Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 8 April 2019

iran IRGCJakarta, ICMES: Menanggapi kemungkinan Amerika Serikat mencatumkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam daftar kelompok teroris, komandan IRGC Mayjen Ali Jafari menegaskan bahwa jika AS melakukan tindakan “bodoh” tersebut maka sejak itu pula tentara AS tidak akan lagi menikmati rasa tenang lagi.

Laman intelijen militer Israel ini menyatakan bahwa konsekuensi dan dampak keputusan AS itu akan terlihat di Timur Tengah, terutama di Suriah dan Irak, dan merupakan pertama kalinya dalam sejarah.

Serangan udara terbaru aliansi Arab Saudi-Uni Emirat Arab ke kawasan Sa’wan, Sanaa, ibu kota Yaman, telah menewaskan sedikitnya 13 warga sipil dan melukai lebih dari 90 warga lainnya.

Pasukan Haftar di Libya mengaku mulai melancarkan serangan udara di pinggiran Tripoli, sementara pasukan kubu al-Wefaq mengaku melancarkan “serangan balik” untuk mempertahankan kota itu.

Berita selengkapnya:

IRGC Dan Menlu Iran Ancam Tentara AS Di Timteng

Menanggapi kemungkinan Amerika Serikat (AS) mencatumkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam daftar kelompok teroris, komandan IRGC Mayjen Ali Jafari menegaskan bahwa jika AS melakukan tindakan “bodoh” tersebut maka sejak itu pula tentara AS tidak akan lagi menikmati rasa tenang lagi di “Asia Barat” (Timur Tengah).

“Jika AS melakukan tindakan sedemikian bodoh dan mengancam keamanan nasional kami maka sesuai strategi Republik Islam (Iran) kami akan melakukan tindakan setimpal dan akan menerapkannya secara operasional,” tegas Jafari saat ditanya tentang kemungkinan tersebut, sebagaimana dilansir situs Sepah News milik IRGC, dan dikutip al-Alam, Ahad (7/4/2019).

Dia melanjutkan, “Dalam kondisi demikian tentara dan pasukan keamanan AS di kawasan Asia Barat tidak akan lagi menikmati ketentraman.”

Senada dengan ini, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif di hari yang sama mengingatkan bahwa tindakan AS mencantumkan IRGC dalam daftar teroris akan membuat AS terjerumus dalam petaka baru.

Menurut Zarif, kelompok-kelompok pendukung Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berusaha membujuk AS agar melakukan tindakan tersebut.

Di halaman Twitter-nya Zarif mengunggah dua video berita yang satu di antaranya berkenaan dengan dukungan dana kepada Presiden AS Donald Trump oleh pengusaha tersohor AS yang getol menyokong Israel, Sheldon Adelson,  dan yang lain berkenaan dengan pengakuan Penasehat Keamanan AS John Bolton bahwa dia tidak menyesali peranannya dalam serangan ke Irak.

Setelah itu Zarif menyebutkan bahwa orang-orang yang mengutamakan Netanyahu dan sudah lama berusaha mencantumkan IRGC dalam daftar organisasi teroris tahu persis resiko tindakan bagi terhadap pasukan AS di kawasan Timteng.

“Sebagai representasi baginya (Netanyahu) mereka berusaha menyeret AS ke rawa… Donald Trump sebaiknya mengetahui hal ini sebelum menjerumuskan AS ke dalam rawa,” tulis Zarif.

Sebelumnya, surat kabar Wall Street Journal mengutip pernyataan sumber-sumber terpercaya bahwa Washington berusaha mencatumkan IRGC dalam daftar organisasi teroris. (alalam/raialyoum)

Ini Dampak Pencantuman IRGC Dalam Daftar Teroris, Menurut Website Israel

Mengenai kemungkinan Amerika Serikat (AS) pada hari ini Senin (8/4/2019) mengumumkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai organisasi teroris, website Debka menyebutkan beberapa konsekuensi serius keputusan itu bagi kawasan Timur Tengah.

Laman intelijen militer Israel ini, Sabtu (6/4/2019), menyatakan bahwa konsekuensi dan dampak keputusan itu akan terlihat di Timur Tengah, terutama di Suriah dan Irak, dan merupakan pertama kalinya dalam sejarah di mana sebuah lembaga militer suatu “negara asing” dinyatakan sebagai organisasi teroris sehingga Iran segera meresponnya dengan ancaman langsung terhadap AS, baik terkait dengan pasukan keamanan maupun tentara AS secara keseluruhan.

Situs intelijen Israel ini menduga kuat bahwa pasukan AS akan menyerang IRGC yang tersebar di Timur Tengah, terutama di Irak dan Suriah, dan ini akan mempengaruhi ekonomi dan ekspor minyak Iran sehingga yang menjadi target juga sektor ekonomi, bukan hanya politik atau militer.

Debka menyebutkan bahwa jika AS jadi menyetujui rencana itu maka bank-bank Irak dan Eropa akan terpengaruh, terutama mereka yang berurusan dengan mitra-mitranya dari Iran, demikian pula orang-orang secara individu menjalin transaksi dengan Teheran.

Terkait dengan Israel, Debka menilai keputusan itu akan meningkatkan serangan Israel terhadap pasukan Iran di Suriah, termasuk kemungkinan perluasannya ke daerah-daerah di Irak barat dengan alasan bahwa beberapa kelompok milisi Syiah pendukung Iran berkonsentrasi di kawasan ini.

Jumat lalu surat kabar Wall Street Journal mengutip keterangan sumber-sumber terpercaya bahwa AS bermaksud mencatumkan IRGC dalam daftar organisasi teroris. Laporan ini segera mendapat tanggapan keras dari IRGC dan pemerintah Iran. (raialyoum)

Serangan Aliansi Saudi-UEA Ke Ibu Kota Yaman Tewaskan Belasan Siswa Dan Warga Sipil

Departemen Kesehatan Yaman mengumumkan bahwa serangan udara aliansi Arab Saudi-Uni Emirat Arab ke kawasan Sa’wan, Sanaa, ibu kota Yaman, telah menewaskan sedikitnya 13 warga sipil dan melukai lebih dari 90 warga lainnya.

Dilaporkan bahwa aliansi agresor itu pada Minggu pagi(7/4/2019) telah membantai siswa dan warga sipil dalam serangan udara ke daerah permukiman sekolah di lingkungan Sa’wan sehingga menewaskan 13 warga Yaman yang sebagian besar adalah siswa.

“Hasil pembantaian sadis yang dilakukan oleh jet tempur pasukan agresor ke daerah permukiman Sa’wan adalah 13 korban tewas yang sebagian besar adalah siswa Sekolah Syahid  Mohammed Hussein Al-Rai, dan lebih dari 90 orang terluka,” ungkap Juru Bicara Departemen Kesehatan Yaman Yusuf al-Hadiri.

Dia menambahkan, “Kejahatan yang meningkat menjadi kejahatan perang ini terjadi tepat pada peringatan Hari Kesehatan Dunia pada 7 April yang slogannya adalah ‘kesehatan bagi semua orang’, pasukan koalisi agresor justru merayakannya dengan potongan tubuh dan darah anak-anak kecil dan kaum perempuan.”

Al-Hadiri lantas menyerukan kepada masyarakat internasional agar menunaikan kewajiban dan tanggungjawabnya di depan kejahatan aliansi Saudi-UEA terhadap bangsa Yaman. (alalam)

Pasukan Haftar Mulai Lancarkan Serangan Udara Ke Tripoli

Dewan Tinggi Rekonsiliasi di Tripoli, ibu kota Libya, meminta para orang tua, tokoh dan agamawan di wilayah timur negara ini agar menarik anak-anak mereka dari pasukan yang dipimpin oleh Khalifa Haftar agar “tidak menjadi bahan bakar perang”.

Dalam sebuah statemen yang dirilis Minggu (7/4/2019), dewan itu menyatakan bahwa di saat bangsa Libya berharap gejolak politik di negara ini dapat diselesaikan melalui proses dialog yang disponsori PBB, penduduk Tripoli dan bahkan khalayak dunia dikejutkan oleh pergerakan pasukan Haftar menuju Tripoli.

Statemen itu menyebutkan bahwa Tripoli dihuni oleh lebih dari setengah populasi Libya, dan menyerukan kepada Dewan Presiden Pemerintah Rekonsiliasi (al-Wefaq) yang diakui secara internasional agar bertanggungjawab melindungi warga sipil.

Dewan yang dibentuk pada Februari 2016 untuk menggalang rekonsiliasi dan perdamaian ini juga meminta para tokoh, agamawan, pejabat tinggi dan para bijakawan dari kawasan timur Libya agar bertanggungjawab dan berperan untuk mencegah perang dan pertumpahan darah sesama anak bangsa.

Sebelumnya di hari yang sama, juru bicara pasukan pemerintah koalisi, Kolonel Mohammed Qannouno, memulai operasi militer “Gunung Api Amarah”  untuk menghalau pasukan Haftar.

Pada Sabtu lalu terjadi kontak senjata sengit di pinggiran Tripoli dan kemudian pasukan Al-Wefaq berhasil merebut kembali posisi-posisinya yang sempat jatuh ke tangan pasukan Haftar pada hari Jumat.

Ahad kemarin pasukan Haftar mengaku pihaknya mulai melancarkan serangan udara di pinggiran Tripoli, sementara pasukan kubu al-Wefaq mengaku melancarkan “serangan balik” untuk mempertahankan ibukota.

Menurut Kementerian Kesehatan pemerintahan rekonsiliasi nasional yang bermarkas di Tripoli, sedikitnya 21 orang tewas dan 27 lainnya luka-luka sejak terjadi serangan pasukan Haftar ke Tripoli.  (raialyoum)