Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 7 Maret 2022

Jakarta, ICMES. Seruan penghentian perang di Ukraina yang disampaikan oleh Imam Besar Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Syeikh Ahmad Al-Tayeb mendapat beragam komentar dari warganet Arab, yang umumnya menanggapi dengan reaksi dingin dan menganggapnya bersikap tebang pilih.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov mengatakan bahwa negara mana pun yang mengizinkan angkatan udara Ukraina menggunakan bandaranya untuk menyerang Rusia akan dianggap terlibat dalam konflik.

Jurnalis surat kabar Israel Haaretz Amos Harel mamaparkan rincian wawancaranya dengan mantan menteri luar negeri Israel, Israel Katz, yang mengungkap adanya hubungan presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi dengan dinas rahasia Israel MOSSAD.

Berita Selengkapnya:

Heboh, Serukan Penghentian Perang di Ukraina, Imam Besar Al-Azhar Malah Dikecam Warganet

Seruan penghentian perang di Ukraina yang disampaikan oleh Imam Besar Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Syeikh Ahmad Al-Tayeb mendapat beragam komentar dari warganet Arab, yang umumnya menanggapi dengan reaksi dingin dan menganggapnya bersikap tebang pilih.

Al-Tayeb untuk pertama kalinya  di Twitter dan Facebook pada Sabtu lalu (5/3) menyampaikan seruan kepada masyarakat internasional untuk menggandakan bantuan kemanusiaan ke Ukraina dan meningkatkan upaya untuk menghentikan konflik Rusia-Ukraina.

Dengan menggunakan bahasa Ukraina, dalam seruan itu Al-Tayeb menyatakan, “Apa yang kami saksikan berupa intimidasi terhadap orang-orang Ukraina yang semula aman dan keluarnya mereka dari kampung halaman mereka untuk mencari aman merupakan ujian yang nyata bagi kemanusiaan kita. Saya menyerukan kepada masyarakat internasional agar menggandakan bantuan kemanusiaan untuk Ukraina, dan menambah upaya untuk penghentian perang. Saya memohon kepada Allah semoga Dia mempercepat hal itu dan mereka yang tak berdosa itu dapat pulang ke rumah-rumah mereka dengan selamat.”

Seruan ini ditanggapi dingin dan bahkan kritis oleh banyak warganet Arab,  sementara Kedubes  Ukraina di Kairo segera membagikan seruan itu melalui akunnya di Facebook dan Twitter.

Warganet Arab menanggapi demikian karena menganggap Al-Tayeb tak berbuat hal yang sama terkait dengan kasus-kasus kekerasan di berbagai negara lain, termasuk di India, Suriah, Palestina dan Yaman.

Sebagai contoh, seorang warganet Arab menyoal; “Bagaimana dengan Uyghur, Rohingnya dan Muslimin India? Apakah mereka itu datang ke kita dari bulan, dan persaudaraan keagamaan tak menghubungkan kita dengan mereka? Bukankah yang lebih utama ialah kita bangkit terhadap orang-orang Hindu yang mengintimidasi Muslimat sebelum kita melihat urusan kaum perempuan Kristen Ukraina, wahai Syeikh Al-Azhar?

Seorang warganet Arab lain, sembari mengaku tak bersimpati kepada orang-orang Ukraina kecuali anak-anak kecilnya, menyatakan, “Rasisme mereka terhadap Arab dan Afrika (terlihat) di perbatasan Polandia, dan dukungan mereka kepada entitas pendudukan (Israel) atas bangsa Palestina membuat kita mengatakan, ‘Mereka jatuh cinta (kepada Israel) dengan hati yang beku.’”

Warganet Arab berikutnya, pengguna akun Rania Al-Assal, berkomentar pedas dengan menyatakan, “#Syekh Al-Azhar. Saya mulai percaya bahwa dia sudah seperti orang Barat, bersimpati kepada orang-orang bermata biru. Lantas bagaimana dengan Yaman? Orang-orang yang semula aman diintimidasi oleh jet-jet tempur Saudi, Uni Emirat Arab dan Amerika, serta diblokade selama delapan tahun.”

Pengguna akun Yasser Ammar menyatakan, “Wahai Syeikh yang mulia, pada kita ada orang-orang Suriah yang memerlukan bantuan, juga orang-orang Palestina dan Yaman, tapi Anda tak berani tampil dan membuat pernyataan seperti ini. Cukuplah bagi kami Allah sebagai sebaik-baik Penolong dan Sandaran. Seandainya mereka (orang-orang Ukraina) tak bermata biru dan tak berambut pirang…”

Pengguna akun Ahmad Kami menyatakan, “Syeikh Al-Azhar seharusnya lebih mengutamakan desakan kepada Barat untuk tidak rasis dan supaya menyadari bahwa manusia itu setara.”

Dia juga menegaskan, “Lebih patut Anda mengatakan; Barat ribut dan tak tidur malam akibat perang Rusia-Ukraina, tapi mengapa kalian melibat diri dalam penghancuran negara-negara Arab? Anda lebih patut menuntut demikian, bukan malah memintakan bantuan untuk Ukraina saja, atau sebutkanlah pula negara-negara mana saja yang telah dihancurkan menjadi puing-puing!”

Sementara itu, ada pula warganet Arab yang antusias menanggapi seruan Syeikh Al-Tayeb. Pengguna akun Abdulkhaleq_UEA di Twitter menyatakan, “Ini adalah pendirian moral dan kemanusiaan yang berani dari Syeikh Al-Azhar sebagai bentuk simpati kepada rakyat Ukraina yang memang layak mendapatkan segala bentuk dukungan.” (raialyoum)

Rusia Beri Peringatan Keras terhadap Pihak yang Membiarkan Bandaranya Dipakai AU Ukraina

Juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov mengatakan bahwa negara mana pun yang mengizinkan angkatan udara Ukraina menggunakan bandaranya untuk menyerang Rusia akan dianggap terlibat dalam konflik.

“Penggunaan jaringan bandara negara-negara ini sebagai pangkalan untuk pesawat militer Ukraina, dan penggunaan selanjutnya terhadap angkatan bersenjata Rusia, dapat dilihat sebagai partisipasi negara-negara ini dalam konflik bersenjata,” ujar Konashenkov, seperti dikutip Interfax, Ahad (6/3).

Sehari sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin memperingatkan bahwa negaranya akan mempertimbangkan deklarasi pihak ketiga tentang zona larangan terbang di angkasa Ukraina sebagai partisipasi dalam perang di sana.

Dia mengatakan Rusia akan melihat “setiap langkah ke arah ini” sebagai intervensi yang “akan menimbulkan ancaman bagi anggota layanan kami.”

“Saat itu juga, kami akan melihat mereka sebagai peserta konflik militer, dan tak peduli siapa anggota mereka,” kata Putin dalam pertemuan dengan para pilot wanita.

Presiden Ukraina telah memohon zona larangan terbang di atas negaranya dan mengecam NATO karena tak bersedia memberlakukannya. Dia memperingatkan bahwa “semua orang yang mati mulai hari ini juga akan mati karena Anda (NATO).”

Di bagian lain, Putin memastikan kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron bahwa Rusia “tak mungkin” menyerang pembangkit listrik tenaga nuklir di Ukraina, termasuk Chernobyl, menurut keterangan kantor kepresidenan Prancis Elysee pada hari Ahad menyusul kontak telepon antara Putin dan Macron selama 1 jam 45 menit.

“Presiden Putin mengatakan bahwa dia tidak memiliki rencana untuk melancarkan serangan ke stasiun-stasiun ini,” ungkap  Elysee.

Elysee menambahkan bahwa Putin juga mengaku siap menghormati standar Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) untuk melindungi stasiun-stasiun ini, setelah pada tanggal 4 Maret lalu pembangkit listrik tenaga nuklir Ukraina, Zaporizhia, dilaporkan terkena serangan serangan pasukan Rusia.

Putin juga memastikan kepada Macron bahwa Rusia akan “mencapai tujuannya” di Ukraina “baik melalui negosiasi maupun melalui perang”, menurut Elysee, menyusul panggilan telepon tersebut.

Kepresidenan Prancis mengatakan bahwa Macron mencatat bahwa Putin “sangat bertekad untuk mencapai tujuannya”, termasuk “apa yang disebut presiden Rusia ‘de-Nazifikasi’ dan mencapai netralitas Ukraina,” selain mengakui kemerdekaan Krimea dan Donbass, yang merupakan tuntutan yang menurut Paris “tak dapat diterima oleh Ukraina”.

Dalam panggilan telefon itu Putin juga membantah kabar bahwa pasukan Rusia menyerang warga sipil di Ukraina. (raialyoum/cbsnews)

Jurnalis Israel Bongkar Hubungan Rahasia Presiden Pelarian Yaman dengan MOSSAD

Jurnalis surat kabar Israel Haaretz Amos Harel mamaparkan rincian wawancaranya dengan mantan menteri luar negeri Israel, Israel Katz, yang mengungkap adanya hubungan presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi dengan dinas rahasia Israel MOSSAD.

Dikutip Al-Alam, Ahad (6/3), Harel di situs pribadinya menjelaskan bagaimana Katz mengungkapkan informasi rahasia dan penting tentang kebijakan Israel di Laut Merah dan perannya dalam perang Yaman, termasuk hubungan erat antara Hadi dan MOSSAD, serta kunjungannya berulang kali ke Tel Aviv.

Saat menjawab pertanyaan Harel tentang perang di Yaman, Katz mengatakan, “Kami tidak memiliki sekutu yang dapat diandalkan di Yaman. Kami memiliki hubungan dekat dengan Hadi, tapi dia tidak mampu memimpin perang melawan Houthi (Ansarullah). Ketika perang dimulai, dia (Hadi) mengunjungi Israel dengan bantuan Yordania dan Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi.”

Dia menjelaskan, “Dalam kunjungan ini kami mencapai kepemahaman, tapi masalahnya adalah bahwa dia bukan pemimpin yang berani dan kuat. Seandaipun Anda memberinya pasukan, dia pasti akan dikalahkan. Tapi tak dapat diabaikan bahwa Israel dan  Saudi tidak memiliki alternatif yang cocok untuknya, dan karena itu dukungan untuknya akan tetap ada dalam agenda kami.”

Katz mencontahkan, “Misalnya, pertempuran di Hudaydah adalah hasil kunjungan kedua (Hadi) ke Tel Aviv. Selama pertempuran ini, kami dapat mengkoordinasikan dengan baik Arab Saudi dan UEA dengan dia, tapi pertempuran ini tidak mencapai hasil yang kami diinginkan.”

Katz juga mengatakan, “Hal ini tak membahayakan hegemoni negara kita di Laut Merah; perang di Yaman sebenarnya lebih merupakan perang UEA dan Saudi di Yaman daripada perang regional, dan Houthi dapat dengan mudah merangkak ke jantung Saudi, dan ini merupakan sumber keprihatinan bagi otoritas  Saudi.”

Dia lantas menandaskan, “Sumber utama keprihatinan Israel di Laut Merah adalah menguatnya Houthi di kawasan, dan ini juga merupakan akibat ketidakmampuan pemerintah Saudi, terutama Mohammed bin Salman.” (mm/alalam)