Rangkuman Berita Utama Timteng Senin 25 November 2019

warga zionis di sekitar Masjid Ibrahimi, Tepi BaratJakarta, ICMES. Gerakan perlawanan Islam Palestina (Hamas) menyerukan kepada umat Islam agar membela Masjid Ibrahimi dan Masjid al-Aqsa di depan aksi penodaan warga Zionis.

Human Right Watch menyatakan bahwa Israel merupakan negara pertama di dunia yang mengaku demokratis tapi tak segan-segan mengusir staf lembaga peduli HAM ini.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuding Iran merencanakan serangan terhadap Israel, dan karena itu dia mengaku melakukan segala tindakan yang memungkinkan untuk bereaksi terhadap rencana itu.

Pasukan elit Iran menyatakan pihaknya berhasil menggagalkan sebuah konspirasi yang “sangat besar” anti negara ini dalam tempo 48 jam.

Berita selengkapnya:

Hamas Serukan Pembelaan Terhadap Situs-Situs Islam di Tepi Barat

Gerakan perlawanan Islam Palestina (Hamas) menyerukan kepada umat Islam agar membela Masjid Ibrahimi dan Masjid al-Aqsa di depan aksi penodaan warga Zionis.

Juru bicara Hamas, Fawzi Barhoum, Ahad (24/11/2019), menyatakan bahwa pelanggaran warga Zionis terhadap dua masjid itu “merupakan bagian dari perang agama yang dilakukan oleh rezim Israel terhadap rakyat Palestina dan situs suci mereka.”

Masjid Ibrahimi, yang dikenal oleh orang-orang Yahudi sebagai Gua Para Leluhur, terletak di kota al-Khalil (Hebron), di bagian selatan wilayah pendudukan Tepi Barat. Umat Islam dan Yahudi meyakini kompleks situs suci di Masjid Ibrahimi sebagai situs pemakaman Nabi Ibrahim, Ishak, dan Yakub.

Menyusul pembantaian jamaah Palestina oleh seorang ekstremis Zionis pada tahun 1994, kompleks ini dibagi antara jemaah Muslim dan jemaah Yahudi.

Namun, militer Israel secara teratur nyaris menutup komplek itu untuk warga Muslim sembari memperkenankan warga ekstremis Zionis memasukinya untuk melakukan ritual.

Sedangkan kompleks Masjid al-Aqsa di Kota Tua Quds Timur berada tepat di atas alun-alun Tembok Barat.

Perjanjian Israel dengan Yordania pasca pendudukan Israel atas Quds Timur pada tahun 1967 melarang umat non-Muslim beribadah di kompleks itu. Namun, para legislator garis keras Israel dan ekstremis Zionis rutin melakukan provokasi dengan menyerbu komplek Masjid al-Aqsa.

Hamas mengumumkan seruannya tersebut sehari setelah ribuan warga Zionis melanggar Masjid Ibrahimi dengan perlindungan ketat militer Israel, sementara umat Muslim justru dilarang memasukinya. (mm/presstv)

“Israel Negara Pertama Pengaku Demokratis Yang Mengusir Staf HRW”

Direktur Eksekutif Human Right Watch (HRW) Kenneth Roth menyatakan bahwa Israel merupakan negara pertama di dunia yang mengaku demokratis tapi tak segan-segan mengusir staf lembaga peduli HAM ini.

Seperti dilaporkan Rai al-Youm, Ahad (24/11/2019), hal ini dinyatakan Roth saat mengecam pengusiran otoritas Israel terhadap Omar Shakir, direktur kantor perwakilan HRW di Israel dan Palestina pendudukan.

Mahkamah Agung Israel pekan lalu mendukung keputusan pemerintah negara Zionis ini mengusir Omar Shakir dengan menggunakan undang-undang kontroversial yang dikeluarkan pada tahun 2017 dan melarang kedatangan orang yang mendukung pemboikotan Israel.

Tindakan anti-Shakir ini didasarkan pada pernyataan-pernyataan yang dikaitkan dengannya berupa dukungan kepada aksi boikot Israel, yang dia buat sebelum memangku jabatannya di HRW. Rezim Zionis Israel menyoroti kritik Shakir terhadap pemukiman Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat.

Dengan demikian, Shakir adalah staf pertama HRW yang diusir dari sebuah negara dengan payung hukum kontroversial yang memungkinkan Israel mengusir orang asing pendukung boikot Israel.

Shakir sendiri membantah mendukung boikot. Dia balik menuduh Israel berusaha memadamkan kritik terhadap kebijakannya terkait dengan Palestina.

“Saya tidak berpikir ada (negara) demokratis lain yang mengusir seorang peneliti Human Rights Watch,” kata Roth kepada AFP di kota Quds (Yerusalem).

Dia mencatat bahwa Israel, meskipun menyelenggarakan pemilu dan menjalankan kebebasan pers, namun berusaha “sebanyak mungkin” membungkam upaya “menyoroti pelanggaran hak asasi manusia yang berpusat pada penindasan dan pendudukan rasis di wilayah Palestina.”

Israel menuduh Shakir sebagai pendukung boikot, divestasi dan kampanye sanksi, yang menyerukan boikot Israel atas perlakuannya terhadap Palestina.

“Siapa pun yang bekerja melawan Israel hendak mengetahui bahwa kami tidak akan membiarkan mereka tinggal atau bekerja di sini,” tegas Menteri Dalam Negeri Israel Aryeh Deri. (raialyoum)

Kunjungi Golan, Netanyahu Tuding Iran Rencanakan Serangan terhadap Israel

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuding Iran merencanakan serangan terhadap Israel, dan karena itu dia mengaku melakukan segala tindakan yang memungkinkan untuk bereaksi terhadap rencana itu.

Netanyahu yang sedang menghadapi berbagai tuduhan korupsi dari Kejaksaan Tinggi Israel dan sedang berjuang mempertahankan kekuasannya itu melontar tuduhan tersebut saat meninjau pangkalan militer Israel di Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah yang diduduki pasukan Zionis Israel.

“Permusuhan Iran terhadap kami di kawasan berlanjut,” ujarnya, seperti dikutip Rai al-Youm, Ahad (24/11/2019).

Tuduhan ini dia lontarkan juga bersamaan dengan kunjungan Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata AS Mark Milley  ke Israel untuk menemui sejawatnya di sana, Aviv Kochavi, dan militer Israel menyatakan bahwa Milley dan Kochavi telah membahas berbagai masalah operasional dan perkembangan situasi regional.

Netanyahu menegaskan, “Kami melakukan tindakan-tindakan darurat untuk mencegah Iran memperkuat eksistensinya di kawasan kami… Tindakan itu meliputi aktivitas yang diperlukan untuk mencegah transfer senjata mematikan dari Iran ke Suriah, baik melalui udara maupun darat.”

Dia menambahkan, “Kami akan bergerak untuk mencegah sepak terjang Iran mengubah Irak dan Yaman menjadi pangkalan-pangkalan peluncuran rudal (terhadap Israel).”

Rabu lalu Israel mengklaim bahwa jet-jet tempurnya telah melancarkan serangan “sengit” terhadap pasukan Iran dan tentara Suriah di Suriah setelah sistem pertahanan udara Israel Kubah Besi mencegat empat rudal yang ditembakkan “oleh pasukan Iran” dari Suriah.

Jaksa Agung Israel Avichai Mandelblit Kamis lalu mengumumkan dakwaannya terhadap Netanyahu terkait dengan kasus-kasus korupsi berupa penyuapan dan penyalah gunaan jabatan. Dakwaan ini membangkitkan spekulasi bahwa masa kekuasaan Netanyahu sebagai perdana menteri Israel akan segera tamat. (raialyoum)

Pasukan Elit Iran Mengaku Berhasil Gagalkan “Mega Konspirasi” Dalam Tempo 48 Jam

Wakil komandan pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Laksamana Ali Fadavi menyatakan pihaknya berhasil menggagalkan sebuah konspirasi yang “sangat besar” anti negara ini dalam tempo 48 jam, suatu hal yang menurutnya tak terbayang oleh dunia.

Hal itu dinyatakan Fadavi dalam pidato di depan 4000 personil pasukan relawan Basij di halaman Kementerian Dalam Negeri Iran, Teheran, Ahad (24/11/2019). Dia berharap bahwa para “antek bayaran” yang telah tertangkap dalam peristiwa kerusuhan yang terjadi pada 15 November lalu itu akan mendapat hukuman berat.

Menurutnya, situasi sekarang sudah reda dan pulih setelah beberapa kota dan daerah dilanda unjuk rasa protes sekelompok massa yang sebagian di antaranya berubah menjadi kerusuhan berdarah menyusul keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar.

Kerusuhan itu lantas membangkitkan jutaan rakyat di seantero Iran untuk berunjuk rasa sejak Kamis lalu hingga Ahad kemarin (21-24/11/2019) dan mengutuk para perusuh serta AS dan sekutunya, yang disebut para pengunjuk rasa sebagai dalang kerusuhan.

Hingga Ahad kemarin sebanyak 180 tersangka gembong perusuh telah tertangkap. Fadavi mengatakan, “Tentu kita akan mengganjar mereka sesuai kebrutalan yang mereka lakukan.”

Dia menambahkan, “Kami telah menangkap semua antek dan pasukan bayaran, mereka mengaku sebagai orang-orang bayaran AS, kaum munafik (Organisasi Mujahidin Khalq/MKO), dan lain-lain… Kami telah meringkus mereka semua. Insya Allah, pengadilan akan menjatuhkan hukuman seberat mungkin terhadap mereka.” (alalam/raialyoum)