Jakarta, ICMES. Hizbullah Lebanon terus membom posisi-posisi artileri dan daerah di mana tentara Israel dikerahkan di selatan pemukiman Israel di Kiryat Shmona.

Kelompok pejuang Brigade Hizbullah al-Nujaba yang berbasis di Irak menyatakan masih akan membalas serangan AS terhadap posisi –posisi kelompok-kelompok pejuang Irak, dan menekankan bahwa pasukan Irak belum membalas dendam secara penuh atas agresi AS.
Jumlah korban tewas tentara Israel dalam pertempuran dengan perlawanan Palestina di Jalur Gaza terus meningkat. Tentara Israel mengakui tewasnya dua lagi anggotanya, salah satunya akibat tembakan pejuang Palestina dalam pertempuran di Jalur Gaza selatan .
Berita selengkapnya:
Hizbullah Gempur Posisi-Posisi Pasukan Israel di Perbatasan
Hizbullah Lebanon terus membom posisi-posisi artileri dan daerah di mana tentara Israel dikerahkan di selatan pemukiman Israel di Kiryat Shmona.
“Mujahidin Perlawanan Islam menyerang posisi-posisi artileri musuh dan penempatan tentaranya di selatan Kiryat Shmona dengan senjata rudal dan artileri,” ungkap Hizbullah pada hari Ahad (25/6), sembari bahwa menyebutkan serangannya adalah “demi mendukung keteguhan rakyat Palestina di Jalur Gaza, dan menyokong perlawanan mereka yang gagah berani dan terhormat.”
Hizbullah juga mengumumkan dua anggotanya gugur dalam pertempuran melawan tentara Israel, sehingga jumlah korban jiwa di pihak kelompok pejuang ini menjadi 213 orang sejak 8 Oktober lalu.
Tentara Israel pada hari itu memantau sejumlah roket yang ditembakkan dari Lebanon selatan menuju daerah perbatasan di utara negara itu, menurut media Israel.
Saluran TV 12 Israel melaporkan, “Tentara memantau jatuhnya beberapa rudal yang jatuh di daerah terbuka di Margaliot dan Rechis Ramim di Galilea Atas di utara negara itu,” tanpa menyebutkan korban atau kerusakan.
Hal ini diawali dengan dibunyikannya sirene di sejumlah wilayah perbatasan dengan Lebanon.
Tentara Israel mengumumkan beberapa kali selama 48 jam terakhir bahwa mereka telah mendeteksi rudal yang diluncurkan dari Lebanon selatan menuju Israel utara.
Setelah Israel menginvasi Jalur Gaza, yang membuat Tel Aviv dibawa ke Mahkamah Internasional atas tuduhan “genosida,” perbatasan Israel-Lebanon sejak tanggal 8 Oktober 2023 dilanda pertempuran antara Hizbullah dan Israel hingga menyebabkan banyak korban tewas dan luka dari kedua pihak.
Hizbullah berterus terang mengenai jumlah pejuangnya yang gugur, sedangkan Israel tak pernah mengungkapkannya. Menurut Hizbullah, korban tewas dan luka di pihak Israel akibat serangan Hizbullah mencapai ribuan orang.
Belakangan ancaman meningkat dari pejabat Israel untuk memperluas serangan ke wilayah Lebanon kecuali pejuang Hizbullah menarik diri dari perbatasan dengan Israel utara. (raialyoum)
Kelompok Pejuang Irak Bersumpah Masih akan Membalas Serangan AS
Kelompok pejuang Brigade Hizbullah al-Nujaba yang berbasis di Irak menyatakan masih akan membalas serangan AS terhadap posisi –posisi kelompok-kelompok pejuang Irak, dan menekankan bahwa pasukan Irak belum membalas dendam secara penuh atas agresi AS.
Sekjen Hizbullah al-Nujaba Syeikh Akram al-Kaabi pada hari Minggu (25/2) menyatakan bahwa penghentian serangan oleh pejuang Resistensi Islam Irak (IRI), sebuah kelompok payung anti-teror , terhadap posisi AS tidak berarti bahwa IRI tidak akan membalas atas serangan udara AS yang menewaskan sejumlah pejuang perlawanan di Irak dan Suriah beberapa waktu lalu.
“Ketenangan saat ini adalah taktik sementara untuk reposisi dan penempatan kembali, dan pada kenyataannya merupakan ketenangan sebelum badai… Kami tidak akan puas dengan balas dendam kecil, bahkan dengan balas dendam yang setara, dan penjajah akan menyesali setetes darah murni yang tertumpah di tanah suci Irak,” imbuhnya.
Al-Kaabi memastikan kelompok perlawanan Irak akan melanjutkan operasi mereka dengan tujuan mengusir pasukan asing pimpinan AS keluar dari negara Arab dan menyerang kepentingan Israel di kawasan Timur Tengah.
“Mereka tidak akan pernah mengingkari komitmen mereka terhadap perjuangan Palestina, dan akan tetap setia membela Palestina,” tuturnya.
Dia menyebutkan bahwa IRI telah melakukan pengorbanan yang sangat besar sejak Israel menggempur Gaza dimulai pada 7 Oktober tahun lalu.
“Koordinasi antar front Poros (Perlawanan) sangat baik. Tenang di satu front dan melancarkan (dalam pertempuran) di front lain adalah strategi yang disengaja, mempunyai tujuan dan terkoordinasi,” kata Kaabi.
Abu Baqer al-Saadi, komandan yang bertanggung jawab atas operasi Brigade Hizbullah di Suriah, gugur bersama dua rekannya pada tanggal 7 Februari akibat serangan drone AS yang menghantam mobil yang sedang bergerak di sebelah timur ibu kota Irak, Baghdad.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan pada saat itu bahwa mereka telah membunuh “komandan yang bertanggung jawab merencanakan dan berpartisipasi langsung dalam serangan terhadap pasukan AS di kawasan.”
Pemerintah Irak mengutuk keras pembunuhan Al-Saadi dan menyatakan bahwa serangan AS yang berulang kali di Irak merupakan penyebab instabilitas dan mendorong Baghdad untuk mengakhiri kehadiran pasukan AS.
Yahya Rasool, juru bicara militer Perdana Menteri Irak Mohammad Shia’ al-Sudani, menyebut koalisi AS “telah menjadi faktor instabilitas dan mengancam untuk melibatkan Irak dalam siklus konflik.”
“Jalur ini mendorong pemerintah Irak lebih dari sebelumnya untuk mengakhiri misi koalisi yang telah menjadi faktor ketidakstabilan di Irak,” katanya.
Awal bulan ini, setidaknya 16 orang Irak gugur akibat serangan udara AS yang diperintahkan oleh Presiden AS Joe Biden menyusul serangan drone terhadap pos militer AS di perbatasan Yordania dengan Suriah, yang menyebebkan sejumlah besar tentara AS tewas dan luka.
Agresi AS telah menyebabkan pemerintah Irak mendorong Washington untuk membahas batas waktu penarikan pasukannya dari negara Arab tersebut.
Ada sekira 2.500 tentara AS di Irak yang disebut bertujuan memberikan nasihat dan membantu pasukan lokal untuk mencegah kebangkitan kelompok teroris ISIS. Namun, mereka telah berulang kali menyerang kelompok pejuang yang terintegrasi dalam angkatan bersenjata resmi Irak. (presstv)
Israel Akui Dua Tentaranya Tewas di Gaza
Jumlah korban tewas tentara Israel dalam pertempuran dengan perlawanan Palestina di Jalur Gaza terus meningkat. Tentara Israel mengakui tewasnya dua lagi anggotanya, salah satunya akibat tembakan pejuang Palestina dalam pertempuran di Jalur Gaza selatan .
Tentara pendudukan Israel dalam pernyataan pada hari Ahad (25/2) menyebut salah satu tentara yang tewas adalah anggota Brigade Givati. Sedangkan satu lainnya adalah seorang prajurit di Batalyon 77 formasi Sar Megolan.
Media Israel melaporkan dari Rumah Sakit Soroka Israel bahwa dalam 24 jam terakhir, 10 orang yang terluka dalam pertempuran darat di Jalur Gaza tiba di rumah sakit, termasuk 4 orang yang terluka parah.
Dengan demikian, jumlah kematian tentara Israel yang diakui rezim Zionis ini bertambah menjadi 580, sejak 7 Oktober 2023, termasuk 240 orang tewas dalam pertempuran di Jalur Gaza. Pihak pejuang Palestina memastikan jumlah yang sebenarnya jauh lebih besar.
Para pejuang perlawanan Palestina di Gaza terus berjuang menghadapi pasukan Israel. Sumber pejuang Palestina dari lingkungan Zaytoun di Kota Gaza pada hari Ahad menyatakan bahwa pasukan pendudukan menderita kerugian besar,dan para pejuang Palestina masih beraksi di semua poros pertempuran.
Sekitar 29.690 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, gugur dan sekitar 70.000 lainnya terluka sejak dimulainya agresi brutal Israel di Gaza.
Rezim Zionis juga memperktat blokade terhadap Gaza, menyebabkan banyak wilayah sempit tersebut, yang merupakan rumah bagi lebih dari 2,3 juta warga Palestina, mengalami krisis tanpa air, listrik, bahan bakar, dan internet.
Dalam keputusan sementara pada bulan Januari, Mahkamah Internasional memerintahkan Israel untuk mengambil semua tindakan sesuai kewenangannya untuk mencegah genosida di Gaza, dengan mengatakan bahwa rezim tersebut harus memastikan pasukannya tidak melakukan genosida dan juga memastikan penjagaa bukti dugaan genosida. (almayadeen)







