Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 28 Januari 2019

mayadeen - nasrallah 27 jan 2019Jakarta, ICMES: Pemimpin Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah dalam wawancara eksklusif saluran al-Mayadeen memastikan bahwa ketersembunyiannya selama dua bulan “tidak ada hubungannya dengan situasi kesehatan dan semua yang dikatakan adalah kebohongan.”

Dia juga menegaskan bahwa memasuki kawasan Galilea di utara Israel merupakan bagian dari rencana kelompok pejuang Hizbullah, dan Israel tidak mengetahui bagaimana Hizbullah akan menyerbu kawasan itu.

Media dan masyarakat  antusias menanti dan mengikuti tayangan wawancara Sayyid Nasrallah tersebut.

Berita selengkapnya:

Sayyid Hassan Nasrallah: Israel Tidak Tahu Bagaimana Hizbullah Akan Menyerbu Galilea

Pemimpin Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah akhirnya muncul di depan publik setelah menghilang sejak November 2018. Dalam wawancara eksklusif di ”sebuah lokasi” dengan presenter saluran al-Mayadeen, Ghassan Bin Jiddo, Sabtu (26/1/2019), dia memastikan bahwa ketersembunyiannya itu “tidak ada hubungannya dengan situasi kesehatan dan semua yang dikatakan adalah kebohongan.”

Dia mengkonfirmasi bahwa memasuki kawasan Galilea di utara Israel merupakan bagian dari rencana kelompok pejuang Hizbullah, dan Israel tidak mengetahui bagaimana Hizbullah akan menyerbu kawasan itu.

Kondisi Kesehatan

Nasrallah mengaku berada dalam kondisi segar bugar dan sama sekali tidak memiliki masalah kesehatan meskipun sejak beberapa minggu lalu telah memasuki usia 60 tahun. Sembari tersenyum dia mengatakan, “Apa yang terjadi ialah bahwa selama dua bulan terakhir ini tidak ada momentum-momentum khusus, dan karena itu kami tidak muncul.”

Dia menepis rumor bahwa dia jatuh sakit dan apalagi terancam kematian dan lalu terjadi pertemuan-pertemuan intensif Hizbullah. Dia menyebut rumor itu menggelikan, dan mengaku bahwa pada bulan depan akan berpidato sebanyak tiga kali karena ada tiga momen peringatan.

Rudal Dan Terowongan

Nasrallah memastikan Hizbullah memiliki rudal-rudal dengan presisi yang cukup untuk meladeni setiap serangan, dan mengancam bahwa “jika Israel membom atau membunuh di Lebanon atau anggota Hizbullah di Suriah maka “harganya akan lebih besar dari apa yang diduga Israel.”

Mengenai terowongan yang ramai dibicarakan Israel dengan klaim bahwa mereka telah berhasil menemukan dan menghancurkannya, Nasrallah mengakui adanya terowongan-terowongan lama. Menurutnya, operasi bersandi “Perisai Utara” yang dilancarkan pasukan Israel terkait dengan terowongan itu masih berlanjut, tapi operasi penggalian terowongan juga masih berlanjut sampai sekarang.

Suriah Dan Dunia Arab

Mengenai hubungan Suriah dengan dunia Arab, Sekjen Hizbullah mengatakan bahwa kunjungan Presiden Sudah Omar al-Bashir ke Damaskus dilakukan setelah Sudan mendapat lampu hijau dari Arab Saudi. Dia menambahkan keterbukaan dunia Arab terhadap Suriah belakangan ini mirip dengan keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menarik pasukannya dari Suriah.

Dia menjelaskan bahwa keterbukaan itu terjadi menyusul sebuah sidang evaluasi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), di mana keputusan Trump telah menimbulkan ketakutan pada Saudi yang dengan berbagai pertimbangan sektarian menganggap Turki sebagai ancaman yang bahkan lebih besar dari Iran, dan Suriah lantas mendapat pesan agar mengajukan sendiri permohonan untuk kembali ke Liga Arab.

Operasi “Perisai Utara” Dan Serbuan Ke Galilea

Mengenai operasi “Perisai Utara”, Nasrallah justru menyebut upaya Israel untuk memusnahkan  terowongan yang disebut-sebut telah digali oleh para pejuang Hizbullah itu gagal.

“Paling tidak, salah satu terowongan yang ditemukan dalam beberapa minggu terakhir ini usianya sudah 13 atau 14 tahun …Intelijen Israel dan badan keamanan Israel selama 14 tahun tidak  menemukan keberadaan terowongan ini di dalam wilayahnya. Ini menunjukkan kegagalan intelijen,” katanya.

Nasrallah menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui Operasi Perisai Utara ini justru “membantu kami dengan menimbulkan ketakutan dan kepanikan ke dalam hati semua pemukim di utara.”

Dia menegaskan, “Kami tahu bahwa Israel berbohong ketika mengatakan telah menyelesaikan Operasi Perisai Utara, karena masih berlangsung…. Kami di Hizbullah berpikir bahwa kami harus membiarkan Israel berbicara tentang Operasi Perisai Utara sampai selesai…Kami tidak berkeharusan  menanggapi rumor, yang waktunya hendak ditentukan oleh orang lain.”

Nasrallah mengingatkan Israel, “Sudah sekian tahun kami berkemampuan melakukan operasi dan ini menjadi lebih mudah setelah kami berpengalaman di Suriah… Jika Israel menyerang kami maka ia akan menyesal karena biaya serangan ini akan jauh lebih besar daripada apa yang ia duga.”

Dia mengatakan, “Bagian dari rencana kami adalah memasuki Galilea, kami sanggup melakukannya, dan kami membuat keputusan sesuai dengan jalannya perang…. Mereka tidak akan pernah mengetahui bagaimana kami akan memasuki Galilea, dan ini tidak akan terjadi kecuali ketika terjadi agresi terhadap Lebanon.” (mm/raialyoum)

Hassan Nasrallah, Pemimpin Arab Yang Paling Disorot Publik Israel

Gambar terkadang setara dengan seribu kalimat. Saluran 13 TV Israel, sebagaimana saluran-saluran lain di negara ilegal Zionis ini, pada Sabtu 26 Januari lalu, menanti tayangan wawancara Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah dengan saluran al-Mayadeen yang bermarkas di Lebanon.

Sebelum wawancara itu dimulai, Saluran 13 menampilkan narasumber pakar dunia Arab Hezi Simantov, yang mengingatkan kepada pemirsa bahwa pada pukul 08.30 waktu Israel-Palestina Sayyid Nasrallah akan tampil di saluran berbasis parabola al-Mayadeen untuk berbicara mengenai perkembangan situasi di Lebanon, Israel, regional, dan internasional.

Menurut Rai al-Youm yang berbasis di London, Inggris, media Israel yang notabene turut mempromosikan agenda-agenda agresi Rezim Zionis sebelumnya sama sekali tak pernah sedemikian antusias menyorot tampilan dan pernyataan seorang pemimpin Arab.

Menariknya lagi, lanjut Rai al-Youm, publik Israel justru lebih mempercayai Nasrallah ketimbang para pemimpin mereka sendiri. Hasil kajian yang dilakukan oleh Tel-Hai College di bagian utara Israel menunjukkan bahwa 80 persen warga Zionis Israel lebih percaya kepada pernyataan Nasrallah, dan hanya 20 persen yang percaya kepada Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Dan meskipun pada Sabtu dan Ahad 26-27 Januari 2019 media Israel berusaha mencari-cari kelemahan Nasrallah, namun upaya demikian tak mempengaruhi opini, karena rumor yang sempat dihembuskan oleh media Israel tentang kesehatan Nasrallah terbukti hoax belaka sehingga para penebarnya terpaksa menelan ludah sendiri, dan rumor itupun terungkap sebagai semata-mata perang urat urat saraf Israel yang gagal total.

Hanya saja, untuk menentramkan publik, media Israel dalam analisisnya telah menyorot pengakuan Nasrallah mengenai adanya terowongan lintas batas Lebanon-Israel yang telah dihancurkan Israel. Mereka menyebutnya sebagai prestasi besar intelijen Israel.

Orientalis Israel Oded Granot, pakar urusan dunia Arab di surat kabar Israel HaYom menyatakan bahwa keadaan telah mendesak Nasrallah untuk tampil di media, tapi di saat yang sama Granot juga mencatat Nasrallah telah meningkatkan level ancamannya terhadap Israel ketika Sekjen Hizbullah itu menegaskan pihaknya akan memberikan balasan sengit dan menyakitkan terhadap segala bentuk agresi Israel. Granod juga menyebutkan pengakuan Nasrallah memiliki rudal-rudal berpresisi tinggi sebagai pernyataan yang tentu memusingkan para pengambil keputusan di Tel Aviv.

Sehubungan dengan ini pula, orientalis Avi Iskharov di situs web WALLA menganggap bahwa Nasrallah telah mengubah “skandal” terowongan menjadi sebentuk prestasi bagi Hizbullah. Karena, menurutnya, bagaimana pun juga Hizbullah berhasil  menunjukkan eksistensinya sebagai ancaman besar bagi kaum Zionis, dan mencapai kemajuan besar dalam perimbangan kekuataan Hizbullah-Israel.

Iskharov mengatakan bahwa jika seorang asing, yang tidak tahu keseimbangan kekuatan antara kedua pihak, mendengarkan pidato Nasrallah maka dia akan berpikir bahwa Israel menderita ancaman eksistensial, bukan sebaliknya, dan pada saat yang sama mengakui bahwa Hizbullah masih merupakan organisasi yang tangguh dan memiliki kekuatan yang setidaknya dapat menimbulkan kerusakan besar pada Israel, kalaupun tidak sampai level ancaman eksistensial.

Saluran al-Mayadeen telah menayangkan wawancara eksklusifnya dengan Sayyid Nasrallah terutama untuk berbicara mengenai hoax yang telah meracuni publik Israel sejak sekira dua bulan lalu bahwa kesehatan Nasrallah memburuk dan bahkan terancam kematian. Wawancara ini menjadi pukulan telak bagi Israel, terlebih ketika Nasrallah yang terlihat berada dalam kondisi segar bugar mengingatkan kepada publik Israel bahwa para pemimpin dan media mereka telah menebar kabar-kabar yang jaraknya dari fakta dan kebenaran sejauh “1000 tahun cahaya”. (raialyoum)