Jakarta, ICMES. Untuk kedua kalinya Iran telah mengujicoba wahana pembawa satelit propelan hibrida yang dikembangkan di dalam negeri dengan nama Zuljanah untuk “tujuan penelitian yang telah ditentukan”.

Angkatan Udara Iran mengumumkan rencana untuk memamerkan rudal berjarak jangkau 300 kilometer untuk meningkatkan “daya cegah” negara ini.
Kepala biro politik Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) Ismail Haniyeh menegaskan bahwa curah hujan roket di Israel dalam peperangan mendatang akan jauh lebih dahsyat dari peperangan yang pernah beberapa kali berkobar sebelumnya.
Surat kabar Wall Street Journal, bahwa AS mengadakan pertemuan rahasia antara para petinggi militer Israel dan Arab di kota Sharm el-Sheikh, Mesir, pada Maret lalu, untuk membahas langkah antisipasi bagi apa yang mereka sebut ancaman udara Iran.
Berita Selengkapnya:
Iran Ujicoba Roket Pembawa Satelit Zuljanah Buatannya untuk Kedua Kalinya
Untuk kedua kalinya Iran telah mengujicoba wahana pembawa satelit propelan hibrida yang dikembangkan di dalam negeri dengan nama Zuljanah untuk “tujuan penelitian yang telah ditentukan”.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran, Ahmad Hosseini, Ahad (26/6), menjelaskan bahwa Zuljanah tiga fase kompetitif dengan operator satelit terkemuka dunia dalam aspek teknis, dan bahwa roket ini memiliki dua fase propulsi padat dan fase propulsi cair tunggal.
Dia menambahkan bahwa fase pengembangan ketiga roket pembawa satelit telah dimulai.
Awal bulan ini, Hosseini mengatakan kinerja berbagai tahapan Zuljanah diperiksa dan dievaluasi setiap peluncuran riset.
Dia juga mengatakan bahwa mengikuti penggabungan teknologi yang dibutuhkan dan operasi yang sukses, pembawa satelit Zuljanah akan mampu menempatkan “muatan dengan bobot hingga 220 kilogram ke orbit pada ketinggian 500 kilometer.â€
Kementerian Pertahanan Iran meluncurkan pembawa satelit Zuljanah ke luar angkasa untuk pertama kalinya pada Februari 2021.
Nama Zuljanah diambil dari nama kuda Imam Husein, cucu Nabi Muhammad SAW. Pembawa satelit ini memiliki panjang 25,5 meter dan berat sekitar 52 ton, dan menggunakan mesin bahan bakar padat berdiameter 1,5 meter dengan daya dorong 74 ton.
Pada Maret lalu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan peluncuran satelit baru bernama Noor-2 untuk pengintaian militer.
IRGC juga mengumumkan pada awal tahun 2022 bahwa mereka “berhasil” menguji mesin berbahan bakar padat yang mampu membawa satelit.
Roket berbahan bakar padat dapat diluncurkan menggunakan peluncur bergerak, dan roket berbahan bakar padat murni secara mendasar terkait dengan sistem rudal balistik.
Pada akhir Desember tahun lalu, IRGC mengumumkan peluncuran roket yang membawa perangkat penelitian ruang angkasa, yang segera memicu protes Amerika Serikat (AS), namun sehari setelah itu Teheran mengumumkan kegagalan peluncuran.
IRGC meluncurkan satelit militer pertama, Noor-1, pada April 2020. AS menilai peluncuran ini membuktikan bahwa program luar angkasa Iran ditujukan untuk tujuan militer, bukan komersial.
Menurut IRGC, satelit “Noor-1” ditempatkan ke orbit oleh roket yang dilengkapi dengan sistem propulsi padat dan cair yang mirip dengan roket Zuljanah.
Teheran menyatakan bahwa kegiatan kedirgantaraannya bertujuan damai. (presstv/raialyoum)
AU Iran akan Pamerkan Rudal Baru Berjarak Jangkau Ratusan Kilometer
Angkatan Udara Iran mengumumkan rencana untuk memamerkan rudal berjarak jangkau 300 kilometer untuk meningkatkan “daya cegah” negara ini.
Pada pertemuan para perwira Angkatan Bersenjata, Garda Revolusi dan polisi pada hari Ahad (26/6), Wakil Panglima Angkatan Udara Angkatan Bersenjata Iran, Brigjen Alireza Elhami mengatakan, “Satu-satunya jalan keluar dari semua sanksi dan ancaman adalah menjadi lebih kuat dalam segala hal penting, terutama di bidang militer.”
Tanpa mengungkapkan rincian mengenai rudal baru itu dia menilai pengembangan kekuatan rudal sebagai tanda kepercayaan diri dan pengandalan kemampuan domestik.
Dia juga menyerukan sinergi dan koordinasi antara berbagai cabang militer Republik Islam, dan menyebutnya sebagai kekuatan kemajuan bagi negara ini.
“Angkatan Udara bekerja sama dengan para elit negara, Kementerian Pertahanan, dan Angkatan Bersenjata di bidang ilmu pertahanan, kecerdasan buatan, ilmu kognitif, fisika kuantum, pertahanan dunia maya, dan peperangan elektronik,†kata Elhami.
Dia juga menyinggung rudal buatan dalam negeri berjarak jangkau tiga ribu kilometer.
“Pembuatan radar domestik Iran dengan jangkauan 3.000 km, dan pengawasan drone kita di ketinggian lebih dari 47.000 kaki, mencerminkan kemampuan lokal kita dalam memantau perbatasan dan kemampuan kita secara akurat untuk merespon musuh secara destruktif jika mereka melakukan kesalahan.”
Pada akhir Mei lalu Iran memamerkan beberapa model baru rudal jelajah dan drone di pangkalan bawah tanah rahasia Angkatan Darat di Pegunungan Zagros. (raialyoum)
Pemimpin Hamas: 150 Roket akan Guncang Israel Per 5 Menit
Kepala biro politik Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) Ismail Haniyeh menegaskan bahwa curah hujan roket di Israel dalam peperangan mendatang akan jauh lebih dahsyat dari peperangan yang pernah beberapa kali berkobar sebelumnya.
“150 rudal akan menghancurkan entitas Zionis dalam waktu kurang dari 5 menit,†sumbarnya dalam pidato pada festival gerakan Hamas bertema “Kita akan melihatnya segera” di kota Sidon, Libanon, Ahad (26/6).
Dia menjelaskan bahwa bangsa Palestina kini sedang mengalami era kemenangan dan transformasi strategis, dan bahwa Gaza yang terkepung sedang mempersiapkan pertempuran strategis melawan rezim okupasi Israel.
Mengenai Lebanon dia mengatakan, “Dalam pertemuan ini, Libanon merangkul Palestina, karena Libanon adalah saudara bangsa Palestina. Libanon membawa pan Arabisme dan resistensi, dan telah mengobati luka Palestina selama 74 tahun…. Orang-orang kita di Lebanon dan kamp-kamp pengungsinya adalah para pencetak revolusi, dan adalah suatu kehormatan bagi kami berada di tengah bangsa kami di Lebanon.â€
Mengecam sejumlah negara Arab yang menormalisasi hubungan dengan Israel, Haniyeh mengatakan, “Para penormalisasi dan ekstremis yang telah mengkhianati urusan (Palestina) ini memandang Al-Aqsa ada di kejauhan, sedangkan kita memandangnya dekat. Kita melihat Al-Aqsa dekat karena kita sekarang berada di era kemenangan dan transformasi yang dibuat oleh bangsa Palestina dan kubu resistensi kita.â€
Haniyeh menyebutkan bahwa penduduk dan para pejuang di kawasan Gaza yang diblokir Israel sejak 15 tahun silam dan yang telah menjalani Perang Pedang Quds melawan Israel sekarang “bersiap untuk perang strategis melawan musuh, Zionis.â€
Menurutnya, Perang Pedang Quds merupakan pergeseran strategis dalam perjuangan melawan Israel, dan bahwa rezim yang dipersenjatai dengan segala jenis senjata ini telah terguncang oleh serangan roket sayap militer Hamas Brigade Qassam dan faksi-faksi resistensi Palestina lainnya dari Gaza.
Ismail Haniyeh memastika Tepi Barat bangkit kembali dan mengangkat senjata, dan al-Qassam di Jenin berdiri untuk mengibarkan panji-panji perlawanan. (alalam)
Takut Iran, Para Petinggi Militer AS, Israel dan Arab Adakan Pertemuan Rahasia di Mesir
Surat kabar Amerika Serikat (AS) Wall Street Journal, Ahad (26/6), bahwa AS mengadakan pertemuan rahasia antara para petinggi militer Israel dan Arab di kota Sharm el-Sheikh, Mesir, pada Maret lalu, untuk membahas langkah antisipasi bagi apa yang mereka sebut ancaman udara Iran.
Dikutip surat kabar itu, para pejabat AS, Israel dan Arab dan Israel menyatakan pertemuan itu melibatkan para petinggi militer Israel, Arab Saudi, Qatar, Mesir dan Yordania, dan terjalin koordinasi untuk melawan “kemampuan rudal dan drone Iran†serta dilakukan pembahasan mengenai kemungkinan kerjasama militer.
Pertemuan itu dihadiri Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Aviv Kochavi, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Saudi Fayyad bin Hamed Al-Ruwaili, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Qatar Salem bin Hamad Al-Nabit, serta para pemimpin senior dari Yordania, Mesir dan Bahrain, sementara UEA mengirim perwira berpangkat lebih rendah.
Para peserta pertemuan tersebut mencapai kesepakatan awal tentang pemberitahuan cepat ketika “ancaman udara Iran†terdeteksi. Pemberitahuan via telepon atau komputer akan dikirim ketika ancaman terdeteksi, tanpa berbagi data digital berkecepatan tinggi seperti yang dilakukan militer AS.
Namun demikian, kesefahaman mereka itu tidak akan mengikat, meski langkah selanjutnya adalah menjamin adanya dukungan bagi para pemimpin politik untuk melegalkan pengaturan pemberitahuan dan perluasan kerjasama.
Pertemuan ini dilakukan menyusul adanya diskusi rahasia dalam kelompok kerja tingkat rendah antara perwakilan dari sejumlah negara tersebut untuk membahas skenario kerjasama pendeteksian ancaman udara. (alalam)







