Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 29 Maret  2021

perundingan yamanJakarta, ICMES. Gerakan Ansarullah dalam perundingan dengan utusan khusus PBB dan utusan khusus AS di Muscat, ibu kota Oman, menuntut pembukaan kembali Bandara Internasional Sanaa dan Pelabuhan Laut Hudaydah tanpa syarat.

Koalisi “AS-Saudi” melancarkan serangan udara ke berbagai daerah di provinsi Hudaydah, Yaman, demikian dilaporkan oleh media Yaman, Ahad (28/3), di tengah beredarnya laporan mengenai prakarsa damai untuk meredakan perang di negara yang sudah enam tahun dilanda perang tersebut.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken tampak keberatan menyebut Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MBS) sebagai “pembunuh” terkait dengan kasus pembunuhan sadis jurnalis Saudi Jamal Khashoggi.

Lembaga pemberitaan Sputnik milik Rusia melaporkan bahwa dari pernyataan Menlu AS Antony Blinken terlihat bahwa nada permusuhan Washington meninggi terhadap Rusia dan China setelah terbentuknya segi tiga strategis Rusia, China, dan Iran.

Berita Selengkapnya:

Ansarullah, AS, dan PBB di Oman Bahas Usulan Damai Arab Saudi

Gerakan Ansarullah dalam perundingan dengan utusan khusus PBB dan utusan khusus AS di Muscat, ibu kota Oman, Ahad (29/3), menuntut pembukaan kembali Bandara Internasional Sanaa dan Pelabuhan Laut Hudaydah tanpa syarat.

Dikutip dari beberapa sumber,  Al-Jazeera melaporkan bahwa dalam perundingan itu mereka membahas usulan Arab Saudi untuk gencatan, dan terjadi pelunakan sikap, namun masih ada beberapa kerumitan untuk penerapan gencatan secara serempak.

Sumber-sumber Al-Jazeera mengatakan bahwa presiden tersingkir Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi memiliki beberapa pertimbangan untuk revisi persyaratan pembukaan kembali Bandara Sanaa dan Pelabuhan Hudaydah.

Menurut mereka, utusan khusus AS dan utusan khusus PBB akan kembali ke Muscat untuk menyampaikan pandangan pemerintahan Hadi kepada Ansarullah.

Dalam beberapa hari terakhir ini Muscat kerap diwarnai aktivitas politik dan diplomatik serta perundingan intensif untuk penghentian Perang Yaman melalui solusi diplomatik.

Abdul Malik Al-Ajari, anggota tim perunding Pemerintahan Keselamatan Nasional Yaman yang berafiliasi dengan Ansarullah, di Twitter juga menyebutkan adanya perundingan di Oman untuk penyelesaian krisis Yaman.

Menurutnya, di Oman telah terjadi berbagai pertemuan dan dialog secara maraton Ansarullah dengan PBB, AS, Swedia, dan Uni Eropa.

Sembari mengapresiasi peranan Oman, Al-Ajari menyatakan, “Pada langkah awal, semua upaya ini adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan kemanusiaan, dan ini merupakan persoalan yang tak boleh dikaitkan dengan penyelesaian beragam persoalan pelik militer dan politik.”

Surat kabar Akhbar al-Youm, melaporkan bahwa kunjungan Utusan Khsusus PBB Martin Griffiths dan Utusan Khusus AS Martin Lenderking ke Sanaa dilakukan setelah ada lampu hijau dari pihak Sanaa (Ansarullah) mengenai prakarsa damai Saudi.

Menurut surat kabar yang cenderung berpihak kepada pemerintahan Hadi ini, Ansarullah telah mengajukan beberapa syarat, dan utusan PBB dan AS bersedia menyampaikannya kepada pihak Saudi.

Akhbar al-Youm juga menyebutkan bahwa delegasi Saudi juga ada di Oman, sedangkan pemerintahan Hadi sendiri malah tidak ada.

Dilaporkan bahwa Utusan Khusus PBB telah mengadakan pertemuan tertutup dengan ketua tim perunding Ansarullah, Mohammad Abdul Salam, dan membicarakan ihwal pembukaan kembali Bandara Sanaa dan Pelabuhan Hudaydah. Hal ini tercatat sebagai satu perkembangan positif karena terjadi setelah pihak Ansarullah sempat beberapa menolak bertemu dengan utusan khusus PBB. (fna)

Saudi Lancarkan Serangan Udara ke Hudaydah

Koalisi “AS-Saudi” melancarkan serangan udara ke berbagai daerah di provinsi Hudaydah, Yaman, demikian dilaporkan oleh media Yaman, Ahad (28/3), di tengah beredarnya laporan mengenai prakarsa damai untuk meredakan perang di negara yang sudah enam tahun dilanda perang tersebut.

Sumber lokal Yaman melaporkan pada hari itu koalisi AS-Saudi menyerang Pelabuhan Hudaydah, sementara saluran Al-Masirah milik Ansarullah melaporkan bahwa koalisi itu menggempur daerah al-Luhayyah di provinsi tersebut, dan jet pengintai juga telah menembakkan dua rudal ke Bandara Hudaydah, dan dua rudal lagi ke lingkungan al-Fazah di daerah Al-Tahita. Namun tak ada laporan mengenai dampak serangan tersebut.

Gencatan senjata di Hudaydah sudah ditetapkan dalam Perjanjian Stockholm, namun Arab Saudi belum menerapkannya.

Yaman sudah enam tahun dilanda perang antara kubu gerakan Ansarullah (Houthi) yang menguasai Sanaa, ibu kota Yaman, sejak 2014 dan beberapa provinsi lain di satu pihak dan kubu presiden pelarian Abd Rabbuh Mansour Hadi di pihak lain.

Sejak Maret 2015, pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi melancarkan intervensi militer ke Yaman untuk membela kubu Mansour Hadi dengan asumsi bahwa Ansarullah dapat segera dikalahkan. Putra Mahkota Suadi Mohamed bin Salman saat itu bersumbar bahwa pihaknya akan dapat menumpas Ansarullah dalam tempo beberapa hari atau paling lambat tiga minggu.

Nyatanya, Ansarullah yang didukung oleh tentara yang berada Sanaa dan beberapa provinsi lain belakangan ini terlihat semakin kuat dan gencar melesatkan rudal balistik dan drone berbuatan bom ke wilayah Saudi sebagai balasan atas blokade dan serangan udara Saudi dan sekutunya.

Belakangan ini Saudi mengajukan prakarsa damai, dan kini sedang ditindak lanjuti oleh AS, PBB dan berbagai pihak lain melalui pertemuan-pertemuan dengan Ansarullah di Muscat, ibu kota Oman. (mna)

Enggan Sebut Bin Salman “Pembunuh”, Blinken Berkelit dengan Pragmatisme AS

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken tampak keberatan menyebut Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MBS) sebagai “pembunuh” terkait dengan kasus pembunuhan sadis jurnalis Saudi Jamal Khashoggi.

Dalam wawancara dengan jaringan berita CNN, Blinken ditanya bagaimana jika MBS disebut sebagai pembunuh, sesuai laporan intelijen AS yang menyebutnya bertanggungjawab atas pembunuhan yang terjadi di Konsulat Jenderal Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober 2018 tersebut.

Presenter CNN menyebutkan bahwa Presiden AS Joe Biden tak segan-segan menyebut Vladimir Putin sebagai pembunuh, tapi hal yang sama tidak dia lakukan terhadap MBS, dan pemerintahannyapun enggan menjatuhkan sanksi langsung terhadap MBS atas kasus yang bahkan menggemparkan dunia tersebut.

Blinken malah menjawabnya dengan pragmatisme AS yang menyebabkan negara ini lagi-lagi berstandar ganda.

“Mengoyak hubungan (AS dengan Saudi) pada kenyataannya tak akan memperkuat kepentingan dan norma kita,” ujarnya, seperti dikutip Rai Al-Youm, Ahad (28/3).

Dia menambahkan, “Kita harus – dan kitapun melakukannya – berinteraksi setiap hari di semua penjuru dunia dengan para pemimpin berbagai negara yang melakukan sesuatu yang kita anggap tak menyenangkan, atau menjijikkan. Tapi mengenai penguatan kepentingan kita dan kebangkitan dengan nilai-nilai kita maka penting untuk berinteraksi dengan mereka.”

Dia juga mengatakan, “Putra Mahkota ini kemungkinan kuat akan menjadi pemimpin Kerajaan Arab Saudi dalam waktu dekat. Kita memiliki kepentingan yang kuat, misalnya dalam bekerja untuk penyelesaian perang di Yaman, yang mungkin merupakan krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Ini akan menuntut partisipasi dari Saudi.”

Presiden AS Joe Biden Februari lalu menolak menjatuhkan sanksi langsung terhadap MBS, padahal dalam kampanye piplres dia berjanji akan menghukum para pemimpin senior Saudi. (raialyoum)

Sputnik: Segi Tiga Strategis Rusia, China, dan Iran Terbentuk, Nada Permusuhan AS Meningkat

Lembaga pemberitaan Sputnik milik Rusia melaporkan bahwa dari pernyataan Menlu AS Antony Blinken terlihat bahwa nada permusuhan Washington meninggi terhadap Rusia dan China setelah terbentuknya segi tiga strategis Rusia, China, dan Iran.

“Meningginya nada permusuhan para pejabat pemerintahan (Presiden AS Joe) Biden terhadap Rusia dan China terjadi setelah hubungan antara Beijing dan Moskow menguat dan segi tiga strategis yang mencakup Beijing, Moskow, dan Teheran terbentuk, dan selanjutnya  Washington menambahkan desakan sanksi dan langkah permusuhan dalam bentuk  latihan perang dan menempatkan kembali pasukannya,” tulis Sputnik.

Sputnik mengutip laporan Global Times pekan lalu bahwa serangan AS terhadap Rusia dan China adalah karena krisis yang dirasakan Washington akibat menurunnya daya saing AS dan menguatnya kemitraan strategis yang komprehensif antara Bejing dan Moskow.

Surat kabar AS Wall Street Jounal (WSJ) Sabtu lalu mengulas penandatangan dokumen perjanjian strategis China-Iran dan menilai bahwa Teheran dan Beijing telah mematahkan sepak terjang AS untuk mengisolasi China dan Iran.

WSJ menyebutkan bahwa dokumen itu mencakup kerjasama luas bidang-bidang ekonomi dan perdagangan hingga keamanan dan intelijen. (fna)