Rangkuman Berita Utama Timteng  Senin 4 Oktober 2021

Jakarta, ICMES. Pemimpim Besar Iran Sayid Ali Khamenei membela keputusan negaranya menggelar latihan militer persis di sisi perbatasan negara ini dengan Azerbaijan, yang oleh sejumlah pejabat Iran lain disebut sebagai reaksi terhadap hubungan erat antara Azerbaijan dan Israel, musuh besar Iran.

Menlu Arab Saudi Faisal bin Farhan menyatakan negaranya telah mengadakan pembicaraan dengan Iran pada bulan lalu, dan berharap perundingan ini dapat mengatasi berbagai persoalan yang menjadi kendala bagi hubungan kedua negara.

Pihak berwenang di Pelabuhan Hodaydah, Yaman, menyita ratusan kontainer berisi kacang polong dan kacang-kacangan lain bantuan Program Pangan Dunia yang berasal dari AS dan Ukraina karena diketahui tidak sesuai spesifikasi dan standar.

Berita Selengkapnya:

Ayatullah Khamenei: Iran Memulai Latihan Militer untuk Bersaing dengan Israel

Pemimpim Besar Iran Sayid Ali Khamenei membela keputusan negaranya menggelar latihan militer persis di sisi perbatasan negara ini dengan Azerbaijan, yang oleh sejumlah pejabat Iran lain disebut sebagai reaksi terhadap hubungan erat antara Azerbaijan dan Israel, musuh besar Iran.

Dalam sebuah pidatonya melalui konferensi video pada upacara wisuda para lulusan akademi militer, Ahad (3/10), Ayatullah Khamenei menyatakan bahwa pasukan negaranya akan memulai latihan militer yang berkonteks persaingan dengan musuhnya itu, tanpa menyebutkan nama Israel, dan bahwa negara-negara sekitar Iran tidak seharusnya memperkenankan pasukan asing menggunakan kepentingan nasional negara-negara itu untuk mencampuri urusan internal mereka atau berpartisipasi dalam tentara mereka.   

Dia memastikan bahwa keberadaan pasukan asing di Timur Tengah merupakan “sumber kehancuran”, dan mengimbau kepada negara-negara jiran Iran untuk selalu bersikap independen di depan pasukan asing dan menyatukan barisan mereka.

Iran terusik oleh hubungan Azerbaijan dengan Israel yang telah menjual pesawat-pesawat nirawak (UAV/drone) dan berbagai jenis senjata lain bertoknologi tinggi yang digunakan Baku dalam perang melawan Armenia di wilayah sengketa Nagorno-Karabakh pada tahun lalu.

Ayatullah Khamenei menyebutkan bahwa pasukan Iran telah menjadi benteng yang sangat tangguh di depan segala ancaman militer musuh di dalam dan di luar negeri.

Dia menyebutkan stabilitas dan keamanan di negara manapun merupakan infrastruktur utama bagi semua aktivitas dan upaya menggalang kemajuan, dan karena itu hal ini menjadi urusan penting bagi Angkatan Bersenjata Iran.

“Mereka yang mengira bahwa mereka akan dapat menjamin keamanannya dengan cara bersandar pada pihak lain hendaklah mengetahui bahwa mereka akan segera terkena tamparan akibat perilakunya ini.” ujarnya.

Dia menambahkan, “Tentara AS masuk ke negara tetangga kita, Afghanistan, demi menggulingkan pemerintahan Taliban, dan bercokol di negara ini selama 20 tahun, melakukan pembunuhan, kejahatan dan okupasi, tapi setelah itu malah menyerahkan pemerintahan kepada Taliban  dan keluar. Jangan sampai kita membiarkan pihak-pihak asing masuk.”

Di lantas berseru, “Peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi di barat laut negara kita di sebagian negara tetangga kita (Azerbaijan juga merupakan sesuatu yang harus disolusi dengan logika ini.”

Pemimpin Besar Iran juga menegaskan, bahwa “keberadaan pasukan asing di kawasan kita, termasuk AS, menyebabkan kehancuran dan membangkitkan peperangan”, dan karena itu dia mengimbau kepada semua negara untuk berbuat demi kemerdekaannya dan inpendensi tentaranya, bertumpu pada bangsa masing-masing, dan bekerjasama dengan tentara negara-negara sekitar demi kemaslahatan.

Menyinggung polemik yang terjadi belakangan ini antara Eropa dan AS, dia mengatakan, “Sebagian orang Eropa menganggap apa yang dilakukan AS sebagai tikaman dari belakang… Eropapun harus menjamin keamananya secara independen tanpa bergantung pada NATO, atau tepatnya tanpa bergantung pada AS.”

Dia juga mengatakan, “Ketika negara-negara Eropa saja merasa tak sanggup menegakkan keamanannya secara permanen akibat kebergantungannya kepada AS, negara yang tak bertolak belakang dengan Eropa, maka jelaslah sepenuhnya keadaan negara-negara lain yang menempatkan angkatan bersenjatanya di bawah dominasi AS dan negara-negara lain.” (alalm/raialyoum)

Pertama Kali, Menlu Saudi Bicara Mengenai Perundingan Riyadh-Teheran

Menlu Arab Saudi Faisal bin Farhan menyatakan negaranya telah mengadakan pembicaraan dengan Iran pada bulan lalu, dan berharap perundingan ini dapat mengatasi berbagai persoalan yang menjadi kendala bagi hubungan kedua negara.

Pernyataan ini merupakan yang pertama kalinya dari pejabat senior Saudi tentang perundingan Riyadh-Teheran  sejak Sayid Ebrahim Raisi menjabat sebagai presiden Iran.

Para pejabat Saudi dan Iran telah mengadakan beberapa kali putaran perundingan di Baghdad, ibu kota Irak, dalam beberapa bulan terakhir. Perundingan ini diungkap pertama kali pada April lalu oleh presiden Iran saat itu, Hassan Rouhani, dan pejabat Iran lainpun menyebutnya mengalami “kemajuan serius” terkait keamanan kawasan Teluk Persia.

Para pejabat Irak belum lama ini mengatakan bahwa perundingan itu dimulai lagi, namun saat itu Teheran dan Riyadh belum mengkonfirmasinya secara resmi.

Menlu Saudi Faisal bin Farhan dalam jumpa pers bersama dengan Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Joseph Borel, Ahad (3/10), mengatakan, “Mengenai perundingan dengan pihak Iran, putaran keempatnya telah berakhir pada 21 September.”

Dia menambahkan, “Pembicaraan ini masih berada di tahap eksporasi, yang kami harap dapat meletakkan suatu dasar untuk mengatasi masalah antara kedua pihak.  Kami akan berusaha dan bekerja untuk mengatasinya.”

Dia tidak menyebutkan tempat perundingan maupun isi pembicaraan dan tingkat delegasinya.

Riyadh memutus hubungannya dengan Teheran pada Januari 2016 menyusul serangan pengunjuk rasa ke Kedubes Saudi di Teheran dan Konsulat Jenderalnya di Masyhad dalam aksi demo masyarakat Iran terhadap hukuman mati Kerajaan Saudi atas ulama Syiah Saudi Syekh Nimr Al-Nimr.

Iran dan Saudi merupakan dua negara paling berpengaruh di kawasan Teluk, dan terlibat perselisihan di berbagai isu regional, terutama dalam krisis Yaman di mana Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintahan Abd Rabbuh Mansour Hadi dalam perang melawan gerakan Ansarullah (Houthi) yang didukung Iran.

Belakangan ini Ansarullah meningkatkan serangannya ke beberapa kota di bagian selatan Saudi dengan drone dan rudal balistik. (raialyoum)

Ansarullah Tuding PBB Kirim Bahan Pangan Rusak ke Yaman

Pihak berwenang di Pelabuhan Hodaydah, Yaman, menyita ratusan kontainer berisi kacang polong dan kacang-kacangan lain bantuan Program Pangan Dunia yang berasal dari AS dan Ukraina karena diketahui tidak sesuai spesifikasi dan standar.

Dirjen Badan Perlindungan Nabati Yaman, Hilal Al-Jishari, mengatakan bahwa kacang-kacangan yang termuat dalam kontainer itu tak layak dikonsumi manusia karena terjangkit banyak serangga.

Dia menjelaskan bahwa jumlah kacang-kacangan yang kadaluarsa dan rusak itu mencapai hampir 11,000 ton, dan tiba di Pelabuhan Hodeydah dalam tiga gelombang.  

Sementara itu, Mohammad Rasim, Direktur Stasiun Karantina Nabati Hudaydah dan Al-Salih, mengatakan bahwa ada 600 kontainer yang sejauh ini ditolak sejak Mei lalu, dan disarankan supaya semua itu dimusnahkan atau dikembalikan ke negara asal. (alalam)