertahanan Sipil IRGC Brigjen Gholam Reza Jalali, seperti dilansir Al-Alam, Ahad (7/7/2019).

Tanpa menyebutkan nama negara, Jalali menjelaskan bahwa pesan-pesan itu disampaikan oleh AS kepada Iran melalui jalur-jalur diplomatik. Menurutnya, pesan-pesan itu menyebutkan bahwa AS bermaksud melancarkan “reaksi serangan terbatas di kawasan yang tak terlalu penting semata-mata demi menjaga air mukanya sembari meminta Iran untuk tidak membalas serangan.”

Namun, lanjut Jalali, Teheran menanggapi permintaan itu dengan menekankan bahwa “serangan dalam bentuk apapun” akan dianggap oleh Iran sebagai “pernyataan perang sehingga akan dibalas.”

“Telah kami sampaikan kepada mereka (AS) bahwa kamilah yang akan menentukan medan laga, dan jika kalian (AS) memulai perang maka kamilah yang akan mengumumkan batas akhirnya,” ujar Jalali.

Mengomentari penyingkapan rahasia AS oleh petinggi IRGC ini, Pemimpin Redaksi media online Rai al-Youm yang berbasis di London, Inggris, Abdel Bari Atwan merilis artikel yang diawali dengan pengakuan bahwa dia sama sekali tidak meragukan pernyataan Gholam Reza Jalali tersebut.

Atwan menduga Oman sebagai negara yang menjadi mediator dalam penyampaian permintaan AS kepada Iran agar tidak membalas serangan AS.

Seperti diketahui, pada akhir bulan lalu IRGC merontokkan pesawat nirawak pengintai AS dengan sistem pertahanan udara buatan lokal yang dinamai “Khordad 3” karena drone seharga ratusan juta Dolar AS itu melanggar zona udara Iran sejauh 7 kilometer. IRGC kemudian memamerkan serpihan drone kepada khalayak dunia sebagai bukti bahwa serpihan itu jatuh di wilayah Iran sehingga IRGC dapat leluasa mencari dan memungutnya.

Beberapa hari kemudian Presiden AS Donald Trump mengaku telah menginstruksikan serangan ke tiga situs nuklir dan militer Iran namun membatalkan instruksi itu pada menit-menit terakhir dengan dalih demi menghindari jatuhnya ratusan korban jiwa di Iran. (alalam/raialyoum)

Militer Iran: Pengandalan Kemampuan Lokal Adalah Titik Kekuatan Kami

Asistensi Pelaksana Komandan Pasukan Pertahanan Udara Iran Brigjen Abol Fazl Sepehrirad menyatakan bahwa penggunakan kemampuan dan fasilitas lokal merupakan satu titik kekuatan pertahanan udara negara republik Islam ini.

Dalam pernyataannya pada pembukaan pameran pasukan pertahanan udara Iran, Ahad (7/7/2019), dia menyebutkan bahwa titik kekuatan itu adalah berkat jerih payah tiada henti Angkatan Bersenjata Iran di berbagai bidang dan di semua penjuru negeri mullah ini.

“Musuh memiliki niat buruk menciptakan kesulitan atau bahkan untuk menghentikan produksi sarana pertahanan vital (Iran), tapi Angkatan Berenjata berhasil melakukan tindakan-tindakan yang efektif untuk memperkuatan daya tempur khusus di bidang pertahanan udara,” paparnya.

Jenderal Sepehrirad juga memastikan bahwa kubu musuhnya yang direpresentasikan oleh AS dan Israel mencermati gerak-gerik Iran di bidang militer dan pertahanan.

“Musuh memantau semua tindakan kami, dan biarlah mereka yakin bahwa jika mereka merasakan Angkatan Bersenjata kami mengalami suatu kelemahan di bagian tertentu maka mereka masuk dan menyerang kami dari dari sana,” tuturnya.

Ketegangan meningkat tajam antara Teheran dan Washington dalam beberapa pekan terakhir, setahun setelah AS keluar dari kesepakatan nuklir antara Iran dan negara-negara terkemuka dunia untuk membatasi program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi keuangan internasional.

Presiden AS Donald Trump menyerukan perundingan dengan rezim Iran “tanpa prasyarat,” tapi Teheran menolaknya sembari menegaskan bahwa Trump harus kembali kepada perjanjian itu jika ingin bernegosiasi.

Suasana semakin tegang antara kedua negara setelah pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menembak jatuh drone pengintai kebanggan AS di atas Selat Hormuz. (alalam)

Iran Segera Perkaya Uranium Melebihi Batasan Perjanjian Nuklir 2015

Iran mengumumkan akan segera mulai memperkaya uranium di luar batas yang ditentukan dalam perjanjian nuklir tahun 2015 yang ia teken bersama dengan sejumlah negara  terkemuka dunia.

Langkah itu dilakukan pada Ahad (7/7/2019) sebagai bagian dari upaya Iran menekan Eropa agar menyelamatkan perjanjian itu setelah AS menarik diri darinya pada tahun lalu dan menerapkan kembali berbagai sanksi terhadap Teheran, termasuk di sektor minyak dan perbankan.

Pada Sabtu lalu juru bicara Badan Tenaga Atom Iran, Behrouz Kamalvandi, mengatakan persiapan teknis untuk pengayaan uranium dengan volume baru akan selesai “dalam beberapa jam dan pengayaan lebih dari 3,67 persen akan dimulai”.

“Dan besok pagi-pagi, ketika IAEA (pengawas nuklir PBB) mengambil sampel kita akan melampaui 3,67 persen,” katanya kepada wartawan di Teheran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran akan terus mengurangi komitmennya setiap 60 hari kecuali jika negara-negara penandatangan perjanjian nuklir itu melindungi Iran dari sanksi AS yang dijatuhkan oleh Presiden AS Donald Trump. (aljazeera)

Ungkap Senjata Baru, Yaman Pastikan Akan Terus Ada “Kejutan” Untuk Saudi dan Sekutunya

Ketua Dewan Tinggi Politik Yaman Mahdi al-Mashat meresmikan pameran industri militer “Syahid Salih al-Samad” di Sana, ibu kota Yaman, Ahad (7/7/2019).

Pada kesempatan itu al-Mashat bersumbar pada tahap mendatang akan banyak kejutan senjata-senjata baru yang,  menurutnya, akan menciptakan kondisi baru dalam perimbangan kekuatan militer Yaman melawan pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi.

Dia menekankan bahwa senjata-senjata baru itu jelas akan memperkuat militer Yaman hingga dapat mengubah jalannya perang karena senjata-senjata itu merupakan alutsista “pencegah dan penting.”

Dia kemudian memamerkan beberapa senjata baru, termasuk rudal bersayap (cruise) “Quds-1” dan pesawat nirawak (drone) pengintai Samad-3 dan Samad-1  serta pesawat nirawak pembom Qasef K-2.

Sumber-sumber militer Yaman menyebutkan bahwa senjata-senjata baru itu menampilkan perkembangan signifikan dalam sejarah kekuatan militer Yaman, terutama senjata-senjata yang telah berhasil diujicoba lalu terbukti efektivitasnya di medan pertempuran sebelum diumumkan secara resmi keberadaannya, serta memiliki teknologi mutakhir.

Pakar militer Yaman Abed Mohammad al-Thaur menyebut rudal Quds sebagai pesan kebangsaan dan ke-Araban terhadap Saudi dan sekutunya sekaligus pesan kepada masyarakat internasional bahwa pasukan Yaman mampu mengendalikan perang dan mencapai tujuan-tujuan yang diinginkannya.

Sementara itu, Pasukan Drone Yaman dilaporkan telah melancarkan lagi beberapa serangan drone ke bandara Abha dan Jizan di bagian selatan Arab Saudi.

Juru bicara militer Yaman yang bersekutu dengan gerakan Ansarullah (Houthi, Brigjen Yahya Sarie), mengatakan bahwa Qasif K-2 telah dikerahkan lagi untuk menggempur posisi-posisi militer penting di kedua bandara tersebut.  Dia juga memastikan bahwa serangan yang tak lain merupakan balasan atas invasi militer dan blokade pasukan koalisi terhadap Yaman itu tepat mengena sasaran sehingga menghentikan navigasi udara di kedua bandara tersebut. (alalam)