Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 28  November 2022

Jakarta, ICMES. Sebuah video beredar dan memperlihatkan bagaimana para suporter dan penonton Piala Dunia Qatar menolak diwawancarai oleh wartawan Israel sembari beralasan  tidak ada negara bernama Israel dan bahwa yang ada adalah Palestina.

People rally in solidarity with the Palestinians outside Imam Muhammad Abdel-Wahhab Mosque in the Qatari capital Doha on May 15, 2021. – Qatar’s Foreign Minister hosted the political chief of Palestinian Islamist movement Hamas and called for an end to Israel’s bombardment of Gaza, state media said. (Photo by KARIM JAAFAR / AFP) (Photo by KARIM JAAFAR/AFP via Getty Images)

Di tengah maraknya laporan dan video anti Israel di Piala Dunia Qatar, sebuah rekaman video unik juga beredar dan memperlihatkan komunitas Yahudi anti-Zionis di Eropa dan Amerika Serikat (AS) membakar bendera Israel dan mengibarkan bendera Palestina.

Panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami, bersumbar bahwa “rezim Zionis Israel akan runtuh,” dan bahwa Iran “akan mengubah fitnah yang terjadi di Iran belakangan ini sebagai kuburan bagi AS dan Israel. ”

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan normalisasi hubungan negaranya dengan Suriah tetap bisa dilakukan meski Turki gencar memerangi milisi Kurdi Suriah.

Berita Selengkapnya:

Piala Dunia Qatar, Para Suporter Arab Permalukan Wartawan Israel

Sebuah video beredar dan memperlihatkan bagaimana para suporter dan penonton Piala Dunia Qatar menolak diwawancarai oleh wartawan Israel sembari beralasan  tidak ada negara bernama Israel dan bahwa yang ada adalah Palestina.

Turki al-Shalhoub, seorang aktivis Saudi, memosting video di Twitter disertai keterangan; “Semua penonton Arab satu suara: “Anda orang Israel, kami tidak menyambut Anda.”

Piala Dunia Qatar telah menjadi ajang pertentangan yang nyata antara pihak Arab dan Islam di satu sisi dan Israel serta pendukung normalisasi Arab-Israel di sisi lain.

Di ajang itu masyarakat negara-negara Arab memberitahu kepada Israel dan pihak-pihak yang menginginkan normalisasi hubungan Qatar dengan Israel bahwa masyarakat Arab tetap konsisten mendukung cita-cita Palestina dan menentang normalisasi hubungan dengan Israel.

Sementara itu, Yedioth Ahronoth yang terbit di Tel Aviv melaporkan bahwa para jurnalis Israel kerap mendapat gangguan ketika meliput Piala Dunia di Qatar.

“Kami merasa dibenci dan dikepung sentimen permusuhan dan penolakan terhadap eksistensi kita,” tulis surat kabar Israel itu, Ahad (27/11).

Para wartawan Israel menceritakan bahwa orang-orang dari sejumlah negara Muslim, yaitu Palestina, Iran, Qatar, Maroko, Yordania, Suriah, Mesir, dan Lebanon mengejar dan memelototi mereka.

Wartawan Israel Moav Vardi dari Perusahaan Penyiaran Publik Israel di media sosial memosting video seorang pria berteriak, “Tidak ada Israel, melainkan Palestina, Anda tidak diterima di sini, ini Qatar, negara kami .”

Ribuan orang Israel datang ke Qatar untuk menyaksikan jalannnya Piala Dunia 2022 meski tim Israel tidak lolos untuk ikut berlaga dalam kejuaraan ini.

Media Israel melaporkan bahwa otoritas Israel prihatin atas apa yang terjadi pada warga Israel di Qatar, dan telah mengirimi kepada mereka “rekomendasi untuk tidak berbicara bahasa Ibrani di jalan-jalan, dan tidak menunjukkan tanda-tanda identitas Israel mereka.”

Pembawa acara di Channel 12 Israel mengatakan bahwa otoritas Israel “khawatir tentang apa yang terjadi dengan orang Israel di Qatar.”

Nir Dvori, komentator militer di saluran itu membenarkan berita adanya rekomendasi agar Israel menyembunyikan identitas mereka.

Sementara itu, Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) mengatakan bahwa mengemukanya isu Palestina dalam Piala Dunia di Qatar membuktikan keterkucilan Rezim Zionis Israel.

Dikutip kantor berita Sputnik, Jubir Hamas Abdul Latif Qanou, mengatakan: “Mengemukanya nama Palestina di Piala Dunia di Qatar menegaskan keterisolasian Rezim Zionis.  Mencuatnya Palestina di jantung Piala Dunia 2022 di Qatar menunjukkan sentralitas isu Palestina dan bahwa Palestina bersemayam di hati jutaan kaum merdeka di dunia.” (alalam/raialyoum/almayadeen)

Komunitas Yahudi Anti-Zionis Bakar Bendera Israel dan Kibarkan Bendera Palestina

Di tengah maraknya laporan dan video anti Israel di Piala Dunia Qatar, sebuah rekaman video unik juga beredar dan memperlihatkan komunitas Yahudi anti-Zionis di Eropa dan Amerika Serikat (AS) membakar bendera Israel dan mengibarkan bendera Palestina.

Terkait video unik itu disebutkan bahwa kaum Yahudi sejati tidak mengakui eksistensi Israel, dan malah menghendaki bendirinya negara Palestina dan pembebasan tanah-tanah Palestina yang diduduki oleh kaum Zionis.

Para rabi Yahudi anti-Zionis pada tahun 2018 mengutuk keputusan AS mengakui Yerussalem (Quds) sebagai ibu kota Israel. Mereka menyebut keputusan itu sebagai tindakan anti umat Islam dan umat Yahudi sejati. (alalam)

Panglima IRGC: Iran Hadapi Perang Besar, Israel akan Musnah

Panglima pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mayjen Hossein Salami, bersumbar bahwa “rezim Zionis Israel akan runtuh,” dan bahwa Iran “akan mengubah fitnah yang terjadi di Iran belakangan ini sebagai kuburan bagi AS dan Israel. ”

Dalam pidatonya pada pertemuan dengan ribuan anggota pasukan relawan Basij di wilayah Sistan dan Baluchistan, Ahad (27/11), dia mengatakan, “Ketika para teroris takfiri, yang dikelola oleh AS, Rezim Zionis, dan Eropa menyerang Suriah, Lebanon, Irak dan Yaman, pasukan relawanlah yang terjun ke lapangan untuk membela kehormatan serta rela meninggalkan rumah dan tempat tinggal mereka demi menggempur musuh dan membebaskan bangsa dari cengkraman asing.”

Dia juga menjelaskan bahwa AS, Inggris, Israel, Jerman, Prancis, dan dinasti Al-Saud kini mengerahkan kekuatan media mereka untuk menebar kekacauan dan memecah belah Iran, tapi bangsa Iran waspada sepenuhnya di depan semua upaya musuh ini.

“Musuh memiliki banyak mimpi yang mengganggu, hidup dalam delusi, musuh adalah yang pihak pertama yang terkena getah kegagalan medianya, musuh tidak tahu bahwa negeri ini dan revolusinya tangguh,” tutur Salami.

Ditujukan kepada pasukan relawan Basij, Salami menegaskan, “Wahai orang Syiah dan Sunni yang sedang berkumpul di sini hari ini, sebagai prajurit kecil di negeri ini, saya memberi tahu Anda di tempat ini dan di hari suci ini bahwa akar besar revolusi ini terlampau kuat sehingga kalaupun semua musuh itu ingin memutus satu cabangnya mereka tidak akan dapat melakukannya.”

Dia menambahkan, “Yakinlah, rezim Zionis akan runtuh, sedangkan revolusi (Islam Iran) ini tidak akan terusik. Ilusi musuh tidak akan sampai kemana-mana, pemerintahan ini tangguh, dan Basij kita, di bawah kepemimpinan Imam Khamenei, telah menimpakan kekalahan besar pada musuh. Musuh kita AS, Inggris, Israel, dan Al-Saud sedang muncul dengan seluruh kekuatan mereka, tapi kita pasti akan mengubah hasutan besar dan perang global ini sebagai kuburan bagi AS dan Israel serta sekutu mereka.”

Sehari sebelumnya, Pemimpin Besar Iran Sayid Ali Khamenei menyatakan bahwa negara-negara Barat sedang berusaha menggulingkan pemerintahan Iran, tetapi mereka tidak akan berhasil melakukannya.  (alalam)

Erdogan:  Tak Tertutup Kemungkinan Normalisasi Hubungan Turki dengan Suriah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan normalisasi hubungan negaranya dengan Suriah tetap bisa dilakukan meski Turki gencar memerangi milisi Kurdi Suriah.

Erdogan menyinggung proses normalisasi hubungan yang sedang berlangsung antara Turki dan Mesir, yang sempat ditandai dengan pertemuan Erdogan dengan sejawatnya dari Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Piala Dunia di Doha beberapa waktu lalu.

“Sama seperti hubungan antara Turki dan Mesir terbentuk, hubungan dengan Suriah dapat mengikuti jalur yang sama di periode berikutnya,” kata Erdogan, Ahad (27/11).

Ankara memutuskan hubungannya dengan Kairo pada tahun 2013 sebagai protes atas tindakan keras Kairo terhadap para pengikut mendiang mantan presiden Mesir Mohammed Morsi yang dikudeta oleh militer di bawah pimpinan el-Sisi.

Tidak ada ruang untuk perasaan keras dalam politik,” ungkap Erdogan.

Juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin bulan lalu mengatakan bahwa Rusia telah menawarkan diri untuk menengahi pertemuan antara Erdogan dan Presiden Suriah Bashar Assad.

Erdogan mengatakan di awal bulan ini bahwa Ankara akan mempertimbangkan tawaran itu pada waktunya.

Turki memutuskan hubungannya dengan Suriah pada Maret 2012, setahun setelah Suriah dilanda pemberontakan dan terorisme yang didukung asing, termasuk Turki.

Sejak 2016, Turki juga telah melakukan tiga operasi militer besar terhadap milisi Kurdi Suriah yang didukung AS dan berbasis di Suriah utara.

Pemerintah Turki menuduh milisi Kurdi Unit Perlindungan Rakyat (YPG) menjalin hubungan dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang disebut oleh Turki organisasi teroris.

PKK telah mengobarkan perang separatis melawan Turki selama beberapa dekade. Ankara juga menuduh kelompok itu berada di balik serangan teroris yang menewaskan satu orang dan melukai 81 lainnya di Istanbul pada awal bulan ini.

Pekan lalu, Turki mulai meluncurkan babak baru serangan udara ilegal terhadap apa yang disebutnya tempat persembunyian milik PKK di Suriah utara dan Irak.

Di tengah eskalasi itu Erdogan juga beberapa kali mengancam akan menginstruksikan operasi darat keempat di Suriah. (presstv)