Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 6 Juli 2020

iran-israelJakarta, ICMES. Rezim Zionis Israel mengaku lebih baik bungkam terkait dengan insiden ledakan yang terjadi pada Kamis pekan lalu di komplek nuklir Natanz milik Iran.

Otoritas Iran menyatakan penyebab insiden ledakan dan kebakaran di fasilitas nuklir itu telah ditemukan, namun sejauh ini masih dirahasiakan karena alasan keamanan.

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan negara ini telah membangun pangkalan rudal bawah tanah di sepanjang pantainya di Teluk Persia dan Laut Oman.

Pasukan kubu pro-Arab Saudi di bagian utara dan tengah Yaman mengalami tekanan hebat dan terpaksa mundur secara massal secara massal dari beberapa daerah di provinsi Al-Bayda dan Ma’rib.

Berita selengkapnya:

Tanggapi Insiden Fasilitas Nuklir Iran, Israel Mengaku Lebih Baik Bungkam

Rezim Zionis Israel mengaku lebih baik bungkam terkait dengan insiden ledakan yang terjadi pada Kamis pekan lalu di komplek nuklir Natanz milik Iran.

Saat diminta berkomentar mengenai insiden itu, Ahad (6/7/2020), Menteri Luar Negeri Israel Gabi Ashkenazi menyatakan negaranya memiliki kebijakan jangka panjang terkait dengan apa yang disebutnya “banyak pemerintahan tidak membiarkan Iran memiliki kemampuan nuklir”.

“Rezim (Iran) dengan kemampuan-kemampuan ini adalah ancaman eksistensial bagi Israel, dan Israel tidak dapat membiarkannya membangun dirinya di perbatasan utara kami,” sumbarnya, seperti dikutip The Jerussalem Post.

Dia lantas menyatakan bahwa karena itu Israel “mengambil tindakan yang lebih baik dibiarkan tidak terungkap”.

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz juga cenderung menolak berkomentar tentang insiden di fasilitas nuklir Iran tersebut.

“Tidak setiap insiden yang terjadi di Iran pasti ada hubungannya dengan kami, semua sistem itu rumit. Mereka memiliki kendala keamanan yang sangat tinggi, dan saya tidak yakin mereka selalu tahu bagaimana cara mempertahankannya,” ujarnya kepada Army Radio, Ahad.

“Semua orang bisa saja curiga kepada kami sepanjang waktu, tapi tidak setiap insiden yang terjadi di Iran pasti ada hubungannya dengan kami,” imbuhnya.

Gantz kemudian juga memastikan Israel bertekad dengan segala cara untuk mencegah Iran menjelma menjadi kekuatan nuklir.

“Kami terus bertindak di semua lini untuk mengurangi kemungkinan bahwa Iran akan menjadi kekuatan nuklir, dan kami akan terus melakukan bagian ini untuk melindungi keamanan kami,” tegasnya.

Dia melanjutkan “Nuklir Iran adalah ancaman bagi dunia dan kawasan, juga ancaman bagi Israel, dan kami akan melakukan segalanya untuk mencegah hal itu terjadi. Dan kami akan melakukan segala yang mungkin untuk mencegah Iran menyebarkan terorisme dan senjata, tapi saya tidak mengacu pada setiap peristiwa.”

Sebelumnya, berbagai media Israel mengangkat dugaan adanya serangan cyber dari Israel terkait dengan insiden di fasilitas nuklir Natanz.

Media Iran yang dekat dengan pasukan elit negara ini lantas menanggapinya dengan menyatakan bahwa menangkat nama Israel dalam kasus ini tak ubahnya dengan menempatkan negara Zionis ilegal itu pada resiko untuk mengalami hal yang sama.

Kepala Organisasi Pertahanan Sipil Iran Gholamreza Jalali Kamis lalu mengatakan ” Jika terbukti bahwa negara kami telah menjadi sasaran serangan cyber, kami akan merespons.” (jp)

Iran Masih Rahasiakan Penyebab Kebakaran di Fasilitas Nuklirnya

Juru Bicara Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran (SNSC) Keyvan Khosravi, Ahad (5/7/2020), menyatakan penyebab insiden ledakan dan kebakaran di fasilitas nuklir Natanz milik negara ini telah ditemukan, namun sejauh ini masih dirahasiakan karena alasan keamanan.

Dia menjelaskan bahwa para ahli Iran dari berbagai organisasi telah meninjau fasilitas itu segera setelah insiden itu terjadi pada Kamis pekan lalu, dan telah menentukan penyebab utama insiden itu, tapi akan diumumkan di kemudian hari.

Menurutnya, tidak ada bahan nuklir di tempat itu, dan dugaan adanya kebocoran bahan radioaktif juga telah dibantah.

Juru Bicara Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) Behrouz Kamalvandi Kamis lalu menyatakan insiden yang terjadi di fasilitas nuklir Natanz tidak menyebabkan kerusakan besar, dan situs beroperasi seperti biasa.

Dia juga menyebutkan bahwa insiden itu terjadi di salah satu gudang yang sedang dibangun di fasilitas nuklir Natanz.

“Salah satu gudang yang sedang dibangun di area terbuka fasilitas nuklir Natanz rusak pagi ini, dan penyelidikan atas kasus ini sedang berlangsung,” ujarnya.

Kamalvandi memastikan insiden ini tidak menjatuhkan korban, dan tidak pula mengganggu kegiatan fasilitas saat ini.

Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Nuklir Natanz berada di area seluas 100.000 meter persegi, dibangun delapan meter di bawah tanah, dan merupakan satu di antara beberapa fasilitas Iran yang dipantau oleh pengawas nuklir PBB. (fna)

Iran Ungkap Keberadaan Pangkalan Rudal Bawah Tanahnya di Sepanjang Pantai Teluk Persia

Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan negara ini telah membangun pangkalan rudal bawah tanah di sepanjang pantainya di Teluk Persia dan Laut Oman sehingga menjadi “mimpi buruk bagi musuh-musuh Iran.”

“Iran telah membangun pangkalan-pangkalan rudal darat-ke-laut di sepanjang pantai Teluk Persia dan Teluk Oman, yang akan menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuh Iran,” ungkap komandan IRGC Laksamana Ali Reza Tangsiri kepada Reuters, Ahad (5/7/2020).

Dia menambahkan, “IRGC memiliki kota-kota bawah tanah untuk meluncurkan rudal, dengan tujuan pertahanan, dan akan dipamerkan pada saat yang tepat.”

Tangsiri juga menyatakan bahwa negara musuh nomor wahidnya, Amerika Serikat, mengetahui bahwa Iran memiliki kota-kota rudal bawah tanah, “tapi tidak memiliki informasi yang detail tentang ini”.

“Kami ada di semua tempat di Teluk Persia dan Laut Oman serta di manapun yang tak terlintas dalam pikiran mereka (AS),” ujarnya.

Tangsiri memastikan intelijen Iran terus memantau perairan Teluk Persia serta mengawasi setiap kapal yang memasukinya dan melintas di Selat Hirmaz hingga keluar darinya. (mm/raialyoum/amn)

Pejuang Ansarullah Yaman Raih Kemajuan Besar di Yaman Utara

Pasukan kubu pro-Arab Saudi di bagian utara dan tengah Yaman mengalami tekanan hebat dan terpaksa mundur secara massal secara massal dari beberapa daerah di provinsi Al-Bayda dan Ma’rib dalam pertempuran melawan para pejuang Ansarullah (Houthi) dan sekutunya selama hampir satu minggu terakhir.

Pasukan Ansarullah akhir pekan lalu berhasil membuat kemajuan besar di Provinsi Marib manakala mereka merebut beberapa daerah dari tangan milisi Islah yang didukung Saudi.

Ansarullah mengumumkan bahwa pasukannya telah merebut daerah Al-Makhlaq dan Al-Hamrani setelah mematahkan pertahanan milisi itu di provinsi Ma’rib pada Sabtu sore (4/7/2020).

Dengan adanya kemajuan terbaru ini, pasukan Ansarullah kini berhasil merebut sebagian besar wilayah provinsi Marib, dan ini tentu menjadi pukulan besar bagi kubu pro- Saudi, yaitu pemerintahan presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi.

Provinsi Marib sebelumnya telah berfungsi sebagai benteng pertahanan utama pasukan yang didukung Saudi di Yaman utara.

Sebelum itu, provinsi Jawf yang bersebelahan dengan provinsi Ma’rib juga telah jatuh ke tangan pasukan Ansarullah. Kelompok pejuang yang dipimpin Abdel Malik al-Houthi ini kemudian bergerak maju kawasan sekitar kota administratif Ma’rib, dan kini pasukan kubu pro-Saudi terancam kehilangan eksistensi besarnya di Yaman utara. (amn)