Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 30 Desember 2019

hizbullah irakJakarta, ICMES. Pasukan AS melancarkan serangkaian serangan ke pangkalan sebuah kelompok pasukan relawan Brigade Hizballah Irak yang bersekutu dengan Iran 15 orang. Brigade Hizbullah Irak bereaksi keras atas serangan ini, dan menyerukan pengusiran pasukan AS.

Angkatan Bersenjata Iran mengajak negara-negara Arab Teluk Persia bergabung dengan latihan militer laut bersama Iran, Rusia dan China pada babak mendatang.

Presiden AS Donald Trump me-retweet sebuah meme berusia dua tahun yang berpropaganda bahwa Yesus Kristus lebih menyukainya daripada Barack Obama, sementara menteri luar negerinya, Mike Pompeo, mengaku berkeyakinan bahwa Trump bisa jadi merupakan utusan langit untuk melindungi Israel di depan Iran.

Berita selengkapnya:

AS Gempur Sekutu Iran di Irak, 15 Pejuang Gugur

Pasukan AS melancarkan serangkaian serangan ke pangkalan sebuah kelompok pasukan relawan Brigade Hizballah Irak yang bersekutu dengan Iran hingga menewaskan 15 orang di perbatasan Irak-Suriah, Ahad (29/12/2019).

Serangan ini terjadi dua hari setelah serangan roket  terhadap sebuah fasilitas penyimpanan amunisi di pangkalan militer K1 di dekat Kirku, yang menewaskan seorang kontraktor AS di Irak. Dilaporkan bahwa serangan terhadap Brigade Hizbullah Irak itu menggugurkan Abu Ali Khazali, komandan resimen pertama di Brigade 45.

Setelah beberapa jam serangan ini, seorang pejabat keamanan Irak pada Minggu malam menyatakan, “Empat roket Katyusha mendarat di malam hari di sekitar pangkalan Taji yang juga ditempati oleh tentara AS, namun tidak menjatuhkan korban.”

Serangan ke pangkalan dan gudang senjata Brigade Hizbullah Irak yang merupakan salah satu elemen pasukan relawan Al-Hashd al-Shaabi itu terjadi juga setelah dua bulan eskalasi ketegangan hingga terjadi serangan roket yang menarget kepentingan AS di Irak.

Juru bicara Kementerian Pertahanan AS Pentagon, Jonathan Hoffman, mengatakan serangan terhadap sekutu Iran itu bertujuan “melemahkan kemampuan Brigade Hizbullah melancarkan serangan di masa mendatang.”

Sejak 28 Oktober 2019 terdapat 11 serangan terhadap pangkalan militer Irak yang menampung tentara atau diplomat AS, hingga kemudian terjadi pula serangan ke Kedutaan Besar AS di Zona Hijau yang dijaga dengan sistem keamanan ekstra ketata di Baghdad. (raialyoum)

Mendapat Serangan Mematikan, Hizbullah Irak Serukan Pengusiran Pasukan AS

Kelompok pasukan relawan Brigade Hizbullah Irak bereaksi keras atas serangan pasukan AS, dan menyerukan pengusiran pasukan Negeri Paman Sam ini, Ahad (29/12/2019).

Brigade Hizbullah yang merupakan salah satu elemen utama pasukan  relawan besar Irak al-Hashd al-Shaabi dalam sebuah statemennya menyatakan, “Gagak-gagak keji AS telah melancarkan agresi secara terbuka terhadap anak-anak kita yang mempertahankan perbatasan barat.”

Brigade Hizbullah Irak menambahkan, “Menyusul kejahatan yang mengerikan ini, komando Brigade Hizbullah menyerukan kepada pasukan militer, pasukan keamanan, serta basis-basis kerakyatan dan nasionalis kesiapan membuka lembaran baru dalam lembaran-lembaran kebanggaan dan kehormatan untuk mengusir musuh nan bengis, AS, dari negeri kita yang suci.”

Kelompok ini lantas menegaskan kesiapannya”mengguncang pangkapan-pangkalan pasukan pendudukan AS dan menghancurkan kepala mereka yang busuk”, dan “kami sedang menunggu instruksi” untuk melakukan aksi demikian.

Seperti diberitakan sebelumnya, pasukan AS di hari yang sama telah melancarkan serangkaian serangan ke pangkalan sebuah kelompok pasukan relawan Brigade Hizballah Irak di perbatasan Irak-Suriah hingga menewaskan 15 orang, termasuk Abu Ali Khazali, komandan resimen pertama di Brigade 45.

Tak lama setelah serangan ini Kedutaan Besar AS di Baghdad mengevakuasi puluhan pegawai sipilnya, sementara pasukan militernya menerapkan status siaga tinggi, karena ada kekhawatiran  akan mendapat serangan balasan dari faksi-faksi pejuang Irak terhadap pusat-pusat kehadiran dan kepentingan AS di Irak.

Sumber keamanan Irak melaporkan bahwa empat roket bahkan telah menerjang pangkalan yang menampung pasukan AS di dekat, Baghdad.

Militer AS menyatakan pihaknya melancarkan serangan drone ke pangkalan milisi Hizbullah Irak di perbatasan Irak-Suriah sebagai balasan atas serangan roket yang menerjang pangkalan militer Irak di Kirkuk yang menewaskan satu orang AS pada dua hari sebelumnya.

Perdana Menteri Irak yang berada dalam proses pengunduran diri, Adel Abdul-Mahdi, memimpin pertemuan darurat Dewan Keamanan Nasional Irak.

Abdul-Karim Khalaf, juru bicara Panglima Angkatan Bersenjata, menyebutkan bahwa Abdul-Mahdi mengatakan, “Kami sebelumnya telah mengkonfirmasi penolakan kami atas tindakan sepihak oleh pasukan koalisi atau pasukan lain di Irak, dan kami menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Irak dan eskalasi berbahaya yang mengancam keamanan Ira dan kawasan.” (raialyoum)

Iran Imbau Negara-Negara Arab Bergabung dengan Latihan Militer Bersama Iran, Rusia, dan Cina

Angkatan Bersenjata Iran mengajak negara-negara Arab Teluk Persia bergabung dengan latihan militer laut bersama Iran, Rusia dan China pada babak mendatang.

“Kami percaya bahwa keamanan maritim adalah masalah yang memerlukan tindakan kolektif negara-negara yang memiliki kekuatan maritim,” ungkap komandan Angkatan Laut  Iran, Laksamana Hussein Khanzadi, pada konferensi pers saat mengumumkan berakhirnya latihan militer segi tiga di Samudra Hindia dan Laut Oman tersebut, Ahad (29/12/2019).

Khanzadi melanjutkan, “Kami mengimbau semua negara di kawasan ini untuk bergabung dengan kerja sama dan aliansi regional (yang terbentuk melalui latihan militer) ini dan membantu mendukung tingkat keamanan ini.”

Dia menyebutkan bahwa negara-negara sahabat Iran, termasuk di kawasan Teluk, akan menyambut baik langkah ini, “tapi mereka yang berusaha untuk menerapkan pengaturan keamanan buruk seperti AS dan para ekornya tidak akan senang dengan ini.”

Khanzadi menilai sudah berakhir “era AS dan ekornya datang dan berkeliaran di kawasan ini”, dan menegaskan “keharusan AS segera meninggalkan kawasan ini.”

“Selat Hormuz tidak memerlukan pasukan asing untuk membangun keamanan di dalamnya… Pasukan asing yang bercokoldi kawasan ini untuk mengacaukan keamanannya, harus mengemas peralatan mereka dan segera pergi… Kami siap bekerja dengan tetangga kami,” tegasnya.

Komandan Angkatan Laut Iran bersumbar bahwa negaranya “akan memotong kaki AS dari berbagai wilayah laut di dunia.”

Seperti diketahui, Iran, Rusia, dan Cina menggelar latihan militer bersama di Samudera Hindia dan Laut Oman pada  Jumat hingga Ahad (27-29/12/2019). (alalam/raialyoum)

Trump Me-retweet Meme Dia Mengembalikan “Yesus” Yang Didepak oleh Obama

Tak hanya di Indonesia, sentimen keagamaan juga dibawa-bawa dalam isu politik dan pilpres di AS, termasuk dengan menyebutkan bahwa Tuhan merencanakan keterpilihan Donald Trump sebagai presiden AS demi “melindungi Israel dari bahaya Iran”.

Di tengah suasana perayaan Natal 2019, Presiden AS Donald Trump, Jumat (27/12/2019), me-retweet sebuah meme berusia dua tahun yang berpropaganda bahwa Yesus Kristus lebih menyukainya daripada Barack Obama dan menyebut penghuni Gedung Putih sekarang sebagai “surga yang diutus”.

Trump yang juga sedang menjalani proses pemakzulan sehingga membutuhkan simpati dan dukungan itu membagikan ulang foto seorang pria berambut gondrong yang diilustrasikan sebagai Yesus, dan disertai keterangan: “ (Obama) menendang saya keluar, (Trump) mengundang saya kembali).”

Meme yang dipublikasikan  pada Januari 2018 itu juga disertai cuitan pengirimnya: “Ada banyak yang harus disyukuri sehubungan dengan POTUS Trump kami! Saya benar-benar percaya bahwa pria ini adalah surga yang dikirim untuk menyelamatkan dan melindungi negara yang paling ramah, baik hati, dan pada gilirannya, negara yang makmur. Semoga Tuhan memberkati dia dan keluarganya.”

Meme lama itu rupanya membuat Trump sangat terkesan sehingga diapun sekarang memberinya komentar; “Terima kasih.”

Ini bukanlah yang pertama kalinya Tuhan dikaitkan dengan kepemimpinan Trump di Negeri Paman Sam.  Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pernah ditanya, “Apakah Tuhan telah merencanakan keterpilihan Trump demi melindungi Israel dari serangan Iran?”

Pompeo yang sedang membuka Al-Kitab menjawab: “Sebagai seorang Kristen, saya tentu percaya itu mungkin.” (dailymail/theatlantic)