Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 6 Januari 2020

soleimani dan nasrallahJakarta, ICMES.

Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengimami shalat jenazah komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Qassem Soleimani dan beberapa pejuang Iran lain yang terbunuh bersamanya akibat serangan AS.

Sekjen Hizbullah Libanon, Sayid Hassan Nasrallah, menyebut keterbunuhan Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam serangan udara AS, sebagai momen historis yang memisahkan dua fase di Timur Tengah.

Lima roket mendarat di Zona Hijau dekat Kedubes AS di Baghdad, ibu kota Irak, dini hari Senin.

Pejabat tinggi Iran menyatakan bahwa AS dan kekuatan-kekuatan imperialis lainnya akan segera mengetahui bahwa kesyahidan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Qassem Soleimani lebih berbahaya bagi mereka daripada kehidupannya.

Berita selengkapnya:

Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengimami shalat jenazah komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Qassem Soleimani dan beberapa pejuang Iran lain yang terbunuh bersamanya akibat serangan AS.

Dalam rekaman video terlihat Sang Ayatullah beserta jemaah lain terlihat khusyuk dan menangis ketika membacakan doanya untuk para arwah para jenazah dalam shalat yang didirikan di Teheran, ibu kota Iran, pada pagi hari ini, Senin (6/1/2020).

Teheran hari ini diwarnai dengan keluarnya jutaan jemaah yang mengalir dari rumah-rumah penduduk sejak dini hari untuk mengikuti shalat jenazah Sang Jenderal legendaris kebanggaan mereka.

Disebutkan bahwa setelah dishalatkan di Universitas Teheran, jenazah diarak ke Azadi Square untuk kemudian dibawa ke kota Qum.

Sebelumnya, jenazah juga telah diarak oleh jutaan penduduk di provinsi Khuzestan dan kota Masyhad. (alalam)

Nasrallah: Kesyahidan Soleimani Buka Lembaran Sejarah Baru Timteng

Sekjen Hizbullah Libanon, Sayid Hassan Nasrallah, menyebut keterbunuhan Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam serangan udara AS, sebagai momen historis yang memisahkan dua fase di Timur Tengah.

“Kamis malam, Jumat malam, adalah tanggal yang menentukan antara dua fase di kawasan. Ini merupakan awal dari fase baru dan sejarah baru, bukan untuk Iran atau Irak saja, melainkan untuk seluruh kawasan ini,” tegas Nasrallah dalam pidato di Beirut, ibu kota Libanon, Ahad (5/1/2020), pada sebuah acara belasungkawa atas gugurnya Soleimani bersama pemimpin pasukan relawan Irak Abu Mahdi al-Muhandis.

Dia menambahkan, “Di AS tak ada tokoh sebanding dengan Soleimani, sepatunya saja setara dengan kepala (Presiden AS Donald) Trump.”

Sayid Nasrallah juga menegaskan, “Pangkalan-pangkalan militer AS, kapal perang militer AS, setiap perwira AS di kawasan kita, tentara AS adalah orang yang membunuh orang-orang ini dan dialah yang harus membayar harganya….  kita bukan berhadapan dengan pembunuhan yang tak jelas, melainkan dengan kejahatan terbuka yang sangat jelas, karena orang yang memerintahkan dan melaksanakannya telah mengakuinya.”

Nasrallah mengatakan bahwa operasi pembunuhan ini terjadi “sedemikian konyol”  adalah karena dua faktor yang salah satunya adalah “kegagalan upaya-upaya pembunuhan sebelumnya”.

Dia menjelaskan bahwa sebelum serangan teror di Baghdad yang menggugurkan Soleimani dan beberapa orang yang menyertainya, termasuk al-Muhandis, upaya pembunuhan yang terakhir Soleimani terjadi di Kerman, Iran, di mana pemerintah Iran berhasil menggagalkannya serta menangkap sekelompok agen AS yang berniat melancarkan serangan teror yang dapat menewaskan 5000 orang di Husainiyah Kerman hanya demi membunuh Soleimani.

Adapun faktor kedua, lanjut Nasrallah, ialah serangkaian kondisi di kawasan Timteng dan kegagalan AS dalam perkembangan terakhir di Irak. Pembunuhan itu terjadi manakala Trump menyongsong pemilu presiden tanpa ada capaian apa pun dalam isu Iran, negara yang dia tekan habis-habisan dengan cara mundur dari perjanjian nuklir dan menerapkan embargo.

Sayid Nasrallah lantas menyebut beberapa contoh kegagalan agenda-agenda AS di Palestina, Libanon, Suriah, dan Irak berkat sepak terjang Jenderal Soleimani.

Mengenai sosok Soleimani yang melegenda, Nasrallah menyarankan kepada Menteri Luar Negeri AS Mike Pompoe, “Duduklah besok di depan layar televisi untuk menyaksikan arak-arakan paelayat di Teheran, sebagaimana Anda menyaksikannya di Ahwaz dan Masyhad hari ini.” (raialyoum)

Lima Roket Jatuh di Zona Hijau Dekat Kedubes AS di Baghdad

Lima roket mendarat di Zona Hijau dekat Kedubes AS di Baghdad, ibu kota Irak, dini hari Senin (6/1/2020).

Seorang kapten polisi Baghdad mengatakan kepada Anatolia bahwa orang tak dikenal telah menembakkan lima roket Katyusha ke kawasan yang dijaga ekstra ketat tersebut.

Sumber yang meminta namanya tidak disebutkan itu menjelaskan bahwa salah satu roket mendarat di sebuah rumah di arah yang berlawanan dengan Kedubes AS dan melukai tiga anggota keluarga, dan  menyebabkan kedutaan itu membunyikan sirenenya.

Serangan ini terjadi setelah terbunuhnya komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Qassem Soleimani dan pemimpin relawan Irak al-Hashd al-Shaabi Abu Mahdi Al-Muhandis dalam serangan udara AS di dekat bandara Baghdad pada Jumat lalu (3/1/2020).

Iran dan faksi-faksi bersenjata yang mendukungnya di Irak dan negara-negara lain telah bersumpah akan membalas dan menarget sasaran-sasaran AS di kawasan Timur Tengah.

Brigade Hizbullah Irak Sabtu lalu menyerukan kepada pasukan keamanan negara ini untuk menjauh sejarak minimal seribu meter dari keberadaan pasukan AS mulai  Minggu malam. (raialyoum)

Shamkhani: Syahid Soleimani Lebih Berbahaya bagi AS daripada Jenderal Soleimani

Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Ali Shamkhani menyatakan bahwa AS dan kekuatan-kekuatan imperialis lainnya akan segera mengetahui bahwa kesyahidan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Qassem Soleimani lebih berbahaya bagi mereka daripada kehidupannya.

Dalam pertemuan dengan utusan khusus Presiden Suriah Mayjen Ali Mamlouk di Teheran, ibu kota Iran, Ahad (5/1/2020), Shamkhani menyinggung besarnya partisipasi rakyat Irak pada prosesi pengantaran jenazah Soleimani dan Abu Mahdi Al-Muhandis.

Dia juga menyinggung ketegasan parlemen Irak dalam mengeluarkan undang-undang untuk mengeluarkan pasukan AS Irak menyusul serangan AS yang menggugurkan Soleimani dan al-Muhandis.

Menurutnya, pemerintah dan parlemen Irak telah  berinisiatif sendiri untuk membalas AS dan menjadi tamparan bagi Presiden AS Donald Trump dan tim penjahatnya.

“Dengan adanya undang-udang ini maka eksistensi keberlanjutan AS di Irak yang tak ubahnya dengan pendudukan akan berakhir,” ujar Shamkhani.

Dia juga menegaskan bahwa pembalasan Iran atas pembunuhan Jenderal Soleimani akan dilakukan dengan cara militer, “namun tidak terbatas pada aksi militer”.

Di pihak lain, Ali Mamlouk mengatakan bahwa gugurnya Soleimani menambah erat jalinan hubungan Suriah dengan Iran, dan menjadi “pendahuluan bagi pembebasan Palestina”.

“Soleimani adalah milik semua yang merdeka dan yang menentang ketidakadilan di dunia, dan tentu saja kesyahidannya merupakan awal dari pembebasan Palestina dan penghancuran entitas Israel,” ungkap Mamlouk.

Dia juga menegaskan, “Orang-orang Suriah, Lebanon, Irak, Yaman, dan Afghanistan merintih atas kesyahidan Soleimani, tidak kurang dari orang-orang Iran sendiri.” (raialyoum)