Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 3 Januari 2022

Jakarta, ICMES. Anggota Dewan Pusat Hizbullah di Lebanon, Syeikh Nabil Qawook menyatakan bahwa Hizbullah akan menghadapi musuhnya dalam perang mendatang dengan 100,000 pejuang bertekad dan berspirit martir jenderal legendaris Iran Qasem Soelimani.

Wakil Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qasim mengungkap beberapa hal baru seputar peran martir besar dan jenderal legendaris Iran Qasem Soleimani dalam peperangan di Lebanon, Suriah dan Irak.

Penehat pemimpin besar Iran bidang militer Mayjen Rahim Safavi memperingatkan bahwa Iran sanggup meratakan kepentingan-kepentingan musuh-musuh Iran dengan tanah dalam tempo 48 jam.

Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Mohammad Reza Fallah dalam acara lain di hari yang sama memastikan bahwa pasukan asing akan segera hengkang dari semua kawasan sekitar Iran.

Berita Selengkapnya:

Hizbullah akan Hadapi Musuhnya dengan 100 Ribu Pejuang Berspirit Jenderal Soleimani dalam Perang Mendatang

Anggota Dewan Pusat Hizbullah di Lebanon, Syeikh Nabil Qawook menyatakan bahwa Hizbullah akan menghadapi musuhnya dalam perang mendatang dengan 100,000 pejuang bertekad dan berspirit martir jenderal legendaris Iran Qasem Soelimani.

“Kami akan menghadapi musuh dalam perang mendatang dengan 100,000 pejuang yang membawa spirit, tekad, iman dan kehendak Qasem Soleimani,” kata Qawook dalam kata sambutannya pada kampanye penghijauan bertema “Zaitunah Soleimani”, Ahad (2/1).

Dia menjelaskan bahwa slogan “kami adalah Qasem” berarti bahwa Jenderal Qasem Soleimani, mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, “telah menjadi suatu umat di mana jutaan orang mulai dari Iran, Afghanistan, Irak hingga Suriah, Lebanon dan Gaza, sekarang telah menjadi Qasem Soleimani.”

Dia menambahkan, “Di sinilah mengkristal Arabisme asli, Arabisme Palestina. Haji Qasem telah mempersembahkan apa yang diabaikan oleh Arab kubu normalisasi (hubungan dengan Israel). Syahid Soleimani telah mengirim banyak rudal ke Palestina, dan kami menantang kepada Arab kubu normalisasi untuk berani mengirim ke Palestina barang satu rudal saja.”

Pada tanggal 3 Januari 2020, Jenderal Soleimani bersama rekan seperjuangannya Abu Mahdi Al-Muhandis, mantan wakil komandan pasukan relawan Irak Al-Hashs Al-Shaabi gugur diserang pasukan AS dengan dua rudal tipe Hellfire tak lama setelah keduanya keluar dari Bandara Baghdad.

Pada 8 Januari 2020 Iran membalas serangan itu dengan menghujankan beberapa rudalnya ke dua pangkalan yang ditempati pasukan AS di Irak, termasuk pangkalan Ain Al-Assad. (raialyoum)

Hizbullah Ungkap Rincian Baru Mengenai Peran Jenderal Soleimani dalam Perang di Lebanon, Suriah Irak dan Yaman

Wakil Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qasim mengungkap beberapa hal baru seputar peran martir besar dan jenderal legendaris Iran Qasem Soleimani dalam peperangan di Lebanon, Suriah dan Irak.

“Syahid Qasem Soleimani ada di pusat komando operasi pengendalian perang kontra-agresi Israel di Lebanon pada bulan Juli 2006,” ujarnya dalam wawancara dengan Fars, Ahad (2/1).

Dia menjelaskan, “Prestasi Syahid Soleimani banyak. Ketika dia menerima jabatan sebagai komandan Pasukan Quds (yang bernaung di bawah Korps Garda Revolusi Islam/IRGC) situasi kawasan sedang kacau. Terjadi perkembangan luas dan menyebar sejak dia menerima misi ini, dan cukuplah kiranya saya menyebutkan bahwa hasil pertama yang menonjol ialah kemenangan dan pembebasan yang tercapai di Lebanon pada tahun 2000, yakni dua tahun setelah dia menerima misinya. Saat itu pasukan Israel keluar dalam keadaan hina dari Lebanon selatan. Setelah itu adalah kemenangan yang dicapai di Gaza tiga kali.”

Syeikh Naim Qasim juga menyebutkan bahwa perubahan secara luar biasa pada kekuatan dan daya sebar Ansarullah di Yaman juga tak lepas dari peran Jenderal Soleimani.

Menurutnya, Suriah semula hendak dihabisi statusnya sebagai bagian dari Poros Resistensi pada tahun 2011.

“Suriah semula diperkira akan gaal dan berakhir dalam jangka waktu tiga bulan, tapi apa yang dilakukan oleh Syahid Qasem Soleimani ialah penegasan atas keteguhan dan perlawanan yang mengagumkan di Suriah,” ujarnya.

Naim Qasim juga mengatakan, “Demikian pula dukungan kepada Irak, pembentukan Al-Hashd Al-Shaabi (pasukan relawan Irak) serta pengenyahan ISIS di Irak dan Suriah, dan tak lupa pula dukungan yang besar kepada Hizbullah Lebanon sehingga kelompok ini menang atas agresi Israel pada tahun 2006. Saat itu Syahid Qasem berada di pusat komando pengelolaan peperangan ini. Semua prestasi itu dan lain-lain adalah bagian dari hasil jerih payah dan jihad yang dipersembahkan oleh Syahid Qasem Soleimani.”

Mengenai gugurnya Jenderal Soleimani, Syeikh Naim mengatakan, “Saya dapat memastikan bahwa gugurnya Haji Qasem Soleimani akan memberikan hal yang lebih lagi kepada Poros (Resistensi) ini. Sekarang, setelah dua tahun, kita melihat bagaimana poros semakin cemerlang di front perlawanan.”

Seperti diketahui, Jenderal Soleimani bersama rekan seperjuangannya Abu Mahdi Al-Muhandis, mantan wakil komandan pasukan relawan Irak Al-Hashs Al-Shaabi gugur diserang pasukan AS tak lama setelah keduanya keluar dari Bandara Baghdad pada tanggal 3 Januari 2020,.

Iran lantas membalas serangan itu dengan menghujankan beberapa rudalnya ke dua pangkalan yang ditempati pasukan AS di Irak, termasuk pangkalan Ain Al-Assad, pada 8 Januari 2020. (raialyoum)

Haul Jenderal Soleimani, Iran Mengaku Sanggup Melumat Semua Kepentingan Musuhnya dalam 48 Jam

Penehat pemimpin besar Iran bidang militer Mayjen Rahim Safavi memperingatkan bahwa Iran sanggup meratakan kepentingan-kepentingan musuh-musuh Iran dengan tanah dalam tempo 48 jam.

“Angkatan Bersenjata Iran akan membalas segala bentuk langkah ceroboh yang mungkin datang dari musuh, dengan balasan yang akan membuat kepentingan-kepentingan musuh akan rata dengan tanah dalam tempo 48 jam saja,” ungkapnya dalam pernyataan di depan para mahasiswa Universitas Pertahanan Nasional yang bernaung di bawah Angkatan Bersenjata Iran, pada momen peringatan gugurnya pahlawan besar Iran Jenderal Qasem Soleimani, Ahad (2/1).

Dia menceritakan bahwa AS pernah melontarkan ancaman besar untuk menggagalkan misi Armada ke-75 Iran, “tapi armada ini terus melanjutkan berlayar selama 150 hari tanpa bersandar di dermaga negara manapun hingga kemudian mencapai tujuannya dengan sambutan hangat dari Rusia.”

“Keberhasilan Angkatan Laut Iran menunaikan misi ini merupakan satu pertanda bahwa Iran sekarang telah menjadi menjadi sebuah kekuatan besar regional,” imbuhnya.

Dia juga menyebutkan bahwa kapal-kapal dagang dan tanker minyak Iran terus dikawal dan dijaga keamanannya oleh armada dan kapal-kapal perusak Angkatan Laut Iran di perairan bebas internasional dan Laut Merah.

Jenderal Soleimani bersama rekan seperjuangannya Abu Mahdi Al-Muhandis, mantan wakil komandan pasukan relawan Irak Al-Hashs Al-Shaabi, gugur diserang pasukan AS tak lama setelah keduanya keluar dari Bandara Baghdad pada tanggal 3 Januari 2020,.

Iran lantas membalas serangan itu dengan merudal dua pangkalan yang ditempati pasukan AS di Irak, termasuk pangkalan Ain Al-Assad, pada 8 Januari 2020.  

Demi peringatan ini, sedikitnya delapan provinsi di Irak, yaitu Karbala, Najaf, Wasit, Diyala Diwania, Ziqar, Basrah dan Al-Muthanna  meliburkan jam kerja pada hari ini, Senin (3/1) (raialyoum/alalam)

Haul Jenderal Soleimani, Musuh Iran Takut Bahkan kepada Gambar Soleimani

Wakil Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran Mohammad Reza Fallah dalam acara lain di hari yang sama memastikan bahwa pasukan asing akan segera hengkang dari semua kawasan sekitar Iran.

“Ajaran Haji Qasem (Soleimani) telah membuat AS, Israel dan kaki tangan mereka di kawasan dan seluruh dunia menjadi hina dan tak berharga sehingga menyebabkan mereka kabur dari Afghanistan, Irak, dan dalam waktu dekat ini dari semua kawasan (sekitar),” ujarnya.

Dia juga mengatakan, “Haji Qasem secara lahiriah sudah tak ada lagi di tengah kita, tapi pikiran dan ajarannya berupa resistensi dan kontra-kezaliman adalah mimpi buruk bagi musuh di seluruh penjuru dunia sehingga mereka bahkan takut kepada video dan gambar-gambar beliau.”

Komandan IRGC Mayjen Hossein Salami menyebut Jenderal Soleimani sebagai bagian dari identitas dunia Muslim.

“Sosok besar (Jenderal Soleimani) adalah bagian dari identitas dunia Muslim, yang berhutang budi atas 40 tahun pengorbanan diri dan upayanya,” ungkap   Salami, berbicara pada acara dimulainya fase ketiga percobaan pada manusia vaksin Covid-19 Noora buatan Iran, Ahad.

Dia juga menyebutkan bahwa musuh-musuh Iran berusaha mengikis kepercayaan diri orang Iran dan membuat mereka merasa lemah agar kemudian menerima superioritas Barat dan menjadikan Barat sebagai panutan.  . (fna)