Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 4 Januari 2021

nasrallah - haul jenderal soleimaniJakarta, ICMES. Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa situasi di Timur Tengah tegang dan genting pada momen haul mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Letjen Qassem Soleimani dan seorang rekannya, Abu Mahdi Al-Muhandis, mantan wakil komandan pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi.

Organisasi Persatuan Ulama Muslim Internasional (International Union of Muslim Scholars/IUMS) yang berbasis di Doha, Qatar, mengeluarkan fatwa yang mewajibkan pemboikotan Rezim Zionis Israel secara total, termasuk di sektor perekonomian.

Petinggi faksi pejuang Jihad Islam Palestina (PIJ) Khaled Al-Batish mengungkapkan kiprah mantan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Letjen Qassem Soleimani dalam mempersenjatai para pejuang Palestina di Jalur Gaza.

Berita Selengkapnya:

Sekjen Hizbullah: Situasi Timteng Genting pada Haul Jenderal Qassem Soleimani

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa situasi di Timur Tengah tegang dan genting pada momen haul mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Letjen Qassem Soleimani dan seorang rekannya, Abu Mahdi Al-Muhandis, mantan wakil komandan pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi.

Nasrallah juga memastikan dukungan Iran kepada Libanon tidaklah bersyarat, melainkan dalam konteks pertahanan dan kedaulatan Libanon sendiri, dan bahwa Libanon dan Gaza merupakan garis depan perlawanan terhadap pendudukan Israel, bukan demi Iran.

Berbicara dalam rangka haul pertama jenderal legendaris Iran Qassem Soleimani dan tokoh pejuang Irak Abu Mahdi Al-Muhandis, Ahad (3/1), Nasrallah memastikan adanya kecemasan Israel dan para sekutunya, termasuk di kawasan Teluk Persia, terkait dengan peringatan tahun pertama gugurnya dua tokoh pejuang Poros Resistensi tersebut.

“Resistensi adalah satu-satunya kekuatan yang mampu melindungi kekayaan minyak Libanon berkat persenjataannya serta dukungan Iran dan Suriah…Resistensi di Libanon adalah pihak yang paling berjuang dalam sejarah kemerdekaan (negara ini),” ungkap Nasrallah.

Dia menambahkan, “Pihak yang mendukung kami dengan sikap dan senjata tak bisa disamakan dengan pihak yang bersekongkol terhadap Libanon dan menyokong rezim pendudukan Israel. Faksi-faksi resistensi Palestina tak dapat menyamakan pihak yang mendukungnya dengan pihak yang bersekongkol terhadap bangsa dan kesucian Palestina. Suriah juga tak dapat menyamakan pihak yang bersekongkol terhadapnya dan menyokong para takfiri dengan pihak yang membela dan membantunya. Orang-orang Irak juga tak bisa menyamakan pihak yang mengirim para takfiri pelaku bom bunuh diri terhadap mereka dengan pihak yang membantu mereka membebaskan wilayah mereka.”

Nasrallah menegaskan, “Ada kecemasan besar di kawasan serta Teluk dan Israel akibat peringatan tahunan kesyahidan dua pemimpin, Soleimani dan Al-Muhandis… Kawasan berada dalam kondisi yang sangat genting, dan kita tidak tahu akan terjadi peristiwa apa dan akan menjurus ke mana.”

Menurut Nasrallah, sebagian orang berasumsi bahwa Iran akan mengandalkan kawan-kawannya dalam berusaha membalas kematian Jenderal Soleimani di tangan pasukan Amerika Serikat (AS).

“Padahal, jika Iran hendak maka ia akan membalasnya secara militer ataupun keamanan. Iran tidaklah lemah, melainkan kuat dan ia sendirilah yang memutuskan bagaimana dan kapan membalas,” ujarnya.

Seperti diketahui, Jenderal Soleimani terbunuh bersama Al-Muhandis akibat serangan udara pasukan AS di dekat Bandara Internasional Baghdad, ibu kota Irak, pada 3 Januari 2020.

Mengenai kiprah Soleimani, Sekjen Hizbullah mengatakan, “Apa yang terungkap mengenai apa yang telah dilakukan oleh Syahid Soleimani dengan berbagai prestasinya hanyalah sedikit, namun ada perkara-perkara yang tidaklah tepat jika dibicarakan.”

Nasrallah menambahkan, “Slogan pengusiran Amerika dari kawasan tak akan menjadi slogan yang diterapkan oleh bangsa-bangsa kawasan ini tanpa kesyahidan dua pemimpin itu… Kesyahidan Soleimani dan Al-Muhandis menempatkan pasukan AS pada jalan keluar dari Irak.” (raialyoum)

Fatwa Persatuan Ulama Muslim Internasional Wajibkan Boikot Israel Secara Total

Organisasi Persatuan Ulama Muslim Internasional (International Union of Muslim Scholars/IUMS) yang berbasis di Doha, Qatar, mengeluarkan fatwa yang mewajibkan pemboikotan Rezim Zionis Israel secara total, termasuk di sektor perekonomian.

Fatwa itu diumumkan oleh IUMS dalam sebuah stetemennya yang dipublikasi di akun resmi Facebook-nya pada Sabtu malam (2/1).

“Fatwa kami ini dikhususkan terhadap negara pendudukan (Israel) serta komoditas dan produknya, mengingat bahwa ia menduduki tanah dan negeri kita serta mengagresi dan menguasai saudara-saudara kita beserta tanah dan negeri mereka, yaitu Palestina dan Golan Suriah, dan masih menduduki Masjid Al-Aqsa,” bunyi statemen IUMS, yang diteken oleh ketuanya, Ahmad Al-Raysuni dan Sekjennya, Ali Muhyiddin Al-Qarahdaghi.

IUMS menegaskan, “Pencegahan agresi, pengusiran agresor dari tanah-tanah pendudukan, dan perlawanan  terhadapnya dengan semua sarana yang sah merupakan kewajiban syar’i dan keharusan insani. Perlawanan terhadapnya dengan semua sarana yang sah diakui oleh fitrah yang sehat, ditetap dalam undang-undang internasional, resolusi PBB, perjanjian-perjanjian internasional, dan konstitusi berbagai negara.”

IUMS menambahkan, “Atas dasar ini setiap orang yang membeli ataupun memasarkan produk rezim pendudukan dan perampas adalah pendosa dan bermitra dalam kejahatan ini.”

IUMS menjelaskan, “Dalil-dalil syar’i yang qath’i (pasti), tujuan-tujuan syariat, dan kemaslahatan yang valid menunjukkan kewajiban boikot ekonomi terhadap semua komoditas, barang, layanan, dan teknik yang dihasilkan oleh rezim pendudukan dan perampas, maka tak boleh dijual, dibeli, diimpor, dimanfaatkan, dipasarkan, dan dipromosikan… Semua produk itu tergolong harta yang dirampas atau apa yang dihasilkan darinya selagi berasal dari perampasan tanah, ladang, rumah, dan air, serta dari rezim pendudukan dan komplotan-komplotan imigran pendudukan.”

IUMS mengingatkan, “Orang yang terlibat di dalam itu dengan penjualan, pembelian, dan lain-lain maka di bermitra dalam kejahatan pendudukan, dalam mengonsumsi harta rampasan dan curian, serta dalam dosa dan permusuhan, sesuai apa yang dikatakan oleh dalil-dalil syariat.”

Di bagian penutupan, IUMS menyebutkan, “Karena itu, adalah kewajiban bagi seluruh Muslimin melanjutkan boikot ekonomi secara total hingga berakhirnya secara total pendudukan secara atas tanah-tanah kita yang diduduki, terutama kiblat pertama kita dan Al-Quds Al-Syarif.”

Seperti diketahui, dalam beberapa bulan terakhir beberapa negara Arab, yaitu Sudan, Uni Emirat, Bahrain, dan Maroko telah menjalin kesepakatan normalisasi hubungan dengan Israel. (raialyoum)

Jihad Islam Palestina: Kami Gempur Tel Aviv dengan Misil Kiriman Jenderal Soleimani

Petinggi faksi pejuang Jihad Islam Palestina (PIJ) Khaled Al-Batish mengungkapkan kiprah mantan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Letjen Qassem Soleimani dalam mempersenjatai para pejuang Palestina di Jalur Gaza.

Dalam wawancara dengan Al-Alam TV pada peringatan satu tahun gugurnya Soleimani di tangan pasukan AS di Baghdad, Ahad (3/1), Al-Batish menjelaskan bagaimana Soleimani mengadakan  kontingensi suplai rudal ke faksi-faksi Palestina pasca Perang Gaza 2008.

Dia menyebutkian bahwa dalam perang itu pasukan Palestina semula melakukan perlawanan dengan kemampuan yang sederhana, termasuk menyerang permukiman Israel dengan sekitar 40 roket grad yang ada di gudang senjata mereka.

“Ketika Haji Qassem memutuskan untuk mendukung perlawanan Palestina pada tahun 2014 kubu perlawanan  mampu menghancurkan Tel Aviv, bukan hanya permukiman yang berdekatan dengan Gaza. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Brigade Quds (sayap militer PIJ) membom Tel Aviv dengan rudal Fajr buatan Iran yang dikirim oleh Syahid Qassem Soleimani,” ungkapnya.

Pada tahun 2014, Israel melancarkan operasi militer di Jalur Gaza dengan sandi ” Protective Edge “, yang berlangsung dari 8 Juli hingga 26 Agustus.

Al-Batish mengisahkan bahwa dalam perang itu “Brigade Quds, Brigade Al-Qassam (sayap militer Hamas) dan faksi perlawanan lainnya, menghujankan lebih dari 150 rudal ke Tel Aviv, Haifa, dan kota-kota sekitarnya serta Bandara Ben Gurion. ”

Tokoh PIJ itu mengatakan,  “Semua ini dilakukan di bawah pengawasan dan dukungan Syahid Soleimani dan saudara-saudaranya.”

Al-Batish menambahkan bahwa Soleimani “juga berkontribusi pada level lain seperti melengkapi, melatih, mempersiapkan, mendanai, mendukung, pengembangan dan kursus persiapan untuk perlawanan Palestina, dan kamp Haji Qassem terbuka untuk para pahlawan perlawanan di Palestina untuk melatih dan melanjutkan pada tingkat event. ” (amn)