Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 6 April 2020

pendidikan di YamanJakarta, ICMES. Sedikitnya 3.526 pusat pendidikan di negara ini terkena dampak invasi militer Arab Saudi dan sekutunya yang sudah memasuki tahun keenam.

Angkatan Bersenjata Yaman membantah telah menyerang stasiun pompa minyak di provinsi pusat Ma’rib, Yaman.

Iran terpaksa memacu produksi berbagai kebutuhannya dalam memerangi pandemi COVID-19 yang melanda negara ini  di saat sanksi AS juga terus menerpanya.

Pesawat-pesawat Israel menyemprotkan pestisida kimia ke tanah pertanian di sepanjang perbatasan timur Jalur Gaza.

Berita selengkapnya:

3500-an Pusat Pendidikan Yaman Terkena Dampak Invasi Militer Saudi dan Sekutunya

Seorang pejabat tinggi Yaman menyatakan sedikitnya 3.526 pusat pendidikan di negara ini terkena dampak invasi militer Arab Saudi dan sekutunya yang sudah memasuki tahun keenam.

Seperti dilaporkan Press TV, Ahad (5/4/2020), Wakil Menteri Pendidikan Yaman Abdullah al-Naami pada konferensi pers di Sanaa, ibu kota Yaman, menyatakan bahwa serangan Saudi yang berdampak pada pendirikan itu bertujuan menyekap bangsa Yaman dalam kegelapan.

Menurutnya, pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi telah menarget guru dan siswa Yaman selama lima tahun terakhir, dan sebanyak 402 sekolah hancur total terkena operasi militer mereka.

Dia juga merinci bahwa sebanyak 1.465 pusat pendidikan mengalami kerusakan parsial, 666 lainnya terpaksa ditutup, dan 993 gedung sekolah dipakai untuk menampung para pengungsi.

Naami menambahkan serangan Saudi dan pasukan bayarannya menyasar terutama sekolah-sekolah di provinsi Ta’iz, Sa’ada, Hajjah, dan Sanaa.

Menurutnya, hampir 200.000 guru tak dapat menerima gaji akibat blokade yang diberlakukan Saudi terhadap Yaman, dan sebanyak lima juta siswa Yaman juga telah terdampak secara pendidikan dan psikologis. (presstv)

Ansarullah dan Saudi Saling Tuding Serang Fasilitas Minyak di Yaman

Juru Bicara untuk Angkatan Bersenjata Yaman Brigjen Yahya Saree membantah keras tuduhan pihak Arab Saudi bahwa tentara Yaman bersama para pejuang Lijan Shaabiyah yang berafiliasi dengan Ansarullah (Houthi) telah menyerang stasiun pompa minyak di provinsi pusat Ma’rib, Yaman.

“Sejak awal agresi brutal terhadap negara kami, kami berkomitmen menyelamatkan instalasi nasional, yang melayani semua maupun sebagian orang,” ungkap Saree, seperti dikutip stasiun televisi al-Masirah milik Ansarullah, Ahad (5/4/2020).

“Rudal dan drone kami menjangkau wilayah kedalaman musuh dan menyasar instalasi-instalasinya, tapi kami tidak pernah menyerang fasilitas nasional apapun di negara kami.”

Sebelumnya di hari yang sama, Wakil Menteri Luar Negeri Yaman, Hussein al-Ezzi, justru balik menuding pasukan koalisi pimpinan Saudi telah melakukan “eskalasi militer berbahaya” dengan menyerang stasiun pompa minyak Kofel.

Kantor berita resmi Saudi (SPA) mengklaim bahwa Ansarullah dan sekutunya telah menyerang fasilitas  pipa minyak di ladang minyak Safar di Ma’rib hingga menyebabkan kerusakan.

Jet-jet tempur pasukan koalisi pimpinan Saudi hari itu juga melancarkan sepuluh serangan udara ke distrik Hazm di provinsi al-Jawf, dan enam serangan udara ke distrik Harad di provinsi Hajjah. (presstv/raialyoum)

Tetap Dikenai Sanksi “Anti-Kemanusiaan” AS, Iran Pacu Produksi Dalam Negeri untuk Lawan COVID-19

Iran terpaksa memacu produksi berbagai kebutuhannya dalam memerangi pandemi corona (COVID-19) yang melanda negara ini  di saat sanksi AS juga terus menerpanya sehingga petinggi Iran belakangan menyebut sanksi itu sebagai “kejahatan anti- kemanusiaan”.

Menteri Perindustrian, Tambang dan Perdagangan Iran Reza Rahmani menyatakan negara ini akan meningkatkan produksi masker dari 700.000 lembar per hari sebelum wabah ini melanda menjadi 4 juta per hari pada akhir bulan ini, sementara produksi sanitizernya meningkat delapan kali lipat.

Iran adalah negara yang paling terpukul oleh pandemi ini di Timur Tengah, namun sanksi AS terhadapnya malah diperketat sejak wabah ini melanda. Karena itu, tak ada pilihan bagi Iran kecuali mengandalkan sumber daya sendiri untuk mengatasi krisis.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran Kianoush Jahanpour, Ahad (5/4/2020), melaporkan kasus 2.483 infeksi baru dan 151 kematian akibat wabah ini dalam 24 jam terakhir.

Secara total, 58.226 orang di Iran dinyatakan positif COVID-19, dan dari jumlah itu 3.603 pasien meninggal, dan 22.011 lainnya pasien sembuh.

Sistem Baru Diagnosis

Sabtu lalu Iran meluncurkan sistem baru untuk diagnosis COVID-19 berbasis kecerdasan artifisial.

“Kami juga telah mampu mengembangkan metode baru dengan teknologi baru di bidang kecerdasan buatan untuk mendeteksi penyakit,” jelas Wakil Presiden Iran untuk Sains dan Teknologi Sorena Sattari.

Sistem baru ini, lanjutnya, akan membawa “perspektif baru” untuk diagnosis dan pengobatan virus.

Metode baru barbasis CT-scan ini mengemuka ketika negara ini melaporkan kekurangan ahli radiologi.

Para pejabat Iran mengatakan situasi di negara ini mulai stabil setelah dijalankankan program penyaringan dan pengujian komprehensif dan langkah-langkah lain yang diperlukan untuk mengendalikan penyebaran COVID-19.

Kejahatan Anti Kemanusiaan

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), Ali Shamkhani, menyebut berlanjutnya sanksi dan upaya AS memblokir akses Iran ke sumber daya keuangan dan lain-lain yang diperlukan untuk menahan penyebaran COVID-19 sebagai tindakan tak berprikemanusiaan.

“Memberlakukan sanksi (atas impor) barang-barang kebersihan adalah tindakan ilegal terhadap hak asasi manusia dan (tanda) Trump’s jelas permusuhan terhadap bangsa Iran,” cuit Shamkhani di Twitter, Ahad. (presstv/fna)

Lembaga HAM Palestina Kecam Penyemprotan Pestisida Kimia oleh Israel

Pesawat-pesawat Israel menyemprotkan pestisida kimia ke tanah pertanian di sepanjang perbatasan timur Jalur Gaza, Ahad (5/4/2020).

Pusat Hak Asasi Manusia Al-Mizan melaporkan bahwa operasi penyemprotan itu dimulai pada pagi hari di wilayah timur Jalur Gaza hingga perbatasan utara Jalur Gaza tengah, dan ini beresiko menimbulkan bencana bagi kehidupan warga Palestina dan masa depan produksi pertanian.

Lembaga itu menambahkan bahwa alih-alih memenuhi kewajiban hukumnya untuk menunjang sektor kesehatan Palestina dan memberikan bantuan medis dan makanan, rezim pendidikan Israel justru menghancurkan kemampuan penduduk Gaza dalam berupaya memenuhi kebutuhan pangan melalui penanaman tanah mereka.

Pusat itu  memperingatkan dampak bencana berlanjutnya penyemprotan pestisida pada kehidupan warga dan masa depan produksi pertanian serta kondisi ekonomi dan kesehatan, terutama karena operasi penyemprotan dilakukan di masa pandemi COVID-19.

Pusat HAM Al-Mizan menekankan perlunya melestarikan lingkungan untuk memperkuat upaya penyediaan makanan yang sehat dan air bersih untuk membantu memperkuat imunitas penduduk di depan virus.

Pusat ini mendesak “masyarakat internasional menunaikan kewajiban hukum dan moralnya dengan turun tangan mencegah Rezim Pendudukan terus menggunakan pestisida pertanian untuk memusnahkan tanaman warga Palestina dan membahayakan kehidupan mereka.”

Pusat juga menyerukan intervensi yang efektif masyarakat internasional untuk menghentikan pelanggaran Israel dan mencabut blokade rezim Zionis ini terhadap Jalur Gaza. (rt)