Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 28 Desember 2020

nasrallah dan bin salman2Jakarta, ICMES. Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MbS) menginginkan keterbunuhan Nasrallah oleh Rezim Zionis Israel.

Seorang pejabat Iran menegaskan bahwa negara republik Islam ini akan menganggap kedatangan kapal selam Israel ke perairan Teluk Persia sebagai tindakan agresi.

Pengadilan Iran mencantumkan beberapa nama baru ke dalam daftar orang yang diduga terlibat dalam pembunuhan jenderal  legendaris Iran Qassem Soleimani.

Berita Selengkapnya:

Nasrallah Tuding Bin Salman Usulkan kepada AS agar Israel Membunuhnya

Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman (MbS) menginginkan keterbunuhan Nasrallah oleh Rezim Zionis Israel.

“Data kami ialah (menyebutkan) bahwa Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman dalam kunjungannya ke Washington telah mengusulkan masalah pembunuhan saya… Sudah lama Saudi memotivasi pembunuhan saya, paling tidak sejak perang terhadap Yaman,” ujarnya dalam wawancara dengan saluran Al-Mayadeen yang berbasis di Beirut, Ahad (27/12).

Sekjen Hizbullah mengatakan bahwa para pemimpin kelompok pejuang Libanon yang didukung Iran ini diincar bukan hanya Israel, melainkan juga AS dan Saudi.

“Menyerang para pemimpin Hizbullah adalah tujuan kolektif Israel, Amerika, dan Saudi,” katanya.

Mengenai Presiden AS Donald Trump dia menyebutnya sebagai orang “sinting” yang harus diwaspadai dan tak dapat percaya.

“Apa yang diperbincang orang sejauh ini mengenai apa yang akan dilakukan Trump pada hari-hari terakhir (kepresidenan)-nya masih sebatas analisis… Harus diperlakukan dengan hati-hati dan waspada di sisa waktu kekuasaannya,” ungkap Nasrallah.

Namun dia melanjutkan, “Ketika Anda mendengar kehebohan media berasal dari orang-orang Israel maka ketahuilah bahwa padanya tak tindakan-tindakan nyata.”

Nasrallah menyebut AS, Israel, dan Saudi bermitra dalam pembunuhan jenderal Iran Qassem Soleimani dan tokoh pejuang relawan Irak Abu Mahdi Al-Muhandis pada Januari 2020.

Dia menilai Soleimani sebagai sosok kharismatik, sangat berpengaruh, ahli strategi dan perencanaan, dan pemain lapangan sekaligus taktik sehingga menjadi sasaran serangan AS.  Dia mengaku sangat kehilangan Soleimani karena selama ini merasa satu jiwa dengannya.

Sekjen Hizbullah juga menjelaskan bahwa Soleimani telah mengembangkan hubungan secara pesat dengan semua faksi Palestina, “tak kenal garis merah dalam memberikan dukungan logistik kepada mereka”, dan dialah orang yang berada di balik pengiriman rudal Kornet yang dibeli Suriah dari Rusia kepada Hamas dan Jihad Islam di Gaza.

“Syahid Soleimani dan timnya tak berkekurangan dalam menyerahkan segala yang dapat diserahkan kepada Palestina di semua level,” ungkap Nasrallah.

Mengenai normalisasi hubungan beberapa negara Arab dengan Israel dia mengaku tidak terkejut oleh pengkhianatan dan penelantaran Palestina oleh Arab karena sebagian besar rezim Arab sejak awal memang sudah cenderung menjual Palestina.

Dia lantas menegaskan, “Tak ada alasan bagi siapapun di dunia untuk menelantarkan Palestina.” Dia juga mengaku telah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan Ismail Haniyeh ketika pemimpin Hamas ini berkunjung ke Libanon.

Dia juga menyebutkkan bahwa darah Soleimani dan Al-Muhandis tidaklah tumpah sia-sia, termasuk karena Poros Resistensi sejauh ini telah mencetak kemenangan besar atas agenda-agenda besar AS dan Israel di Timteng.

“Tanpa resistensi Irak niscaya Kedubes Amerikalah yang kini mengelola Irak, tanpa Poros Resistensi niscaya ISIS sudah menguasai kawasan,” tegasnya.

Dia juga memastikan bahwa “tanpa melebih-lebihkan” poros ini sekarang jauh labih kuat dari masa-masa sebelumnya, dan tak akan meredup dengan gugurnya Soleimani dan Al-Muhandis.  (railayoum)

Makin Tegang, Iran Ancam Serang Kapal Selam Israel Jika Masuk ke Perairan Teluk Persia

Seorang pejabat Iran menegaskan bahwa negara republik Islam ini akan menganggap kedatangan kapal selam Israel ke perairan Teluk Persia sebagai tindakan agresi.

Juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Majelis Permusyawaratan Islam Iran,  Aboul Fazl Amoei, kepada saluran Al-Jazeera, Ahad (27/12I), mengatakan, “Jika kapal selam Israel mencapai Teluk Persia, maka Iran akan memandangnya sebagai agresi, dan kami berhak bangkit terhadapnya saat itu.”

Dia berpesan kepada Israel agar rezim Zionis “berhati-hati karena jika kapal selam Israel tiba di perairan Teluk maka akan menjadi sasaran empuk kami.”

Dia juga memperingatkan keberadaan orang-orang Israel di dekat Iran “dapat menimbulkan kesulitan bagi negara-negara jiran”.

Di pihak lain, juru bicara militer Israel enggan berkomentar mengenai pergerakan kapal selam negara Zionis ini menuju kawasan Teluk, namun menyatakan bahwa pihaknya intensif memantau situasi di Irak untuk mengantisipasi “serangan kilat” Iran di tengah eskalasi ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat AS, dan bahwa aktivis militer Israel mencakup seluruh wilayah jauh dan dekat di Timur Tengah.

Sehari sebelumnya, Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Laksamana Ali Reza Tangsiri melakukan inspeksi ke Pulau Tunb Besar dan Tumb kecil di Teluk Persia, serta menyerukan kepada pasukannya agar bersiap siaga membela keamanan wilayah Iran.  (raialyoum)

Iran Tambahkan Tiga Nama dalam Daftar Pelaku Pembunuhan Jenderal Soleimani

Pengadilan Iran mencantumkan beberapa nama baru ke dalam daftar orang yang diduga terlibat dalam pembunuhan jenderal  legendaris Iran Qassem Soleimani.

Amir-Abdollahian selaku juru bicara panitia haul pertama Soleimani, Ahad (27/12), mengatakan,  “Pengadilan telah meningkatkan upaya untuk menuntut orang-orang yang memerintahkan dan melakukan kejahatan tersebut.”

Dia menambahkan bahwa sejauh ini Pengadilan Iran telah mengirim surat tuntutan kepada enam negara agar menangkap para terduga itu.

Dia juga memastikan bahwa “pembalasan keras” atas pembunuhan Jenderal Solaimani tetap ada dalam agenda negaranya.

Bulan lalu, Pengadilan Iran mengumumkan pihaknya telah membentuk komite untuk melacak dan memburu mereka yang diduga  terlibat dalam pembunuhan tersebut.

Wakil Jaksa Agung Sayid Ashrafi saat itu mengatakan, “Atas perintah Ketua Pengadilan, sebuah panitia ditugaskan untuk mengumpulkan bukti, dan dewan yudisial, yang dipimpin oleh jaksa dan saya, sebagai wakil jaksa dan penyidik yang menangani kasus tersebut, memulai penyidikan dan prosedurnya.”

Pada 3 Januari, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan serangan drone yang menewaskan Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Letjen Qassem Soleimani dan wakil komandan pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis.

Pada  8 Januari, IRGC melancarkan serangan rudal ke pangkalan udara Ain al-Assad yang ditempati ribuan pasukan AS di Irak barat, sebagai bagian dari “pembalasan keras” Iran.

Pada bulan Juni Teheran mengumumkan bahwa sebanyak 36 orang telah diidentifikasi terlibat dalam pembunuhan Soleimani.

“36 orang yang bekerjasama, berkolaborasi, dan berpartisipasi dalam pembunuhan Haji Qassem, termasuk otoritas politik dan militer AS serta negara lain, telah diidentifikasi,” ungkap Jaksa Agung Ali Alqasi-Mehr.

Alqasi-Mehr juga menyebut Trump sebagai tokoh kunci berada di urutan teratas dalam daftar itu. Dia juga memastikan bahwa upaya mengejar Trump akan terus dilakukan bahkan setelah masa jabatannya sebagai presiden AS berakhir. (tasnim)